Ali Shariati
Secara tak langsung, saya dikenalkan dengan sosok ini oleh seorang
sosiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) sana. Sosok Ali Shariati lantas sudah terlanjur memikat. Tak cuma keteguhan sikapnya, kedalaman pemikirannya, tapi juga kisah hidupnya. Dari dia juga saya memandang sosok Abu Dzar Al-Ghifari yang sudah saya ketahui sejak kecil, dengan cara yang berbeda dan lebih menusuk. Kebetulan pula, sosok Abu Dzar merupakan idola dari Shariati.
Saya pun pernah membaca kekaguman filsuf barat, Jean Paul Sartre kepada Ali Shariati. Kalimat singkat itu “I have no religion, but if i do, it would be Shariati’s”, bagi saya tak cuma respek seorang manusia kepada manusia lainnya atau malah basa-basi, melainkan juga sebuah pengakuan, kesaksian. Mengapa mesti Sartre mengetengahkan soal “religion”? Tapi, kedua orang ini sudah mati. Dan kalau mengikut paham saya, tentulah posisi keduanya mengalami beda di alam barzah sana. Tentu itu kalau paham Shiah yang dianut Shariati dianggap “halal” oleh pemikiran Islam kebanyakan.
Menurut saya, pemikiran Shariati ada dalam satu level tertentu. Dia bukan yang tertinggi, tapi tentu itu kalau kita sepakat dalam pencarian kebenaran ilmu ada level hirarki. Tapi kalau pemikiran dia sampai kita lupakan, dan kita lebih senang memasang Karl Marx, untuk sebuah kajian yang hampir-hampir mirip, tentu kita sudah mengundang kesalahan.
Yup, saya memang kagum pada dia. (*)


ntar aku beliin bukunya ya…
Mana nih linknya untuk mempelajari lebih dalam tokoh ini? Ditunggu ya.
wkwkwkw…. syari’ati…. ternyata benar hehehehehe
ane ingat waktu bang nirwan bilang “ente suka ama Karl Marx atawa Komunis… berarti ente masih anak2… belajar lah lebih dewasa dengan membaca buku Syari’ati dan liat lha satu tokoh… seperti Imam Khomaini” hehehehehe
ane cari deh tuh tokoh… ternyata benar2 mantab….. thanx bro…
ane buatin link ke blog ane ya… see u