Siapa Backing Sri Mulyani dan Boediono?
Kesaksian mantan Wakil Presiden, HM Jusuf Kalla, betul-betul menyentak. Pansus mencatat paling tidak ada beberapa poin penting. Pertama soal pertanyaan kalau Menkeu Sri Mulyani Indrawati merasa telah tertipu oleh Bank Indonesia. Itu menjadi jawaban atas pertanyaan yang mengemuka ketika Sri Mulyani mengaku hanya mau mempertanggungjawabkan dana sebesar Rp 632 Miliar. Itu berarti hanya sekitar 10% dari total bailout Rp 6,7 Triliun.
Pangkostrad Baru, Arah Politik Berubah?
Pangdam I Bukit Barisan, Mayjen TNI Burhanudin Amin, dipromosikan jadi Pangkostrad. Burhanuddin Amin merupakan teman sealumni KSAD Jendral George Toisutta (AKABRI 1976) bagian Infranteri. Sebelum jadi KSAD, George memangku jabatan yang kini dipegang oleh Burhanuddin, yaitu Pangkostrad. Jabatan Pangkostrad adalah salah satu jabatan paling strategis di tubuh TNI AD, institusi militer di Indonesia, dan dalam hal tertentu peta perpolitikan di Indonesia.
Sebelumnya, Presiden SBY telah mengangkat Jendral TNI Djoko Santoso sebagai Panglima TNI. Djoko merupakan alumni 1975. Beberapa hari yang lalu, Letjen TNI Sjafrie Sjamsoedin, juga diangkat sebagai Wakil Menteri Pertahanan. Sjafrie sendiri, ditilik dari tahun alumninya (1974), merupakan senior dari Djoko Santoso. Dengan demikian, Djoko juga merupakan junior Letjen TNI (purn) Prabowo Subianto, yang bersama Sjafrie merupakan alumni 1974.
Jalan-Jalan ke Danau Toba (Dulu Kala)
“Duh, duh, aduh, Jamilah. Jamilah kau gadis ayu. Malam minggu kau kutunggu. Abang sungguh tak sabar menunggu …”
Syair lagu pop dengan beat house music menghentak di dalam angkutan kota Samosir Tour yang saya naiki. Saya tersenyum saja. Soalnya, saya kira lagu yang akan didengar di angkot itu lagu batak. Ternyata, lagu yang biasa kita jumpai di kota manapun. Ketika supir angkot, Dolter Siagian, ditanya, dia pun cuma mesem. “Biasa lah, Bang, namanya supir,” katanya.
H Bachtiar Ibrahim dan Baiti Jannati
Suatu waktu, seorang pejabat tinggi di pemerintahan propinsi Sumatera Utara pernah datang ke daerah Mandala By Pass. Ia mencari rumah anggota MPR RI bernama H Bachtiar Ibrahim. Sesampai di jalan Tanggukbongkar, ia belok kiri melewati puskesmas. Namun, ia tidak menjumpai satu pun rumah mewah, khas milik pejabat atau wakil rakyat di Indonesia, di sana. Ia jadi meragukan alamat yang diberikan kepadanya. Ketika supirnya menanyakan kepada penduduk setempat, warga mengiyakan alamat tersebut dan menunjuk sebuah rumah mungil. “Ah, masa’ sih, rumah anggota MPR begini?” ucapnya dalam hati, penuh keraguan.
Tapi dari balik pintu muncul sesosok pria yang tidak begitu besar dan rambutnya sudah mulai memutih. Betul, dialah H Bachtiar Ibrahim. Pejabat itu langsung masuk ke halaman rumah Bachtiar dan menyalaminya. Tak lupa ia mengatakan keheranannya mengenai kesederhanaan rumah H Bachtiar Ibrahim, yang waktu itu masih aktif sebagai anggota MPR RI Utusan Daerah Sumatera Utara periode 1999 – 2004. Apalagi, waktu itu, Bachtiar juga bukan sembarang orang. Ia juga mantan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara, periode 1995 – 2000.
“Itulah saya,” katanya sambil tersenyum, di suatu sore. Bachtiar mengatakan memang banyak orang yang terkejut ketika melihat rumahnya. Begitu juga dengan saya. Dalam bayangan semula, mestilah mantan seorang anggota MPR RI bergelimang kemewahan, pagar tinggi, halaman luas, dan ditengkrengi beberapa buah mobil mewah. Tapi yang satu ini lain.
* * *
Demi Pena dan yang Dituliskannya
Maka, kaum intelektual dan cendekiawan yang jujur, adil dan ikhlas dalam pencarian keilmuwannya, menuliskan apa yang mereka ketahui dan pahami dengan hunusan pedang di atas kepalanya.
Maka, ada di antara mereka yang melawan dan berpisahlah badan dari kepalanya. Dan sebagian besar di antara mereka, (dengan pertimbangan yang arif dan diambil di jalan yang penuh onak, memutuskan) merahasiakan ilmu pengetahuannya dalam bait-bait misterius yang harus dipahami oleh pewarisnya dengan sabar, teliti dan hati-hati.
Maka, kebenaran ilmu yang nyata lagi meyakinkan (munasabah) terbelah pada dua anak sungai. Yang satu mengalir dalam anak sungai di mana khalayak bermandi dan minum darinya. Dan aliran yang kedua, berjalan diam-diam, tenang dan hanyut ke tengah-tengah samudera. Ingatlah baik-baik, kebenaran yang dirahasiakan itu jauh lebih luas, lebih dalam dan lebih terang dari hitam. Seperti bintang yang memantulkan cahayanya kala malam melingkupi.
Maka langit dan bumi akan menjadi saksi di hari pengadilan kelak. Seluruh fakta akan disidang, seluruh saksi akan diperdengarkan, seluruh bukti akan dipergelarkan, seluruh pembelaan akan dikumpulkan. Dan sebaik-baik hakim yang bijaksana adalah Allah.
10 Muharram 1431 H
27 Desember 2009
Antara Aku, Kau dan Presidenmu
Untuk siapa dan untuk apa perjuanganmu memakzulkan Presiden?
Agar dia jatuh dan kemudian seekor buaya lain duduk di singgasananya?
Ataukah kau berpikir itu untuk reformasi dan demokratisasi di negaramu ini?
Pikirkan ulang dengan sebaik-baiknya.
Apakah yang kau maksudkan dengan reformasi dan demokratisasi?
Apakah kau pikir itu akan merubah hidupmu, menjadikan kesejahteraanmu semakin baik, atau engkau akan diperlakukan adil dalam kerja, aktifitas dan ketika diadili?
Apakah yang engkau cari dari reformasi dan demokratisasi?
Cukupkah itu ketika engkau hanya berharap agar kehidupanmu lebih baik di masa depan?
Aku katakan kalaulah Soeharto hidup kembali, menjanjikan dan lantas betul-betul memberikan kehidupan engkau yang lebih baik dari sekarang, apakah engkau akan mengikutinya?
Pikirkankanlah ulang kembali, baik-baik, apakah yang engkau maksudkan dengan memakzulkan Presiden.
Oh, mungkin engkau mengira, kehidupan berbangsa dan bernegara akan menjadi lebih jujur, lebih memihak rakyat banyak, menjadikan orang-orang miskin terjamin dan punya harapan untuk hidup dan mengais rezeki. Betulkah itu? Kau pikir, makzulnya Presiden itu akan menjamin itu?
Atau seandainya, gara-gara makzulnya Presiden, itu semua terjadi, lantas apa selanjutnya?
Oh, mungkin juga engkau bermaksud revolusi, mengubah semua tatanan dalam bingkai hitam putih, buruk dan baik. Apakah yang engkau maksudkan dengan revolusi itu, wahai sahabatku? Apakah yang akan terjadi kepada dirimu setelah itu revolusi itu terjadi.
Oh, mengapa engkau menjawab, dirimu itu tak penting, melainkan hiduplah yang penting? Ketika engkau melihat orang lain berbahagia, itulah keutamaan, katamu. Dan engkau mengatakan, kebahagian orang lain adalah kebahagiaan dirimu.
Maha suci Tuhan, maha besar dia, karena aku mendengar keluhan di balik kata-katamu. Aku merasakan rintihan kalau engkau pun ingin bahagia. Engkau rupanya ingin agar orang lain pun bisa turut membahagiakanmu.
Sahabat, lihatlah lagi dalam-dalam dirimu. Setelah itu, marilah kita berbincang-bincang lagi soal memakzulkan Presidenmu.
Bagaimana Bila SBY Terlibat dan Kemudian Di-Impeachment
Itu ‘kan pertanyaan yang mungkin (mau dipastikan juga susah…) saja ada di pucuk tertinggi di benak masyarakat soal Skandal Century ini. Feeling saya, semua politisi dan aparat hukum (jangan pernah pakai istilah “penegak” hukum, soalnya kapan pula di negeri ini hukum itu ditegakkan ya…), terus menyimpan itu. Nah, tapi saya duga juga pasti pikiran itu berkelebat-kelebat di benak, kayak pendekar Wiro Sableng gelantungan di pohon.
Tampaknya (tampaknya ya…), penanganan skandal Century ini hati-hati betul, laiknya ingin menarik rambut dari tepung. Kayaknya (kayaknya ya…), bidikan yang langsung diarahkan ke RI-1 alias SBY ini, hendak dijadikan “rahasia umum” atau juga “tahu sama tahu”. Dan juga, kalau bisa jangan disebutkan.
Nah, kalau semua sudah berpandangan begitu, mengapa pula harus disembunyi-sembunyikan?
* * *
Negeri ini benar-benar tak asing dengan impeachment. Yang paling gres bahkan baru terjadi 2001 lalu. Itu cuma delapan tahun yang lalu. Gus Dur, Presiden yang kocak itu, yang bisa menimbulkan tawa siapa-siapa yang mendengarkan dia ketika beranekdot itu, saja bisa ter-impeachment. Lha, kalau orang yang penuh humor itu ‘kan, teorinya, disenangi banyak orang. Nah, bila orang yang bertipe seperti ini saja harus lengser keprabon, konon pula yang imejnya itu yang serius, kening berkerut, gaya bicaranya kaku dan pokoknya prosedural atau protokoler banget deh!
Kalau mengingat-ingat perbandingan yang kayak begini ini, setiap saya ngikutin berita di koran ataupun di tivi, senyum simpul selalu hadir. Itu ketika hampir seluruh kalangan, terutama politisi, mengatakan, “Pansus dan hak angket Century ditujukan untuk membuka fakta dan tidak bertujuan untuk memakzulkan Presiden.” Hihihi …
Kekuasaan yang Takut pada Rakyatnya
Presiden SBY kembali “mengeluh”. Dia bilang, aksi 9 Desember ditengarai sedang menggoyang dan lebih jauh akan menjatuhkan kekuasaannya. Aneh? Mungkin.
Reaksi yang diberikan masyarakat beragam, sementara reaksi yang dilontarkan kalangan pemerintahan seragam. Pemerintahan, mulai di Menkopolkam, BIN, polisi, hingga Menkominfo, keseluruhannya mendukung bosnya. Bahwa yang dikatakan bos mereka benar adanya, dan chaos pada demonstrasi 9 Desember dikhawatirkan akan merusak pembangunan dan perekonomian yang “sedang bagus-bagusnya”. Aneh? Sangat mungkin.
***
Kekuasaan yang punya hubungan sangat mesra dengan rakyatnya, pastilah tak akan pernah takut pada rakyatnya sendiri. Bahkan kalaupun memang benar dia akan dijatuhkan oleh rakyatnya, dia tak akan mengalami ketakutan itu. Kekuasaan bagi mereka-mereka yang benar-benar berpihak pada rakyatnya, akan menganggap kekuasaan adalah amanah. Dan bila rakyat yang dipimpinnya mengkritiknya dan menganggapnya tidak bisa lagi mengemban amanah, dia akan rela. Kekuasaan baginya bukanlah hal yang akan menjatuhkan harga diri, martabat dan kehormatannya. Dia tidak akan “mati” hanya karena dia tidak duduk lagi di singgasana kekuasaan.
Hal sebaliknya akan terjadi pada mereka yang menganggap kekuasaan adalah segala-galanya. Dia akan menghalalkan segala cara untuk memanjat dan duduk di atasnya. Dan dia akan mempertahankannya dengan nyawanya. Dia akan menjadi sangat sensitif pada siapa-siapa yang berusaha menyentuh kursinya. “Siapa saja” itu maksudnya adalah siapa saja, baik itu anak, istri, ponakan apalagi bawahan. Kekuasaan punya daya magis yang akan membuat setiap orang yang duduk di atasnya menjadi buta karena dia hanya melihat dirinya sendiri. Tidak ada subjek lain melainkan “aku”. Semua orang akan tunduk dan harus meletakkan kepalanya sejajar dengan kakinya. Kekuasaan seperti tuhan, dan mungkin tuhan itu sendiri.
Kekuasaan, itulah hal yang paling utama di seluruh dunia ini.
***
Indonesia Telah Kehilangan Pesonanya
“All power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely”. (Lord Acton)
* * *
Indonesia telah kehilangan pesonanya. Istilah itu bukan dari saya, tapi sebuah artikel yang saya baca dari seseorang bernama Lukman Age. Lukman mengutip kalimat itu dari seorang pengamat, yang sayangnya tak disebutkan namanya. Itulah kalimat yang membikin saya tercenung, aneh.
Indonesia telah kehilangan pesona. Ini soal hati mungkin. Ketika ada perasaan bersatu, laiknya satu pasangan laki-laki dan wanita, maka kehilangan pesona merupakan dentuman keras bagi sebuah hubungan. Dia ibarat jaring yang menjadi lem perekat. “Pesona” yang telah hilang jelas adalah hal yang mampu menyulut perceraian.
Apakah yang sedang terjadi di Indonesia ini, wahai Sahabat. Saya merasa, jawaban-jawaban sudah terlalu banyak dilontarkan para akademisi dengan referensi-referensi yang sahih, valid, reliable, aktual dan akurat. Masih adanya dikotomi pusat-daerah, minusnya kepercayaan kepada pemerintahan, lembaga-lembaga hukum dan perwakilan rakyat, mega korupsi, manipulasi data-data penting pemerintahan, gelontoran duit dalam anggaran yang tak jelas pertanggungjawabannya, birokrasi yang terus terasa makin rumit, aparatur yang brengsek, pertahanan yang makin lemah, negara tetangga yang makin melunjak, penjilat kekuasaan yang terus makin ramai, pendidikan yang makin bodoh, moralitas yang berada di titik nadir, kekayaan alam yang tersedot habis, kerusakan lingkungan, bencana berulang kali, tewasnya ratusan ribu orang di Indonesia hanya dalam waktu enam tahun dan kita hanya menghitung-hitungnya laiknya statistik sebuah skripsi, dan entahlah, terlalu banyak sudah deretan-deretan itu.
Demi Papa, Demi Mamak
Demi papa yang mengecupkan alif lam mim,
demi mamak yang menyuapkan akhlaq al-karim,
Terbuanglah air mata di balik kamar berdinding batu.
Ah, Jenderal George Rupanya yang Jadi Kasad
Markas Besar Angkatan Darat (Mabesad) Rabu kemarin melaksanakan serah terima jabatan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) dari Jenderal TNI Agustadi Sasongko Purnomo kepada Letnan Jenderal TNI George Toisutta. Bertindak sebagai Inspektur Upacara Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso.

Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Letjen TNI George Toisutta
Karir militer Letjen TNI George Toisutta sebelum menjabat sebagai Kasad adalah sebelumnya pernah menjabat sebagai Pangkostrad, Pangkoops TNI di Provinsi Aceh, Pangdiv I Kostrad, Pangdam XVII/Cenderawasih, Pangdam III/Siliwangi. Pria kelahiran Makasar 1 Juni 1953 itu, menamatkan pendidikan militer di Akabri Darat pada tahun 1976, Sarcabif 1977, Susstaf Pur 1987, Seskoad 1992, Sesko ABRI 1997 dan KRA-XXXIV Lemhannas 2001.
Letjen TNI George Toisutta mempunyai tiga orang anak, mengawali karir militer pada tahun 1978 sebagai Komandan Peleton 1-Kipan C Yonif 741/BS, Kasiops 741/BS, Dan Kipan C Yonif 741/BS, Dan Kipan B Yonif 744/BS, Paurtiknik Sdirlitbang Pussenif, Kaurtiknik Sdirlitbang Pussenif, Kasimindik Sdirdiklat Rinifdam, Kasi 2/Ops Brigif 1/PIK Kodam Jaya, Wadan Yonif 201/Jaya Kodam Jaya, Danyonif 700 Dam VII/Wirabuana, Dandim 1417 Rem 143 Dam VII/Wirabuana, Paset Spri Pangab, Wadanrem 164/WD Dam IX/Udayana, Danrem 051/Wijayakarta Dam Jaya, Dan Puslatpur, Kasdivif 2 Kostrad dan Kasdam Jaya.
Letjen TNI George Toisutta pernah melaksanakan tugas operasi militer di Timor-Timur tahun 1977, 1979, 1980, 1982, 1984, 1985, 1995 dan di Provinsi Aceh tahun 2003.
Mengapa jenderal George yang dipilih SBY? Apa implikasinya pada perkembangan sosial politik tanah air yang sedang panas-panasnya? Menarik. (*)
===
sumber: tniad.mil.id
Presiden SBY Disebut dalam Rekaman, Terlibatkah?
Jangan Anda bermimpi soal penegakan hukum ketika mengikuti kasus KPK. Dengarkanlah rekaman itu, dan dengarkanlah kemudian bagaimana pemerintahan (dan negara) menyikapinya.
Hampir seluruh orang menyatakan, termasuk Presiden SBY sendiri bahwa nama-nama yang disebutkan di rekaman itu mesti diusut tuntas, dinonaktifkan, mulai dari perwira polisi, Anggodo, Anggoro, sampai yang bersuara perempuan, Yuliana. Tapi mengapa ketika nama Presiden SBY alias RI-1 disebut-sebut, kok malah itu hanya disebut “akal-akalan”, dan “main-main”?
Jangan bilang-bilang soal penegakan hukum, karena ini adalah ketidakadilan dan tebang pilih.
Yang adil adalah ketika semua orang yang terlibat maupun yang disebut dalam rekaman itu diusut, disidik, diselidiki dan bila terbukti segera diadili dengan adil. Ini bukan perkara membela KPK atau kepolisian, kejaksaan sampai pengacara atau yang lain-lain yang berhubungan langsung dengan sistem hukum dan penegakan hukum. Apa gunanya menjaring orang untuk membela KPK, tapi kalau substansi masalah lain yang lebih besar kita tutup-tutupi.
Lihatlah ketika semua orang dikumpulkan oleh negara yang menganggap kasus ini dapat membuat “people power” sehingga perlu membikin TPF soal KPK. Dan kemudian Susno dan Ritonga (disuruh) mundur dan sahlah sudah kalau mereka hanya sebagai “kambing hitam” demi sesuatu persoalan yang jauh lebih besar dari itu. Kalaulah mereka salah, jangan cuma “disuruh” mundur tapi langsung adili.
Biarkan seluruh masyarakat melihat kalau kebobrokan
penegakan hukum telah terjadi (lama), tak cuma di tingkat kepolisian, jaksa, pengadilan, pengacara, hingga KPK dan yang lain-lainnya. Hukum beserta aparat-aparatnya ternyata tak sekuat istana negara. Kepolisian harus berani, kejaksaan harus tegas, hakim-hakim harus punya integritas, KPK dan para pengacara pun harus bertobat dan tak lagi memicing mata terhadap megakorupsi.
Tidak cuma kalian, tapi juga media, karena hampir seluruh media memakai kata “pencatutan” untuk SBY, tapi tidak kepada yang lainnya…
Jangan ngomong manis!
Paris Van Sumatra Itu Mitos …
Konon, Kota Medan sempat dijuluki dengan sebutan super keren “Paris Van Sumatra”. Dirk A Buiskool, sejarahwan Belanda, pun sempat menyitir dengan kalimat “Paris of Sumatra” dalam sebuah paper-nya. Dengan perubahan wajah yang begitu kontras, kini ia dikhawatirkan hanya jadi sekedar mitos. Kota metropolitan atau kota emperan?

Kota Medan di daerah Lapangan Merdeka, Kantor Pos, Hotel Dharma Deli (dulu hotel de Boer), gedung BI, Balai Kota dan seterusnya. (foto: Roemono)
Penanggung Jawab: Nirwan
Reportase: Sri Mahyuni
Fotografer: Roemono
(Foto-foto lama repro Dr Phil Ichwan Azhari)
* * *
“Kota Medan pernah dijuluki Paris van Sumatra. Itu mungkin karena pada masa itu kota ini begitu mulus, indah, dan tertib. Setiap hari mobil penyapu jalan dengan sapunya yang bundar, berkeliling menyusuri sudut kota untuk membersihkan jalan dari segala macam sampah, termasuk kotoran kuda dan lembu. Di belakangnya menyusul mobil mengangkut sampah dan kotoran tersebut untuk dibawa ke tempat pembuangannya.
Kawasan Kesawan; Kacaunya Wajah Sejarah di Inti Kota Medan
Kombinasi sisa-sisa bangunan kuno peninggalan Belanda yang dijumpai di kawasan Kesawan, Kota Medan, dengan bangunan “modern” yang desainnya hanya berkelas “ruko”, memperlihatkan perkawinan yang aneh. Simbol kekacauan dan ketidakpedulian terhadap sejarah dan perkembangan Kota Medan.
* * *
Reportase: Sri Mahyuni
Fotografer: Ariandi
Foto-foto lama repro koleksi Muhammad TWH dan Dr Phil Ichwan Azhari

Kesawan dulu dan sekarang. Foto gedung PT London Sumatera, terletak di ujung titik Kesawan (foto Ariandi dan repro Ichwan Azhari)
Kawasan Kesawan Kota Medan. Konon, di sinilah –konon– bermukim sekitar 600 bangunan bersejarah yang ada maupun yang pernah dimiliki Kota Medan.
Mari hitung lagi sedikit demi sedikit apa sejarah apa yang pernah menjejak di Kesawan, yang berdasar peta tahun 1913 (dan direpro pada 1945) –menurut keterangan yang didapat dari sejarahwan Unimed, Dr Phil Ichwan Azhari– berada di sebuah kawasan yang memanjang dari Jalan Nienhuysweg (kini dirubah jadi Jalan Jend Ahmad Yani) hingga ke Jalan Istana (kini simpang jalan Balai Kota).
Persatuan Politik a la Es Beye
Nah, Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II yang diracik Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden Prof Boediono, untuk sementara, selesai sudah. Saya tulis sementara karena masih ada prosedur “reshuffle” bila nantinya si Presiden sudah tak berkenan. Dan kini, nama-nama itu sudah tersaji bak hidangan di restoran Minang.

SBY, Hatta Radjasa dan Sudi Silalahi (sumber foto: beritasore.com)
Yang bisa dikatakan dan hampir umum dibicarakan khalayak adalah pemilihan kue-kue kabinet memang sangat heterogen dari segi politik. Tampaknya geliat partai politik dalam peta koalisi sebelum pilpres kemarin, jadi kenyataan di kabinet ini. Bagi-bagi kekuasaan di pemerintahan lima tahun ke depan, sangat terasa. Apalagi, dengan judul kabinet yaitu “Kabinet Indonesia Bersatu II”, si Presiden tampaknya tak ingin merubah tema starting line up pemerintahannya. Dia ingin persatuan lebih diutamakan. Dengan demikian juga, itu tandanya dia mau stabilitas politik yang kokoh dalam lima tahun ke depan. Dan itu tak cuma di level eksekutif, tapi juga di sektor lain misalnya di legislatif.
Intinya, SBY ingin membentuk pemerintahan yang kuat di mana dia menjadi poros alias sumbu utama kekuasaan dan kekuatan politik. Kalau pemerintahan kuat, program akan mudah dijalankan. Rakyat pun sejahtera. Itu versi Presiden.
Sjafrie Sjamsoeddin dan Anak Harimau

Letjend TNI Sjafrie Sjamsoeddin (sumber foto: inilah.com)
Saya kira, salah satu jenderal terganteng yang dimiliki oleh TNI saat ini adalah Letjend TNI Sjafrie Samsuddin. Nasibnya pernah akan diramalkan akan cemerlang. Dulu, bersama Letjend TNI (Purn) Prabowo Subianto, dia adalah salah satu bintang terang yang dimiliki Angkatan Darat. Bintang yang lain adalah Jenderal (Purn) Wiranto, plus Jenderal (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono. Dia disebut-sebut sebagai salah seorang lingkaran terdalam dari “pasukan perwira”-nya Prabowo. Mereka dinilai sangat akrab sejak menjadi perwira pertama, perwira menengah, apalagi saat menjadi perwira tinggi. Ketika Prabowo menjadi Pangkostrad, Sjafrie adalah Panglima daerah paling strategis, Pangdam Jaya.
Namun faktor kedekatan itu pula yang membikin pamor Sjafrie terus meredup. Terbuangnya Prabowo pasca gerakan 1998, membuat Sjafrie juga kena dampak ikutan. Dia disimpan menjadi jenderal berkategori staf yang notobene tak bisa membikin keputusan apalagi punya pasukan. Ya, kecemerlangan, kecerdasan dan tentu saja kegantengannya itu, sirna.
Wajah “Antik” nan Murung di Titik Nol Kota Medan
Kawasan Lapangan Merdeka ditetapkan sebagai Titik Nol Kota Medan. Pertimbangannya, kawasan itu dulu menjadi sentra kegiatan dari perdagangan, pemerintahan, kantor pos, stasiun kereta api hingga hotel pertama di Kota Medan. Sempat dijuluki “Taman Burung” oleh Belanda dan “Fuku Raidu” oleh Jepang, pada 6 oktober 1945 di tempat itu, Mr Muhammad Hasan sebagai Gubernur Sumatra Timur mengumumkan kemerdekaan RI kepada seluruh masyarakat Kota Medan.
* * *
Reportase: Sri Mahyuni
Fotografer: Roemono, Ariandi Kopral
Foto-foto lama: repro koleksi Muhammad TWH

lapangan merdeka medan tempoe doeloe (foto: repro Muhammad TWH)
Golongan Kaya Raya (1)
“Hebat, luar biasa, mantap, tokcer.” Itu beberapa kata yang ada di kepala ketika Aburizal Bakrie “hanya” menang tipis dari Surya Paloh dalam perebutan Panglima Tertinggi Partai Golongan Karya. Elit Golkar, sekali lagi, memberi tanda sekaligus pelajaran puluhan sks kepada partai-partai lain mengenai riil politik Machiavellis cita rasa Indonesia.
Golkar adalah partai yang realistis melihat pertarungan supra elit mereka dalam perebutan kursi Ketua Umum. Ini juga sekaligus tamparan bagi pengamat-pengamat politik “sok moralis” yang menyematkan harapan-harapan agar Golkar punya kepedulian terhadap pendidikan politik yang “baik-baik”. “Jangan kami yang disuruh belajar politik, kalian saja yang belajar,” mungkin seperti itu kata mereka kepada pengamat-pengamat itu. “Kami mempunyai seluruh instrumen untuk berkuasa, kecuali moral. Catat itu!” Mungkin kayak gitu.
Jalan Kota Medan Justru Makin Hancur
Di sana-sini, jalan-jalan di Kota Medan hancur berantakan. Status kota Metropolitan dipertaruhkan.
* * *

Kota Medan terus sibuk meladeni hujan yang turun tak kenal waktu. Beberapa ruas jalan, harus rela menjamu air hujan. Jangan cepat berharap panas segera datang karena persoalan baru sudah mengintip ganas di sana. Panas membuat rongga badan jalan yang compang-camping itu menyebarkan debu dan abu.





Yang Ngomen