jump to navigation

Akan Amien Rais … 4 Juni 2008

Posted by nirwan in Esai, Islam, Kebudayaan, Lapak.
Tags: , , ,
trackback

Sebuah sms menghampiri hapeku yang sudah buluk. Isinya, Amien Rais akan membedah bukunya Agenda Bangsa Selamatkan Indonesia, di Emerald Garden Hotel Medan pada Sabtu, 7 Juni mendatang. Kubalas, aku akan hadir.

Yang kutulis bukan soal Amien Rais-nya, tapi “akan”-nya. :D

Kata “akan” merupakan kata paling optimis sekaligus unpredictable. Dia menunjuk pada masa depan, suatu masa yang bagiku adalah sebuah keghaiban alias tidak kelihatan kasat mata. Kalaupun bisa diramalkan ataupun didesirkan dalam hati, itu masih sekadar “ramalan” saja. Artinya, belum tentu betul.

Ini merupakan kata yang diciptakan manusia supaya manusia tidak terjebak dalam kepastian. Karena bila manusia sudah pandai pula memastikan, rubah saja statusnya jadi Tuhan dan tak usah jadi manusia lagi.

Tapi, di situlah pula letaknya patennya manusia ini. Mereka hidup dalam serba ketidakpastian yang membuat hidup makin bergairah. Anda bayangkan saja bila Anda menonton sebuah film, sinetron, ataupun membaca novel, yang pada endingnya sudah Anda ketahui dengan pasti. Hambar, bosan dan kemungkinan besar pun, Anda akan menampik ajakan teman Anda menonton film itu. Novel, roman, cerpen dan karya sastra bisa jadi tak laku. Orang pun jadi malas menulis.

Kalau orang sudah malas, maka kehidupan pun akan berhenti. Orang jadi tak mau beribadah kalau dia tahu nantinya pun dia akan masuk surga juga. Dan malah bisa kebalikannya. Karena dia tahu dia akan masuk surga, maka kejahatan akan malang-melintang di muka bumi. Bisa-bisa jurus kunyuk memakan jambu-nya Wiro Sableng tak sanggup lagi menghantam para pendekar berwatak jahat. :D

Kesimpulannya, orang jadi malas hidup karena dia tahu bakal mati dalam arti mati mutlak, binasa dan habis seluruhnya. Itulah makanya, dalam agamaku, Islam ini, ada kehidupan sesudah kematian. Manusia tak benar-benar mati dan di dunia ini ia dihadapkan pada serba ketidakpastian. Kalau kata guru ngajiku, itu namanya qadha dan takdir.

Dua konsep itu adalah sebuah kepastian yang serba tidak pasti. Kepastiannya akan benar-benar terjadi, namun proses dan hasilnya masih disembunyikan. Setiap orang diharuskan bergerak, karena diam berarti mati.

Jadi Pak Amien, aku “akan” akan aja deh, Pak. Hehehe… (*)

Komentar»

1. sudi - 5 Juni 2008

bubarkan FPI!preman berjenggot dan berjubah!!!

2. Andos - 7 Juni 2008

Waduh…. kalau aku sih dah benar2 skeptis soal politik & tokoh2nya. Sepertinya cuma panggung sandiwara doang

3. dela - 11 Juni 2008

NGA jelas opini luh..
jgn-jgn ini bahasa pamitan lo yang “akan” mati neh..