Raswin Hasibuan, Segores Catatan 2 Juni 2008
Posted by nirwan in All News, Esai, Kebudayaan, Panggung, Sastra dan Seni.Tags: budaya, hasibuan, kartupat, medan, raswin, seni, teater
trackback
Raswin Hasibuan, pimpinan grup teater Kartupat, menghembuskan nafas terakhirnya bertepatan dengan tanggal sama teaterwan dan sineas ternama Indonesia, Arifin C Noer, pada 28 Mei.. Ia meninggalkan sebuah konsistensi dalam perjalanan teater di Sumut. Teater dan dirinya tak akan pernah mati.
* * *
Ini bukan sebuah laporan, ini sebuah tulisan teramat singkat untuk menggambarkan seorang Raswin Hasibuan. Lagi-lagi, ini sebuah obituari yang sungguh tak sedap untuk diuraikan dengan kata dan kalimat. Bagaimana mungkin merangkai kalimat untuk menutup peran Raswin Hasibuan dalam khasanah seni dan budaya di Medan dan Sumatera Utara?
Karena itu, menulis Raswin adalah sebuah preambule dari jenuhnya perjalanan seni dan budaya di Medan dan Sumut. Jenuh karena sosok periang yang berkumis tebal itu tak akan lagi menampilkan karya-karya segar, kreatif dan membuat orang tak melihat teater sebagai ruang yang menakutkan.
Jenuh karena teater di Sumut telah terhinggap penyakit “absurd” dalam arti yang sebenarnya maupun simbolistik. Keragu-raguan melangkah dan ketidakjelasan arah untuk dibawa ke mana bidang seni yang sudah berkarat ini, adalah pengertian absurd yang pertama.
Sabtu Ketawa, di satu sisi, adalah pertanda bahwa jurang antara penonton dan teater sudah sedemikian lebarnya, hingga butuh bantuan humor sebagai perekatnya kembali. Raswin pun tak tertandingi di sana.
Namun, even yang sejenak membuat teater Sumut berdegup itu, justru menyimpan pertanyaan dan kesenjangan yang lagi-lagi bukan hal baru, yaitu antara teater dengan substansinya. Bukan dengan keindahan dan kesempurnaan berkesenian saja tapi juga terhadap hakikat berteater itu sendiri. Benarkah teater dipanggungkan hanya untuk ditonton? Benarkah sebuah lakon diceritakan dan karakter dimainkan demi riuhnya tepukan tangan dan barisan pujian dari kritikus? Bukankah pekerjaan yang maha berat ditanggung oleh teater dan seni budaya yang lain adalah meminjam peran Tuhan, yaitu membuat seorang “manusia” alias memanusiakan manusia?
Teater memang bukan lawakan. Tapi lawakan adalah bagian dari seni peran. Pemain teater bukanlah pelawak, tapi pelawak tentu saja salah satu sisi dari aktor teater. Jangan buru-buru menuduh Raswin adalah pelawak karena teater justru dijalaninya dengan serius. Sangat sedikit ditemui di Medan, seorang seniman yang punya gairah tinggi untuk mendokumentasikan perjalanan seni dan budaya, rumah besar bagi teater, serinci yang dilakukan Raswin.
Dia memang punya kelebihan soal itu dan bukan hanya karena pekerjaannya sebagai pegawai pemerintah di Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Sumut. Dan mungkin saja, media massa, salah satu pihak yang paling bertanggung jawab untuk mendokumentasikan perjalanan seni dan budaya, harus iri kepadanya.
Absurditas yang lain lagi adalah pertempuran antara sesama seniman dan budayawan yang ada di Kota Medan. Tidak terlalu sulit untuk menebak ke mana arah “pertempuran” itu; lebih individualis bukannya substansi. Itu karena, proses pertempuran itu ternyata tidak membuat kreasi dan eksplorasi terhadap karya-karya baru dalam ranah kesenian Sumut, tapi malah jalan di tempat kalau tidak bisa dikatakan set back. “Saya juga tidak mengerti, kok dari dulu hingga sekarang dan mungkin sampai nanti kita harus berkelahi satu sama lain, ha…ha…ha…,” katanya sambil terbahak pada suatu wawancara dengan saya.
Namun ia punya kebanggaan lain. Itu ketika ia menjalani hubungan yang serius dengan kampus dan mahasiswa, satu di antara ranah teater yang dari dulu selalu bernilai “potensi” dan miskin konflik. Dia datang ke kampus, melatih mereka, dan kemudian membawa mereka ke ruang Teater Kartupat di Jalan Jemadi itu. Dua hubungan timbal balik yang justru lebih menguntungkan daripada menyerang dengan kalimat “buang-buang waktu dan energi”.
Memang, bukan Raswin saja yang melakukan itu. Tapi simpanlah dahulu orang dan kelompok lain yang merasa sudah berbuat lebih banyak dari Raswin. Toh, tidak ada ruginya saling melayangkan pujian daripada cibiran.
Jangan pula dipersoalkan siapa yang lebih dulu membuka ruang itu lebih dulu, karena toh persoalan siapa yang lebih dulu lahir di dunia, ternyata sebuah absurditas yang lain dalam dunia kesenian. Siapa yang bisa mengukur, Mozart lebih bagus dan berkualitas daripada Beethoven? Siapa yang bisa menduga WS Rendra akan lebih banyak berkarya daripada Amir Hamzah? Bukankah tidak ada yang bisa menebak, Raswin akan lebih dulu meninggalkan dunia teater daripada para seniorennya? “Saya ingin pensiun. Takutnya saya hanya beronani saja,” cetus Raswin suatu waktu. (*)












Baru tahu ada dedengkot teater kita bernama Raswin, dan tahunya lewat obituari pula. Ini salahnya karena hanya kenal dunia seni di Jawa, itu pun terfokus Jakarta.
Tetap aku mengucapkan terima kasih karena jadi tahu mengenai tokoh ini. Semoga jejak langkahnya ada yang melanjutkan dan mengembangkan.
Beliau salah satu dedengkot. Salah satu yang diperanginya adalah konsep “lokal” dan “nasional”. Ini akibat sentralisasi kekuasaan dan kebudayaan yang begitu parah di negeri ini.
asasalamulaikum
web blog nya bener benr menajubkan, bagus dan elagan, dan kaya ilmu dan pengetahuan…
kunjungi juga web blog gue : http://partaiaceh1.wordpress.com