Batak, Malim, Sisingamaraja dan eh, Islam?
Saya membongkar-bongkar lagi dokumen yang ada pada saya dan mata saya tertumbuk pada artikel ini, ”Mohammad Said di Antara Ilmuan Sosial” ditulis oleh Shohibul Anshor Siregar. Saya baca ulang lagi dan saya langsung mengontak beliau dan meminta izin agar tulisan ini bisa diposting di blog saya. Beliau tertawa dan berujar, ”Up to you.”

Shohibul Anshor Siregar adalah seorang sosiolog Medan lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM). Dia ini salah seorang cendekiawan muslim yang dulunya diceritakan orang sempat dicegah agar tak lagi pulang ke Medan, Sumut, dari Pulau Jawa. Saya mendapat cerita kalau karir intelektual dan ”politik”-nya akan sangat “cerah” kalau dia tetap bertahan di sana. Maklum, sebelum ke sana, dia mantan Ketua Umum DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sumut tahun 1980-an. Dia ditarik-ditarik untuk masuk ke partai politik, namun hingga kini dia tetap memilih sebagai Dosen PNS di Kopertis Wilayah I Sumut-NAD. Seingat saya, hingga kini, dialah peneliti sosiologi politik yang terus konsisten berada di garis intelektual. Di blog ini, profil dia pernah juga saya postingkan. Orangnya sangat sederhana dan selalu tergelak. Ada yang latah menyebut, dia ini ”sosialis”. Tapi saya tak percaya.
Ini tulisannya.
-||| -
Mohammad Said di Antara Ilmuan Sosial
oleh Shohibul Anshor Siregar
* * *
Akhir 1995 saya menjadwalkan penelitian tentang agama Malim dalam rangka penyelesaian studi di UGM Yogyakarta. Dalam banyak literatur yang saya baca mengenai fokus penelitian saya, saya kerap menemukan nama Mohammad Said yang dicantumkan sebagai penulis buku Dari Halaman2 Terlepas dalam Tjatatan Tentang Tokoh Sisingamangaradja XII.
Setelah mencari ke sana ke mari, termasuk membuka kontak dengan Sekolah Tinggi Theologia Jakarta, akhirnya saya berhasil mendapatkan satu copy (benar-benar fotocopy) buku terbitan Harian Waspada tahun 1961 itu. Saat itu saya sedang menunggu kepastian bantuan biaya dari The Toyota Foundation. Itulah perkenalan saya untuk pertama kalinya dengan Mohammad Said sebagai seorang intelektual yang kemudian banyak sekali mempengaruhi saya dalam memetakan permasalahan penelitian saya. Tak lama setelah itu saya ke Medan, langsung ke Sungai Buluh
Deliserdang (sekarang wilayah Sergai) menemui Mohammad Said. Tidak susah mencari beliau, karena awak angkot yang saya tumpangi dan juga beberapa penumpangnya tahu rumah beliau.
Tukang becak dan orang-orang yang saya temui di sekitar persimpangan jalan pun mengenal beliau, begitupun nazir masjid yang saya temui ketika shalat zuhur sebelum menemui Moh. Said. Secara fisik saat itu beliau sudah amat tergantung pada orang lain. Duduk di kursi roda, dan pendengarannya pun sudah tidak normal. Tetapi saya kira pikirannya jernih, runtut dan tajam.
Menyadari kesulitan beliau menangkap setiap kalimat saya, akhirnya saya putuskan untuk menulis semua pertanyaan. Beliau menjawab setiap pertanyaan saya dengan suara keras sekali dan itu amat bagus untuk tape rekaman. Di akhir wawancara saya tertawa puas. Melihat hal itu beliau seperti marah, tetapi akhirnya tersenyum setelah membaca tulisan saya, ‘Aku seperti berdialog dengan ompungku’.
Pandangan Baru
Fokus penelitian saya adalah mengenai perubahan agama Malim, tetapi bukan sorotan dari aspek pokok ajarannya. Dari penelitian ini saya ingin memberi jawaban mengapa agama yang tidak diakui sebagai agama (resmi) ini justru tidak saja dapat bertahan dalam iklim penuh tekanan kultural maupun struktural yang kuat untuk suatu masa yang cukup panjang.
Banyak orang tidak menyadari perkembangan agama ini yang memang di luar dugaan. Dari Mohammad Said saya inginkan keterangan yang lebih terkait dengan sejarah. Juga tentang hal-hal kontroversial di sekitar agama Malim dan Sisingamangaraja, khususnya Sisingamangaraja XII. Dalam banyak hal beliau memiliki kesamaan keterangan dengan para ahli lain. Katakanlah misalnya missionaris yang penulis Pedersen dan Harry Parkin.
Menurut mereka agama Malim merupakan kelanjutan dari agama Batak kuno yang direformulasi sebagai suatu respon atas perubahan sosial, politik dan ekonomi pada masanya yang diakibatkan oleh kolonialisme dan masuk serta berkembangnya ajaran lain khususnya Kristen. Itulah sebabnya agama ini kemudian tidak saja berkembang sebagai suatu kelompok pemujaan, melainkan juga menjadi wadah pergerakan anti asing yang amat penting di Tanah Batak.
Namun anti asing dalam diri Malim itu sedikit unik karena mengenal kelenturan sampai pada tingkat tertentu hingga tak menjadi kelompok yang gagal menjadi semacam solidarity maker di kalangan warga tanah Batak. Kecintaan terhadap Sisingamangaraja sebagai ikon dipupuk, demikian kata Mohammad Said. Namun meski anti asing, pengikut agama Malim mampu melakukan berbagai interaksi yang mendinamisasi perlawanan terhadap Belanda.
Mungkin sifat kompromi itu yang menyebabkan dalam banyak hal agama Malim menjadi sinkretik dengan menggabungkan ajaran dari berbagai agama termasuk Kristen dan Islam, meski pernyataan ini tidak mengenakkan bagi penganut agama Malim, tentu saja. Sebagai salah satu front yang paling berjasa dalam perlawanan pada masa kolonial, agama Malim memiliki pengikut yang luas tidak hanya di daerah kelahirannya tanah Batak. Persebaran itu mencakup daerah-daerah Simalungun, Asahan, Dairi, Tapanuli Tengah dan bahkan ke daerah perbatasan Aceh. Agama ini amat ditakuti oleh Belanda, yang dalam aksi-aksi perlawanannya sering menyebutkan diri sebagai Parhudamdam atau Sihudamdam.
Mayoritas penulis tentang Batak dan bahkan penganut agama Malim sendiri pada umumnya sefaham bahwa term Malim berarti bersih, suci atau bisa juga bermakna merdeka (Pedersen; van Der Tuuk). Mohammad Said berpendapat lain.
Baginya, sama seperti Harry Parkin dalam bukunya The Toba Batak Belief in the high God (?), Malim mempunyai kaitan dengan fenomena keagamaan dalam Islam khususnya di Sumatera Timur. Malim sama sekali tidak mempunyai kaitan makna dengan pengertian suci, bersih atau merdeka, dan bukan berasal dari kosa kata Batak yang mana pun. Kata Malim berasal dari kata bahasa Arab ‘mu’allim’ yang dikenal sebagai julukan bagi guru agama Islam di kawasan Sumatera Timur.
Bagi Mohammad Said nama agama ini adalah indikasi pertama untuk mengenalinya. Ini sangat ditolak oleh Sidjabat (1988) dalam bukunya Ahu Sisingamangaraja. Mohammad Said menyadari benar bahwa pada umumnya persoalan pandangan subjektif keagamaanlah yang mewarnai kontroversi pendapat di sekitar agama Malim dan Sisingamangaraja XII sehingga tetap merupakan sebuah perdebatan yang tak kunjung selesai. Namun bagi Parkin hal itu tidak merubah kenyataan bahwa agama Malim mempunyai elemen ajaran yang berbau Islam, dan sebutan Malim berasal dari bahasa Arab, bukan bahasa Batak.
Karya Sidjabat (1982) amat banyak memberi sanggahan terhadap beberapa keterangan penting dalam karya Mohammad Said, sehingga sulit menutupi kesan bahwa karya yang disebut pertama diterbitkan hanyalah untuk maksud pemberian sanggahan terhadap karya yang disebut terakhir. Di antara pokok bahasan yang diulas secara mendalam dalam buku ini ialah tentang agama yang dianut Sisingamangaraja. Seingat saya pokok persoalan ini jugalah yang menjadi penyebab tulisan bersambung almarhum HM Joesoef So’uyb pada harian Waspada di-black out sekitar tahun 1979 karena dianggap dapat mengganggu keharmonisan.
Tulisan bersambung itu berakhir begitu saja. Terlepas dari kadar keberagamaannya, namun HM Joesoef So’uyb menunjukkan beberapa argumen yang sukar dibantah tentang Sisingamangaraja XII sebagai seorang pemeluk Islam. HM Joesoef So’uyb bahkan pernah mengatakan bahwa orang-orang Batak muslim perlu mengadakan acara haul atau tahlilan untuk memperingati wafatnya Sisingamangaraja XII. Tampaknya dia ingin munculnya energi politik dari kalangan internal Batak sendiri untuk menggugat distorsi sejarah yang dilakukan oleh para sarjana Barat tentang Sisingamangaraja XII.
Berkaitan dengan pokok bahasan ini stempel kerajaan Sisingamangaraja amat memegang peran penting. Bagi Mohammad Said muatan kalimat yang tertera dalam stempel menunjukkan status keagamaan Sisingamangaraja. Kalimat dalam stempel yang ditulis dalam aksara Batak dan Arab Melayu itu di antaranya terdapat bunyi ‘Hijrah Nabi 1304′. Mohammad Said berpendapat bunyi stempel itu berbobot penyataan teologis, sedangkan bagi Sidjabat hal itu hanya sekadar bukti tentang hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan sekitar yang kebetulan beragama Islam.
Penutup
Saya belum pernah membaca karya Mohammad Said selain Dari Halaman2 Terlepas dalam Tjatatan Tentang Tokoh Sisingamangaradja XII. Tetapi saya berharap tidak berada dalam posisi yang gegabah jika menyimpulkan peran beliau dalam usaha pelurusan sejarah tentang kita. Satu hal saya tidak ragu lagi, bahwa Mohammad Said termasuk di antara penulis Indonesia pertama yang berusaha menjelaskan agama Malim secara berbeda dengan pendapat umum sebelumnya.
Sayangnya jejak itu belum tampak diikuti oleh generasi setelah beliau. Padahal usaha seperti ini memang sesuatu yang amat diharapkan di dunia non Barat. Ketika mereka mempelajari diri sendiri terasa sekali kebutuhan pendekatan bukan Barat agar tidak bias. Mohammad Said telah tiada, namun beliau meninggalkan banyak amal monumental, khususnya dalam penulisan buku-buku sejarah, termasuk Harian Waspada. Tugas generasi pewarisnya untuk tidak sekadar mengklaim kekayaan material dan immaterial besar itu tentu saja. Insya Allah. (*)
= foto: APPhoto/Binsar Bakkara


memang negara ini terkadang menghambat usaha pelurusan sejarah yang dilakukan oleh manusia-manusia cendekia yang cerdas…
jelasnya tanya Pak Monang Naipospos (Guru Parmalim di Huta Tinggi – Toba).
SAYA rasa hasil penelitian yg anda lakukan kurang akurat…..
dari budaya adat istiadat z batak identik dngn b2(babi)
sementara islam mengharamkan b2
jd gak mungkin dong…..
Malim itu bukan bahasa arab tapi merupakan bahasa btak yg brasal dari kt PARMALIM yg artinya kepercayaan terhadap roh2 nenek moyang…..
(kepercayaan terhadap begu ganjang)
jd saya harab penelitian itu di tinjau kembali..
demi kebaikan dan persatuan orang batak…
mengapa skarang bnyk org batak menjadi muslim…???
itu smua karena orang tsbt gila2 jabatan…
dimana kita ktahui di negara kita ni untuk mendapat jabatan yg baik dan cepat yg paling utama agama kita harus islam…..
(MAF KT2 saya agak mempropokasi tapi ini dapat kita lihat secara langsung di lapangan)
Saudara Ucok memberi tanggapan:
SAYA rasa hasil penelitian yg anda lakukan kurang akurat…..dari budaya adat istiadat z batak identik dngn b2(babi) sementara islam mengharamkan b2 jd gak mungkin dong…..
Malim itu bukan bahasa arab tapi merupakan bahasa btak yg brasal dari kt PARMALIM yg artinya kepercayaan terhadap roh2 nenek moyang…..
(kepercayaan terhadap begu ganjang)
jd saya harab penelitian itu di tinjau kembali..
demi kebaikan dan persatuan orang batak…mengapa skarang bnyk org batak menjadi muslim…???
itu smua karena orang tsbt gila2 jabatan…
dimana kita ktahui di negara kita ni untuk mendapat jabatan yg baik dan cepat yg paling utama agama kita harus islam…..
(MAF KT2 saya agak mempropokasi tapi ini dapat kita lihat secara langsung di lapangan)
1. Ada kecenderungan orang-orang sekarang memahamkan bahwa Batak itu Kristen dan makan Babi. Jelas itu amat menyederhanakan, dan tentu tidak benar. Syawal Gultom yang Rektor UNIMED itu asli orang Batak dari Samosir, bukan karena mau jadi Rektor menjadi Islam. Dia pun tak tahu sejak kapan nenek moyangnya menjadi Islam. Ada babakan sejarah menunjukkan tentang upaya politik dan kultural untuk mengesankan bahwa Batak itu identik Kristen dan makan babi. Tetapi Parmalim itu kan orang Batak ya, dan tidak makan babi kan? Memang tidak makan babi mereka itu. Sejak kapan tidak makan babi? Ya sejak usia agama Malim itulah. Sudah lama itu? Ya, menurut klaim mereka ya Malim itu agama orisinal Batak. Jadi Kristen datang belakangan menurut pemahaman mereka.
2. Definisi Malim yang Saudaraku Ucok tawarkan sukar diterima. Ada sejumlah literatur yang bisa mengantar kita ke pemahaman yang benar, terlepas kita suka atau tidak.
3. Malim identik dengan pemujaan roh-roh dan begu ganjang? Ro ma hamu denggan tu Huta Tinggi, di si do amanta Marnangkok Naipos-pos na boi mangalehon hatorangan satontang tu pangantusion hamalimon. Memang bukan hanya dalam berbagai bentuk interaksi antar orang Kristen dan Malim sering ada tuduhan miring, juga dalam buku-buku para missionaris sering dipandang bahwa agama Malim itu adalah bentuk hasipelebeguon (pagan). Tentu ada motifnya.
3. Amat menarik Saudaraku Ucok menyebut bahwa kalau mau dapat jabatan yang baik harus beragama Islam. Tetapi perhatikanlah jumlah orang Batak keseluruhan dengan jumlah orang Batak (Kristen) yang menduduki jabatan-jabatan penting di negeri ini. Ucok tak melihat itu secara objektif. Pernah menghitung berapa orang caleg beragama Kristen di Sumut? Bah, unang be jangan. Artinya, dari jumlah gila-gilaan orang Kristen (Batak) yang ingin bertarung untuk kursi legislatif itu secara faktual membuktikan bahwa mereka merasa amat berpeluang dan tak ada kendala. Muslim amat well come saja tampaknya.
4. Sesekali periksa dulu berapa orang Islam yang boleh menjadi pejabat di Tapanuli Utara,Samosir, Humbanghasundutan dan Tobasamosir dan apa Jabatannya. Ima lae. Jika ada Koramil yang beragama Islam itu bukan tunjukan Bupati, begitu juga Kapolres, dan pimpinan institusi vertikal.
5. Mauliate gidang Saudaraku Ucok. Horas jala gabe hita sude.
…………???????????
apaan sech………….?
ga ngerti ah… ( tp kok coment…? )
oh oh umat islam dan kristen,
gini ya sayangku,
dalam agama malim, tentang asal mula manusia aja sudah berbeda jauh dengan versi kalian berdua.
jadi plis deh bah…. urus agama kalian aja dong bah.
jangan sok tau ya, jangan bikin2 sensasi tak berbobot yang berbau kontroversi tuk menaikkan traffic blog2 kalian.
kami bukan market tuk kalian jadikan umat untuk memperluas kekuasaan dalam kefanatikan yg aneh.
Darah kami darah batak, dan itu juga yg menjadi agama kami.
jadi, stay away from us dong bah.
i ma jo tu son
wassalam dan tuhan memberkati.
Ngomong apaan tuh..
aku gak ngerti…? kaya bahasa babe gue aja
aku yg ngerti cuman nang hadong hepeng hahaha
ngawur pulak nih..
“…..Mohammad Said berpendapat lain.
Baginya, sama seperti Harry Parkin dalam bukunya The Toba Batak Belief in the high God (?), Malim mempunyai kaitan dengan fenomena keagamaan dalam Islam khususnya di Sumatera Timur….. ”
alamak… lama2 di demo ormas islam pulaklah ini agama malim, gara2 diFITNAH memodifikasi ajaran islam.
hehehe
jadi begini ya, dulu itu kami gak pake2 penamaan agama, nah, datanglah arab2, dibikin2lah ‘tata cara spiritual’ kami dgn nama agama yg bagus menurut mereka (cari muka gitu), biar mereka gampang berdagangnya.
tapi gara2 arab2nya sering dimakan (katanya di bikin sop) sama orang batak, ya jadinya gitu deh, cuma sebatas penamaan aja.
hhehehe
kekgitulah ceritanya.
bah “TUKANG NGARANG” rupanya…
pantas lah… nyesal pulak awak ngomentari tukang ngarang…
hehheheehehehehe
parmalim itu hanyalah istilah keprcayaan orang orang dulu sebelum masuknya agama2 sekarang ini jadi parmalim itu kepercayaan kepada mulajadi nabolon itulah istilah jaman dulu sebelum mengenal agama yang ada sekarang ini, tapi pada dasarnya kepada penguasa alam semesta ini TUhan YME
Mr.Batak 2 April 2009 3:12 pm menulis:
parmalim itu hanyalah istilah keprcayaan orang orang dulu sebelum masuknya agama2 sekarang ini jadi parmalim itu kepercayaan kepada mulajadi nabolon itulah istilah jaman dulu sebelum mengenal agama yang ada sekarang ini, tapi pada dasarnya kepada penguasa alam semesta ini TUhan YME.
Tanggapan saya:
1. Sebaiknya kangan pakai atau hindari pemakaian ungkapan “hanyalah”, itu menyepelekan sekaligus menggambarkan ketidak-tahuan.
2. Konsep “mulajadi nabolon”. Saya anjurkan penulisannya begini Mula Jadi Na Bolon. Substansinya mengindikasikan pengakuan atau kepercayaan kepada suatu zdat yang maha tinggi, maha kuasa, yang menjadi asal muasal segala kejadian. Kira-kira begitu terjemahan untuk istilah Batak tersebut. Ini tak identik dengan gagasan teologi trinitas. Tawhid itu.
3. Seperti kebanyakan pemberi komentar sebelumnya, mungkin saja Mr Batak diliput oleh main set yang umum di Indonesia bahwa ada dua agama: agama resmi dan tak resmi sesuai dengan pengakuan perundang-undangan yang akhirnya melahirkan elemen-elemen perlakuan poliik, sosial dan lain sebagainya yang berujung diskriminasi.
Terumakasih untuk topik penting ini.
Pak Ketua tanggal 29 Maret 2009 10:25 pm menulis tanggapan:
“….alamak… lama2 di demo ormas islam pulaklah ini agama malim, gara2 diFITNAH memodifikasi ajaran islam.hehehe. jadi begini ya, dulu itu kami gak pake2 penamaan agama, nah, datanglah arab2, dibikin2lah ‘tata cara spiritual’ kami dgn nama agama yg bagus menurut mereka (cari muka gitu), biar mereka gampang berdagangnya. tapi gara2 arab2nya sering dimakan (katanya di bikin sop) sama orang batak, ya jadinya gitu deh, cuma sebatas penamaan aja.hhehehe. kekgitulah ceritanya.”
Tanggapan saya:
1. Harry Parkin itu seorang missionaris yang pernah mengajar di Sekolah Tinggi Tehologia Pematangsiantar. Dia begitu berbeda dengan para missionaris dan para pendeta protestan lain. Secara kebetulan pendapatnya tentang Malim sama dengan H.Mohammad Said. Saya kira itu semacam hasil dari objektivitas cara berfikir ilmiah yang memang bersifat universal. Sayangnya tidak ada kebesaran jiwa bagi sebagian orang.
2. Mr Ketua, mohon pantangkan saja mengajukan reaksi tak sehat hingga terkesan amat emosional dan komentarnya pun jadi tak sehat pula.(ingot hamu ma poda hamalimon i. Agama sebagai sebuah istilah bukan dari Arab, itu masukan dari Sangskerta. Orang Arab menyebut Agama itu dengan sebutan “Dien”. Bisa saja ada penganut Malim yang hanya mengikuti saja tanpa tahu apa-apa tentang Malim itu, apalagi soal sejarahnya. Ini memang bagian tugas bagi para ilmuan. Wajar ada reaksi yang kurang menggembirakan setelah orang lain menunjukkan fakta sejarah.
3. Orang Arab dalam kehadirannya di tanah Batak amat sangat berbeda dengan kedatangan orang Eropa. Orang Arab berbisnis sambil berdakwah. Orang Eropa malah menyiapkan dana besar untuk memasuki lahan-lahan penggembalaan seperti apa yang dilakukan oleh RMG di Jerman. Nah, di lapangan kedua jenis orang eropa ini (Belanda yang penjajah dan RMG yang “menggembala” tak ayal lagi sering berkolaborasi. Bagi pandangan Eropa yang Belanda yang menjajah akan lebih mudah menguasasi daerah taklukan baru jika penggembalaam sudah dijalankan. Pahit memang kenyataan ini, tetapi kapan kita bisa tegar menatap masa depan kalau tidak pernah belajar kepada sejarah? Di Tapanuli, sama seperti di Aceh, Belanda sama sekali tidak pernah memerintah secara normal keucali sekadar menduduki. Perang melawan pendudukan Belanda penjajah selama 30 tahunan tidak mungkin berlangsung tanpa suatu resep jitu. Tentu resep itu berbeda dengan apa yang ingin difahamkan oleh orang-orang tertentu di Tanah Batak.
4. Dalam sejarah Batak hanya missionarislah yang tercatat pernah dibunuh (Lyman dan Munson, anda tahu itu kuan?. Arab-arab itu berbaur dengan damai. Jadi, komentar Mr Ketua “tapi gara2 arab2nya sering dimakan (katanya di bikin sop) sama orang batak,…” itu tak didukung fakta.
5. Komentar ini “alamak… lama2 di demo ormas islam pulaklah ini agama malim, gara2 diFITNAH memodifikasi ajaran islam.hehehe” sesungguhnya tak perlu hadir, apalagi setelah lebih kritis terhadap apa yang menjadi latar belakang dalam setiap kasus kemarahan” kelompok-kelompok tertentu dalam Islam. Contoh, tahun 1954 Saksi Yahowa dan Ahmadiyah itu memang sudah dinyatakan oleh Jaksa Agung RI sebagai sebuah penyimpangan yang oleh itu perlu dibina bahkan jika tidak bisa diluruskan sebaiknya dilarang. Larangan seperti itu pasti mudah muncul dalam agama apa pun termasuk Malim jika ada sekelompok orang yang mengajarkan penyimpangan dalam agama itu. Agama Malim tentu akan menggunakan sumber rujukan paling tinggi jika menghadapi adanya fenomena penyimpangan di dalamnya. Begitulah. Malim ma hita manghatai.
Aku lahir di Salah satu desa di Sianjur Mula Mula Kab Samosir, Parmalin atau Kristen,Islam anda itu Intelektual tapi tidak berjiwa besar ,dekatkan dirimu ketuhanmu biar umatnya memilih yang terbaik,Urusan agama adalah pribadi ke ilahi,
ternyata ada juga disini