Arsip

Archive for the ‘Ekonomi’ Category

Paris Van Sumatra Itu Mitos …

2 November 2009 nirwan 5 komentar

Konon, Kota Medan sempat dijuluki dengan sebutan super keren “Paris Van Sumatra”. Dirk A Buiskool, sejarahwan Belanda, pun sempat menyitir dengan kalimat “Paris of Sumatra” dalam sebuah paper-nya. Dengan perubahan wajah yang begitu kontras, kini ia dikhawatirkan hanya jadi sekedar mitos. Kota metropolitan atau kota emperan?


kota medan

Kota Medan di daerah Lapangan Merdeka, Kantor Pos, Hotel Dharma Deli (dulu hotel de Boer), gedung BI, Balai Kota dan seterusnya. (foto: Roemono)

Penanggung Jawab: Nirwan
Reportase: Sri Mahyuni
Fotografer: Roemono
(Foto-foto lama repro Dr Phil Ichwan Azhari)

* * *


“Kota Medan pernah dijuluki Paris van Sumatra. Itu mungkin karena pada masa itu kota ini begitu mulus, indah, dan tertib. Setiap hari mobil penyapu jalan dengan sapunya yang bundar, berkeliling menyusuri sudut kota untuk membersihkan jalan dari segala macam sampah, termasuk kotoran kuda dan lembu. Di belakangnya menyusul mobil mengangkut sampah dan kotoran tersebut untuk dibawa ke tempat pembuangannya.

Read more…

Kawasan Kesawan; Kacaunya Wajah Sejarah di Inti Kota Medan

26 Oktober 2009 nirwan 3 komentar

Kombinasi sisa-sisa bangunan kuno peninggalan Belanda yang dijumpai di kawasan Kesawan, Kota Medan, dengan bangunan “modern” yang desainnya hanya berkelas “ruko”, memperlihatkan perkawinan yang aneh.  Simbol kekacauan dan ketidakpedulian terhadap sejarah dan perkembangan Kota Medan.

* * *

Reportase: Sri Mahyuni
Fotografer: Ariandi
Foto-foto lama repro koleksi Muhammad TWH dan Dr Phil Ichwan Azhari

Kesawan dulu dan sekarang

Kesawan dulu dan sekarang. Foto gedung PT London Sumatera, terletak di ujung titik Kesawan (foto Ariandi dan repro Ichwan Azhari)

Kawasan Kesawan Kota Medan. Konon, di sinilah –konon– bermukim sekitar 600 bangunan bersejarah yang ada maupun yang pernah dimiliki Kota Medan.

Mari hitung lagi sedikit demi sedikit apa sejarah apa yang pernah menjejak di Kesawan, yang berdasar peta tahun 1913 (dan direpro pada 1945) –menurut keterangan yang didapat dari sejarahwan Unimed, Dr Phil Ichwan Azhari– berada di sebuah kawasan yang memanjang dari Jalan Nienhuysweg (kini dirubah jadi Jalan Jend Ahmad Yani) hingga ke Jalan Istana (kini simpang jalan Balai Kota).

Read more…

Wajah “Antik” nan Murung di Titik Nol Kota Medan

19 Oktober 2009 nirwan 1 comment

Kawasan Lapangan Merdeka ditetapkan sebagai Titik Nol Kota Medan. Pertimbangannya, kawasan itu dulu menjadi sentra kegiatan dari perdagangan, pemerintahan, kantor pos, stasiun kereta api hingga hotel pertama di Kota Medan. Sempat dijuluki “Taman Burung” oleh Belanda dan “Fuku Raidu” oleh Jepang, pada 6 oktober 1945 di tempat itu, Mr Muhammad Hasan sebagai Gubernur Sumatra Timur mengumumkan kemerdekaan RI kepada seluruh masyarakat Kota Medan.

* * *

Reportase: Sri Mahyuni
Fotografer: Roemono, Ariandi Kopral
Foto-foto lama: repro koleksi Muhammad TWH

lapangan merdeka

lapangan merdeka medan tempoe doeloe (foto: repro Muhammad TWH)

Read more…

Jalan Kota Medan Justru Makin Hancur

7 Oktober 2009 nirwan 1 comment

Di sana-sini, jalan-jalan di Kota Medan hancur berantakan. Status kota Metropolitan dipertaruhkan.

* * *

upload

Kota Medan terus sibuk meladeni hujan yang turun tak kenal waktu. Beberapa ruas jalan, harus rela menjamu air hujan. Jangan cepat berharap panas segera datang karena persoalan baru sudah mengintip ganas di sana. Panas membuat rongga badan jalan yang compang-camping itu menyebarkan debu dan abu.

Read more…

Haramkan Negara bukan Pengemisnya!

25 Agustus 2009 nirwan 6 komentar

beggar_cagayan_de_oroNamanya tersebut sebagai Abu Dzar Al-Ghifar. Ia berteman dengan Salman Al-Farisi. Keduanya datang dari belahan wilayah di luar kota suci Makkah Al-Mukarramah. Satu dari suku bangsa Ghifar, suku nomaden yang punya tabiat merampok kabilah-kabilah. Dan yang terakhir disebutkan, berasal dari belahan bumi yang punya peradaban yang banyak ditulis bangsa-bangsa Eropa, Persia.

Sejak kecil, kedua orang ini diberitahu melalui ustadz-ustadz saya dengan kategori orang-orang yang kukuh pendirian, punya sikap dan cerdas. Abu Dzar punya kekhasan sebagai pelindung dan pembela orang miskin, yatim dan lemah. Seakan-akan kata “mustadha’afin “ itu sudah melekat erat dengan dirinya. Sementara Salman, diberitakan sebagai orang yang lurus, jujur dan cerdas.

Saya membayangkan seandainya Abu Dzar masih hidup dan kemudian mendengar fatwa sebagian ulama Indonesia yang mengharamkan “pengemis”. Apakah yang akan terjadi?

* * *

Read more…

Mega-Prabowo Kalah, JK-Wiranto Kalah, SBY-Boediono Menang

13 Agustus 2009 nirwan 6 komentar

Sudah diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) soal Pilpres 2009. Bagi Mega-Prabowo dan JK-Wiranto ini jelas tidak enak, tapi perasaan sebaliknya ada di SBY-Boediono. Selamat bagi para pemenang! Apa pekerjaan selanjutnya?

Terlalu banyak yang harus dikerjakan. Legitimasi kekuasaan SBY dalam lima tahun ke depan mungkin kuat, tapi sangat mungkin akan lemah. Bukan masalah apakah oposisi yang nantinya akan lahir itu kuat atau tidak, karena kejelasan soal oposisi itu sendiri belum ada hingga kini. PDIP yang terkena dampak putusan Mahkamah Agung, jelas tidak segarang dulu. Mereka bakal punya pertambahan kursi. Dalam berbagai segi, ini kompromi tingkat elit untuk paling tidak meredam bibit-bibit  konflik politik di Indonesia di lima tahun ke depan. Paling tidak untuk sementara.

Read more…

SBY Ingin Mega di Putaran Kedua, Bukan JK

6 Juli 2009 nirwan 41 komentar

Sederhana saja asumsinya. Pertama, SBY dan timnya sudah merasa pilpres 2009 tak mungkin bisa dimenangkan satu putaran. Kalau mereka tetap yakin, maka iklan-iklan soal satu putaran tak akan dikeluarkan. Tim SBY bukan tim kelas kampung. Jadi mereka tahu persis, iklan-iklan seperti itu tak akan cukup kuat untuk diketahui masyarakat di tingkat grass root. Iklan satu putaran hanya konsumsi elit dan wacana di kalangan berpendidikan saja. Atau dalam kata lain, “satu putaran” merupakan perintah yang ditujukan bagi tim sukses dan jaringan pendukung SBY-Boediono di seluruh Indonesia, sekaligus psywar bagi kompetitor. Jadi, sasarannya bukan seluruh pemilih. Ya, kalaupun ada pemilih yang terpengaruh, ya lebih baik.

sby-obama

Nah, mengapa mereka tak yakin? Itu karena popularitas terus melorot sementara di pihak kompetitor justru meningkat. Itu tidak bisa dipungkiri. Hampir seluruh lembaga survey, baik yang independen sampai yang mereka bayar pun, mengungkapkan hal itu. Jadi itu realitas politik.

Read more…

Debat Semu yang Menjemukan, Debatnya Si Anak Manja

23 Juni 2009 nirwan 4 komentar

Well, ini memang bukan topik baru. Tapi apakah memang ada hal yang baru dalam pentas politik Indonesia? Presiden yang muncul itu-itu juga, tim sukses yang beredar itu-itu juga, lembaga survey tetap menjalan metode toonpoolyang itu-itu juga, parpol yang menang dan tema kampanye politik yang itu-itu juga. Lima tahun lalu berbicara soal ekonomi kerakyatan, kemandirian, perlindungan hukum, pemberantasan korupsi, dan sekarang untuk lima tahun ke depan, temanya masih dalam pusaran itu. Amerika sudah sibuk menjajahi negara lain, Iran dan Korea Utara sibuk dengan program nuklirnya, India dan Cina sudah mulai menjelajahi antariksa, dan Indonesia ternyata masih harus disibukkan mengurus calon-calon presidennya yang manja.

Ya, presiden Indonesia adalah gambaran dari anak-anak manja dan mengkek. Manja dan mengkek dalam politik adalah tingginya ketergantungan si politisi pada imej alias pencitraan. Yang dipusingkan para calon Presiden itu adalah “apakah kalau aku begini nanti diperhatikan orang?”

Read more…

Geothermal Sarulla, Mengapa?

9 Juni 2009 nirwan 2 komentar

Sebuah posting dari blog ‘nBASIS, mengernyitkan kening saya. Silahkan klik di sini untuk melihat postingan itu.

Ada banyak pertanyaan di situ yang harus dijawab oleh pemerintah daerah Sumatera Utara tentang persoalan Proyek Geothermal Sarulla, sebuah proyek pembangkit tenaga listrik yang diprediksi memiliki kapasitas 330 MW (mega watt) yang terletak di Pahae, Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Dengan pelibatan konsorsium MedcoEnergi bersama Itochu Corp. (Itochu) dari Jepang dan Ormat Technologies Inc. (Ormat) dari Amerika Serikat, maka lagi-lagi, pesakitan bernama “neo liberalisme” diam-diam menusuk dalam dalam tubuh Sumatera Utara.

Setelah kasus konflik berdarah di PT Indorayon, Taput, beberapa waktu lalu, dan kemudian membekaskan luka yang sangat dalam, inilah proyek yang nantinya diprediksi bakal menjadi sumber-sumber ketidakadilan sosial di negara ini.

Neo-liberalisme telah menjadi sumber petaka bagi negara ini. Tapi, mengapa negara justru menikmatinya? (*)

Ekonomi “Jalan Tengah” SBY, Kompromi Sosialisme-Kapitalisme?

6 Juni 2009 nirwan 17 komentar

Dalam sebuah acara di televisi, “Capres Bicara” di Trans TV, SBY terang menyebut “ideologi ekonomi politik”-nya dengan “jalan tengah”. Dia membenturkan dua kubu bertolak belakang sekaligus: sosialisme di satu sisi dan kapitalisme di sisi yang lainnya. Dia mengatakan ekonomi komando yang –konon- dipegang teguh oleh sosialisme maupun sistem pasar bebas ala kapitalisme, sama-sama tak bisa diterapkan di Indonesia. Tapi hal-hal positifnya tetap ada.

Dalam perjalanan ideologi di Indonesia, yang dikatakan SBY ini jelas sungguh berbahaya. Kalau dia mengambil hal positif dari sosialisme, maka amat patut diduga sosialisme telah diterapkan dalam kebijakan negara. Padahal ada TAP MPRS No. XXV/1966 yang sudah melarang paham itu.

Pertama, lontaran seorang Presiden yang mengatakan ekonomi jalan tengah di antara dua kutub itu, jelas sekali telah mengambil sisi-sisi “positif” dari ideologi sosialisme dan kapitalisme. Bila dipertentangkan dengan ketentuan yang ada di ideologi negara Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945, maka tidak satupun ketentuan yang menyinggung-nyinggung soal sosialisme dan kapitalisme.

Setahu saya, ekonomi kita yang berdasarkan ideologi Pancasila jelas bukan hasil jalan tengah ataupun kompromi dari dua ideologi; sosialisme-kapitalisme. Tidak ada yang mengatakan itu, baik orang sekarang maupun para founding father kita. Ir Soekarno telah terang-terang mengatakan, Pancasila lahir dari bumi Indonesia dan dicetuskan oleh orang-orang Indonesia sendiri. So, kalau tiba-tiba seorang kepala negara memuja sisi positif dari sosialisme maka patut diduga ada hal-hal yang sangat membingungkan dari sisi hukum akan soal itu.

Saya juga tak mengerti, apakah ia ingin mengatakan bahwa perlindungan sosial kepada masyarakat dan pengendalian negara terhadap ekonomi pada ukuran tertentu, dia ambil dari ideologi sosialisme?

Ataukah dia ingin mengatakan bahwa adanya pasar bebas di Indonesia ini, dia tarik dari ideologi kapitalisme?

***

Read more…

Magnet Negeri Datuk-datuk Malaysia

2 Juni 2009 nirwan 4 komentar

Pariwisata telah menjadi pemasukan negara terbesar kedua di Malaysia, setelah industri manufaktur. Tahun 2008 lalu, lebih 2,4 Juta orang Indonesia –dari 22 juta lebih wisatawan asing di Malaysia– melancong di negeri itu. Inilah sebuah industri yang rancak dikelola para datuk.

* * *

Dato’ Seri Abdul Rahman Said terus mengumbar senyum manisnya. Pria muda bertubuh tinggi dan berkulit bersih itu menyalami satu per satu undangan dari 23 negara. Malam itu, di acara makan malam yang disertai sajian seni budaya Malaysia, sosok yang masih berkerabat dengan Raja Malaysia, Seri Paduka Baginda Yang di-Pertuan Agong Al-Wathiqu Billah Tuanku Mizan Zainal Abidin ibni Al-Marhum Sultan Mahmud Al-Muktafi Billah Shah, dan kini berposisi sebagai Timbalan Menteri Pelancongan Malaysia (semacam Departemen Pariwisata di Indonesia-red) itu, menyampaikan salamnya.

Read more…

SBY Berjoedi

29 Mei 2009 nirwan 15 komentar

Fenomenanya sungguh asyik. Konon, rating SBY terus turun. Dia memang masih yang tertinggi namun penurunannya sudah drastis. Tim sukses JK-Wiranto dan Mega-Prabowo paling tidak sudah seringkali mengumbar itu. Mereka bilang, bedanya tinggal 1-3%. Benarkah? Mungkin.

gamblingAgaknya sudah menjadi indikator utama kalau blunder sekaligus pertaruhan terbesar SBY dalam pilpres 2009 adalah sosok wakilnya, Boediono. Kalau sematan neo-liberalisme kepada SBY bisa saja dibelokkan atas alasan “ketidakmengertian SBY terhadap teori neo-liberalisme karena dia adalah tentara dan gelar ‘doktor’nya bukan studi ekonomi”, maka ketika SBY memilih Boediono, alasan itu serta-merta telah pupus. Hingga hari ini, tim sukses SBY-Boediono harus memutar otak dan terus melawan stigma neo-liberalisme atas pasangan itu. Berhasil? Saat ini belum.

* * *

Jangan pandang neo-liberalisme itu pada prakteknya yang ada di negara Eropa, Amerika dan negara-negara maju lainnya. Indonesia tidak bisa memandang kemiskinan yang ada di negara ini dengan perspektif orang kaya. Orang lapar itu lain pikirannya dengan orang yang kenyang. Dan kalau orang kenyang membahas orang lapar, itu adalah sebuah keanehan paling menjijikkan.

Read more…

Boediono Dipercaya SBY

27 Mei 2009 nirwan 15 komentar

Semat Boediono sebagai pengusung neoliberalisme hampir-hampir tak terbantahkan lagi. Semakin kuat dia membantah, justru semakin pekat pula kesan itu melekat sama dirinya. Semakin dia bilang tidak benar, malah dia terkesan semakin jujur. Semakin dia berkata, ekonomi harus dilepaskan kepada pasar namun pemerintah perlu mengendalikannya, jelaslah tampak semakin naifnya dia. Lambat laun, orang-orang malah justru akan semakin meragukan gelar profesor ekonomi yang disandangnya itu.

Masalahnya adalah dia adalah orang yang dipercaya oleh dua Presiden sekaligus; Megawati Soekarnoputri dan Soesilo Bambang Yudhoyono. Dia ditunjuk sebagai Menteri Keuangan oleh Megawati dan oleh Yudhoyono semakin tebal kepercayaannya kepada orang ini. Tak hanya sebagai Menteri Koordinator bidang ekonomi dan keuangan, tapi juga sebagai Gubernur Bank Indonesia dan terakhir sebagai calon wakil Presiden RI 2009-2014.

Read more…

Medan, Kota Ancur-ancuran!

18 Mei 2009 nirwan 8 komentar

Sesuai kesepakatan hukum dan politik, tanggal berdirinya Kota Medan ditetapkan pada 1 Juli 1590. Hampir lima ratus tahun kemudian, tepatnya jelang harijadi yang ke-419, ide Kota Medan Kota Metropolitan yang digagas sejak sebelum Walikota Abdillah terpilih menjadi Walikota Medan tahun 2000 lalu mendapat ujian. Kota yang diniatkan sebagai kota yang mempunyai tiga pilar penting yaitu jasa, industri dan religius, dengan kondisi pasca millenium ini justru menyajikan hal yang sebaliknya.

Pembangunan pasar modern seperti plaza dan mall memang maju pesat secara kuantitas. Namun di sisi lain menimbulkan persoalan pada eksistensi pasar tradisional. Hotel, apartemen dan gedung-gedung bertingkat memang terlihat menjadi wajah baru kota yang lebih modern, namun ternyata persoalan tata ruang menyembul ke permukaan ketika tak jelasnya konsep pemerintah tentang kawasan perindustrian, pemukiman, jasa dan perkantoran, serta pemerintahan. Itu diperparah dengan kondisi infrastruktur yang sama sekali tak mencerminkan sebuah kota modern; mulai dari jalan yang rusak parah, banjir, timbunan sampah, drainase yang berantakan, aliran sungai yang kotor dan makin sempit dengan pemukiman kumuh di tengah-tengah inti kota, dan seterusnya.

Read more…

Categories: All News, Ekonomi, Lapak, Politik

SBY Giring Pilpres ke Diskursus Ekonomi

18 Mei 2009 nirwan 9 komentar

Ini kata guru saya. SBY dengan jeli memanfaatkan resistensi masyarakat terhadap partai politik dalam pencalonan Boediono sebagai calon wakilnya. Kedua, SBY dan timnya membikin semacam pertentangan baru terhadap jalur politik Islam yang selama ini masih konvensional; Islam simbolik. Itu di antara indikator pemilihan Boediono yang bukan orang parpol maupun organisasi keagamaan.

Pemilihan Boediono sekali lagi meyakinkan publik kalau selama ini SBY tetap sangat setia pada kubu ekonom-ekonom neoliberalisme. Lebih parah dari itu adalah ancaman-ancaman neo-kapitalis dan secara sadar atau tak sadar, geranyangan neo-kolonialisasi yang berganti baju di abad millieneum ini. Sementara, Boediono dalam pidato dan kemudian diperkuat dengan statemen-statemen timnya di media massa, terus membantah kalau Boediono adalah budaknya neo-liberalisme.

Read more…

SBY-Boediono: Teknokrat, Birokrat dan Demokrat

16 Mei 2009 nirwan 15 komentar

Masuknya nama Boediono di pentas pilpres 2009, memperlihatkan betapa SBY memanfaatkan resistensi masyarakat terhadap partai-partai politik. Kedua, leburnya politik Islam simbol dalam peta politik Indonesia. Itu dua di antara faktar-faktor yang membuat SBY memilih Boediono. Dan, itu kata guru saya.

Alasan itu memang menarik. Politik Islam memang harus kalah sebelum bertarung kali ini. Kubu partai Islam seperti PPP, PKS, PAN dan PKB memang langsung pasang badan ke SBY begitu hasil pileg sudah diketahui. Kekalahan itu jelas tergambar ketika tidak adanya simbol Islam yang duduk sebagai kandidat dalam pilpres kali ini. Kemenangan terpampang di kubunya kaum “nasionalis” dan “kekaryaan”.

Tapi tunggu dulu. Itu kalau mainstream politik lama masih hendak dipakai untuk melihat pola politik di masa reformasi ini. Pilpres 2009 telah menggambarkan ada pergeseran etalase politik yang begitu kuat. Apakah pergeseran itu sebuah kemajuan atau kemunduran, mesti hati-hati juga melihatnya.

Read more…

Indonesia, Tempat Berlindung Siapa?

27 Maret 2009 nirwan 18 komentar

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap dipuja puja bangsa

Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata

(Indonesia Tanah Pusaka, Ismail Marzuki)

Lagu itu begitu pelan, lembut dan bikin merinding. Diciptakan seorang seniman yang dulu di sekelilingnya terlibat panasnya pertempuran, dentuman senjata, hujan bom, teriakan kesakitan, peluh, darah dan air mata. Namun, masa itu sudah lewat berpuluh-puluh tahun silam. Para pahlawan sudah mati, jasadnya melebur dengan tanah dan nisannya mengharap-harap memori dari mereka yang lewat untuk sekedar membersih-bersihkannya. Mereka sudah mati.

Read more…

“Missing Link” Kasus Rama-Allen Marbun-Abdul Hadi-Anggito dan KPK

26 Maret 2009 nirwan 37 komentar

Seorang komentator di blog ini mengirimkan penjelasan anggota DPR Rama Pratama soal tudingan Abdul Hadi terhadap dirinya dalam pertemuan “Rlitz Carlton” dan kemudian dikoreksi menjadi pertemuan”Four Season”. Menarik betul penjelasan itu, tapi tentu saja menumbuhkan pertanyaan-pertanyaan baru yang agaknya bisa membawa persoalan ini pada kasus korupsi besar-besaran yang sesungguhnya. Yang sesungguhnya. Penjelasan Rama itu bisa dilihat di postingan saya yang ini: “Sumpah si Rama”.

Rama mengakui adanya pertemuan di Four Season antara dia, Anggito, Allen Marbun (dan mungkin yang lain). Yang jadi pertanyaan besar dari penjelasan si Rama itu adalah: “Apakah yang diperbicangkan oleh Rama, Anggito dan Abimanyu di Four Season?” Cuma minum kopikah? :)

Read more…

Sumpah Si Rama

19 Maret 2009 nirwan 34 komentar

Rama diasingkan di sebuah hutan. Di sana, dia berteman dengan si kera sakti, Hanuman, yang kemudian nurut menjadi anak buahnya. Bersamanya, Shinta –istrinya- dan Laksamana –adiknya.

Anda carilah kisah itu di internet dan buku-buku, dan Anda akan menemukan sebuah babad yang bercerita soal kesetiaan, cinta, sikap ksatria dan kekuasaan. Rama-Shinta-Laksamana adalah kisah yang mengilhami miliaran orang di seluruh dunia. Begitu melintas batas kisah itu, hingga dia melompati pagar-pagar yang dibangun oleh agama-agama.

Rama adalah sebuah konsepsi Hindu yang banyak dibaca oleh orang-orang Islam. Tak heranlah bila banyak orang Islam menyematkan nama itu kepada keturunannya. Tak lain, yang diinginkan adalah adanya semangat “Rama” yang bisa dilakukan oleh mereka nantinya.

Read more…

Indonesian Slumdog

15 Maret 2009 nirwan 15 komentar

“Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin dan himpunkanlah aku ke dalam golongan orang fakir miskin.” (Muhammad SAW)


* * *

Bernama Jamal Malik, dia adalah seorang yang selalu lurus-lurus saja pandangannya. Hampir saja dia menjadi naif kalau tidak ada abangnya, Salim; seorang yang realitis memandang hidup. Mereka menjadi yatim dan piatu, saat Ibu mereka tewas ketika gerombolan bersenjata tajam dan tumpul menyerbu perkampungan muslim mereka. Kampung mereka, kampung mayoritas muslim di Mumbai, India itu, adalah sebuah perkampungan para “slumdog”. Sudahlah anjing, kumuh pula lagi.

Menarik sekali. Film itu, “Slumdog Millionaire”, seperti yang telah Anda tahu, meraih Oscar dan Golden Globe Award sebagai Film Terbaik 2008. Film yang bercerita soal kemiskinan, terbuang, mempertahankan hidup, nasib, buruknya hukum, kesenjangan sosial di India itu, menjadi jawara setelah dinilai dan ditonton oleh para juri dan masyarakat yang lahir dari bangsa yang kaya, berpendidikan, modern dan maju; Eropa dan Amerika.

Read more…