Arsip

Arsip untuk Juli, 2009

Untuk “Seorang” Bayi Berkepala Dua

29 Juli 2009 nirwan 5 komentar

Dia diberitakan wafat kemarin, Selasa 28 Juli 2009. Terhimpit di sesaknya pemberitaan mengenai gugatan Pilpres 2009 ke MK, kasus Flu Babi yang mengemuka dan pemboman JW Marriot/Ritz Carlton milik Amerika dan Eropa. Badrun nama ayahnya, Nurhayati disematkan pada ibunya. Mereka berdua mengaku, sudah menginginkan bayi itu sejak sembilan tahun lamanya. Belum sempat mereka memberi nama, bayi itu telah ditimang Sang Maha Kuasa.

Beruntunglah mereka. Sejatinya, mereka diberikan dua anak sekaligus, dua kepala dalam satu tubuh. Dua kepala manusia itu bersatu, berdempet erat, berpeluk di sebuah ruang yang penuh kasih sayang, ruang yang jauh dari kemunafikan dan suci dari segala kebohongan; jantung dan hati. Seolah-olah tak ingin mereka berpisah walau hidung telah menghirup bumi.

Mereka hanya sempat mencicipi sebentar luapan kerinduan ayah dan bunda. Nantinya, mereka pastilah tak perlu merengek menghamba susu dari ibunya. Mereka tahu, ibunya tak akan ragu untuk bangun jam berapa pun, setiap harinya setiap malamnya. Darah ibunya adalah susu bagi mereka. Mereka juga mafhum, ayah mereka, Badrun, akan selalu melangkahkan kakinya mencari rezeki dalam hamparan luasnya dunia.

Secercah senyum ketika mengandung, seulas kejut saat terlahir, setitik hasrat kala dirawat, bercampur-campur kala tangan Izrail datang menjulur.

* * *

Read more…

Menebak-nebak Maling DPT

28 Juli 2009 nirwan 8 komentar

Ini bukan level maling kelas kampung yang mendobrak jendela dan kemudian merusak lemari dan mengobrak-abrik rumah sembari melayang-layangkan goloknya kepada pemilik rumah. Ini pencuri kelas wahid yang tersenyum kepada korbannya, menyapanya, membelainya dan kemudian memberi santunan kepada korban. Pencuri kali ini selalu tersenyum.”

* * *

Tak banyak yang bisa diprediksi dari gugatan pasangan pilpres Mega-Prabowo dan JK-Wiranto. Politik mengajarkan pada saya lingsebuah perjuangan demi kekuasaan haruslah dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan serius. Tak ada tempat untuk bermain-main. Apapun motifnya.

Pun begitu, Pilpres 2009 telah membawa kita pada bukan hanya sekedar catatan. Saya sungguh-sungguh tak yakin benar dengan kata “catatan” itu. Kata itu seolah-oleh menisbikan apa yang telah terjadi barusan di pentas Pemilu Legislatif dan Pilpres 2009.

Semua orang boleh mencerca, mencaci dan menatap dengan pesimis dan sinis kepada gugatan yang dilakukan paket Pilpres yang dinyatakan kalah oleh KPU. Tapi bagaimanapun, kalau melihat pentas Pileg dan Pilpres, proses keduanya sungguh-sungguh tidak bisa diabaikan begitu saja. Yang dipertaruhkan adalah eksistensi negara dan pemerintahan yang dihasilkan oleh Pemilu itu. Yang dipertaruhkan adalah siapa yang duduk di istana negara dan mereka-mereka yang nantinya membawa aspirasi rakyat INdonesia dalam DPR dan DPRD.

Read more…

Terorisme dan Pemilu, Negara Akan Lebih Berkuasa daripada Rakyat

22 Juli 2009 nirwan 18 komentar

Sudah muncul wacana dari “kubu” pemerintah Indonesia kalau perangkat undang-undang terlalu lemah untuk mencegah terorisme. Apalagi UU Subversif sudah tak ada lagi. Alasannya logis; negara seharusnya tak menangkap teroris hanya setelah ada bukti kejadian ledakan terlebih dahulu. Kegiatan pencegahan lebih efektif daripada hanya menangkap teroris. Negara, oleh karena itu, perlu kewenangan yang lebih besar dari sekarang.

* * *

Tak ada salahnya mengibaratkan negara seperti deskripsi Plato dalam “Polis”-nya. Beberapa literatur melukiskan segerombolan orang berkumpul dalam sebuah ruangan yang mirip-mirip dengan miniatur Colloseum-nya dictatorRomawi. Di sana, para perwakilan ataupun pejabat-pejabat “kampung”, membicarakan sesuatu hal yang secara geografis dan geopolitik lebih luas dari ukuran ruang dan banyaknya orang yang ada di dalamnya.

Hampir dipastikan ruang lingkup negara mengalami reduksi ruang. 200 juta orang Indonesia menyerahkan “aspirasi” politiknya kepada 500 orang perwakilan di DPR. Ada penambahan lagi dari anggota MPR. Secara kuantitatif, maka hanya nol koma nol nol nol nol sekian persen orang yang diserahi tugas untuk mengemban amanah seluruh orang Indonesia. Kalau mengambil analogi dari metodologi penelitian, maka keanggotaan perwakilan rakyat itu ibarat sampel.

Read more…

Mitos Top si “Noordin”

21 Juli 2009 nirwan 31 komentar

The most wanted person itu bernama Noordin M Top. Disebut-sebut sebagai dedengkot teroris di Indonesia, namanya melegenda dan terus menjadi buah bibir. Selain karena “kinerja” dan jaringannya, hingga sekarang dia tak ketahuan batang hidungnya. Semakin tak tertangkap, namanya justru kian melambung. Tapi gara-gara itu pula, jangan-jangan namanya hanyalah hasil karangan bebas sistem politik keamanan di Indonesia. Benarkah dia (pernah) ada?

* * *

Alkisah, terjadilah sebuah perampokan besar di suatu kota metropolitan di Indonesia. Lebih mengagetkan lagi, yang menjadi korban topadalah kerabat seorang guru besar universitas ternama di kota itu. Guru besar ini dikenal sebagai orang yang lurus dan diketahui pula sebagai orang yang tidak ingin melibatkan diri secara jauh ke dalam kancah politik. Dia berteman dengan seluruh kalangan, pandai menempatkan posisi dan orang-orang menganggap sebagai figur dan tokoh masyarakat yang tidak punya gairah kekuasaan. Dia berhasil tegak dalam posisinya sebagai intelektual yang konon punya garis politik seperti ini: tidak ke mana-mana tapi ada di mana-mana. Kasusnya mengundang simpati dari seluruh, ya hampir seluruh, pihak yang biasanya berseteru di kota ini.

Kepala Kota langsung ke TKP dan seorang kepala polisi daerah tak perlulah mendapat perintah lebih lanjut untuk mengusut tuntas kasus ini secepat-cepatnya. Namun, bisik-bisik politik menyebutkan si kepala polisi ini ketiban target: kalau tak dapat dalam jangka waktu sekian jam, siap-siap saja hengkang dari kota ini.

Read more…

Pilpres Putaran Kedua dan Pertempuran di Balik Kabut

8 Juli 2009 nirwan 23 komentar

“SBY tahu itu dan akan meladeni pertempuran itu. Dan pertempuran ini sudah berlangsung dengan sangat-sangat keras. Kalau tidak, apa perlunya seorang Menteri Pertahanan mengeluarkan statemen soal 65% suara mengarah ke SBY?”

= = =

Ini masa sulit bagi pasangan Mega-Prabowo dan JK-Wiranto. Persoalannya, survey di awal Juli oleh tim survey hampir seluruh pasangan, kompak menyebutkan indikasi yang sama: kemerosotan popularitas SBY-Boediono dan kenaikan popularitas Mega-Pro dan JK-Win. Dibandingkan dengan hasil quick count, ternyata suara SBY ada di atas 60%. Itu aneh.

Secara teoritis, rentangan 60% merupakan rentang aman untuk menghasilkan Pilpres satu putaran. Di bawah itu, maka potensi Pilpres menjadi dua putaran menjadi sangat dimungkinkan. Itu karena sesuai ketentuan undang-undang yang menyebutkan ada dua syarat untuk kemenangan pilpres satu putaran yaitu meraih 50% di tingkat nasional dan 20% di setengah jumlah propinsi. Di syarat kedua inilah yang sangat sulit dipenuhi bila suara itu tak mencapai angka 60%.

Untuk sementara, soal kecurangan pemilu kita kesampingkan. Karena kalau ada yang bilang Pilpres 2009 ini sehat-sehat saja, maka itu jauh lebih aneh dan menggelikan.

Read more…

Categories: All News, Politik

Pilpres 2009 Putaran Kedua

8 Juli 2009 nirwan 3 komentar

Yup, ini pendapat saya. Sedang saya tulis sedikit-sedikit dengan jantung berdebar-debar. Let’s see. :D

Categories: Lapak, Politik

Doa untuk Presiden

7 Juli 2009 nirwan 5 komentar

Sahabat, marilah malam ini kita merenung sedikit saja. Mudah-mudahan ada hal yang luar biasa akan terjadi esok hari. Setiap kita pasti mengharapkan hari esok adalah hari yang lebih baik. Namun bukankah sering juga terjadi, kalau di hari esok ternyata jauh lebih buruk dari sekarang.

Sahabat, marilah kita merenung sedikit. Atau kalau tidak, kita bermain PS saja. (*)

Categories: Lapak

SBY Ingin Mega di Putaran Kedua, Bukan JK

6 Juli 2009 nirwan 41 komentar

Sederhana saja asumsinya. Pertama, SBY dan timnya sudah merasa pilpres 2009 tak mungkin bisa dimenangkan satu putaran. Kalau mereka tetap yakin, maka iklan-iklan soal satu putaran tak akan dikeluarkan. Tim SBY bukan tim kelas kampung. Jadi mereka tahu persis, iklan-iklan seperti itu tak akan cukup kuat untuk diketahui masyarakat di tingkat grass root. Iklan satu putaran hanya konsumsi elit dan wacana di kalangan berpendidikan saja. Atau dalam kata lain, “satu putaran” merupakan perintah yang ditujukan bagi tim sukses dan jaringan pendukung SBY-Boediono di seluruh Indonesia, sekaligus psywar bagi kompetitor. Jadi, sasarannya bukan seluruh pemilih. Ya, kalaupun ada pemilih yang terpengaruh, ya lebih baik.

sby-obama

Nah, mengapa mereka tak yakin? Itu karena popularitas terus melorot sementara di pihak kompetitor justru meningkat. Itu tidak bisa dipungkiri. Hampir seluruh lembaga survey, baik yang independen sampai yang mereka bayar pun, mengungkapkan hal itu. Jadi itu realitas politik.

Read more…

Sihir SBY, Indonesia Makin Mundur Ke Belakang

4 Juli 2009 nirwan 19 komentar

cengengGeli, lucu, aneh, ironis, tragis, sekaligus memuakkan. Seorang Presiden, yang mencalonkan diri lagi untuk periode keduanya, bicara soal sihir yang dikenakan kepadanya. Di hadapan para kyai, di hadapan orang, ah, ada pula Mas Tifatul Sembiring, Presidennya PKS, dia berbicara soal sihir. Luar biasa!

SBY jelas-jelas telah panik sekaligus cengeng. SBY panik betul dengan naiknya popularitas dua kandidat lain, JK dan Prabowo, terutama Jusuf Kalla di hadapan pemilih muslim.

Entahlah. Bagi saya, inilah cara SBY menegaskan dirinya kalau dia sedang panik! Panik dan pusing tujuh keliling, dan lantas mengeluarkan jurus lamanya; memposisikan diri sebagai orang yang sedang dizalimi.

Read more…