Pramoedya Ananta Toer, Sebuah Wawancara Imajiner (3)
Sambungan tulisan …
* * *
Ketika Pramoedya mendapatkan Ramon Magsasay Award, 1995, diberitakan sebanyak 26 sastrawan Indonesia menulis surat protes ke Yayasan Ramon Magsasay, di Filipina. Mereka tidak setuju, Pramoedya yang dituding sebagai “jubir sekaligus algojo Lekra paling galak, menghantam, menggasak, membantai dan mengganyang” di masa Demokrasi Terpimpin, tidak pantas diberikan hadiah dan menuntut pencabutan penghargaan yang dianugerahkan kepada Pramoedya.
Sastrawan besar itu “akhirnya” meninggal dunia. Tepatnya pada Minggu, 30 April 2006, di kediamannya daerah Utan Kayu, Jakarta, paru-parunya yang sering berkelahi dengan asap rokok –dalam hari-hari terakhirnya ini, keluarganya harus menyelipkan sebatang rokok di mulutnya mengantisipasi kegemarannya merokok – pun harus berhenti mengeluarkan oksigen. Pram memang perokok berat.

Yang Ngomen