Fir’aun
“Kau pikir untuk apa Allah menceritakan Fir’aun di dalam Alquran? Supaya engkau bisa membasmi fir’aun di zamanmu!”
“Kau pikir untuk apa Allah menceritakan Fir’aun di dalam Alquran? Supaya engkau bisa membasmi fir’aun di zamanmu!”
Sophan Sophiaan, SK Trimurti dan Ali Sadikin, menjadi almarhum saat 100 tahun hari kebangkitan nasional dan satu dasawarsa reformasi. Tiga sinyal diberikan langit, ketiga orang ini adalah mereka yang berani menantang kekuasaan.
Di Sumut, penyaluran subsidi BBM melalui skema BLT di Sumut akan memakai data tahun 2005, yakni 944.972 Rumah Tangga Miskin (RTM) Besarannya, Rp 100.000 per bulan. Supaya agak “terasa”, penyaluran akan diberikan dalam dua periode. Kupon pertama untuk pencairan Rp 300 ribu periode Juni-Juli-Agustus dan Rp 400 ribu untuk periode September-Oktober-November-Desember. Masa pencairan bisa dilakukan sampai Desember 2008.
Entah sampai entah tidak, itu cerita lain.
Read more…
Tadi malam, mahasiswa Medan ditangkapi di Simpang Glugur, Kota Medan. Mereka dibawa ke Poltabes Medan. Polisi bertindak sangat keras karena aksi yang mereka lakukan dalam rangka menolak kenaikan BBM itu sendiri berlangsung damai dan tidak melanggar ketertiban umum. Di antara mereka, ada yang berasal dari almamaterku, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Aku haru, bangga dan hormat kepada mereka. Mereka bakal menjadi saksi dan pelaku sejarah. Salut…!!!!!!
Tapi, polisi memberangus paksa, menendangi dan menggelandang mereka ke Poltabes Medan seperti laiknya tersangka penjahat perang.
Sudah kompak semua rupanya para punggawa-punggawa istana negara. Dikomandani SBY, diamini JK, dan dilakukan sepenuhnya oleh Purnomo, Sri Mulyani, Aburizal Bakrie, Andi Mallarangeng dan seterusnya, kelompok elit ini punya isu baru untuk menaikkan popularitasnya. Apa itu? BBM Naik demi kepentingan rakyat dan pemerintah memilih keputusan pahit ini walau sadar popularitasnya bakal anjlok karena itulah tugas negarawan.
Mendengar komentar yang senada ini di hampir seluruh televisi, media cetak, radio dan internet, rasa mual saya melihat mereka makin menjadi-jadi. Jelas sekali ini adalah pengalihan isu dari keputusan bodoh untuk menaikkan BBM.
Tadi malam, pasca Purnomo membacakan putusan SBY menaikkan harga BBM, aku berkeliling di Kota Medan. Hancur hatiku melihat negeriku ini. Warga mengantri di mana-mana, polisi berjaga-jaga. Ini negeri apa? Bukankah ini negeri gemah ripah loh jinawi?
Aku mengantri juga, karena bensin motorku sudah habis sejak tadi siang. Dan, kulihat di sana, wajah-wajah marah dan panik. Sedikit saja, antrian bergerak sudah bisa menyulut emosi. Tatapan-tatapan marah tak bisa disembunyikan. Tak peduli dia orang keling, orang cina, orang batak, orang Jawa, pokoknya semuanya…
Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla telah mementikkan api dendam di negeri ini. Dia telah membakar rumput-rumput kering dan menghembus-hembuskan agar marak. Dia akan membakar dedaunan, ranting dan batang-batang pohon yang tak seluruhnya kering, melainkan juga yang basah dan bahkan yang baru saja tumbuh.
Sudah lama aku tak menulis dengan serius. Yang menghabiskan bacaan beratus-ratus lembar, rokok berbungkus-bungkus dan teh manis bergelas-gelas. Yang menguras tenaga dan membuat kamar berserak-serak.
Pemerintah memang betul-betul aneh. Pasalnya, pemerintah sendiri sudah menyatakan, kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) justru akan memicu inflasi. Kenaikan inflasi, jelas menaikkan harga. Kenaikan harga bakal menambah pengangguran, meningkatkan kemiskinan, dan secara ekonomis, menurunkan daya beli.
Seperti sudah bisa dipastikan, hampir seluruh kalangan tak menyetujui kenaikan ini, terutama dari golongan bawah. ”Nggak ngerti kok bisa dinaikkan lagi,” kata Husni, penjual minyak eceran di jalan Pancing Medan. Husni yang biasa menjual bensin eceran Rp 5.000/liter kini makin pusing. Salah satunya, SBPU Pertamina sudah melarang kembali penjualan memakai galon dan drum.”Kemarin masih boleh, tapi mulai Rabu (7/5) kemarin sudah tidak boleh lagi,” katanya.
Bulan Mei adalah bulan romantis dalam sejarah Indonesia. 2 Mei Hari Pendidikan, 20 Mei Hari Kebangkitan Nasional dan 21 Mei tanda genderang reformasi ditabuhkan. Inilah negeri yang menurut puisi Taufiq Ismail, penuh ketakutan.
Pesan seperti judul di atas, saya ambil ketika melihat berita di detik.com. Isinya, demontrasi mahasiswa anti kenaikan BBM di Makassar yang sudah melibatkan ribuan mahasiswa dan (mungkin) hampir seluruh kelompok.
Anda pun mungkin sudah melihat berita ini. Tapi tanpa mengurangi rasa hormat kepada detik.com, bila link-nya gak jalan, saya posting aja keseluruhan beritanya. Bagi saya, pesan dari Makassar ini cukup dalam dan mungkin saja menentukan eksistensi pemerintahan SBY-JK. Yang patut dicatat, Jusuf Kalla berasal dari Makassar. (*)
Peringkat ini disadur dari situs kapanlagi.com. Karena udah lama, saya lupa alamat linknya.
Peringkat ini disusun mulai dari zodiak yang paling memungkinkan untuk berselingkuh sampai zodiak yang dikenal setia dengan pasangannya. Tapi minimal, Anda sendiri bisa menilai apakah Anda berbakat, punya kesempatan, atau malah tidak berbakat sama sekali untuk selingkuh. Kebenarannya? hehehe…
Kegelisahan saya di antaranya ketika hendak melongok apa yang ada di balik ”hijab”. Saya ingin mengandaikannya dengan seorang perempuan yang luar biasa cantik namun bercadar.
Prof Hasyimsyah Nasution MA merupakan salah seorang dari sedikit intelektual yang dimiliki Muhammadiyah Sumut saat ini. Ia pernah digadang sebagai calon kuat posisi Ketua Umum Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumut periode 2005 – 2010 lalu. Apa katanya soal Muhammadiyah? Berikut wawancara saya dengannya beberapa waktu lalu.
Istilah untuk kaum fundamentalis ini sendiri berbeda-beda. Kaum fundamentalis yang berbahasa Arab menggunakan beberapa istilah seperti Ushuliyah al-Islamiyah (dasar-dasar Islam), shahwah al Islamiyah (kebangunan Islam) ataupun al-baats al Islami (kebangkitan Islam). Yang kurang simpati dengan kelompok-kelompok ini menyebut mereka dengan istilah muta’ashibin (orang-orang fanatik) ataupun mutatharrifin (orang-orang radikal). Pemerintah Indonesia dulu menggunakan istilah ekstrim kanan yang dituduh hendak mengganti negara Pancasila dengan negera Islam. Sementara Malaysia menggunakan istilah puak pelampau (orang-orang ekstrim) atau puak pengganas (orang-orang kejam).
Radikalisme ataupun fundamentalisme Islam sering dihadapkan dengan liberalisme Islam. Gelombang pemikiran Islam kontemporer, saat ini lebih dilihat dari dikotomi tersebut. Islam moderat jadi jawaban Prof Hasyimsyah Nasution MA, mantan Direktur Pascasarjana (PPs) dan Guru Besar Pemikiran Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Medan.
Yang Ngomen