Aturlah Anak Muda Kalau Bisa!
Aku bukan pion-pion catur
Aku gak suka diatur-atur
Jangan coba-coba halangi aku
Karna aku generasi biru
Aku gak mau direkayasa
Aku ingin berpikir merdeka
Jangan coba-coba untuk memaksa
Karna aku generasi biru
Biarkan terbuka lebar
Gak perlu tutup mataku
Aku ingin melihat jelas
Ini zaman generasi biru
Oh biarkan ku teriak lantang
Untuk apa sumbat mulutku
Aku ingin bernyanyi keras
Ini lagu generasi biru
Aku bukan anakmu
Aku cuma titipan
Mimpiku milikku
Aku ciptaan Tuhan
* * *
Lagu setengah lama itu, Generasi Biru ciptaan Slank, saya dengar pertama kali ketika saya masih di sekolah menengah itu. Sesaat lalu, dia menggebrak lagi kuping saya. Keras sekali. Bulu roma langsung merinding. Lagu itu penuh semangat dan membawa saya ke gemeretak hidup ke arah di mana anak muda akan melakukan apapun sesuai dengan yang ada di kepalanya. Saya teringat seseorang pernah berkata kepada saya dengan bijak. “Look that man! He stands and walks with his mind.”
Pertarungan anak muda adalah sebuah pertarungan gairah yang paling menggebu-gebu. Di masa-masa itu, dia dijepit antara kutub masa bermain-main kala kanak-kanak dan bejibunnya peraturan dari orang-orang tua. Kutub yang satu lagi adalah sebuah “mitos” masa depan: boleh jadi ada, boleh jadi juga hanya khayalan.
Anak muda adalah golongan yang gelisah terhadap apa pun. Golongan yang tak mau diatur-atur dengan dogma dan indoktrinasi. Golongan yang punya sikap sendiri terhadap sesuatu, yang pilihannya berdasarkan dua kategori saja: hitam dan putih.
Golongan muda adalah golongan yang tak pernah abu-abu. “Slank adalah anak muda, selenge’an, sembarangan tapi punya sikap,” itu kalimat yang selalu ada di tiap kaset Slank yang dulu saya beli. Itu kalimat yang paling pas menerangkan soal anak muda. Kalimat terakhir adalah penegasan bahwa anak muda jangan pernah ditokoh-tokohi, dibohongi, dikadal-kadali, dijejali dengan miliaran peraturan yang sumpek.
Anak muda punya sikap sendiri. Berdasarkan apa? Lewat syair-syairnya, Slank memberi pelajaran pada saya, bahwa anak muda bukanlah generasi bodoh yang melewatkan ataupun acuh pada sekelilingnya. Justru anak muda adalah golongan paling peka melihat kondisi sekitarnya yang dirasakan tidak adil, tidak berpihak, tidak benar dan tidak peduli terhadap kebebasan, kesejahteraan, keadilan dan kejujuran.
Anak muda bukanlah perlambang atau perwakilan golongan masyarakat. Anak muda bukanlah golongan yang mengangkat dirinya serta-merta sebagai “messiah” alias juru selamatnya masyarakat. Karena dia adalah bagian masyarakat itu sendiri, maka dia harus angkat bicara, menggerakkan perubahan dan anti terhadap kemapanan yang hipokrit, kestabilan yang feodalis, dan kehidupan yang pura-pura. Karena dia adalah bagian dari masyarakat yang tertindas itu.
Anak muda adalah golongan yang tidak menginginkan adanya apologi dan justifikasi yang menutupi kebusukan dari sistem dan penguasa. Anak muda tahu kalau ketika penguasa berpidato soal “rakyat” maka maknanya adalah “jual beli”, kalau penguasa berceloteh soal pemberantasan korupsi maka maknanya adalah “penipuan”.
Semakin kuat, semakin gencar dan semakin luas penguasa mempropagandakan anti korupsi, maka penipuan dan pembohongannya semakin niscaya.
* * *
Tapi anak muda juga adalah golongan yang nakal. Golongan di mana magnet hubungan antara laki-laki dan perempuan begitu kuatnya. Dia suatu kelompok yang meletakkan kalimat “semua hal harus dicoba” setinggi-tingginya. Anak muda adalah golongan yang matanya bisa melotot ataupun mengerling kemudian tersenyum dan lantas tertawa ketika melihat seorang gadis seksi melintas sehingga, “Paha dan dada ke mana-mana …”
Walau demikian, walau demikian, golongan inilah yang paling tinggi angka golputnya. Entah mau dibilang golput ideologis atau golput administratif, anak muda sendiri tak terlalu peduli. Sikap mereka sangat jelas; kalau sistem dan penguasa masih menipu, memanipulasi dan membohongi masyarakat, mereka tak akan pernah peduli.
Mereka tak akan peduli. Mereka akan lebih asyik dengan pacar-pacar mereka. Atau mungkin saja buku-buku kuliah mereka. Atau mungkin saja dengan grup-grup musik mereka. Atau mungkin saja dengan bukit-bukit dan gunung-gunung mereka. Atau mungkin dengan sepeda, motor dan mobil-mobil mereka. Atau mungkin saja dengan bola dan lapangan olahraga mereka. “Asal jangan ganggu gua aja…. “
Anak muda tak akan peduli kalau negara tak peduli dengan mereka. Kalaupun negara ini tak ada, anak muda pun tak akan terlalu peduli. Kalaupun negara ini hancur, mereka tak akan peduli. “Kalau hancur, mari bikin lagi negara baru!” teriak mereka.
Orang tua tak akan pernah mengerti. (*)


“Mereka akan lebih asyik dengan pacar-pacar mereka…”
Wah, saya masih belum laku, Mas. Terus gimana ini?
salam slankers piss……
kehebatan anak muda adalah bumerang diri mereka..
salam kenal…:-)
kalau saya generasi patah hati mas, hehehe
salam kenal
Bukan cuma sistem nasional Narkoba yang membelai mereka menjadi pesaing syetan. Bapak mereka pada institusi kenegaraan juga meminta mereka jadi boneka.
Hai, anak muda Indonesia pencinta kebebasan, aku ada satu slogan yang pas untuk kalian :
” WARNING !!! DILARANG MELARANG !”
Salam Slanker,…PISS!!!
Aku orang bebas yang terbang melayang seperti angin, aku orang bebas yang tak akan bisa di kuasai,…
Bang, bahas masalah ketersinggungan masyarakat keturunan arab terhadap pernyataan ruhut sitompul dong, pasti seru bgt.
iyah semoga generasi muda tidak terlena
anak muda….
Yang muda harus lebih banyak belajar dari yang tua.
atur ajalah di situ
bagaimana baiknya…..
bagus…