Arsip

Arsip untuk Agustus, 2009

Ibarat Cinta

27 Agustus 2009 nirwan 7 komentar

heartCinta itu ibarat apa, api atau air? Sekelumit kisah disuguhkan dalam “Musyawarah burung-burung” karya Fariduddin At-Tar. Seorang ahli ibadah suatu saat bermimpi, dia sedang menyembah patung di Yunani. Ahli ibadah itu penasaran. Bersama rombongannya dia mendatangi Yunani dan sampailah di suatu kuil dia melihat seorang wanita yang sangat-sangat cantik. Dia terpikat dan betul-betul terpikat. Dalam kisah itu, si Ahli Ibadah tersebut rela melepaskan seluruh atribut keagamaannya dan masuk ke agama si wanita. Namun, tetap ada yang tak tega dengan si ahli ibadah. Murid-muridnya berusaha melepaskan dia dari ketergantungannya akan cinta. Itu berhasil, walau dengan sangat bersusah payah. End of fragmen.

Read more…

Ternyata Keyakinan Kita Tak Sama

26 Agustus 2009 nirwan 6 komentar

Waktu memang sungguh nakal. Gara-gara waktu, terjadilah perdebatan, mungkin serius, mungkin juga tidak. Suatu saat diputuskanlah berbuka pada pukul 18.36. Tentulah setiap arloji tak sama. Ada yang berbuka duluan ada juga yang belakangan. “Duluan” dan “belakangan” ini kita kutipkan saja, karena itu ‘kan persepsi saya.

perception_vaseYang duluan berkata, “Sesuai arloji yang sudah melingkar di pergelangan saya sejak muda, sudah waktunya berbuka. Saya tak salah, kalian yang salah.”

Yang belakangan menjawab, “Mungkin suatu kala pernah baterai jammu mengulah dan terlambat. Itu bukan tak mungkin, bukan? Jangan dulu salahkah orang lain. Mungkin saja, kami yang benar.”

Yang duluan berbuka berdebat dengan mulut mengunyah, sementara yang belakangan, tentu belum mengunyah. Yang belakangan ternyata ingin mengikuti waktu berbuka yang dimiliki oleh televisi. Setelah tivi menayangkan beduk, barulah yang belakangan mendebat lagi yang duluan tadi. Kini kedua mulut mereka sama-sama mengunyah.

Perdebatan semakin panas, bahkan sudah saling tuding. Ada pula yang sudah membawa-bawa ayat-ayat, di antaranya “Segerakanlah berbuka”. Tapi ada pula yang bilang begini, “Lebih cepat lebih baik.”

Muncullah seorang yang mencoba arif alias bijaksana. “Berbukalah sesuai dengan keyakinan masing-masing. Yang berbuka lebih dulu pasti ada dasarnya, dan kebalikannya, tentu yang belakangan tak begitu saja menunggu kalau tak punya alasan pasti. Jadi, sesuai dengan keyakinan masing-masing saja.”

Ah, ada pula yang menyeletuk dari belakang perdebatan itu. “Ternyata, walau kita sama-sama Islam, keyakinan kita tak sama.” (*)

Haramkan Negara bukan Pengemisnya!

25 Agustus 2009 nirwan 6 komentar

beggar_cagayan_de_oroNamanya tersebut sebagai Abu Dzar Al-Ghifar. Ia berteman dengan Salman Al-Farisi. Keduanya datang dari belahan wilayah di luar kota suci Makkah Al-Mukarramah. Satu dari suku bangsa Ghifar, suku nomaden yang punya tabiat merampok kabilah-kabilah. Dan yang terakhir disebutkan, berasal dari belahan bumi yang punya peradaban yang banyak ditulis bangsa-bangsa Eropa, Persia.

Sejak kecil, kedua orang ini diberitahu melalui ustadz-ustadz saya dengan kategori orang-orang yang kukuh pendirian, punya sikap dan cerdas. Abu Dzar punya kekhasan sebagai pelindung dan pembela orang miskin, yatim dan lemah. Seakan-akan kata “mustadha’afin “ itu sudah melekat erat dengan dirinya. Sementara Salman, diberitakan sebagai orang yang lurus, jujur dan cerdas.

Saya membayangkan seandainya Abu Dzar masih hidup dan kemudian mendengar fatwa sebagian ulama Indonesia yang mengharamkan “pengemis”. Apakah yang akan terjadi?

* * *

Read more…

Muhammad dan Kurma

24 Agustus 2009 nirwan 3 komentar

Berbukalah dengan yang manis. Betul? Betul, dan itu betul-betul betul. Nabi suka kurma? Betul, dan itu betul-betul betul. Apakah kemudian kurma identik dengan yang manis-manis? Betul sebagian, sebagian lagi tidak. Apakah kemudian menjadi sunnah berbuka dengan kurma? Betul, tapi hanya separuh, separuh yang lain mungkin saja tidak.

Ketika nabi diikuti sikap dan perilakunya, maka itu adalah sunnah. Dan untuk itu, maka kurma bisa jadi menjadi pahala tersendiri bagi orang yang memakannya ketika berbuka. Namun saya juga membayangkan ketika berbuka di suatu daerah yang sama sekali tidak kenal dengan kurma. Kalau “sunnah” itu diberlakukan, maka akan terjadi “ketidakadilan sunnah”.  Bagaimana mungkin saya mendapatkan pahala kalau saya tidak menemukan kurma?

Karena itu, “berbuka dengan manis” menjadi sandaran keduanya. Dia lebih lentur. Itu artinya, makanan halal yang rasanya manis, akan mendapatkan predikat “sunnah”. Dan mengikuti sunnah sudah jelas pahala.

Tapi untuk itu pun, ukurannya masih akan tetap ada. Bagaimana seandainya ketika Anda suatu saat berbuka dan tidak tersedia makanan yang manis-manis? Apakah Anda akan kehilangan pahala “sunnah”? Apakah nabi akan setega itu?

Read more…

Cap Hadir

Sekedar mengisi absen. :D

Categories: Lapak

Merdeka

19 Agustus 2009 nirwan 10 komentar

17 Agustus 1945, Indonesia belum punya apa-apa. Hanya sebuah proklamasi oleh hanya dua orang yang mengatasnamakan seluruh rakyat Indonesia, Soekarno dan Hatta. Sebuah bendera, merah dan putih, yang belum disepakati sebagai bendera kebangsaan. Semua terjadi begitu tiba-tiba.

hatta soekarno

Suatu hari, beberapa dari kawan saya, memberi saya catatan penuh sinisme. “Proklamasi hanya untuk pulau Jawa!” kata mereka.

“Tapi Muhammad Hatta yang orang Minang itu?” saya berbalik bertanya.

“Lho, justru itu yang harus dipertanyakan. Mengapa Hatta mau di-fait accomply?” tangkis mereka lagi.

Saya tak meneruskan perdebatan itu. Mereka resah, gundah gulana dan lebih dari 50% kemungkinannya mereka akan tak hendak menerima argumentasi orang lain. Saya, tentu punya pendapat yang berbeda dengan mereka.

* * *

Read more…

Proklamasi!

18 Agustus 2009 nirwan 4 komentar

“Proklamasi! Kami, rakyat Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaan …”

Begitu sakral dia dulu. Begitu indah dia dulu. Begitu menggelora dia dulu.

Kini begitu sunyi. Begitu birokratis. Hanya sebatas upacara di tanah lapang, gelar panjat pinang dan ramai-ramai memakan kerupuk.

Selamat merayakan Hari Ulang Tahun Indonesia ke-64, bagi mereka yang merayakannya. (*)

Mega-Prabowo Kalah, JK-Wiranto Kalah, SBY-Boediono Menang

13 Agustus 2009 nirwan 6 komentar

Sudah diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) soal Pilpres 2009. Bagi Mega-Prabowo dan JK-Wiranto ini jelas tidak enak, tapi perasaan sebaliknya ada di SBY-Boediono. Selamat bagi para pemenang! Apa pekerjaan selanjutnya?

Terlalu banyak yang harus dikerjakan. Legitimasi kekuasaan SBY dalam lima tahun ke depan mungkin kuat, tapi sangat mungkin akan lemah. Bukan masalah apakah oposisi yang nantinya akan lahir itu kuat atau tidak, karena kejelasan soal oposisi itu sendiri belum ada hingga kini. PDIP yang terkena dampak putusan Mahkamah Agung, jelas tidak segarang dulu. Mereka bakal punya pertambahan kursi. Dalam berbagai segi, ini kompromi tingkat elit untuk paling tidak meredam bibit-bibit  konflik politik di Indonesia di lima tahun ke depan. Paling tidak untuk sementara.

Read more…

Yang Bersaksi Sudah Mati

8 Agustus 2009 nirwan 3 komentar

Terlalu sulit untuk menuliskan orang sebesar WS Rendra dalam hitungan karakter dan beberapa paragraf. Puisi, konon, membongkar dengan penuh lembut kesulitan simbolisasi pemikiran maupun perkataan perasaan hanya dalam beberapa kalimat dan bentuk. “Beban” yang demikian berat itu, suatu waktu pernah sangat merisaukan Sutardji Calzhoum Bahri.

rendraItu pun, banyak dari kita yang tak pandai berpuisi. Bahkan, kalau kita pandai-pandaikan untuk mencatat beberapa larik, akan ada saja yang bergumam kalau catatan itu bukan sebuah puisi. Konon, puisi harus memenuhi unsur ini, unsur itu dan segala tetek bengek yang berderet-deret laiknya barisan panjang gerbong kereta api.

Tak bisa pula diabaikan gumaman yang demikian itu. Manusia, alkisah, disebutkan sebagai satu makhluk sosial, selalu berdampingan satu dengan yang lain. Satu perkataan di ujung kampung, maka akan menjadi seratus kalimat di sudut yang satunya lagi. Manusia itu makhluk paling cerewet.

“Rendra sudah mati! Rendra mati! Mati!” teriak seseorang tergopoh-gopoh pada suatu malam. Tangannya bergetar-getar menggenggam sepucuk obor. Wajahnya berpeluh, baju dan celananya juga berkeringat. Dia keliling kampung, berteriak-teriak sendirian di saat malam hendak ke tengah-tengah peraduannya.

Read more…

Rendra

Aku mendengar suara
Jerit hewan yang terluka
Ada orang memanah rembulan
Ada anak burung terjatuh dari sarangnya

Orang-orang harus dibangunkan
Kesaksian harus diberikan
agar kehidupan tetap terjaga


Categories: All News, Sastra dan Seni

Rendra

.

Categories: All News, Sastra dan Seni