Seribu Lagu Ahmad Baqi
“Sahabat
Biarlah daku pergi
Berjalan menuju
Pangkalan …”
Entah siapa yang disebut sahabat oleh Almarhum H Ahmad Baqi. Bait lagu “Tersiksa Dalam Kenangan” di atas merupakan lagu terakhir yang diciptakan maestro musik religi Sumatera Utara. Lagu itu diciptakan Ahmad Baqi, sesaat sebelum ia mengambil sajadahnya untuk shalat tahajud malam di awal Syawal tahun 1999.
Menjelang subuh di bulan Syawal kedua, 20 Januari 1999, Ahmad Baqi meminta anak-anaknya untuk mengantarkannya ke tempat tidur. Di peraduan itulah Ahmad Baqi menjumpai Sang Maha Indah. Anak-anaknya menemukan syair lagu lengkap dengan partiturnya itu, di atas meja kerja Ahmad Baqi, di pondoknya yang terletak di belakang rumah utama di jalan Garu I Medan itu. “Sepertinya ayah sudah tahu kalau ia akan berpulang,” kata Ahmad Syauqi Ahmad Baqi, anaknya yang keenam.
Lagu itu menceritakan tentang keinginan Ahmad Baqi yang masih terpendam dan belum tersalurkan sampai saat ini. “Yang bisa saya interpretasikan adalah keinginan dalam bidang seni,” kata Syauqi.
Memang. Ahmad Baqi lebih dihargai di negeri orang daripada negeri sendiri. Ahmad Baqi mendapat gelar Profesor Honoris Causa di bidang musik dari Pemerintah Malaysia tahun 1978. Gelar itu diberikan Datuk Asri, Menteri Besar Malaysia, setelah lagu “Selimut Putih”, yang bercerita tentang kematian dan membuat merinding seantero pelosok ranah Melayu, pertama kali dikeluarkan tahun 1977. Delapan belas tahun kemudian, tepatnya di tahun 1995, pemerintah Malaysia memberinya gelar Datuk yang diberi oleh Menteri Besar Sabah. Dua tahun sebelum wafat, ia diberi gelar ASDK (Ahli Setia Darjah Kota Kinabalu) oleh kerajaan Sabah Malaysia (1997). Kali itu, Ahmad Baqi yang lahir pada 17 Juli 1922, sudah berumur 75 tahun.
Di Brunei, Ahmad Baqi ditawari untuk tinggal di sana. Fasilitas apa pun akan diberikan pemerintah Brunei bila Ahmad Baqi mau menularkan ilmu dan berkreasi di negeri kaya minyak itu. Tawaran itu ditampik Ahmad Baqi dengan halus kepada Awang Haji Tua, seorang pengurus Kerajaan Brunei yang datang kepadanya pada 1982. Ahmad Baqi sendiri datang ke Brunei ketika Sultan Brunei, Hasanal Bolkiah sedang berulang tahun yang ke-37. “Lebih baik hujan batu di negeri daripada hujan emas di negeri orang,” kata Ahmad Baqi waktu itu. Tidak ada satupun yang bisa mengukur kadar nasionalisme yang dimiliki Ahmad Baqi.
Maestro musik padang pasir dunia asal Mesir, Ummi Kaltsum pun mengetahui sosok Ahmad Baqi. Pesuling itu juga meminta Ahmad Baqi untuk mengajar musik padang pasir dan pindah ke Malaysia. Ahmad Baqi menolak mandah. Tapi Mesir tetap memperhatikan Ahmad Baqi. Universitas Al Azhar, Cairo, Mesir, memberinya hadiah berupa Ganun, alat musik petik khas Mesir yang mempunyai 78 senar. Ganun itu diserahkan di kampus Universitas Islam Sumatera Utara. Ganun itu dikuasai Ahmad Baqi hanya dalam waktu setahun. Itu di samping keahliannya memainkan dengan fasih alat musik lain seperti biola, gambus, dan akordion.
Seribu Lagu
Ahmad Baqi sendiri dikatakan anaknya mengaku mempunyai patron dan akar musik padang pasir dari Mesir. Akar Mesir rupanya tidak mudah untuk dicerna oleh personil musik Ahmad Baqi sendiri. Zubeiruddin, pemain keyobard Ahmad Baqi, mengaku masih susah untuk membawakan lagu “Al Wathan (Negeri)”. “Musiknya asli diambil dari Mesir,” kata Zubeir.
Lagu-lagu Ahmad Baqi memang kental dengan unsur religi, terutama ruh Islam. Simaklah lirik “Selimut Putih” yang fenomenal itu,
Bila Izrail datang memanggil
Jasad terbujur di pembaringan
Sekujur tubuh akan menggigil
Sekujur badan akan kedinginan
Tapi, kontemplasi yang dilakukannya bukan hanya dari segi pemahaman terhadap kandungan Islam. Optimisme disertai pengendalian diri juga digariskan dalam lagu-lagunya. Dengarlah dalam lagu “Cita-cita” yang dipopulerkan Hasmidar Darwis tahun 1970.
Kala berkayuh menuju pantai
Kerap bersua ragam halangan
Tidak semua hasrat kan sampai
Kadang terbentur di tengah jalan
…
Yakinlah bila bulan telah sabit
Esok lusa pasti purnama…
Untuk soal nada, Ahmad Bawi sendiri dipengaruhi kuat oleh nada-nada lagu Al-quran yang sebut qiraat. Lagu-lagu itu seperti Bayati, Siqa, Raas, Nahwan, Hijaj, Husaini, dan Zakarha. “Memang syarat utamanya kita mesti menguasai nada-nada lagu Alquran,” kata Sasmidar Effendi, vokalis El Surayya, yang hampir 30 tahun setia mengikuti orkes Ahmad Baqi.
Ahmad Baqi merupakan seniman sejati. Untuk total di musik, ia mengambil pensiun dini dari jabatan Kepala Perbekalan PLN tahun 1975. Ia kemudian menceburkan diri di pondok musik yang sudah didirikannya sejak tahun 1970. Dua tahun sebelumnya, 1968, ia merangkum banyak grup-grup musik dan orkes melayu Padang Pasir di Medan, seperti Al Wardah, Al Wathan, En Nasiim, Syauthun Niil, dan lain-lain, dalam sebuah organisasi El Qawaqib.
Lebih dari itu, ia sering memendam diri dalam pondok musiknya dan tidak bisa diganggu oleh siapapun. Dari pondok itu juga Ahmad Baqi menciptakan kurang lebih seribu lagu, yang baru 100 lagu yang sudah direkam dan diedarkan. “Lagu-lagu itu adalah anugerah,” kata Syauqi.
Didikan Ulama
Ia sendiri tidak dididik menjadi seorang seniman. Ayahnya, Abdul Majid, seorang guru agama Kesultanan Deli, mengarahkannya menjadi seorang ulama. Abdul Majid seorang ulama yang tegas. Ia tidak memperkenankan Ahmad Baqi menjadi pemusik. “Kalau Atok menemukan biola ayah, pasti dihancurkan,” kata Ahmad Syauqi. Entah sudah berapa biola yang telah dihancurkan ayah Ahmad Baqi. Selain alat musik, pantalon (celana panjang) yang sering dikenakan Ahmad Baqi pun tidak diperkenankan oleh Abdul Majid. “Supaya tidak ketahuan, ayah sering main biola dulu jauh ke kebun,” kata Syauqi.
Tapi, didikan ulama itu justru membekas di syair-syair dan aliran musik yang dipilih Ahmad Baqi. Suatu hari ia berkonsultasi dengan seorang temannya, seorang ulama dan qari besar dari Sumut, H Azra’i Abdurrauf (Alm.). “Bagus juga kalau engkau ke sana (musik). Ada lagu-lagu yang bernafaskan Islam,” kata Azra’i kepadanya. Tak heran, bila pertemanannya dengan Azra’i ditambah ilmu dari ayahnya membuatnya fasih untuk menguasai qiraat Al-quran. Menurut Syauqi, kadang-kadang H Azra’i datang ke pondok Ahmad Baqi pada tengah-tengah malam. Mungkin, salah satu makna kata “sahabat” dalam goresan terakhirnya yang dikutip di awal tulisan ini, diperuntukkan bagi Azra’i.
Ironisnya, cuma satu penghargaan yang diterima Ahmad Baqi dari negeri sendiri. Itu pun datangnya dari mendiang H Raja Inal Siregar, mantan gubernur Sumut. Gubernur yang dikenal agamis itu, memberinya penghargaan Pembina Seni dan Budaya Sumatera Utara sebagai Komponis pada 5 April 1998. Setelah itu, pada tahun 2000, dilaksanakan Malam Kenangan Ahmad Baqi di Hotel Garuda Plaza Medan. Konon, di malam itu pemerintah akan menyelenggarakan malam kenangan untuk Ahmad Baqi setiap tahunnya. Tapi, ternyata tidak.
Agaknya, Ahmad Baqi semasih hidup seperti sudah sadar tentang nasib seniman. “Kami ini seniman, setelah dipusara baru dihargai. Kalau tidak anak aku, cucu aku yang menikmati,” kata Syauqi mengucapkan kata-kata Ahmad Baqi.
“Seribu Lagu Lagi”
Ya, seribu lagu. Itu lagu yang jadi, lengkap dengan partitur dan syair-syairnya. Tidak bisa dihitung berapa lagu yang sudah ditulis Ahmad Baqi ketika mulai mencipta lagu di sekitar tahun 1940-an. “Lagunya panjang-panjang, bisa 15 menit satu lagu,” kata Ahmad Syauqi, anak Ahmad Baqi yang menyimpan harta warisan Ahmad Baqi itu.
Bgi lidah pop dan dangdut, umumnya lagu-lagu Ahmad Baqi tidak gampang untuk dibawakan. “Cengkok atau dalam bahasa kita, greneknya, susah diikuti,” kata Syauqi lagi.
Syarat pertamanya, adalah menguasai “hawa”. Ini istilah yang diberikan Ahmad Baqi menunjuk pada nada-nada lagu Alquran yang lazim disebut qiraat. “Biasanya seminggu sekali mendiang mendapat lagu baru, kita disuruh ke rumah dan langsung belagu,” kata Sasmidar Effendi, salah satu vokalis yang sudah 30 tahun di orkes Ahmad Baqi.
Menurut Sasmidar, dalam berlatih lagu, Ahmad Baqi merupakan orang yang keras. “Tidka bisa main-main. Kalau tidak pas, kupingku sakit, katanya,” tutur Sasmidar lagi. Tapi, kalau sudah menguasai “hawa” itu, biasanya lagu-lagu Ahmad Baqi mudah dipahami. “Biasanya satu hari sudah dapat,” kata Mahanum, seorang vokalis orkes Ahmad Baqi juga.
“Hawa” ini berbeda dengan lagu-lagu dangdut maupun nasyid zaman sekarang. “Kalau seperti Raihan, itu cenderung ke pop,” kata Mahanum sambil mencontohkan dendang lagu Raihan dan Ahmad Baqi.
Riwayat merekam lagu-lagu Ahmad Baqi sudah lama. Dimulai ketika akhir dekade 1960-an, lagu “Selimut Putih” direkam di atas piringan hitam di Malaysia, dan mulai diperdengarkan di Indonesia melalui Radio Republik Indonesia (RRI). Lagu itu langsung meledak, terutama di daerah ranah Melayu, seperti Malaysia dan Sumatera Utara (dulu Sumatera Timur).
Lagu itu keluaran formasi pertama dari Orkes Ahmad Baqi. Pelantunnya langsung terkenal, seperti Nur Aisiyah Jamil, M Nuh, dan M Thahir. Di tahun 1970-an, formasi Ahmad Baqi sudah berubah yang berisi nama-nama Hasmidar Darwis, Atikah Rahman, M Thahir, dan Ruqiah Zein. Di formasi ini, melejit lagu seperti “Cita-cita”. Formasi ini cepat berkurang. Kebanyakan, personilnya dilirik orang ketika sedang manggung. Seperti Ruqiah Zein yang mendapat jodoh ketika manggung di Malaysia dan Atika Rahman yang dipinang oleh Ketua DPRD Sumut sekarang, H Abdul Wahab Dalimunthe. Hasmidar Darwis pun tak luput dipinang orang.
Formasi terakhir berisi 14 personil, yaitu Sasmidar Effendi (vokal/biola), Khadijah Lubis (vokal/tamburin), Mahanum (vokal/biola), Wahyuni (vokal/biola), Zuberuddin (keyboard), Syahril Sa’I (drum), Ramli (Bass), Ahmad Ramadhan (gendang bonggo), Efan Edi (gitar), Ahmad Fauzi (tamburin), Ruslan Nasution (biola), Hj Faiziah Hanim (biola), Ahmad Syauqi, dan seorang vokali muda Ifnifar Hasni.
Selain mereka, entah siapa lagi penerus seribu lagu Ahmad Baqi.
* * *
Tulisan ini dibuat pada Desember 2005 lalu. Entah di mana file foto Ahmad Baqi saya saya simpan. Bila ketemu, tentu saya upload di tulisan ini.


Salam. Im so shock that theres somebody else with the same name of mine. rupa-rupanya lagu bila izrail itu ditulis Ahmad Baqi…im stil shock..Moga Allah tempatkan Ahmad Baqi dikalangan orang-orang beriman.
ahmadbaqiyahaya@yahoo.com
walaikum salam. saya kira, Almarhum Ahmad Baqi sudah menempati tempat terbaik di jannah. kekaguman kita kepada sosoknya tidak akan pernah berhenti. ar Rahman ar Rahim. terima kasih pak Ahmad Baqi
Saya sangat salut dan menjadikan lagu PINTA DALAM DOA menjadi eternal song saya
Oya apakah ada produser yang berniat merilis ulang album hits beliau khususnya “pinta dalam doa”.karena setelah 5 tahun saya buru ternyata saya hanya dapat cd bajakan aja saat pulang ke Medan dulu.setidaknya sediakan konter khusus buat karya beliau,tapi sekali lagi unsur biolanya harus dominan.
sa
ya ingin memiliki kaset2 lagu lama el surayya seperti SELIMUT PUTIH,BURUNG DARA…..atas partisipasinya saya ucapkan terima kasih
kini dengarlah lagu-lagu yang lazim didendangkan anak-anak kita…. Jika penulis lagu-lagu yang sarat pekerti kian sulit ditemui…… Siapa ya, yang bisa kreatif menciptakan lagu-lagu yang layak untuk anak sekaligus bisa mereka dendangkan dengan bangga (sebagaimana mereka bangga mendendangkan lagu-lagu pop dewasa itu……)
salam…saya amat meminati karya allahyarham Ahmad Baqi ini…lagu2 nasyidnya amat kritis…bisa mengalir airmata…tapi gimana mau dapatnya…
menurut aku sebagai cucu beliau yang ke-v,atok adalah sesosok orang yang tegas & sayang kepada cucunya & anak-anaknya,atok juga seorang yang adil,rendah hati,lapang dada&pengertian kepada orang yang dibawahnya.setau saya atok adalah orang yang tidak mau berdusta sekalipun atok itu membuat kesalahan yang besar.atok juga tidak pandang bulu kepada siapapun,kalau bagi dia salah tetap saja salah.saya pernah hampir di pukul atok pakai kayu karena saya tidak mau sekolah naik becak,tapi saya mau naik sepeda,atok marah karena saya baru pandai bawa sepeda,atok khawatir saya ada apa-apa di jlan makanya di suruhnya naik becak,tapi karena saya membanel juga,akhirnya atok hampir memukul saya pakai kayu.padahal saya adalah cucu yang di sayangi beliau,tapi bagi beliau itu semua sama.
Saya bangga kepada atok karena atok bisa menjadi contoh suri tauladan bagi orang-orang yang mengagumi&mengerti akan kehidupan atok.makam atok selalu di bersihi orang-orang karena orang-orang juga tau bahwa hati atok itu bersih.
wajar saja ketika atok pergi meninggalkan dunia ini banyak yang mendatangi beliau untuk melihat wajah beliau untuk yang terakhir kalinya.Yang saya herankan lagi adalah mengapa orang yang sayang pada beliau itu pada tau bahwa atok akan meninggalkan dunia ini pada saat itu sehingga orang yang di luar negri sanapun tau???padahal orang rumah tidak sempat untuk mengabari pada mereka(Subhanallah)alangkah indahnya kepergian atok saya itu untuk meninggalkan dunia ini……….
Bila terdengar suara adzan
Bergema sayub menjelang pagi
Dalam irama ku kirim pesan
Sebagai tanda aku dah pergi
Mengapa sajak tersebut sangat pas menceritakan kepergian atok yang sebelum adzan shubuh atok sudah pergi meninggalkan dunia ini seperti yang sudah di janjikan atok kepada Allah langsung.padahal tidak sama sekali atok mengetahui itu,mungkin karena hablumminAllah atok sangat kuat,sehinnga atok menciptakannya dapat bantuan Allah SWT langsung ke akal&fikiran atok.Semoga anak&cucu beliau dapat meneruskan cita-cita,amal,kasih,ikhlas&sebuah pengobanan seperti Beliau(Amien Yaa Robbal ‘Alamien)
Semoga Allah SWT memberikan Jannatunna’im yang Kekal&abadi kepada atok&Allah SWT selalu dekat bersama atok disana&Semoga amal&ibadah Atok diterima disisiNya(Amien Ya Robbal ‘Alamien)
By:Yumna Sofia.Dalimunthe
ASS.. Elsurayya, saya sangat suka dengan lagu Elsurayya. semua lagu nya memberi kesan dan pesan yang menyentuh hati.
smoga elsurayya tetap jaya dan sukses selalu.
Ass.WrWb……ElSurayya yang terhormat.
ada beberapa masa yang lalu saya mengikuti pengajian yang bertemakan ” Ikhlas & Rendah hati “. Dlm pengajian itu, ustad yang memberikan ceramah, mengupas syair yang berjudul ” Petuah Orang Tua “.Pada session ask & answer, saya sempat menanyakan kpd ustad tersebut,dari mana ustad mendapatkan syair itu? dan mengapa ustadz berpedoman pada syair yang sederhana itu. Ustadz itu menyambung jawaban saya and so…mengatakan ” saya memperoleh dari sebuah kaset elsurayya. lalu saya abaikan tanpa koment apapun. Pada tahun 2007 saya menghadiri wedding Party Relasi kerja.Baru kali itu lah saya mendengar nama elsurayya & melihatnya langsung, ternyata sebuah grup band gambus.Salah seorang penyanyi perempuan menyanyikan lagu ” Petuah Orang Tua”, ingat saya kembali pada Ustadz yang memberikan pengajian beberapa tahun yang sudah. yang saya ingat ending syairnya berbunyi :
Ingat Petuah penyu dipantai,
telur beratus namun tak bangga……….
ternyata ElSurayya hebat ya!lagu- lagu yang dibawakan bertemakan religi & nasehat. tidak seperti dugaan saya……….pertahankan ya!
Ass.untuk fans elsurayya, kami sudah buka situs baru loe………jgn lupa klik link yg diatas..but…berita nya masih kosong lo! maklum baru launching nich.
Wass……Ahmad Syauqi Ahmad Baqi
Medan
Sudah Pasti update trus N”1 . Please, i ve been waiting your respon on my situs, dengan formasi yang baru.
Semoga kita tetap bermitra sukses buat kamu.
.- A Syauqi A Baqi
Ass,..sy jg sk dgn lgu2 elsuraya,ju2r aj sy dlu sk nynyi2 dkibod-an gtu,dlu sy gk ngrti ap isi lgu2 yg dcptakan alm prof A baqi,yg sy tau cm lg madah trakhr aj,it sering sy nynyikan dkibod2 kalo ad yg reques,.stlh sy udh ikut gabung d orkes elsuraya yg dpmpin ankny almarhum yaitu bg syauqi,sy jd tau bgitu bsar mkna yg trkandung dlm stiap bait lgu yg dcptakan oleh almarhum,.malahan byk org yg blg orks elsuraya it udh gak ada,.sy yakin elsuraya gak akn prnah bubar,.trmasuk saya generasiny dr thn 2007 hngga saat ini,.trakhr rkaman diawal thn 2008 kmaren lho,.n generasi baruny jg ad koq,.wass FAUZIYAH NST
Ass,sy cm mau blg elsuraya it msh ada,buktiny sy masih ttp ikut d orkes elsuraya,n tentuny skrg dgn formasi yg baru n generasi yg baru,.rkman album trakhr d awal thn 2008,.sy sk dgn lagu2 yg dciptakan alm prof A Baqi,.wass, Fauziyah Nst
Vie tunggu penampilan elsuraya generasi 2009 nanti di ramadhan fair 2009,sy pengen ngliat gnerasi yg bru ni bner2 berpenampilan beda dgn thun kmaren,generasi bru tntu ny tampil lbh muda n brkwalitas,succses for all Crew elsurayya
elsuray a tetap di hati
Ramadhan fair yg di tunggu utk penampilan el surayya ternyata rumour! Dimana sih letak perhatian panitia ramadhan fair tahun ini? Kog malah yg dari pusat di munculkan? & band yg dimunculkan hanya yg itu2 aza? Ada apa dgn EOnya? Tau g arti “ramadhan” fair? Gmna syiar disampaikan kalo lg yg sampaikan kepunyaann artis pusat?
http://Www.Opibawel@yahoo.Com
Minal aidhin wal’faizin 1430h, utk para peminat ELSURAYYA di ruang bang nirwan, seMoga tamu Yg curhat ttg senantiasa terobat. Oh! . . Ya 3 hari sblm ramadhan, album lawas dari ELSURAYYA baru di orbitkan dgn tajuk dlm format CD” Nostalgia_KEMARAU “. Dgn “WAJAH BARU “sebagian dari title song adalah ” PINTA & DOA” Semua itu di perbuat utk memenuhi permintaan para peminat,& sdh di perdengarkan di 1 radio swasta di Medan. Utk sementara pemasaran hanya di sekretariat ” ORKES EL SURAYYA AHMAD BAQI_MEDAN. Wass_