Archive for the ‘Geliat’ Category
bangunan bersejarah, belanda, Hindia Belanda, indonesia, kerajaan Deli, kota medan, kota tua, Paris van Sumatra, sejarah, sumut, tata kota
In All News, Ekonomi, Geliat, Kebudayaan, Panggung, Politik, Sastra dan Seni on 2 November 2009 at 5:12 pm
Konon, Kota Medan sempat dijuluki dengan sebutan super keren “Paris Van Sumatra”. Dirk A Buiskool, sejarahwan Belanda, pun sempat menyitir dengan kalimat “Paris of Sumatra” dalam sebuah paper-nya. Dengan perubahan wajah yang begitu kontras, kini ia dikhawatirkan hanya jadi sekedar mitos. Kota metropolitan atau kota emperan?

Kota Medan di daerah Lapangan Merdeka, Kantor Pos, Hotel Dharma Deli (dulu hotel de Boer), gedung BI, Balai Kota dan seterusnya. (foto: Roemono)
Penanggung Jawab: Nirwan
Reportase: Sri Mahyuni
Fotografer: Roemono
(Foto-foto lama repro Dr Phil Ichwan Azhari)
* * *
“Kota Medan pernah dijuluki Paris van Sumatra. Itu mungkin karena pada masa itu kota ini begitu mulus, indah, dan tertib. Setiap hari mobil penyapu jalan dengan sapunya yang bundar, berkeliling menyusuri sudut kota untuk membersihkan jalan dari segala macam sampah, termasuk kotoran kuda dan lembu. Di belakangnya menyusul mobil mengangkut sampah dan kotoran tersebut untuk dibawa ke tempat pembuangannya.
Read the rest of this entry »
Hindia Belanda, indonesia, kesawan, kota lama, kota medan, sejarah Medan, sumut
In All News, Ekonomi, Geliat, IPTEK, Kebudayaan, Panggung, Politik on 26 Oktober 2009 at 5:38 pm
Kombinasi sisa-sisa bangunan kuno peninggalan Belanda yang dijumpai di kawasan Kesawan, Kota Medan, dengan bangunan “modern” yang desainnya hanya berkelas “ruko”, memperlihatkan perkawinan yang aneh. Simbol kekacauan dan ketidakpedulian terhadap sejarah dan perkembangan Kota Medan.
* * *
Reportase: Sri Mahyuni
Fotografer: Ariandi
Foto-foto lama repro koleksi Muhammad TWH dan Dr Phil Ichwan Azhari

Kesawan dulu dan sekarang. Foto gedung PT London Sumatera, terletak di ujung titik Kesawan (foto Ariandi dan repro Ichwan Azhari)
Kawasan Kesawan Kota Medan. Konon, di sinilah –konon– bermukim sekitar 600 bangunan bersejarah yang ada maupun yang pernah dimiliki Kota Medan.
Mari hitung lagi sedikit demi sedikit apa sejarah apa yang pernah menjejak di Kesawan, yang berdasar peta tahun 1913 (dan direpro pada 1945) –menurut keterangan yang didapat dari sejarahwan Unimed, Dr Phil Ichwan Azhari– berada di sebuah kawasan yang memanjang dari Jalan Nienhuysweg (kini dirubah jadi Jalan Jend Ahmad Yani) hingga ke Jalan Istana (kini simpang jalan Balai Kota).
Read the rest of this entry »
budaya, rendra, seni dan sastra
In All News, Esai, Geliat, Islam, Kebudayaan, Politik, Sastra dan Seni on 8 Agustus 2009 at 11:49 am
Terlalu sulit untuk menuliskan orang sebesar WS Rendra dalam hitungan karakter dan beberapa paragraf. Puisi, konon, membongkar dengan penuh lembut kesulitan simbolisasi pemikiran maupun perkataan perasaan hanya dalam beberapa kalimat dan bentuk. “Beban” yang demikian berat itu, suatu waktu pernah sangat merisaukan Sutardji Calzhoum Bahri.
Itu pun, banyak dari kita yang tak pandai berpuisi. Bahkan, kalau kita pandai-pandaikan untuk mencatat beberapa larik, akan ada saja yang bergumam kalau catatan itu bukan sebuah puisi. Konon, puisi harus memenuhi unsur ini, unsur itu dan segala tetek bengek yang berderet-deret laiknya barisan panjang gerbong kereta api.
Tak bisa pula diabaikan gumaman yang demikian itu. Manusia, alkisah, disebutkan sebagai satu makhluk sosial, selalu berdampingan satu dengan yang lain. Satu perkataan di ujung kampung, maka akan menjadi seratus kalimat di sudut yang satunya lagi. Manusia itu makhluk paling cerewet.
“Rendra sudah mati! Rendra mati! Mati!” teriak seseorang tergopoh-gopoh pada suatu malam. Tangannya bergetar-getar menggenggam sepucuk obor. Wajahnya berpeluh, baju dan celananya juga berkeringat. Dia keliling kampung, berteriak-teriak sendirian di saat malam hendak ke tengah-tengah peraduannya.
Read the rest of this entry »
indonesia, Politik, Kebudayaan, wisata, malaysia, datuk
In All News, Ekonomi, Geliat, Kebudayaan, Politik on 2 Juni 2009 at 2:07 pm
Pariwisata telah menjadi pemasukan negara terbesar kedua di Malaysia, setelah industri manufaktur. Tahun 2008 lalu, lebih 2,4 Juta orang Indonesia –dari 22 juta lebih wisatawan asing di Malaysia– melancong di negeri itu. Inilah sebuah industri yang rancak dikelola para datuk.
* * *
Dato’ Seri Abdul Rahman Said terus mengumbar senyum manisnya. Pria muda bertubuh tinggi dan berkulit bersih itu menyalami satu per satu undangan dari 23 negara. Malam itu, di acara makan malam yang disertai sajian seni budaya Malaysia, sosok yang masih berkerabat dengan Raja Malaysia, Seri Paduka Baginda Yang di-Pertuan Agong Al-Wathiqu Billah Tuanku Mizan Zainal Abidin ibni Al-Marhum Sultan Mahmud Al-Muktafi Billah Shah, dan kini berposisi sebagai Timbalan Menteri Pelancongan Malaysia (semacam Departemen Pariwisata di Indonesia-red) itu, menyampaikan salamnya.
Read the rest of this entry »
budaya, Esai, indonesia, Islam, Kebudayaan, madrasah, maulid, medan, muhammad, seni
In All News, Esai, Geliat, Islam, Kebudayaan, Lapak, Sastra dan Seni on 10 Maret 2009 at 8:52 pm
Sewaktu kecil, di madrasah kami, Ibtadaiyah Al-Ittihadiyah, setiap maulid nabi Muhammad selalu dilakukan acara. Ada lomba baca al-quran, azan, tafsir, busana muslim, gerak jalan dan macam-macam. Kalau tidak salah, saya sudah berani ikut-ikutan lomba waktu umur saya tujuh tahun. Saya ikut lomba azan dan baca quran. Saya tak pandai betul melantunkan qiraat, walau ayah saya pernah juara mengaji. Tapi minimal dapatlah juara harapan. Saya tak kebagian piala tapi hadiah buku tulis. Namun, senangnya bukan main.
Kala lomba azan -sudah tabiat saya dan teman-teman sekelas dulu- bukan malah jadi lomba indah-indahan, tapi lomba kuat-kuatan suara. Siapa yang dapat nada paling tinggi, bolehlah agak nyombong dikit sama teman-teman. Tapi tetap yang selalu menang itu namanya Azra’i. Dia ini memang muadzin tetap di mesjid dekat madrasah kami. Suaranya tak pernah melengking, tapi ‘kok rasanya enak betul mendengar lantunan azannya.
Tahun kemarin, saya lewat lagi di depan madrasah itu. Tak besar memang, cuma ada lima ruang kelas. Guru yang dulu mengajar saya tinggal seorang. Guru-guru yang lain umurnya relatif sepantaran saya dan ada juga yang di bawah saya. Sesekali ibu saya pernah mengobati kerinduannya mengajar anak kelas satu. Tapi sesekali saja memang karena beliau sudah pensiun sejak lama. Dia pernah berkata kepada saya begini: “Jadi guru itu sudah darah daging, jadi sebenarnya tak bisa ditinggalkan.”
Read the rest of this entry »
artis, indonesia, kriminal, polisi, prostitusi
In All News, Geliat, Lapak on 23 Februari 2009 at 3:40 pm

Bongkahan dada itu menggumpal. Busana minim berwarna putih yang dikenakan wanita cantik berambut panjang itu, tak bisa menyembunyikan sembulan mulus kaki nan panjang dan, ah … hampir saja pangkal paha itu bisa terintip. Di atas background warna hitam, ada sejumput informasi soal si perempuan; sekelumit saja memang, karena kalau mau tahu lebih banyak, hubungi laki-laki ini: Hartono Prapanca alias Hartono Setiawan.
Read the rest of this entry »
eropa, Esai, kehidupan, liga champions, sepakbola
In All News, Esai, Geliat, Kebudayaan, Lapak, Sport on 19 Desember 2008 at 10:18 pm
UEFA makin kaya. Di tengah krisis, sepakbola Eropa adalah mesin uang yang paling cepat geraknya. Adalah undian Liga Champion yang dilakukan hari ini menjadi indikatornya.
Manchester United vs Intermilan, Real Madrid vs Liverpool, Juventus vs Chelsea, AS Roma vs Arsenal, Barcelona vs Lyon, Bayern Munich vs Sporting Lisbon, Villareal vs Panthinaikos. UEFA pun tertawa.
Sponsor bakal makin gila, karena tontontan ini tak mungkin dilewatkan oleh pencinta bola bersama pacar dan istri/suaminya, anak-anaknya, kakeknya, bapak/ibunya, tetangganya, temannya, dosen dan guru-gurunya, ataupun orang-orang yang tidak dikenalnya. Bayangkanlah berapa miliar pasang mata yang akan menatap dan pebisnis pasti tahu, pasti tahu, pasti tahu.
Saya lagi malas menghitung-hitung berapa duit yang dikeluarkan, dan saya pun sedang malas menanyai mbah google. Di koran tempat saya bekerja, saya dulu pernah menulis soal pusaran duit yang beredar sepanjang Piala Eropa, jadi bagi saya tak asyik lagi. Yang pasti, miliaran Euro-lah.
Read the rest of this entry »
butet, cerpen, Esai, udin
In Geliat, Kebudayaan, Lapak, Panggung, Sastra dan Seni on 10 Desember 2008 at 11:35 pm
Laiknya seorang pujangga, suatu hari si Udin hendak merayu perempuannya, si Butet. Mereka ini dah lama menikah, sekitar dua puluh lima tahun dan setiap hari ubi kayu menjadi menu utama. Si Udin menekukkan lututnya dan tangan kanannya menggapai-gapai hingga hampir kenalah dagu si Butet.
“Bang, apa yang kau lakukan ini?”
“Butet… aku cinta padamu..”
“Taunya aku itu, Bang. Tapi ngapain kali musti begini ..”
“Biar kayak di sinetron-sinetron itu. Kayaknya romantis. Tak senang kau rupanya?”
“Halah, Bang… Bang… Tak perlu aku kayak-kayak gitu. Kau ajak aja aku nonton film Kingkong, dah senang kali aku…”
“Kau ini pun! Selera pun macam preman ajah… nonton Titanic la kan mantap. Sekali-sekali kau tingkatkan dulu mutu hidup kau itu, biar kayak orang Eropa kita… Kalau ada pergelaran musik klasik di kota kita ini, pasti kau kuajak. Kubelikan kau gaun malam … “
“Heh…jangan, Bang. Tak mau aku malu kau buat. Kakiku ini masih belum hilang lagi bekas kudisnya…”
“Ckckckck…. Kurik kau ini pun buat masalah ajah… Cemana lagi mau tinggi martabat kita kalau ada kurik di kaki …?”
Read the rest of this entry »
medan, siantar, sumut, wisata
In All News, Geliat, Lapak on 6 Mei 2008 at 8:01 pm
Kota Pematang Siantar. Di Sumatera Utara, bagi yang tahu, imej Siantar sudah terlanjur keras, sangar, dan tanpa kompromi. Di kalangan mahasiswa yang bersekolah di Jawa, Medan, dan mungkin juga kota-kota lain di Indonesia, ada hukum tak tertulis, “Jangan main-main dengan anak Siantar!”Entah sudah berapa lama imej itu melekat, belum ada penelitian yang menjawab.
Read the rest of this entry »
demokrasi, feature, gubernur, medan, pilgubsu, Politik, rakyat, tembung
In All News, Esai, Geliat, Politik on 22 April 2008 at 7:00 pm
Adzan shubuh bersahut-sahutan. Lampu sebuah rumah di jalan Baru, kelurahan Indrakasih, kecamatan Medan Tembung, sudah sejak tadi menyala. Ba’da sembahyang, seperti biasanya, keluarga itu akan membuka pintunya dan membiarkan udara pagi menyerbu masuk ke tengah ruangan. Televisi dihidupkan. Acara dialog keagamaan mengisi lembaran pagi bertanggal 16 April 2008.
Read the rest of this entry »
gedung tua, kesawan, kota medan, kota tua, sejarah, tjong a afie, walet
In All News, Geliat, Kebudayaan on 2 April 2008 at 1:33 pm
(bagian kedua/habis)
Usang Gara-gara Walet
Namun, yang menyesakkan di Kesawan adalah burung walet. Setiap sore burung-burung yang telah “melahirkan” banyak konglomerat itu berbunyi riuh di sepanjang kawasan Ahmad Yani. Dulu, walet itu menjadi salah satu sajian khas. Namun feeling bisnis kota Medan yang lapar pun menyambut riuh-rendah burung walet itu.
Read the rest of this entry »
kesawan, kota tua, medan, sumatera
In All News, Geliat, Kebudayaan on 2 April 2008 at 1:24 pm
Kawasan Kesawan merupakan salah satu kawasan cagar budaya yang dilindungi pemerintah kota. Menyimpan kejayaan bisnis masa lalu, kini kota yang terlihat STW alias setengah tua (sebagian gedung tua, sebagian gedung modern) ini, semakin “kumuh” akibat sarang walet yang dibalut gedung modern. Parijs van Sumatera tinggal lembaran sejarah yang tidak (akan) diingat lagi.
Read the rest of this entry »
bahasa, gubernur, KPUD Sumut, panwaslih, pemilu, penguasa, pilgubsu, Politik, sumut
In Esai, Geliat, Kebudayaan, Politik, Sastra dan Seni on 1 April 2008 at 10:24 am
Determinasi bahasa yang luar biasa terhadap kebudayaan manusia bak air bah. Huruf, kata, kalimat dan bahasa menjadi tak terkontrol dan jati diri manusia harus terjajah oleh bahasa. Tak ada manusia yang bisa melepaskan dirinya dari bahasa. Bahasa menjadi begitu liar dan buas seperti seekor ular phyton yang membelit mangsanya. Kampanye politik sudah taraf membahayakan bahasa Indonesia.
Read the rest of this entry »
budaya, huruf, indonesia, Politik, rendra, wartawan
In Esai, Geliat, Kebudayaan, Politik on 1 April 2008 at 10:17 am
Politik seringkali memanipulasi makna kata. Walau bahasa Indonesia cuma memiliki 26 huruf, a-z, dan sepuluh angka, 0-9, Indonesia bisa hancur gara-gara huruf.
Read the rest of this entry »
artis, cerai, cinta, Esai, musik, P Ramlee
In Esai, Geliat, Kebudayaan, Panggung, Sastra dan Seni on 25 Maret 2008 at 6:02 pm
Engkau Laksana Bulan
Tinggi di atas kahyangan
Hatiku dah kau tawan
Hidupku tak karuan
Mengapa ku disiksa
Mengapa kita bersua
Berjumpa dan bercinta
Akhirnya menderita
Read the rest of this entry »
cerita, jenderal, militer, pilgubsu, Politik, sipil, sumut
In Geliat, Lapak, Panggung, Politik, Sastra dan Seni on 24 Maret 2008 at 3:47 pm
Tiba-tiba harga kursi mahal. Seluruh kursi yang ada di Kota Medan berhilangan. Tidak cuma kursi, bangku pun raib. Sangkot dan Wak Labu yang biasa nongkrong di warkop sambil menaikkan kaki di atas bangku, kali ini terpaksa lesehan. Kini, mereka tak lagi duduk di warkop Sudirman, tapi di Warkop Juanda.
Read the rest of this entry »
halus, kasar, pendidikan, tulisan
In All News, Geliat, Kebudayaan on 25 Februari 2008 at 9:30 pm
Tulisan halus kasar masih menjadi mata pelajaran wajib di tingkat Sekolah Dasar (SD). Guru mengaku tulisan anak-anak menjadi lebih rapi dan seragam. Tulisan huruf sambung sudah tak diminati anak sekarang.
* * *
Seorang anak SD memegang pensilnya. Tangannya agak gemetaran. Sembari menggores buku yang punya garis-garis khusus itu, matanya menatap ke papan tulis. Di sana, gurunya baru saja selesai menuliskan kalimat ini: Raja Adil Disembah, Raja Lalim Disanggah. Tulisan dengan model tulisan sambung di papan tulis itu bagus betul. Mata pelajaran waktu itu memang khusus menulis indah: menulis halus kasar.
Read the rest of this entry »
ayat-ayat cinta, film, hanung, Islam, Kebudayaan, laris, novel
In Esai, Geliat, Islam, Kebudayaan, Panggung, Sastra dan Seni on 19 Februari 2008 at 12:35 pm
Film yang diangkat dari novel laris, Ayat-ayat Cinta, diliris MD Pictures pada 19 Desember lalu dengan judul yang sama. Novelnya lahir dari situasi perang antara sastra sekuler dan sastra Islami. Ke mana film ini (nantinya) dibawa Hanung, sang sutradara?
Read the rest of this entry »
artis, budaya, jawa, mutu, rendra, seni, seniman, wayang
In Esai, Geliat, Kebudayaan, Lapak, Panggung, Sastra dan Seni on 19 Februari 2008 at 12:01 pm
Aktivitas dunia hiburan di Kota Medan sungguh marak. Event organizer (EO) tumbuh bak cendawan di musim hujan. Panggung-panggung hiburan, mulai dari yang mendatangkan artis lokal, nasional hingga internasional berdiri gagah di Kota Medan. Kondisi sebaliknya kelihatan di dunia budayawan.
Read the rest of this entry »
malam, medan, preman, seks
In All News, Geliat on 5 Februari 2008 at 2:22 pm
Riwayat Kehidupan Malam di Kota Medan
Bila rentang topik ini dimulai, maka didapatlah titik pada tahun 1970-an. Simak penuturan dari Fija Faurika. Fija, bos Spektrum Production, dan dianggap “sesepuh” untuk kehidupan malam di kota Medan mengatakan, ia sudah memulai kehidupan malam sejak tahun 1975.
Read the rest of this entry »
diskotik, malam, medan, seks
In All News, Geliat on 5 Februari 2008 at 2:18 pm
Warkop
Lagi-lagi, kalau bicara kehidupan malam di Medan, tidak bisa dilepaskan dari warkop Harapan. Café Harapan juga sering disebut café Sudirman. Disebut begitu, karena asal mulanya adalah beberapa warung kopi yang mangkal di belakang sekolah Yayasan Harapan di jalan Sudirman.
Read the rest of this entry »
makan, malam, medan, seks
In All News, Geliat on 5 Februari 2008 at 2:14 pm
Kehidupan malam kota Medan seolah tak berhenti. Warung kopi (warkop) dan jajanan malam, menyaingi hotel, diskotik, pub, dan café. Ngeseks, bukan hal tabu lagi. Tapi, ada yang merasa tidak adil.
Read the rest of this entry »