Buronan Cilik

Presiden SBY Disebut dalam Rekaman, Terlibatkah?

In All News, Kebudayaan, Politik on 5 November 2009 at 1:49 pm

Jangan Anda bermimpi soal penegakan hukum ketika mengikuti kasus  KPK.  Dengarkanlah rekaman itu, dan dengarkanlah kemudian bagaimana pemerintahan (dan negara) menyikapinya.

Hampir seluruh orang menyatakan, termasuk Presiden SBY sendiri bahwa nama-nama yang disebutkan di rekaman itu mesti diusut tuntas, dinonaktifkan, mulai dari perwira polisi, Anggodo, Anggoro, sampai yang bersuara perempuan, Yuliana. Tapi mengapa ketika nama Presiden SBY alias RI-1 disebut-sebut, kok malah itu hanya disebut “akal-akalan”, dan  “main-main”?

Jangan bilang-bilang soal penegakan hukum, karena ini adalah ketidakadilan dan tebang pilih.

Yang adil adalah ketika semua orang yang terlibat maupun yang disebut dalam rekaman itu diusut, disidik, diselidiki dan bila terbukti segera diadili dengan adil. Ini bukan perkara membela KPK atau kepolisian, kejaksaan sampai pengacara atau yang lain-lain yang berhubungan langsung dengan sistem hukum dan penegakan hukum. Apa gunanya menjaring orang untuk membela KPK, tapi kalau substansi masalah lain yang lebih besar kita tutup-tutupi.

Lihatlah ketika semua orang dikumpulkan oleh negara yang menganggap kasus ini dapat membuat “people power” sehingga perlu membikin TPF soal KPK. Dan kemudian Susno dan Ritonga (disuruh) mundur dan sahlah sudah kalau mereka hanya sebagai “kambing hitam” demi sesuatu persoalan yang jauh lebih besar dari itu. Kalaulah mereka salah, jangan cuma “disuruh” mundur tapi langsung adili.

Biarkan seluruh masyarakat melihat kalau kebobrokan
penegakan hukum telah terjadi (lama), tak cuma di tingkat kepolisian, jaksa, pengadilan, pengacara, hingga KPK dan yang lain-lainnya. Hukum beserta aparat-aparatnya ternyata tak sekuat istana negara. Kepolisian harus berani, kejaksaan harus tegas, hakim-hakim harus punya integritas, KPK dan para pengacara pun harus bertobat dan tak lagi memicing mata terhadap megakorupsi.

Tidak cuma kalian, tapi juga media, karena hampir seluruh media memakai kata “pencatutan” untuk SBY, tapi tidak kepada yang lainnya…

Jangan ngomong manis!

Paris Van Sumatra Itu Mitos …

In All News, Ekonomi, Geliat, Kebudayaan, Panggung, Politik, Sastra dan Seni on 2 November 2009 at 5:12 pm

Konon, Kota Medan sempat dijuluki dengan sebutan super keren “Paris Van Sumatra”. Dirk A Buiskool, sejarahwan Belanda, pun sempat menyitir dengan kalimat “Paris of Sumatra” dalam sebuah paper-nya. Dengan perubahan wajah yang begitu kontras, kini ia dikhawatirkan hanya jadi sekedar mitos. Kota metropolitan atau kota emperan?


kota medan

Kota Medan di daerah Lapangan Merdeka, Kantor Pos, Hotel Dharma Deli (dulu hotel de Boer), gedung BI, Balai Kota dan seterusnya. (foto: Roemono)

Penanggung Jawab: Nirwan
Reportase: Sri Mahyuni
Fotografer: Roemono
(Foto-foto lama repro Dr Phil Ichwan Azhari)

* * *


“Kota Medan pernah dijuluki Paris van Sumatra. Itu mungkin karena pada masa itu kota ini begitu mulus, indah, dan tertib. Setiap hari mobil penyapu jalan dengan sapunya yang bundar, berkeliling menyusuri sudut kota untuk membersihkan jalan dari segala macam sampah, termasuk kotoran kuda dan lembu. Di belakangnya menyusul mobil mengangkut sampah dan kotoran tersebut untuk dibawa ke tempat pembuangannya.

Kawasan Kesawan; Kacaunya Wajah Sejarah di Inti Kota Medan

In All News, Ekonomi, Geliat, IPTEK, Kebudayaan, Panggung, Politik on 26 Oktober 2009 at 5:38 pm

Kombinasi sisa-sisa bangunan kuno peninggalan Belanda yang dijumpai di kawasan Kesawan, Kota Medan, dengan bangunan “modern” yang desainnya hanya berkelas “ruko”, memperlihatkan perkawinan yang aneh.  Simbol kekacauan dan ketidakpedulian terhadap sejarah dan perkembangan Kota Medan.

* * *

Reportase: Sri Mahyuni
Fotografer: Ariandi
Foto-foto lama repro koleksi Muhammad TWH dan Dr Phil Ichwan Azhari

Kesawan dulu dan sekarang

Kesawan dulu dan sekarang. Foto gedung PT London Sumatera, terletak di ujung titik Kesawan (foto Ariandi dan repro Ichwan Azhari)

Kawasan Kesawan Kota Medan. Konon, di sinilah –konon– bermukim sekitar 600 bangunan bersejarah yang ada maupun yang pernah dimiliki Kota Medan.

Mari hitung lagi sedikit demi sedikit apa sejarah apa yang pernah menjejak di Kesawan, yang berdasar peta tahun 1913 (dan direpro pada 1945) –menurut keterangan yang didapat dari sejarahwan Unimed, Dr Phil Ichwan Azhari– berada di sebuah kawasan yang memanjang dari Jalan Nienhuysweg (kini dirubah jadi Jalan Jend Ahmad Yani) hingga ke Jalan Istana (kini simpang jalan Balai Kota).