Arsip

Archive for the ‘Islam’ Category

Antara Aku, Kau dan Presidenmu

20 Desember 2009 nirwan 1 comment

Untuk siapa dan untuk apa perjuanganmu memakzulkan Presiden?
Agar dia jatuh dan kemudian seekor buaya lain duduk di singgasananya?
Ataukah kau berpikir itu untuk reformasi dan demokratisasi di negaramu ini?

Pikirkan ulang dengan sebaik-baiknya.
Apakah yang kau maksudkan dengan reformasi dan demokratisasi?
Apakah kau pikir itu akan merubah hidupmu, menjadikan kesejahteraanmu semakin baik, atau engkau akan diperlakukan adil dalam kerja, aktifitas dan ketika diadili?

Apakah yang engkau cari dari reformasi dan demokratisasi?
Cukupkah itu ketika engkau hanya berharap agar kehidupanmu lebih baik di masa depan?

Aku katakan kalaulah Soeharto hidup kembali, menjanjikan dan lantas betul-betul memberikan kehidupan engkau yang lebih baik dari sekarang, apakah engkau akan mengikutinya?

Pikirkankanlah ulang kembali, baik-baik, apakah yang engkau maksudkan dengan memakzulkan Presiden.

Oh, mungkin engkau mengira, kehidupan berbangsa dan bernegara akan menjadi lebih jujur, lebih memihak rakyat banyak, menjadikan orang-orang miskin terjamin dan punya harapan untuk hidup dan mengais rezeki. Betulkah itu? Kau pikir, makzulnya Presiden itu akan menjamin itu?

Atau seandainya, gara-gara makzulnya Presiden, itu semua terjadi, lantas apa selanjutnya?

Oh, mungkin juga engkau bermaksud revolusi, mengubah semua tatanan dalam bingkai hitam putih, buruk dan baik. Apakah yang engkau maksudkan dengan revolusi itu, wahai sahabatku? Apakah yang akan terjadi kepada dirimu setelah itu revolusi itu terjadi.

Oh, mengapa engkau menjawab, dirimu itu tak penting, melainkan hiduplah yang penting? Ketika engkau melihat orang lain berbahagia, itulah keutamaan, katamu. Dan engkau mengatakan, kebahagian orang lain adalah kebahagiaan dirimu.

Maha suci Tuhan, maha besar dia, karena aku mendengar keluhan di balik kata-katamu. Aku merasakan rintihan kalau engkau pun ingin bahagia. Engkau rupanya ingin agar orang lain pun bisa turut membahagiakanmu.

Sahabat, lihatlah lagi dalam-dalam dirimu. Setelah itu, marilah kita berbincang-bincang lagi soal memakzulkan Presidenmu.

Kekuasaan yang Takut pada Rakyatnya

9 Desember 2009 nirwan 5 komentar

Presiden SBY kembali “mengeluh”. Dia bilang, aksi 9 Desember ditengarai sedang menggoyang dan lebih jauh akan menjatuhkan kekuasaannya. Aneh? Mungkin.

Reaksi yang diberikan masyarakat beragam, sementara reaksi yang dilontarkan kalangan pemerintahan seragam. Pemerintahan, mulai di Menkopolkam, BIN, polisi, hingga Menkominfo, keseluruhannya mendukung bosnya. Bahwa yang dikatakan bos mereka benar adanya, dan chaos pada demonstrasi 9 Desember dikhawatirkan akan merusak pembangunan dan perekonomian yang “sedang bagus-bagusnya”. Aneh? Sangat mungkin.

***

Kekuasaan yang punya hubungan sangat mesra dengan rakyatnya, pastilah tak akan pernah takut pada rakyatnya sendiri. Bahkan kalaupun memang benar dia akan dijatuhkan oleh rakyatnya, dia tak akan mengalami ketakutan itu. Kekuasaan bagi mereka-mereka yang benar-benar berpihak pada rakyatnya, akan menganggap kekuasaan adalah amanah. Dan bila rakyat yang dipimpinnya mengkritiknya dan menganggapnya tidak bisa lagi mengemban amanah, dia akan rela. Kekuasaan baginya bukanlah hal yang akan menjatuhkan harga diri, martabat dan kehormatannya. Dia tidak akan “mati” hanya karena dia tidak duduk lagi di singgasana kekuasaan.

Hal sebaliknya akan terjadi pada mereka yang menganggap kekuasaan adalah segala-galanya. Dia akan menghalalkan segala cara untuk memanjat dan duduk di atasnya. Dan dia akan mempertahankannya dengan nyawanya. Dia akan menjadi sangat sensitif pada siapa-siapa yang berusaha menyentuh kursinya. “Siapa saja” itu maksudnya adalah siapa saja, baik itu anak, istri, ponakan apalagi bawahan. Kekuasaan punya daya magis yang akan membuat setiap orang yang duduk di atasnya menjadi buta karena dia hanya melihat dirinya sendiri. Tidak ada subjek lain melainkan “aku”. Semua orang akan tunduk dan harus meletakkan kepalanya sejajar dengan kakinya. Kekuasaan seperti tuhan, dan mungkin tuhan itu sendiri.

Kekuasaan, itulah hal yang paling utama di seluruh dunia ini.

***

Read more…

Indonesia Telah Kehilangan Pesonanya

5 Desember 2009 nirwan 3 komentar

“All power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely”. (Lord Acton)

Lord Acton

* * *

Indonesia telah kehilangan pesonanya. Istilah itu bukan dari saya, tapi sebuah artikel yang saya baca dari seseorang bernama Lukman Age. Lukman mengutip kalimat itu dari seorang pengamat, yang sayangnya tak disebutkan namanya. Itulah kalimat yang membikin saya tercenung, aneh.

Indonesia telah kehilangan pesona. Ini soal hati mungkin. Ketika ada perasaan bersatu, laiknya satu pasangan laki-laki dan wanita, maka kehilangan pesona merupakan dentuman keras bagi sebuah hubungan. Dia ibarat jaring yang menjadi lem perekat. “Pesona” yang telah hilang jelas adalah hal yang mampu menyulut perceraian.

Apakah yang sedang terjadi di Indonesia ini, wahai Sahabat. Saya merasa, jawaban-jawaban sudah terlalu banyak dilontarkan para akademisi dengan referensi-referensi yang sahih, valid, reliable, aktual dan akurat. Masih adanya dikotomi pusat-daerah, minusnya kepercayaan kepada pemerintahan, lembaga-lembaga hukum dan perwakilan rakyat, mega korupsi, manipulasi data-data penting pemerintahan, gelontoran duit dalam anggaran yang tak jelas pertanggungjawabannya, birokrasi yang terus terasa makin rumit, aparatur yang brengsek, pertahanan yang makin lemah, negara tetangga yang makin melunjak, penjilat kekuasaan yang terus makin ramai, pendidikan yang makin bodoh, moralitas yang berada di titik nadir, kekayaan alam yang tersedot habis, kerusakan lingkungan, bencana berulang kali, tewasnya ratusan ribu orang di Indonesia hanya dalam waktu enam tahun dan kita hanya menghitung-hitungnya laiknya statistik sebuah skripsi, dan entahlah, terlalu banyak sudah deretan-deretan itu.

Read more…

Persatuan Politik a la Es Beye

22 Oktober 2009 nirwan 6 komentar

Nah, Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II yang diracik Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden Prof Boediono, untuk sementara, selesai sudah. Saya tulis sementara karena masih ada prosedur “reshuffle” bila nantinya si Presiden sudah tak berkenan. Dan kini, nama-nama itu sudah tersaji bak hidangan di restoran Minang.

presiden

SBY, Hatta Radjasa dan Sudi Silalahi (sumber foto: beritasore.com)

Yang bisa dikatakan dan hampir umum dibicarakan khalayak adalah pemilihan kue-kue kabinet memang sangat heterogen dari segi politik. Tampaknya geliat partai politik dalam peta koalisi sebelum pilpres kemarin, jadi kenyataan di kabinet ini. Bagi-bagi kekuasaan di pemerintahan lima tahun ke depan, sangat terasa. Apalagi, dengan judul kabinet yaitu “Kabinet Indonesia Bersatu II”, si Presiden tampaknya tak ingin merubah tema starting line up pemerintahannya. Dia ingin persatuan lebih diutamakan. Dengan demikian juga, itu tandanya dia mau stabilitas politik yang kokoh dalam lima tahun ke depan. Dan itu tak cuma di level eksekutif, tapi juga di sektor lain misalnya di legislatif.

Intinya, SBY ingin membentuk pemerintahan yang kuat di mana dia menjadi poros alias sumbu utama kekuasaan dan kekuatan politik. Kalau pemerintahan kuat, program akan mudah dijalankan. Rakyat pun sejahtera. Itu versi Presiden.

Read more…

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H

23 September 2009 nirwan 6 komentar

Bagaimanapun terlalu banyak kesalahan, walau tentu tak akan sebanding dengan ampunan Tuhan. Di sisi itu, optimisme terhadap sang Maha Penggerak, akan selalu ada, berdenyut dan hidup. Benarlah dia yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang Terkasih, yang Tersayang.

Selamat Idul Fitri 1430 Hijriah, mohon maaf lahir batin. Mungkin selama ini, saya terlalu banyak mengarang.

Categories: All News, Islam, Kebudayaan, Lapak

Ibarat Cinta

27 Agustus 2009 nirwan 7 komentar

heartCinta itu ibarat apa, api atau air? Sekelumit kisah disuguhkan dalam “Musyawarah burung-burung” karya Fariduddin At-Tar. Seorang ahli ibadah suatu saat bermimpi, dia sedang menyembah patung di Yunani. Ahli ibadah itu penasaran. Bersama rombongannya dia mendatangi Yunani dan sampailah di suatu kuil dia melihat seorang wanita yang sangat-sangat cantik. Dia terpikat dan betul-betul terpikat. Dalam kisah itu, si Ahli Ibadah tersebut rela melepaskan seluruh atribut keagamaannya dan masuk ke agama si wanita. Namun, tetap ada yang tak tega dengan si ahli ibadah. Murid-muridnya berusaha melepaskan dia dari ketergantungannya akan cinta. Itu berhasil, walau dengan sangat bersusah payah. End of fragmen.

Read more…

Ternyata Keyakinan Kita Tak Sama

26 Agustus 2009 nirwan 6 komentar

Waktu memang sungguh nakal. Gara-gara waktu, terjadilah perdebatan, mungkin serius, mungkin juga tidak. Suatu saat diputuskanlah berbuka pada pukul 18.36. Tentulah setiap arloji tak sama. Ada yang berbuka duluan ada juga yang belakangan. “Duluan” dan “belakangan” ini kita kutipkan saja, karena itu ‘kan persepsi saya.

perception_vaseYang duluan berkata, “Sesuai arloji yang sudah melingkar di pergelangan saya sejak muda, sudah waktunya berbuka. Saya tak salah, kalian yang salah.”

Yang belakangan menjawab, “Mungkin suatu kala pernah baterai jammu mengulah dan terlambat. Itu bukan tak mungkin, bukan? Jangan dulu salahkah orang lain. Mungkin saja, kami yang benar.”

Yang duluan berbuka berdebat dengan mulut mengunyah, sementara yang belakangan, tentu belum mengunyah. Yang belakangan ternyata ingin mengikuti waktu berbuka yang dimiliki oleh televisi. Setelah tivi menayangkan beduk, barulah yang belakangan mendebat lagi yang duluan tadi. Kini kedua mulut mereka sama-sama mengunyah.

Perdebatan semakin panas, bahkan sudah saling tuding. Ada pula yang sudah membawa-bawa ayat-ayat, di antaranya “Segerakanlah berbuka”. Tapi ada pula yang bilang begini, “Lebih cepat lebih baik.”

Muncullah seorang yang mencoba arif alias bijaksana. “Berbukalah sesuai dengan keyakinan masing-masing. Yang berbuka lebih dulu pasti ada dasarnya, dan kebalikannya, tentu yang belakangan tak begitu saja menunggu kalau tak punya alasan pasti. Jadi, sesuai dengan keyakinan masing-masing saja.”

Ah, ada pula yang menyeletuk dari belakang perdebatan itu. “Ternyata, walau kita sama-sama Islam, keyakinan kita tak sama.” (*)

Haramkan Negara bukan Pengemisnya!

25 Agustus 2009 nirwan 6 komentar

beggar_cagayan_de_oroNamanya tersebut sebagai Abu Dzar Al-Ghifar. Ia berteman dengan Salman Al-Farisi. Keduanya datang dari belahan wilayah di luar kota suci Makkah Al-Mukarramah. Satu dari suku bangsa Ghifar, suku nomaden yang punya tabiat merampok kabilah-kabilah. Dan yang terakhir disebutkan, berasal dari belahan bumi yang punya peradaban yang banyak ditulis bangsa-bangsa Eropa, Persia.

Sejak kecil, kedua orang ini diberitahu melalui ustadz-ustadz saya dengan kategori orang-orang yang kukuh pendirian, punya sikap dan cerdas. Abu Dzar punya kekhasan sebagai pelindung dan pembela orang miskin, yatim dan lemah. Seakan-akan kata “mustadha’afin “ itu sudah melekat erat dengan dirinya. Sementara Salman, diberitakan sebagai orang yang lurus, jujur dan cerdas.

Saya membayangkan seandainya Abu Dzar masih hidup dan kemudian mendengar fatwa sebagian ulama Indonesia yang mengharamkan “pengemis”. Apakah yang akan terjadi?

* * *

Read more…

Muhammad dan Kurma

24 Agustus 2009 nirwan 3 komentar

Berbukalah dengan yang manis. Betul? Betul, dan itu betul-betul betul. Nabi suka kurma? Betul, dan itu betul-betul betul. Apakah kemudian kurma identik dengan yang manis-manis? Betul sebagian, sebagian lagi tidak. Apakah kemudian menjadi sunnah berbuka dengan kurma? Betul, tapi hanya separuh, separuh yang lain mungkin saja tidak.

Ketika nabi diikuti sikap dan perilakunya, maka itu adalah sunnah. Dan untuk itu, maka kurma bisa jadi menjadi pahala tersendiri bagi orang yang memakannya ketika berbuka. Namun saya juga membayangkan ketika berbuka di suatu daerah yang sama sekali tidak kenal dengan kurma. Kalau “sunnah” itu diberlakukan, maka akan terjadi “ketidakadilan sunnah”.  Bagaimana mungkin saya mendapatkan pahala kalau saya tidak menemukan kurma?

Karena itu, “berbuka dengan manis” menjadi sandaran keduanya. Dia lebih lentur. Itu artinya, makanan halal yang rasanya manis, akan mendapatkan predikat “sunnah”. Dan mengikuti sunnah sudah jelas pahala.

Tapi untuk itu pun, ukurannya masih akan tetap ada. Bagaimana seandainya ketika Anda suatu saat berbuka dan tidak tersedia makanan yang manis-manis? Apakah Anda akan kehilangan pahala “sunnah”? Apakah nabi akan setega itu?

Read more…

Merdeka

19 Agustus 2009 nirwan 10 komentar

17 Agustus 1945, Indonesia belum punya apa-apa. Hanya sebuah proklamasi oleh hanya dua orang yang mengatasnamakan seluruh rakyat Indonesia, Soekarno dan Hatta. Sebuah bendera, merah dan putih, yang belum disepakati sebagai bendera kebangsaan. Semua terjadi begitu tiba-tiba.

hatta soekarno

Suatu hari, beberapa dari kawan saya, memberi saya catatan penuh sinisme. “Proklamasi hanya untuk pulau Jawa!” kata mereka.

“Tapi Muhammad Hatta yang orang Minang itu?” saya berbalik bertanya.

“Lho, justru itu yang harus dipertanyakan. Mengapa Hatta mau di-fait accomply?” tangkis mereka lagi.

Saya tak meneruskan perdebatan itu. Mereka resah, gundah gulana dan lebih dari 50% kemungkinannya mereka akan tak hendak menerima argumentasi orang lain. Saya, tentu punya pendapat yang berbeda dengan mereka.

* * *

Read more…

Mega-Prabowo Kalah, JK-Wiranto Kalah, SBY-Boediono Menang

13 Agustus 2009 nirwan 6 komentar

Sudah diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) soal Pilpres 2009. Bagi Mega-Prabowo dan JK-Wiranto ini jelas tidak enak, tapi perasaan sebaliknya ada di SBY-Boediono. Selamat bagi para pemenang! Apa pekerjaan selanjutnya?

Terlalu banyak yang harus dikerjakan. Legitimasi kekuasaan SBY dalam lima tahun ke depan mungkin kuat, tapi sangat mungkin akan lemah. Bukan masalah apakah oposisi yang nantinya akan lahir itu kuat atau tidak, karena kejelasan soal oposisi itu sendiri belum ada hingga kini. PDIP yang terkena dampak putusan Mahkamah Agung, jelas tidak segarang dulu. Mereka bakal punya pertambahan kursi. Dalam berbagai segi, ini kompromi tingkat elit untuk paling tidak meredam bibit-bibit  konflik politik di Indonesia di lima tahun ke depan. Paling tidak untuk sementara.

Read more…

Yang Bersaksi Sudah Mati

8 Agustus 2009 nirwan 3 komentar

Terlalu sulit untuk menuliskan orang sebesar WS Rendra dalam hitungan karakter dan beberapa paragraf. Puisi, konon, membongkar dengan penuh lembut kesulitan simbolisasi pemikiran maupun perkataan perasaan hanya dalam beberapa kalimat dan bentuk. “Beban” yang demikian berat itu, suatu waktu pernah sangat merisaukan Sutardji Calzhoum Bahri.

rendraItu pun, banyak dari kita yang tak pandai berpuisi. Bahkan, kalau kita pandai-pandaikan untuk mencatat beberapa larik, akan ada saja yang bergumam kalau catatan itu bukan sebuah puisi. Konon, puisi harus memenuhi unsur ini, unsur itu dan segala tetek bengek yang berderet-deret laiknya barisan panjang gerbong kereta api.

Tak bisa pula diabaikan gumaman yang demikian itu. Manusia, alkisah, disebutkan sebagai satu makhluk sosial, selalu berdampingan satu dengan yang lain. Satu perkataan di ujung kampung, maka akan menjadi seratus kalimat di sudut yang satunya lagi. Manusia itu makhluk paling cerewet.

“Rendra sudah mati! Rendra mati! Mati!” teriak seseorang tergopoh-gopoh pada suatu malam. Tangannya bergetar-getar menggenggam sepucuk obor. Wajahnya berpeluh, baju dan celananya juga berkeringat. Dia keliling kampung, berteriak-teriak sendirian di saat malam hendak ke tengah-tengah peraduannya.

Read more…

Untuk “Seorang” Bayi Berkepala Dua

29 Juli 2009 nirwan 5 komentar

Dia diberitakan wafat kemarin, Selasa 28 Juli 2009. Terhimpit di sesaknya pemberitaan mengenai gugatan Pilpres 2009 ke MK, kasus Flu Babi yang mengemuka dan pemboman JW Marriot/Ritz Carlton milik Amerika dan Eropa. Badrun nama ayahnya, Nurhayati disematkan pada ibunya. Mereka berdua mengaku, sudah menginginkan bayi itu sejak sembilan tahun lamanya. Belum sempat mereka memberi nama, bayi itu telah ditimang Sang Maha Kuasa.

Beruntunglah mereka. Sejatinya, mereka diberikan dua anak sekaligus, dua kepala dalam satu tubuh. Dua kepala manusia itu bersatu, berdempet erat, berpeluk di sebuah ruang yang penuh kasih sayang, ruang yang jauh dari kemunafikan dan suci dari segala kebohongan; jantung dan hati. Seolah-olah tak ingin mereka berpisah walau hidung telah menghirup bumi.

Mereka hanya sempat mencicipi sebentar luapan kerinduan ayah dan bunda. Nantinya, mereka pastilah tak perlu merengek menghamba susu dari ibunya. Mereka tahu, ibunya tak akan ragu untuk bangun jam berapa pun, setiap harinya setiap malamnya. Darah ibunya adalah susu bagi mereka. Mereka juga mafhum, ayah mereka, Badrun, akan selalu melangkahkan kakinya mencari rezeki dalam hamparan luasnya dunia.

Secercah senyum ketika mengandung, seulas kejut saat terlahir, setitik hasrat kala dirawat, bercampur-campur kala tangan Izrail datang menjulur.

* * *

Read more…

Mitos Top si “Noordin”

21 Juli 2009 nirwan 31 komentar

The most wanted person itu bernama Noordin M Top. Disebut-sebut sebagai dedengkot teroris di Indonesia, namanya melegenda dan terus menjadi buah bibir. Selain karena “kinerja” dan jaringannya, hingga sekarang dia tak ketahuan batang hidungnya. Semakin tak tertangkap, namanya justru kian melambung. Tapi gara-gara itu pula, jangan-jangan namanya hanyalah hasil karangan bebas sistem politik keamanan di Indonesia. Benarkah dia (pernah) ada?

* * *

Alkisah, terjadilah sebuah perampokan besar di suatu kota metropolitan di Indonesia. Lebih mengagetkan lagi, yang menjadi korban topadalah kerabat seorang guru besar universitas ternama di kota itu. Guru besar ini dikenal sebagai orang yang lurus dan diketahui pula sebagai orang yang tidak ingin melibatkan diri secara jauh ke dalam kancah politik. Dia berteman dengan seluruh kalangan, pandai menempatkan posisi dan orang-orang menganggap sebagai figur dan tokoh masyarakat yang tidak punya gairah kekuasaan. Dia berhasil tegak dalam posisinya sebagai intelektual yang konon punya garis politik seperti ini: tidak ke mana-mana tapi ada di mana-mana. Kasusnya mengundang simpati dari seluruh, ya hampir seluruh, pihak yang biasanya berseteru di kota ini.

Kepala Kota langsung ke TKP dan seorang kepala polisi daerah tak perlulah mendapat perintah lebih lanjut untuk mengusut tuntas kasus ini secepat-cepatnya. Namun, bisik-bisik politik menyebutkan si kepala polisi ini ketiban target: kalau tak dapat dalam jangka waktu sekian jam, siap-siap saja hengkang dari kota ini.

Read more…

SBY Ingin Mega di Putaran Kedua, Bukan JK

6 Juli 2009 nirwan 41 komentar

Sederhana saja asumsinya. Pertama, SBY dan timnya sudah merasa pilpres 2009 tak mungkin bisa dimenangkan satu putaran. Kalau mereka tetap yakin, maka iklan-iklan soal satu putaran tak akan dikeluarkan. Tim SBY bukan tim kelas kampung. Jadi mereka tahu persis, iklan-iklan seperti itu tak akan cukup kuat untuk diketahui masyarakat di tingkat grass root. Iklan satu putaran hanya konsumsi elit dan wacana di kalangan berpendidikan saja. Atau dalam kata lain, “satu putaran” merupakan perintah yang ditujukan bagi tim sukses dan jaringan pendukung SBY-Boediono di seluruh Indonesia, sekaligus psywar bagi kompetitor. Jadi, sasarannya bukan seluruh pemilih. Ya, kalaupun ada pemilih yang terpengaruh, ya lebih baik.

sby-obama

Nah, mengapa mereka tak yakin? Itu karena popularitas terus melorot sementara di pihak kompetitor justru meningkat. Itu tidak bisa dipungkiri. Hampir seluruh lembaga survey, baik yang independen sampai yang mereka bayar pun, mengungkapkan hal itu. Jadi itu realitas politik.

Read more…

Sihir SBY, Indonesia Makin Mundur Ke Belakang

4 Juli 2009 nirwan 19 komentar

cengengGeli, lucu, aneh, ironis, tragis, sekaligus memuakkan. Seorang Presiden, yang mencalonkan diri lagi untuk periode keduanya, bicara soal sihir yang dikenakan kepadanya. Di hadapan para kyai, di hadapan orang, ah, ada pula Mas Tifatul Sembiring, Presidennya PKS, dia berbicara soal sihir. Luar biasa!

SBY jelas-jelas telah panik sekaligus cengeng. SBY panik betul dengan naiknya popularitas dua kandidat lain, JK dan Prabowo, terutama Jusuf Kalla di hadapan pemilih muslim.

Entahlah. Bagi saya, inilah cara SBY menegaskan dirinya kalau dia sedang panik! Panik dan pusing tujuh keliling, dan lantas mengeluarkan jurus lamanya; memposisikan diri sebagai orang yang sedang dizalimi.

Read more…

Sekularistik Ala Boediono-Prabowo, Pemilih Parpol Islam Kemana?

24 Juni 2009 nirwan 6 komentar

Prabowo sepakat dengan Boediono soal posisi agama dan politik. Sekuler menjadi tipikal keduanya dan dengan kekhususan meletakkan agama lebih tinggi dari politik (negara). doaYang jelas, bagi mereka, harus ada pemisahan yang tegas antara agama dan politik. Sementara Wiranto justru berani menarik agama langsung ke dalam politik, walaupun masih dalam level substansial dan belum ke legal formal.

Ini soal menarik. Jawaban ketiga kandidat telah menerangkan siapa mereka sebenarnya. Boediono berpijak pada dirinya yang seorang pekerja karir, intelektual dan bukannya seorang politisi. Sedangkan dua lainnya mengetahui dengan jelas kalau status yang mereka sandang sekarang adalah politisi. Itu bukan berarti Prabowo-Wiranto tidak intelektual. Namun jawaban yang mereka berikan jelas mengarah pada kontekstualisasi dinamika politik yang ada di Indonesia. Dalam kasus ini, maka etalase politik pilpres justru menarik.

Read more…

Debat Semu yang Menjemukan, Debatnya Si Anak Manja

23 Juni 2009 nirwan 4 komentar

Well, ini memang bukan topik baru. Tapi apakah memang ada hal yang baru dalam pentas politik Indonesia? Presiden yang muncul itu-itu juga, tim sukses yang beredar itu-itu juga, lembaga survey tetap menjalan metode toonpoolyang itu-itu juga, parpol yang menang dan tema kampanye politik yang itu-itu juga. Lima tahun lalu berbicara soal ekonomi kerakyatan, kemandirian, perlindungan hukum, pemberantasan korupsi, dan sekarang untuk lima tahun ke depan, temanya masih dalam pusaran itu. Amerika sudah sibuk menjajahi negara lain, Iran dan Korea Utara sibuk dengan program nuklirnya, India dan Cina sudah mulai menjelajahi antariksa, dan Indonesia ternyata masih harus disibukkan mengurus calon-calon presidennya yang manja.

Ya, presiden Indonesia adalah gambaran dari anak-anak manja dan mengkek. Manja dan mengkek dalam politik adalah tingginya ketergantungan si politisi pada imej alias pencitraan. Yang dipusingkan para calon Presiden itu adalah “apakah kalau aku begini nanti diperhatikan orang?”

Read more…

Incredible Hulk dan Kebudayaan Monster

5 Juni 2009 nirwan 3 komentar

“A great civilization is not conquered from without until it has destroyed itself from within.”(Will Durant)

* * *

Bruce Banner (dimainkan oleh Edward Norton) adalah sosok yang lembut namun cerdas. Ia dipekerjakan oleh seorang Jenderal Amerika bernama Jenderal Theddeus Ross (William Hurt) dalam sebuah proyek pembuatan prajurit super bagi tentara Amerika. Ia menjalin kasih dengan anak sang jenderal bernama Betty Ross (Liv Tyler).

Formulasi ditemukan dan Bruce yang terkena efek radiasi gamma harus rela ketika hal itu mengakibatkan dirinya menjadi sebuah makhluk yang tak cuma super tapi juga monster.

Monster berkulit hijau yang ini penuh amarah, yang logika dan perasaannya berada di tahap paling minimal. Yang ada dalam dirinya hanya kekuatan yang harus diledakkan dan dilampiaskan. Alter ego-nya menjadi dominan.

Read more…

Pancasila! Membunuh Ideologi Membunuh

1 Juni 2009 nirwan 9 komentar

Ada yang salah kalau melihat pentas pilpres 2009 ini hanya untuk pertarungan kekuasaan semata. Jusuf Kalla, seorang kandidat, pernah berujar kalau ada pertarungan ideologi yang sedang berlangsung. SBY menjawab, itu tidak benar karena ideologi negara sudah ada yaitu Pancasila. Jadi perdebatan ataupun pertarungan ideologi itu tak perlu dan tak akan ada.

***

gmr

Baru saja saya melihat film yang sebenarnya tak baru lagi, Mummi 3: The Tomb of the Dragon Emperor. Setelah Kaisar Han menguasai kerajaan Cina, kerajaan sekitarnya, dia kemudian menguasai empat elemen dunia yaitu bumi (tanah), air, api dan udara. Dia tak terkalahkan dan dia makin digdaya. Dia lantas maju ke tahap berikutnya, ingin mengalahkan kematian. Dia ingin tetap hidup dan kuat.

Read more…