Arsip

Archive for the ‘Politik’ Category

Antara Aku, Kau dan Presidenmu

20 Desember 2009 nirwan 1 comment

Untuk siapa dan untuk apa perjuanganmu memakzulkan Presiden?
Agar dia jatuh dan kemudian seekor buaya lain duduk di singgasananya?
Ataukah kau berpikir itu untuk reformasi dan demokratisasi di negaramu ini?

Pikirkan ulang dengan sebaik-baiknya.
Apakah yang kau maksudkan dengan reformasi dan demokratisasi?
Apakah kau pikir itu akan merubah hidupmu, menjadikan kesejahteraanmu semakin baik, atau engkau akan diperlakukan adil dalam kerja, aktifitas dan ketika diadili?

Apakah yang engkau cari dari reformasi dan demokratisasi?
Cukupkah itu ketika engkau hanya berharap agar kehidupanmu lebih baik di masa depan?

Aku katakan kalaulah Soeharto hidup kembali, menjanjikan dan lantas betul-betul memberikan kehidupan engkau yang lebih baik dari sekarang, apakah engkau akan mengikutinya?

Pikirkankanlah ulang kembali, baik-baik, apakah yang engkau maksudkan dengan memakzulkan Presiden.

Oh, mungkin engkau mengira, kehidupan berbangsa dan bernegara akan menjadi lebih jujur, lebih memihak rakyat banyak, menjadikan orang-orang miskin terjamin dan punya harapan untuk hidup dan mengais rezeki. Betulkah itu? Kau pikir, makzulnya Presiden itu akan menjamin itu?

Atau seandainya, gara-gara makzulnya Presiden, itu semua terjadi, lantas apa selanjutnya?

Oh, mungkin juga engkau bermaksud revolusi, mengubah semua tatanan dalam bingkai hitam putih, buruk dan baik. Apakah yang engkau maksudkan dengan revolusi itu, wahai sahabatku? Apakah yang akan terjadi kepada dirimu setelah itu revolusi itu terjadi.

Oh, mengapa engkau menjawab, dirimu itu tak penting, melainkan hiduplah yang penting? Ketika engkau melihat orang lain berbahagia, itulah keutamaan, katamu. Dan engkau mengatakan, kebahagian orang lain adalah kebahagiaan dirimu.

Maha suci Tuhan, maha besar dia, karena aku mendengar keluhan di balik kata-katamu. Aku merasakan rintihan kalau engkau pun ingin bahagia. Engkau rupanya ingin agar orang lain pun bisa turut membahagiakanmu.

Sahabat, lihatlah lagi dalam-dalam dirimu. Setelah itu, marilah kita berbincang-bincang lagi soal memakzulkan Presidenmu.

Bagaimana Bila SBY Terlibat dan Kemudian Di-Impeachment

11 Desember 2009 nirwan 6 komentar

Itu ‘kan pertanyaan yang mungkin (mau dipastikan juga susah…) saja ada di pucuk tertinggi di benak masyarakat soal Skandal Century ini. Feeling saya, semua politisi dan aparat hukum (jangan pernah pakai istilah “penegak” hukum, soalnya kapan pula di negeri ini hukum itu ditegakkan ya…), terus menyimpan itu. Nah, tapi saya duga juga pasti pikiran itu berkelebat-kelebat di benak, kayak pendekar Wiro Sableng gelantungan di pohon.

Tampaknya (tampaknya ya…), penanganan skandal Century ini hati-hati betul, laiknya ingin menarik rambut dari tepung. Kayaknya (kayaknya ya…), bidikan yang langsung diarahkan ke RI-1 alias SBY ini, hendak dijadikan “rahasia umum” atau juga “tahu sama tahu”.  Dan juga, kalau bisa jangan disebutkan.

Nah, kalau semua sudah berpandangan begitu, mengapa pula harus disembunyi-sembunyikan? :D

* * *

Negeri ini benar-benar tak asing dengan impeachment. Yang paling gres bahkan baru terjadi 2001 lalu. Itu cuma delapan tahun yang lalu. Gus Dur, Presiden yang kocak itu, yang  bisa menimbulkan tawa siapa-siapa yang mendengarkan dia ketika beranekdot itu, saja bisa ter-impeachment. Lha, kalau orang yang penuh humor itu ‘kan, teorinya, disenangi banyak orang. Nah, bila orang yang bertipe seperti ini saja harus lengser keprabon, konon pula yang imejnya itu yang serius, kening berkerut, gaya bicaranya kaku dan pokoknya prosedural atau protokoler banget deh!

Kalau mengingat-ingat perbandingan yang kayak begini ini, setiap saya ngikutin berita di koran ataupun di tivi, senyum simpul selalu hadir. Itu ketika hampir seluruh kalangan, terutama politisi, mengatakan, “Pansus dan hak angket Century ditujukan untuk membuka fakta dan tidak bertujuan untuk memakzulkan Presiden.” Hihihi …

Read more…

Kekuasaan yang Takut pada Rakyatnya

9 Desember 2009 nirwan 5 komentar

Presiden SBY kembali “mengeluh”. Dia bilang, aksi 9 Desember ditengarai sedang menggoyang dan lebih jauh akan menjatuhkan kekuasaannya. Aneh? Mungkin.

Reaksi yang diberikan masyarakat beragam, sementara reaksi yang dilontarkan kalangan pemerintahan seragam. Pemerintahan, mulai di Menkopolkam, BIN, polisi, hingga Menkominfo, keseluruhannya mendukung bosnya. Bahwa yang dikatakan bos mereka benar adanya, dan chaos pada demonstrasi 9 Desember dikhawatirkan akan merusak pembangunan dan perekonomian yang “sedang bagus-bagusnya”. Aneh? Sangat mungkin.

***

Kekuasaan yang punya hubungan sangat mesra dengan rakyatnya, pastilah tak akan pernah takut pada rakyatnya sendiri. Bahkan kalaupun memang benar dia akan dijatuhkan oleh rakyatnya, dia tak akan mengalami ketakutan itu. Kekuasaan bagi mereka-mereka yang benar-benar berpihak pada rakyatnya, akan menganggap kekuasaan adalah amanah. Dan bila rakyat yang dipimpinnya mengkritiknya dan menganggapnya tidak bisa lagi mengemban amanah, dia akan rela. Kekuasaan baginya bukanlah hal yang akan menjatuhkan harga diri, martabat dan kehormatannya. Dia tidak akan “mati” hanya karena dia tidak duduk lagi di singgasana kekuasaan.

Hal sebaliknya akan terjadi pada mereka yang menganggap kekuasaan adalah segala-galanya. Dia akan menghalalkan segala cara untuk memanjat dan duduk di atasnya. Dan dia akan mempertahankannya dengan nyawanya. Dia akan menjadi sangat sensitif pada siapa-siapa yang berusaha menyentuh kursinya. “Siapa saja” itu maksudnya adalah siapa saja, baik itu anak, istri, ponakan apalagi bawahan. Kekuasaan punya daya magis yang akan membuat setiap orang yang duduk di atasnya menjadi buta karena dia hanya melihat dirinya sendiri. Tidak ada subjek lain melainkan “aku”. Semua orang akan tunduk dan harus meletakkan kepalanya sejajar dengan kakinya. Kekuasaan seperti tuhan, dan mungkin tuhan itu sendiri.

Kekuasaan, itulah hal yang paling utama di seluruh dunia ini.

***

Read more…

Indonesia Telah Kehilangan Pesonanya

5 Desember 2009 nirwan 3 komentar

“All power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely”. (Lord Acton)

Lord Acton

* * *

Indonesia telah kehilangan pesonanya. Istilah itu bukan dari saya, tapi sebuah artikel yang saya baca dari seseorang bernama Lukman Age. Lukman mengutip kalimat itu dari seorang pengamat, yang sayangnya tak disebutkan namanya. Itulah kalimat yang membikin saya tercenung, aneh.

Indonesia telah kehilangan pesona. Ini soal hati mungkin. Ketika ada perasaan bersatu, laiknya satu pasangan laki-laki dan wanita, maka kehilangan pesona merupakan dentuman keras bagi sebuah hubungan. Dia ibarat jaring yang menjadi lem perekat. “Pesona” yang telah hilang jelas adalah hal yang mampu menyulut perceraian.

Apakah yang sedang terjadi di Indonesia ini, wahai Sahabat. Saya merasa, jawaban-jawaban sudah terlalu banyak dilontarkan para akademisi dengan referensi-referensi yang sahih, valid, reliable, aktual dan akurat. Masih adanya dikotomi pusat-daerah, minusnya kepercayaan kepada pemerintahan, lembaga-lembaga hukum dan perwakilan rakyat, mega korupsi, manipulasi data-data penting pemerintahan, gelontoran duit dalam anggaran yang tak jelas pertanggungjawabannya, birokrasi yang terus terasa makin rumit, aparatur yang brengsek, pertahanan yang makin lemah, negara tetangga yang makin melunjak, penjilat kekuasaan yang terus makin ramai, pendidikan yang makin bodoh, moralitas yang berada di titik nadir, kekayaan alam yang tersedot habis, kerusakan lingkungan, bencana berulang kali, tewasnya ratusan ribu orang di Indonesia hanya dalam waktu enam tahun dan kita hanya menghitung-hitungnya laiknya statistik sebuah skripsi, dan entahlah, terlalu banyak sudah deretan-deretan itu.

Read more…

Ah, Jenderal George Rupanya yang Jadi Kasad

12 November 2009 nirwan 9 komentar

Markas Besar Angkatan Darat (Mabesad) Rabu kemarin melaksanakan serah terima jabatan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) dari Jenderal TNI Agustadi Sasongko Purnomo kepada Letnan Jenderal TNI George Toisutta. Bertindak sebagai Inspektur Upacara Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso.

kasad

Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Letjen TNI George Toisutta

Karir militer Letjen TNI George Toisutta sebelum menjabat sebagai Kasad adalah sebelumnya pernah menjabat sebagai Pangkostrad, Pangkoops TNI di Provinsi Aceh, Pangdiv I Kostrad, Pangdam XVII/Cenderawasih, Pangdam III/Siliwangi. Pria kelahiran Makasar 1 Juni 1953 itu, menamatkan pendidikan militer di Akabri Darat pada tahun 1976, Sarcabif 1977, Susstaf Pur 1987, Seskoad 1992, Sesko ABRI 1997 dan KRA-XXXIV Lemhannas 2001.

Letjen TNI George Toisutta mempunyai tiga orang anak, mengawali karir militer pada tahun 1978 sebagai Komandan Peleton 1-Kipan C Yonif 741/BS, Kasiops 741/BS, Dan Kipan C Yonif 741/BS, Dan Kipan B Yonif 744/BS, Paurtiknik Sdirlitbang Pussenif, Kaurtiknik Sdirlitbang Pussenif, Kasimindik Sdirdiklat Rinifdam, Kasi 2/Ops Brigif 1/PIK Kodam Jaya, Wadan Yonif 201/Jaya Kodam Jaya, Danyonif 700 Dam VII/Wirabuana, Dandim 1417 Rem 143 Dam VII/Wirabuana, Paset Spri Pangab, Wadanrem 164/WD Dam IX/Udayana, Danrem 051/Wijayakarta Dam Jaya, Dan Puslatpur, Kasdivif 2 Kostrad dan Kasdam Jaya.

Letjen TNI George Toisutta pernah melaksanakan tugas operasi militer di Timor-Timur tahun 1977, 1979, 1980, 1982, 1984, 1985, 1995 dan di Provinsi Aceh tahun 2003.

Mengapa jenderal George yang dipilih SBY? Apa implikasinya pada perkembangan sosial politik tanah air yang sedang panas-panasnya? Menarik. (*)

===

sumber: tniad.mil.id

Presiden SBY Disebut dalam Rekaman, Terlibatkah?

5 November 2009 nirwan 12 komentar

Jangan Anda bermimpi soal penegakan hukum ketika mengikuti kasus  KPK.  Dengarkanlah rekaman itu, dan dengarkanlah kemudian bagaimana pemerintahan (dan negara) menyikapinya.

Hampir seluruh orang menyatakan, termasuk Presiden SBY sendiri bahwa nama-nama yang disebutkan di rekaman itu mesti diusut tuntas, dinonaktifkan, mulai dari perwira polisi, Anggodo, Anggoro, sampai yang bersuara perempuan, Yuliana. Tapi mengapa ketika nama Presiden SBY alias RI-1 disebut-sebut, kok malah itu hanya disebut “akal-akalan”, dan  “main-main”?

Jangan bilang-bilang soal penegakan hukum, karena ini adalah ketidakadilan dan tebang pilih.

Yang adil adalah ketika semua orang yang terlibat maupun yang disebut dalam rekaman itu diusut, disidik, diselidiki dan bila terbukti segera diadili dengan adil. Ini bukan perkara membela KPK atau kepolisian, kejaksaan sampai pengacara atau yang lain-lain yang berhubungan langsung dengan sistem hukum dan penegakan hukum. Apa gunanya menjaring orang untuk membela KPK, tapi kalau substansi masalah lain yang lebih besar kita tutup-tutupi.

Lihatlah ketika semua orang dikumpulkan oleh negara yang menganggap kasus ini dapat membuat “people power” sehingga perlu membikin TPF soal KPK. Dan kemudian Susno dan Ritonga (disuruh) mundur dan sahlah sudah kalau mereka hanya sebagai “kambing hitam” demi sesuatu persoalan yang jauh lebih besar dari itu. Kalaulah mereka salah, jangan cuma “disuruh” mundur tapi langsung adili.

Biarkan seluruh masyarakat melihat kalau kebobrokan
penegakan hukum telah terjadi (lama), tak cuma di tingkat kepolisian, jaksa, pengadilan, pengacara, hingga KPK dan yang lain-lainnya. Hukum beserta aparat-aparatnya ternyata tak sekuat istana negara. Kepolisian harus berani, kejaksaan harus tegas, hakim-hakim harus punya integritas, KPK dan para pengacara pun harus bertobat dan tak lagi memicing mata terhadap megakorupsi.

Tidak cuma kalian, tapi juga media, karena hampir seluruh media memakai kata “pencatutan” untuk SBY, tapi tidak kepada yang lainnya…

Jangan ngomong manis!

Paris Van Sumatra Itu Mitos …

2 November 2009 nirwan 5 komentar

Konon, Kota Medan sempat dijuluki dengan sebutan super keren “Paris Van Sumatra”. Dirk A Buiskool, sejarahwan Belanda, pun sempat menyitir dengan kalimat “Paris of Sumatra” dalam sebuah paper-nya. Dengan perubahan wajah yang begitu kontras, kini ia dikhawatirkan hanya jadi sekedar mitos. Kota metropolitan atau kota emperan?


kota medan

Kota Medan di daerah Lapangan Merdeka, Kantor Pos, Hotel Dharma Deli (dulu hotel de Boer), gedung BI, Balai Kota dan seterusnya. (foto: Roemono)

Penanggung Jawab: Nirwan
Reportase: Sri Mahyuni
Fotografer: Roemono
(Foto-foto lama repro Dr Phil Ichwan Azhari)

* * *


“Kota Medan pernah dijuluki Paris van Sumatra. Itu mungkin karena pada masa itu kota ini begitu mulus, indah, dan tertib. Setiap hari mobil penyapu jalan dengan sapunya yang bundar, berkeliling menyusuri sudut kota untuk membersihkan jalan dari segala macam sampah, termasuk kotoran kuda dan lembu. Di belakangnya menyusul mobil mengangkut sampah dan kotoran tersebut untuk dibawa ke tempat pembuangannya.

Read more…

Kawasan Kesawan; Kacaunya Wajah Sejarah di Inti Kota Medan

26 Oktober 2009 nirwan 3 komentar

Kombinasi sisa-sisa bangunan kuno peninggalan Belanda yang dijumpai di kawasan Kesawan, Kota Medan, dengan bangunan “modern” yang desainnya hanya berkelas “ruko”, memperlihatkan perkawinan yang aneh.  Simbol kekacauan dan ketidakpedulian terhadap sejarah dan perkembangan Kota Medan.

* * *

Reportase: Sri Mahyuni
Fotografer: Ariandi
Foto-foto lama repro koleksi Muhammad TWH dan Dr Phil Ichwan Azhari

Kesawan dulu dan sekarang

Kesawan dulu dan sekarang. Foto gedung PT London Sumatera, terletak di ujung titik Kesawan (foto Ariandi dan repro Ichwan Azhari)

Kawasan Kesawan Kota Medan. Konon, di sinilah –konon– bermukim sekitar 600 bangunan bersejarah yang ada maupun yang pernah dimiliki Kota Medan.

Mari hitung lagi sedikit demi sedikit apa sejarah apa yang pernah menjejak di Kesawan, yang berdasar peta tahun 1913 (dan direpro pada 1945) –menurut keterangan yang didapat dari sejarahwan Unimed, Dr Phil Ichwan Azhari– berada di sebuah kawasan yang memanjang dari Jalan Nienhuysweg (kini dirubah jadi Jalan Jend Ahmad Yani) hingga ke Jalan Istana (kini simpang jalan Balai Kota).

Read more…

Persatuan Politik a la Es Beye

22 Oktober 2009 nirwan 6 komentar

Nah, Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II yang diracik Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden Prof Boediono, untuk sementara, selesai sudah. Saya tulis sementara karena masih ada prosedur “reshuffle” bila nantinya si Presiden sudah tak berkenan. Dan kini, nama-nama itu sudah tersaji bak hidangan di restoran Minang.

presiden

SBY, Hatta Radjasa dan Sudi Silalahi (sumber foto: beritasore.com)

Yang bisa dikatakan dan hampir umum dibicarakan khalayak adalah pemilihan kue-kue kabinet memang sangat heterogen dari segi politik. Tampaknya geliat partai politik dalam peta koalisi sebelum pilpres kemarin, jadi kenyataan di kabinet ini. Bagi-bagi kekuasaan di pemerintahan lima tahun ke depan, sangat terasa. Apalagi, dengan judul kabinet yaitu “Kabinet Indonesia Bersatu II”, si Presiden tampaknya tak ingin merubah tema starting line up pemerintahannya. Dia ingin persatuan lebih diutamakan. Dengan demikian juga, itu tandanya dia mau stabilitas politik yang kokoh dalam lima tahun ke depan. Dan itu tak cuma di level eksekutif, tapi juga di sektor lain misalnya di legislatif.

Intinya, SBY ingin membentuk pemerintahan yang kuat di mana dia menjadi poros alias sumbu utama kekuasaan dan kekuatan politik. Kalau pemerintahan kuat, program akan mudah dijalankan. Rakyat pun sejahtera. Itu versi Presiden.

Read more…

Sjafrie Sjamsoeddin dan Anak Harimau

20 Oktober 2009 nirwan 3 komentar
sjafrie sjamsoeddin

Letjend TNI Sjafrie Sjamsoeddin (sumber foto: inilah.com)

Saya kira, salah satu jenderal terganteng yang dimiliki oleh TNI saat ini adalah Letjend TNI Sjafrie Samsuddin. Nasibnya pernah akan diramalkan akan cemerlang. Dulu, bersama Letjend TNI (Purn) Prabowo Subianto, dia adalah salah satu bintang terang yang dimiliki Angkatan Darat. Bintang yang lain adalah Jenderal (Purn) Wiranto, plus Jenderal (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono. Dia disebut-sebut sebagai salah seorang lingkaran terdalam dari “pasukan perwira”-nya Prabowo. Mereka dinilai sangat akrab sejak menjadi perwira pertama, perwira menengah, apalagi saat menjadi perwira tinggi. Ketika Prabowo menjadi Pangkostrad, Sjafrie adalah Panglima daerah paling strategis, Pangdam Jaya.

Namun faktor kedekatan itu pula yang membikin pamor Sjafrie terus meredup. Terbuangnya Prabowo pasca gerakan 1998, membuat Sjafrie juga kena dampak ikutan. Dia disimpan menjadi jenderal berkategori staf yang notobene tak bisa membikin keputusan apalagi punya pasukan. Ya, kecemerlangan, kecerdasan dan tentu saja kegantengannya itu, sirna.

Read more…

Golongan Kaya Raya (2)

18 Oktober 2009 nirwan 4 komentar

ical

Aburizal Bakrie sudah sah menjadi Ketua Umum Partai Golkar. Konon, dia adalah orang terkaya di seluruh Indonesia, dan bahkan Asia Tenggara. Benarkah? Kalaupun itu diragukan untuk apa? Toh, informasi soal kekayaan itu, seperti juga laporan kekayaan orang terkaya di dunia yang dilansir media tertentu, tak juga bisa dipastikan kebenarannya. Namun, dampak dari pemberitaan soal itulah yang penting. Bagi petugas pajak, tentu itu akan menjadi makanan empuk. Namun bagi si “tersangka” sendiri, itu menjadi kampanye yang bagus terutama untuk menaikkan harkat dan derajatnya. Dari titik itu, peluang untuk memperbesar jaringan semakin terbuka. Pepatah lama Indonesia yang berkata, “ada gula ada semut”, toh berlaku universal.

Untuk Golkar, banyak yang mengatakan duduknya Ical sebagai ketua sebagai langkah para “semut-semut” itu supaya tetap eksis. Mereka butuh sandaran terutama dalam hal finansial dan kekuasaan agar Golkar tidak mati bak pelanduk dalam pertarungan antara “gajah” politik saat ini seperti Partai Demokrat dan PDI Perjuangan.

Read more…

Golongan Kaya Raya (1)

13 Oktober 2009 nirwan 2 komentar

“Hebat, luar biasa, mantap, tokcer.” Itu beberapa kata yang ada di kepala ketika Aburizal Bakrie “hanya” menang tipis dari Surya Paloh dalam perebutan Panglima Tertinggi Partai Golongan Karya. Elit Golkar, sekali lagi, memberi tanda sekaligus pelajaran puluhan sks kepada partai-partai lain mengenai riil politik Machiavellis cita rasa Indonesia.

Golkar adalah partai yang realistis melihat pertarungan supra elit mereka dalam perebutan kursi Ketua Umum. Ini juga sekaligus tamparan bagi pengamat-pengamat politik “sok moralis” yang menyematkan harapan-harapan agar Golkar punya kepedulian terhadap pendidikan politik yang “baik-baik”. “Jangan kami yang disuruh belajar politik, kalian saja yang belajar,” mungkin seperti itu kata mereka kepada pengamat-pengamat itu. “Kami mempunyai seluruh instrumen untuk berkuasa, kecuali moral. Catat itu!” Mungkin kayak gitu.

Read more…

Jalan Kota Medan Justru Makin Hancur

7 Oktober 2009 nirwan 1 comment

Di sana-sini, jalan-jalan di Kota Medan hancur berantakan. Status kota Metropolitan dipertaruhkan.

* * *

upload

Kota Medan terus sibuk meladeni hujan yang turun tak kenal waktu. Beberapa ruas jalan, harus rela menjamu air hujan. Jangan cepat berharap panas segera datang karena persoalan baru sudah mengintip ganas di sana. Panas membuat rongga badan jalan yang compang-camping itu menyebarkan debu dan abu.

Read more…

“Earthquake Did Not Kill People, The Bad Building Did It”

6 Oktober 2009 nirwan 3 komentar

Gempa Padang bukanlah gempa yang terakhir kalinya dialami Indonesia. Apalagi kalau melihat “riwayat kerja” gempa di Indonesia selama ini. Selama September 2009 saja, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat lebih dari 30 kali gempa bumi di wilayah Indonesia dengan kekuatan di atas 5 SR.

gempa padang 2Beberapa yang terbesar di antaranya mengguncang Tasikmalaya (7,3 SR), Yogyakarta (6,8 SR), Tolitoli (6,0 SR), Nusa Dua (6,4 SR), dan Ternate (6,4 SR) dan Padang Pariaman (7,6 SR).

Dari situsnya Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, gempa bumi yang terjadi di wilayah Indonesia dalam beberapa bulan terakhir terjadi akibat dinamika pada lapisan bumi. “Gempa terjadi akibat penunjaman lempeng tektonik Samudera Hindia di bawah lempeng Asia di Pantai Barat Sumatera,” ujar Kepala Badan Geologi, Departemen Energi, R Sukhyar dalam penjelasannya di website Menteri Energi, 1 Oktober 2009.

Read more…

Tommy, Tutut dan Siapa Lagi?

4 September 2009 nirwan 11 komentar

Mungkin agak basi, tapi tombongan Partai Golkar memang mulai membuka jati dirinya secara terus terang. Setelah Hutomo Mandala Putra, giliran Sri Hardiyanti Rukmana. Setelah itu siapa lagi?

Let’s see pasca lebaran.

Memang politik ‘gak ada matinya!

Merdeka

19 Agustus 2009 nirwan 10 komentar

17 Agustus 1945, Indonesia belum punya apa-apa. Hanya sebuah proklamasi oleh hanya dua orang yang mengatasnamakan seluruh rakyat Indonesia, Soekarno dan Hatta. Sebuah bendera, merah dan putih, yang belum disepakati sebagai bendera kebangsaan. Semua terjadi begitu tiba-tiba.

hatta soekarno

Suatu hari, beberapa dari kawan saya, memberi saya catatan penuh sinisme. “Proklamasi hanya untuk pulau Jawa!” kata mereka.

“Tapi Muhammad Hatta yang orang Minang itu?” saya berbalik bertanya.

“Lho, justru itu yang harus dipertanyakan. Mengapa Hatta mau di-fait accomply?” tangkis mereka lagi.

Saya tak meneruskan perdebatan itu. Mereka resah, gundah gulana dan lebih dari 50% kemungkinannya mereka akan tak hendak menerima argumentasi orang lain. Saya, tentu punya pendapat yang berbeda dengan mereka.

* * *

Read more…

Proklamasi!

18 Agustus 2009 nirwan 4 komentar

“Proklamasi! Kami, rakyat Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaan …”

Begitu sakral dia dulu. Begitu indah dia dulu. Begitu menggelora dia dulu.

Kini begitu sunyi. Begitu birokratis. Hanya sebatas upacara di tanah lapang, gelar panjat pinang dan ramai-ramai memakan kerupuk.

Selamat merayakan Hari Ulang Tahun Indonesia ke-64, bagi mereka yang merayakannya. (*)

Mega-Prabowo Kalah, JK-Wiranto Kalah, SBY-Boediono Menang

13 Agustus 2009 nirwan 6 komentar

Sudah diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) soal Pilpres 2009. Bagi Mega-Prabowo dan JK-Wiranto ini jelas tidak enak, tapi perasaan sebaliknya ada di SBY-Boediono. Selamat bagi para pemenang! Apa pekerjaan selanjutnya?

Terlalu banyak yang harus dikerjakan. Legitimasi kekuasaan SBY dalam lima tahun ke depan mungkin kuat, tapi sangat mungkin akan lemah. Bukan masalah apakah oposisi yang nantinya akan lahir itu kuat atau tidak, karena kejelasan soal oposisi itu sendiri belum ada hingga kini. PDIP yang terkena dampak putusan Mahkamah Agung, jelas tidak segarang dulu. Mereka bakal punya pertambahan kursi. Dalam berbagai segi, ini kompromi tingkat elit untuk paling tidak meredam bibit-bibit  konflik politik di Indonesia di lima tahun ke depan. Paling tidak untuk sementara.

Read more…

Yang Bersaksi Sudah Mati

8 Agustus 2009 nirwan 3 komentar

Terlalu sulit untuk menuliskan orang sebesar WS Rendra dalam hitungan karakter dan beberapa paragraf. Puisi, konon, membongkar dengan penuh lembut kesulitan simbolisasi pemikiran maupun perkataan perasaan hanya dalam beberapa kalimat dan bentuk. “Beban” yang demikian berat itu, suatu waktu pernah sangat merisaukan Sutardji Calzhoum Bahri.

rendraItu pun, banyak dari kita yang tak pandai berpuisi. Bahkan, kalau kita pandai-pandaikan untuk mencatat beberapa larik, akan ada saja yang bergumam kalau catatan itu bukan sebuah puisi. Konon, puisi harus memenuhi unsur ini, unsur itu dan segala tetek bengek yang berderet-deret laiknya barisan panjang gerbong kereta api.

Tak bisa pula diabaikan gumaman yang demikian itu. Manusia, alkisah, disebutkan sebagai satu makhluk sosial, selalu berdampingan satu dengan yang lain. Satu perkataan di ujung kampung, maka akan menjadi seratus kalimat di sudut yang satunya lagi. Manusia itu makhluk paling cerewet.

“Rendra sudah mati! Rendra mati! Mati!” teriak seseorang tergopoh-gopoh pada suatu malam. Tangannya bergetar-getar menggenggam sepucuk obor. Wajahnya berpeluh, baju dan celananya juga berkeringat. Dia keliling kampung, berteriak-teriak sendirian di saat malam hendak ke tengah-tengah peraduannya.

Read more…

Untuk “Seorang” Bayi Berkepala Dua

29 Juli 2009 nirwan 5 komentar

Dia diberitakan wafat kemarin, Selasa 28 Juli 2009. Terhimpit di sesaknya pemberitaan mengenai gugatan Pilpres 2009 ke MK, kasus Flu Babi yang mengemuka dan pemboman JW Marriot/Ritz Carlton milik Amerika dan Eropa. Badrun nama ayahnya, Nurhayati disematkan pada ibunya. Mereka berdua mengaku, sudah menginginkan bayi itu sejak sembilan tahun lamanya. Belum sempat mereka memberi nama, bayi itu telah ditimang Sang Maha Kuasa.

Beruntunglah mereka. Sejatinya, mereka diberikan dua anak sekaligus, dua kepala dalam satu tubuh. Dua kepala manusia itu bersatu, berdempet erat, berpeluk di sebuah ruang yang penuh kasih sayang, ruang yang jauh dari kemunafikan dan suci dari segala kebohongan; jantung dan hati. Seolah-olah tak ingin mereka berpisah walau hidung telah menghirup bumi.

Mereka hanya sempat mencicipi sebentar luapan kerinduan ayah dan bunda. Nantinya, mereka pastilah tak perlu merengek menghamba susu dari ibunya. Mereka tahu, ibunya tak akan ragu untuk bangun jam berapa pun, setiap harinya setiap malamnya. Darah ibunya adalah susu bagi mereka. Mereka juga mafhum, ayah mereka, Badrun, akan selalu melangkahkan kakinya mencari rezeki dalam hamparan luasnya dunia.

Secercah senyum ketika mengandung, seulas kejut saat terlahir, setitik hasrat kala dirawat, bercampur-campur kala tangan Izrail datang menjulur.

* * *

Read more…