Demi Papa, Demi Mamak

17 November 2009 nirwan 1 comment

Demi papa yang mengecupkan alif lam mim,

demi mamak yang menyuapkan akhlaq al-karim,

Terbuanglah air mata di balik kamar berdinding batu.

Ah, Jenderal George Rupanya yang Jadi Kasad

12 November 2009 nirwan 6 komentar

Markas Besar Angkatan Darat (Mabesad) Rabu kemarin melaksanakan serah terima jabatan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) dari Jenderal TNI Agustadi Sasongko Purnomo kepada Letnan Jenderal TNI George Toisutta. Bertindak sebagai Inspektur Upacara Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso.

kasad

Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Letjen TNI George Toisutta

Karir militer Letjen TNI George Toisutta sebelum menjabat sebagai Kasad adalah sebelumnya pernah menjabat sebagai Pangkostrad, Pangkoops TNI di Provinsi Aceh, Pangdiv I Kostrad, Pangdam XVII/Cenderawasih, Pangdam III/Siliwangi. Pria kelahiran Makasar 1 Juni 1953 itu, menamatkan pendidikan militer di Akabri Darat pada tahun 1976, Sarcabif 1977, Susstaf Pur 1987, Seskoad 1992, Sesko ABRI 1997 dan KRA-XXXIV Lemhannas 2001.

Letjen TNI George Toisutta mempunyai tiga orang anak, mengawali karir militer pada tahun 1978 sebagai Komandan Peleton 1-Kipan C Yonif 741/BS, Kasiops 741/BS, Dan Kipan C Yonif 741/BS, Dan Kipan B Yonif 744/BS, Paurtiknik Sdirlitbang Pussenif, Kaurtiknik Sdirlitbang Pussenif, Kasimindik Sdirdiklat Rinifdam, Kasi 2/Ops Brigif 1/PIK Kodam Jaya, Wadan Yonif 201/Jaya Kodam Jaya, Danyonif 700 Dam VII/Wirabuana, Dandim 1417 Rem 143 Dam VII/Wirabuana, Paset Spri Pangab, Wadanrem 164/WD Dam IX/Udayana, Danrem 051/Wijayakarta Dam Jaya, Dan Puslatpur, Kasdivif 2 Kostrad dan Kasdam Jaya.

Letjen TNI George Toisutta pernah melaksanakan tugas operasi militer di Timor-Timur tahun 1977, 1979, 1980, 1982, 1984, 1985, 1995 dan di Provinsi Aceh tahun 2003.

Mengapa jenderal George yang dipilih SBY? Apa implikasinya pada perkembangan sosial politik tanah air yang sedang panas-panasnya? Menarik. (*)

===

sumber: tniad.mil.id

Presiden SBY Disebut dalam Rekaman, Terlibatkah?

5 November 2009 nirwan 12 komentar

Jangan Anda bermimpi soal penegakan hukum ketika mengikuti kasus  KPK.  Dengarkanlah rekaman itu, dan dengarkanlah kemudian bagaimana pemerintahan (dan negara) menyikapinya.

Hampir seluruh orang menyatakan, termasuk Presiden SBY sendiri bahwa nama-nama yang disebutkan di rekaman itu mesti diusut tuntas, dinonaktifkan, mulai dari perwira polisi, Anggodo, Anggoro, sampai yang bersuara perempuan, Yuliana. Tapi mengapa ketika nama Presiden SBY alias RI-1 disebut-sebut, kok malah itu hanya disebut “akal-akalan”, dan  “main-main”?

Jangan bilang-bilang soal penegakan hukum, karena ini adalah ketidakadilan dan tebang pilih.

Yang adil adalah ketika semua orang yang terlibat maupun yang disebut dalam rekaman itu diusut, disidik, diselidiki dan bila terbukti segera diadili dengan adil. Ini bukan perkara membela KPK atau kepolisian, kejaksaan sampai pengacara atau yang lain-lain yang berhubungan langsung dengan sistem hukum dan penegakan hukum. Apa gunanya menjaring orang untuk membela KPK, tapi kalau substansi masalah lain yang lebih besar kita tutup-tutupi.

Lihatlah ketika semua orang dikumpulkan oleh negara yang menganggap kasus ini dapat membuat “people power” sehingga perlu membikin TPF soal KPK. Dan kemudian Susno dan Ritonga (disuruh) mundur dan sahlah sudah kalau mereka hanya sebagai “kambing hitam” demi sesuatu persoalan yang jauh lebih besar dari itu. Kalaulah mereka salah, jangan cuma “disuruh” mundur tapi langsung adili.

Biarkan seluruh masyarakat melihat kalau kebobrokan
penegakan hukum telah terjadi (lama), tak cuma di tingkat kepolisian, jaksa, pengadilan, pengacara, hingga KPK dan yang lain-lainnya. Hukum beserta aparat-aparatnya ternyata tak sekuat istana negara. Kepolisian harus berani, kejaksaan harus tegas, hakim-hakim harus punya integritas, KPK dan para pengacara pun harus bertobat dan tak lagi memicing mata terhadap megakorupsi.

Tidak cuma kalian, tapi juga media, karena hampir seluruh media memakai kata “pencatutan” untuk SBY, tapi tidak kepada yang lainnya…

Jangan ngomong manis!

Paris Van Sumatra Itu Mitos …

2 November 2009 nirwan 5 komentar

Konon, Kota Medan sempat dijuluki dengan sebutan super keren “Paris Van Sumatra”. Dirk A Buiskool, sejarahwan Belanda, pun sempat menyitir dengan kalimat “Paris of Sumatra” dalam sebuah paper-nya. Dengan perubahan wajah yang begitu kontras, kini ia dikhawatirkan hanya jadi sekedar mitos. Kota metropolitan atau kota emperan?


kota medan

Kota Medan di daerah Lapangan Merdeka, Kantor Pos, Hotel Dharma Deli (dulu hotel de Boer), gedung BI, Balai Kota dan seterusnya. (foto: Roemono)

Penanggung Jawab: Nirwan
Reportase: Sri Mahyuni
Fotografer: Roemono
(Foto-foto lama repro Dr Phil Ichwan Azhari)

* * *


“Kota Medan pernah dijuluki Paris van Sumatra. Itu mungkin karena pada masa itu kota ini begitu mulus, indah, dan tertib. Setiap hari mobil penyapu jalan dengan sapunya yang bundar, berkeliling menyusuri sudut kota untuk membersihkan jalan dari segala macam sampah, termasuk kotoran kuda dan lembu. Di belakangnya menyusul mobil mengangkut sampah dan kotoran tersebut untuk dibawa ke tempat pembuangannya.

Read more…

Kawasan Kesawan; Kacaunya Wajah Sejarah di Inti Kota Medan

26 Oktober 2009 nirwan 3 komentar

Kombinasi sisa-sisa bangunan kuno peninggalan Belanda yang dijumpai di kawasan Kesawan, Kota Medan, dengan bangunan “modern” yang desainnya hanya berkelas “ruko”, memperlihatkan perkawinan yang aneh.  Simbol kekacauan dan ketidakpedulian terhadap sejarah dan perkembangan Kota Medan.

* * *

Reportase: Sri Mahyuni
Fotografer: Ariandi
Foto-foto lama repro koleksi Muhammad TWH dan Dr Phil Ichwan Azhari

Kesawan dulu dan sekarang

Kesawan dulu dan sekarang. Foto gedung PT London Sumatera, terletak di ujung titik Kesawan (foto Ariandi dan repro Ichwan Azhari)

Kawasan Kesawan Kota Medan. Konon, di sinilah –konon– bermukim sekitar 600 bangunan bersejarah yang ada maupun yang pernah dimiliki Kota Medan.

Mari hitung lagi sedikit demi sedikit apa sejarah apa yang pernah menjejak di Kesawan, yang berdasar peta tahun 1913 (dan direpro pada 1945) –menurut keterangan yang didapat dari sejarahwan Unimed, Dr Phil Ichwan Azhari– berada di sebuah kawasan yang memanjang dari Jalan Nienhuysweg (kini dirubah jadi Jalan Jend Ahmad Yani) hingga ke Jalan Istana (kini simpang jalan Balai Kota).

Read more…

Persatuan Politik a la Es Beye

22 Oktober 2009 nirwan 6 komentar

Nah, Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II yang diracik Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden Prof Boediono, untuk sementara, selesai sudah. Saya tulis sementara karena masih ada prosedur “reshuffle” bila nantinya si Presiden sudah tak berkenan. Dan kini, nama-nama itu sudah tersaji bak hidangan di restoran Minang.

presiden

SBY, Hatta Radjasa dan Sudi Silalahi (sumber foto: beritasore.com)

Yang bisa dikatakan dan hampir umum dibicarakan khalayak adalah pemilihan kue-kue kabinet memang sangat heterogen dari segi politik. Tampaknya geliat partai politik dalam peta koalisi sebelum pilpres kemarin, jadi kenyataan di kabinet ini. Bagi-bagi kekuasaan di pemerintahan lima tahun ke depan, sangat terasa. Apalagi, dengan judul kabinet yaitu “Kabinet Indonesia Bersatu II”, si Presiden tampaknya tak ingin merubah tema starting line up pemerintahannya. Dia ingin persatuan lebih diutamakan. Dengan demikian juga, itu tandanya dia mau stabilitas politik yang kokoh dalam lima tahun ke depan. Dan itu tak cuma di level eksekutif, tapi juga di sektor lain misalnya di legislatif.

Intinya, SBY ingin membentuk pemerintahan yang kuat di mana dia menjadi poros alias sumbu utama kekuasaan dan kekuatan politik. Kalau pemerintahan kuat, program akan mudah dijalankan. Rakyat pun sejahtera. Itu versi Presiden.

Read more…

Sjafrie Sjamsoeddin dan Anak Harimau

20 Oktober 2009 nirwan 3 komentar
sjafrie sjamsoeddin

Letjend TNI Sjafrie Sjamsoeddin (sumber foto: inilah.com)

Saya kira, salah satu jenderal terganteng yang dimiliki oleh TNI saat ini adalah Letjend TNI Sjafrie Samsuddin. Nasibnya pernah akan diramalkan akan cemerlang. Dulu, bersama Letjend TNI (Purn) Prabowo Subianto, dia adalah salah satu bintang terang yang dimiliki Angkatan Darat. Bintang yang lain adalah Jenderal (Purn) Wiranto, plus Jenderal (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono. Dia disebut-sebut sebagai salah seorang lingkaran terdalam dari “pasukan perwira”-nya Prabowo. Mereka dinilai sangat akrab sejak menjadi perwira pertama, perwira menengah, apalagi saat menjadi perwira tinggi. Ketika Prabowo menjadi Pangkostrad, Sjafrie adalah Panglima daerah paling strategis, Pangdam Jaya.

Namun faktor kedekatan itu pula yang membikin pamor Sjafrie terus meredup. Terbuangnya Prabowo pasca gerakan 1998, membuat Sjafrie juga kena dampak ikutan. Dia disimpan menjadi jenderal berkategori staf yang notobene tak bisa membikin keputusan apalagi punya pasukan. Ya, kecemerlangan, kecerdasan dan tentu saja kegantengannya itu, sirna.

Read more…

Wajah “Antik” nan Murung di Titik Nol Kota Medan

19 Oktober 2009 nirwan Tinggalkan komentar

Kawasan Lapangan Merdeka ditetapkan sebagai Titik Nol Kota Medan. Pertimbangannya, kawasan itu dulu menjadi sentra kegiatan dari perdagangan, pemerintahan, kantor pos, stasiun kereta api hingga hotel pertama di Kota Medan. Sempat dijuluki “Taman Burung” oleh Belanda dan “Fuku Raidu” oleh Jepang, pada 6 oktober 1945 di tempat itu, Mr Muhammad Hasan sebagai Gubernur Sumatra Timur mengumumkan kemerdekaan RI kepada seluruh masyarakat Kota Medan.

* * *

Reportase: Sri Mahyuni
Fotografer: Roemono, Ariandi Kopral
Foto-foto lama: repro koleksi Muhammad TWH

lapangan merdeka

lapangan merdeka medan tempoe doeloe (foto: repro Muhammad TWH)

Read more…

Golongan Kaya Raya (2)

18 Oktober 2009 nirwan 4 komentar

ical

Aburizal Bakrie sudah sah menjadi Ketua Umum Partai Golkar. Konon, dia adalah orang terkaya di seluruh Indonesia, dan bahkan Asia Tenggara. Benarkah? Kalaupun itu diragukan untuk apa? Toh, informasi soal kekayaan itu, seperti juga laporan kekayaan orang terkaya di dunia yang dilansir media tertentu, tak juga bisa dipastikan kebenarannya. Namun, dampak dari pemberitaan soal itulah yang penting. Bagi petugas pajak, tentu itu akan menjadi makanan empuk. Namun bagi si “tersangka” sendiri, itu menjadi kampanye yang bagus terutama untuk menaikkan harkat dan derajatnya. Dari titik itu, peluang untuk memperbesar jaringan semakin terbuka. Pepatah lama Indonesia yang berkata, “ada gula ada semut”, toh berlaku universal.

Untuk Golkar, banyak yang mengatakan duduknya Ical sebagai ketua sebagai langkah para “semut-semut” itu supaya tetap eksis. Mereka butuh sandaran terutama dalam hal finansial dan kekuasaan agar Golkar tidak mati bak pelanduk dalam pertarungan antara “gajah” politik saat ini seperti Partai Demokrat dan PDI Perjuangan.

Read more…

Golongan Kaya Raya (1)

13 Oktober 2009 nirwan 2 komentar

“Hebat, luar biasa, mantap, tokcer.” Itu beberapa kata yang ada di kepala ketika Aburizal Bakrie “hanya” menang tipis dari Surya Paloh dalam perebutan Panglima Tertinggi Partai Golongan Karya. Elit Golkar, sekali lagi, memberi tanda sekaligus pelajaran puluhan sks kepada partai-partai lain mengenai riil politik Machiavellis cita rasa Indonesia.

Golkar adalah partai yang realistis melihat pertarungan supra elit mereka dalam perebutan kursi Ketua Umum. Ini juga sekaligus tamparan bagi pengamat-pengamat politik “sok moralis” yang menyematkan harapan-harapan agar Golkar punya kepedulian terhadap pendidikan politik yang “baik-baik”. “Jangan kami yang disuruh belajar politik, kalian saja yang belajar,” mungkin seperti itu kata mereka kepada pengamat-pengamat itu. “Kami mempunyai seluruh instrumen untuk berkuasa, kecuali moral. Catat itu!” Mungkin kayak gitu.

Read more…

Jalan Kota Medan Justru Makin Hancur

7 Oktober 2009 nirwan 1 comment

Di sana-sini, jalan-jalan di Kota Medan hancur berantakan. Status kota Metropolitan dipertaruhkan.

* * *

upload

Kota Medan terus sibuk meladeni hujan yang turun tak kenal waktu. Beberapa ruas jalan, harus rela menjamu air hujan. Jangan cepat berharap panas segera datang karena persoalan baru sudah mengintip ganas di sana. Panas membuat rongga badan jalan yang compang-camping itu menyebarkan debu dan abu.

Read more…

Ketika Bumi Berguncang …

6 Oktober 2009 nirwan 9 komentar

Tayangan ketika gempa berlangsung di Padang, Sumatra Barat, yang dipertontonkan televisi begitu mengerikan. Ribuan orang panik dan membanjiri jalanan di Kota Padang, menangis dan menjerit. Itu yang sempat keluar dari gedung-gedung. Tidak ada yang tahu dan bisa menebak, kengerian bagaimana lagi yang dirasakan mereka yang terjebak di reruntuhan. Semuanya terjadi begitu cepat dalam gempa yang berukuran 7,6 Skala Richter (SR).

Gempa Sumbar

Laporan-laporan yang kemudian muncul, bak tragedi bersambung saja. Hingga artikel ini ditulis, sudah 450 orang yang meregang nyawa. Jumlah itu diperkirakan terus bertambah seiring massifnya kerusakan yang ditimbulkan gempa.

Read more…

“Earthquake Did Not Kill People, The Bad Building Did It”

6 Oktober 2009 nirwan 3 komentar

Gempa Padang bukanlah gempa yang terakhir kalinya dialami Indonesia. Apalagi kalau melihat “riwayat kerja” gempa di Indonesia selama ini. Selama September 2009 saja, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat lebih dari 30 kali gempa bumi di wilayah Indonesia dengan kekuatan di atas 5 SR.

gempa padang 2Beberapa yang terbesar di antaranya mengguncang Tasikmalaya (7,3 SR), Yogyakarta (6,8 SR), Tolitoli (6,0 SR), Nusa Dua (6,4 SR), dan Ternate (6,4 SR) dan Padang Pariaman (7,6 SR).

Dari situsnya Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, gempa bumi yang terjadi di wilayah Indonesia dalam beberapa bulan terakhir terjadi akibat dinamika pada lapisan bumi. “Gempa terjadi akibat penunjaman lempeng tektonik Samudera Hindia di bawah lempeng Asia di Pantai Barat Sumatera,” ujar Kepala Badan Geologi, Departemen Energi, R Sukhyar dalam penjelasannya di website Menteri Energi, 1 Oktober 2009.

Read more…

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H

23 September 2009 nirwan 6 komentar

Bagaimanapun terlalu banyak kesalahan, walau tentu tak akan sebanding dengan ampunan Tuhan. Di sisi itu, optimisme terhadap sang Maha Penggerak, akan selalu ada, berdenyut dan hidup. Benarlah dia yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang Terkasih, yang Tersayang.

Selamat Idul Fitri 1430 Hijriah, mohon maaf lahir batin. Mungkin selama ini, saya terlalu banyak mengarang.

Categories: All News, Islam, Kebudayaan, Lapak

Tommy, Tutut dan Siapa Lagi?

4 September 2009 nirwan 11 komentar

Mungkin agak basi, tapi tombongan Partai Golkar memang mulai membuka jati dirinya secara terus terang. Setelah Hutomo Mandala Putra, giliran Sri Hardiyanti Rukmana. Setelah itu siapa lagi?

Let’s see pasca lebaran.

Memang politik ‘gak ada matinya!

Gempa?

3 September 2009 nirwan 4 komentar

Dulu di Aceh dan Nias, Sumatera, pada 2005 kala SBY-JK baru memulai pemerintahannya. Kini, sedikit lagi masa pemerintahan mereka habis, gempa di Pulau Jawa. Nyawa-darah-tangis. Mitos? Pasti.

Categories: All News, Lapak

Ibarat Cinta

27 Agustus 2009 nirwan 7 komentar

heartCinta itu ibarat apa, api atau air? Sekelumit kisah disuguhkan dalam “Musyawarah burung-burung” karya Fariduddin At-Tar. Seorang ahli ibadah suatu saat bermimpi, dia sedang menyembah patung di Yunani. Ahli ibadah itu penasaran. Bersama rombongannya dia mendatangi Yunani dan sampailah di suatu kuil dia melihat seorang wanita yang sangat-sangat cantik. Dia terpikat dan betul-betul terpikat. Dalam kisah itu, si Ahli Ibadah tersebut rela melepaskan seluruh atribut keagamaannya dan masuk ke agama si wanita. Namun, tetap ada yang tak tega dengan si ahli ibadah. Murid-muridnya berusaha melepaskan dia dari ketergantungannya akan cinta. Itu berhasil, walau dengan sangat bersusah payah. End of fragmen.

Read more…

Ternyata Keyakinan Kita Tak Sama

26 Agustus 2009 nirwan 6 komentar

Waktu memang sungguh nakal. Gara-gara waktu, terjadilah perdebatan, mungkin serius, mungkin juga tidak. Suatu saat diputuskanlah berbuka pada pukul 18.36. Tentulah setiap arloji tak sama. Ada yang berbuka duluan ada juga yang belakangan. “Duluan” dan “belakangan” ini kita kutipkan saja, karena itu ‘kan persepsi saya.

perception_vaseYang duluan berkata, “Sesuai arloji yang sudah melingkar di pergelangan saya sejak muda, sudah waktunya berbuka. Saya tak salah, kalian yang salah.”

Yang belakangan menjawab, “Mungkin suatu kala pernah baterai jammu mengulah dan terlambat. Itu bukan tak mungkin, bukan? Jangan dulu salahkah orang lain. Mungkin saja, kami yang benar.”

Yang duluan berbuka berdebat dengan mulut mengunyah, sementara yang belakangan, tentu belum mengunyah. Yang belakangan ternyata ingin mengikuti waktu berbuka yang dimiliki oleh televisi. Setelah tivi menayangkan beduk, barulah yang belakangan mendebat lagi yang duluan tadi. Kini kedua mulut mereka sama-sama mengunyah.

Perdebatan semakin panas, bahkan sudah saling tuding. Ada pula yang sudah membawa-bawa ayat-ayat, di antaranya “Segerakanlah berbuka”. Tapi ada pula yang bilang begini, “Lebih cepat lebih baik.”

Muncullah seorang yang mencoba arif alias bijaksana. “Berbukalah sesuai dengan keyakinan masing-masing. Yang berbuka lebih dulu pasti ada dasarnya, dan kebalikannya, tentu yang belakangan tak begitu saja menunggu kalau tak punya alasan pasti. Jadi, sesuai dengan keyakinan masing-masing saja.”

Ah, ada pula yang menyeletuk dari belakang perdebatan itu. “Ternyata, walau kita sama-sama Islam, keyakinan kita tak sama.” (*)

Haramkan Negara bukan Pengemisnya!

25 Agustus 2009 nirwan 6 komentar

beggar_cagayan_de_oroNamanya tersebut sebagai Abu Dzar Al-Ghifar. Ia berteman dengan Salman Al-Farisi. Keduanya datang dari belahan wilayah di luar kota suci Makkah Al-Mukarramah. Satu dari suku bangsa Ghifar, suku nomaden yang punya tabiat merampok kabilah-kabilah. Dan yang terakhir disebutkan, berasal dari belahan bumi yang punya peradaban yang banyak ditulis bangsa-bangsa Eropa, Persia.

Sejak kecil, kedua orang ini diberitahu melalui ustadz-ustadz saya dengan kategori orang-orang yang kukuh pendirian, punya sikap dan cerdas. Abu Dzar punya kekhasan sebagai pelindung dan pembela orang miskin, yatim dan lemah. Seakan-akan kata “mustadha’afin “ itu sudah melekat erat dengan dirinya. Sementara Salman, diberitakan sebagai orang yang lurus, jujur dan cerdas.

Saya membayangkan seandainya Abu Dzar masih hidup dan kemudian mendengar fatwa sebagian ulama Indonesia yang mengharamkan “pengemis”. Apakah yang akan terjadi?

* * *

Read more…

Muhammad dan Kurma

24 Agustus 2009 nirwan 3 komentar

Berbukalah dengan yang manis. Betul? Betul, dan itu betul-betul betul. Nabi suka kurma? Betul, dan itu betul-betul betul. Apakah kemudian kurma identik dengan yang manis-manis? Betul sebagian, sebagian lagi tidak. Apakah kemudian menjadi sunnah berbuka dengan kurma? Betul, tapi hanya separuh, separuh yang lain mungkin saja tidak.

Ketika nabi diikuti sikap dan perilakunya, maka itu adalah sunnah. Dan untuk itu, maka kurma bisa jadi menjadi pahala tersendiri bagi orang yang memakannya ketika berbuka. Namun saya juga membayangkan ketika berbuka di suatu daerah yang sama sekali tidak kenal dengan kurma. Kalau “sunnah” itu diberlakukan, maka akan terjadi “ketidakadilan sunnah”.  Bagaimana mungkin saya mendapatkan pahala kalau saya tidak menemukan kurma?

Karena itu, “berbuka dengan manis” menjadi sandaran keduanya. Dia lebih lentur. Itu artinya, makanan halal yang rasanya manis, akan mendapatkan predikat “sunnah”. Dan mengikuti sunnah sudah jelas pahala.

Tapi untuk itu pun, ukurannya masih akan tetap ada. Bagaimana seandainya ketika Anda suatu saat berbuka dan tidak tersedia makanan yang manis-manis? Apakah Anda akan kehilangan pahala “sunnah”? Apakah nabi akan setega itu?

Read more…