Arsip

Posts Tagged ‘budaya’

Yang Bersaksi Sudah Mati

8 Agustus 2009 nirwan 3 komentar

Terlalu sulit untuk menuliskan orang sebesar WS Rendra dalam hitungan karakter dan beberapa paragraf. Puisi, konon, membongkar dengan penuh lembut kesulitan simbolisasi pemikiran maupun perkataan perasaan hanya dalam beberapa kalimat dan bentuk. “Beban” yang demikian berat itu, suatu waktu pernah sangat merisaukan Sutardji Calzhoum Bahri.

rendraItu pun, banyak dari kita yang tak pandai berpuisi. Bahkan, kalau kita pandai-pandaikan untuk mencatat beberapa larik, akan ada saja yang bergumam kalau catatan itu bukan sebuah puisi. Konon, puisi harus memenuhi unsur ini, unsur itu dan segala tetek bengek yang berderet-deret laiknya barisan panjang gerbong kereta api.

Tak bisa pula diabaikan gumaman yang demikian itu. Manusia, alkisah, disebutkan sebagai satu makhluk sosial, selalu berdampingan satu dengan yang lain. Satu perkataan di ujung kampung, maka akan menjadi seratus kalimat di sudut yang satunya lagi. Manusia itu makhluk paling cerewet.

“Rendra sudah mati! Rendra mati! Mati!” teriak seseorang tergopoh-gopoh pada suatu malam. Tangannya bergetar-getar menggenggam sepucuk obor. Wajahnya berpeluh, baju dan celananya juga berkeringat. Dia keliling kampung, berteriak-teriak sendirian di saat malam hendak ke tengah-tengah peraduannya.

Read more…

Incredible Hulk dan Kebudayaan Monster

5 Juni 2009 nirwan 3 komentar

“A great civilization is not conquered from without until it has destroyed itself from within.”(Will Durant)

* * *

Bruce Banner (dimainkan oleh Edward Norton) adalah sosok yang lembut namun cerdas. Ia dipekerjakan oleh seorang Jenderal Amerika bernama Jenderal Theddeus Ross (William Hurt) dalam sebuah proyek pembuatan prajurit super bagi tentara Amerika. Ia menjalin kasih dengan anak sang jenderal bernama Betty Ross (Liv Tyler).

Formulasi ditemukan dan Bruce yang terkena efek radiasi gamma harus rela ketika hal itu mengakibatkan dirinya menjadi sebuah makhluk yang tak cuma super tapi juga monster.

Monster berkulit hijau yang ini penuh amarah, yang logika dan perasaannya berada di tahap paling minimal. Yang ada dalam dirinya hanya kekuatan yang harus diledakkan dan dilampiaskan. Alter ego-nya menjadi dominan.

Read more…

Sepotong Tumpeng Kala Maulid

10 Maret 2009 nirwan 12 komentar

quranSewaktu kecil, di madrasah kami, Ibtadaiyah Al-Ittihadiyah, setiap maulid nabi Muhammad  selalu dilakukan acara. Ada lomba baca al-quran, azan, tafsir, busana muslim, gerak jalan dan macam-macam. Kalau tidak salah, saya sudah berani ikut-ikutan lomba waktu umur saya tujuh tahun. Saya ikut lomba azan dan baca quran. Saya tak pandai betul melantunkan qiraat, walau ayah saya pernah juara mengaji. Tapi minimal dapatlah juara harapan. Saya tak kebagian piala tapi hadiah buku tulis. Namun, senangnya bukan main.

Kala lomba azan -sudah tabiat saya dan teman-teman sekelas dulu- bukan malah jadi lomba indah-indahan, tapi lomba kuat-kuatan suara. Siapa yang dapat nada paling tinggi, bolehlah agak nyombong dikit sama teman-teman. Tapi tetap yang selalu menang itu namanya Azra’i. Dia ini memang muadzin tetap di mesjid dekat madrasah kami. Suaranya tak pernah melengking, tapi ‘kok rasanya enak betul mendengar lantunan azannya.

Tahun kemarin, saya lewat lagi di depan madrasah itu. Tak besar memang, cuma ada lima ruang kelas. Guru yang dulu mengajar saya tinggal seorang. Guru-guru yang lain umurnya relatif sepantaran saya dan ada juga yang di bawah saya. Sesekali ibu saya pernah mengobati kerinduannya mengajar anak kelas satu. Tapi sesekali saja memang karena beliau sudah pensiun sejak lama. Dia pernah berkata kepada saya begini: “Jadi guru itu sudah darah daging, jadi sebenarnya tak bisa ditinggalkan.”

Read more…

Menghitung Warisan di Museum Negeri Sumut

2 Maret 2009 nirwan 10 komentar

Anak-anak itu tingginya masih sepinggang orang dewasa. Mereka, siswa Madrasah Ibtadaiyah (MI) –setingkat Sekolah Dasar (SD)- Al-Fachran, bergelontoran di lantai keramik Museum Negeri Sumatra Utara (Sumut) di jalan HM Joni Medan. Mereka cekikan melihat manusia purbakala Phitecentropus Erectus yang tinggi dan berdada bidang itu. Wajahnya tak mirip dengan mereka.

museum negeri sumutMereka sibuk mencatat, sesekali menatap wajah purba yang mirip kera itu, setelah itu mereka tergelak lagi bersama-sama. “Manusianya ‘kok mirip monyet ya,” kata mereka. Kawan-kawannya yang lain menimpali sambil terkekeh. Suasana jadi riuh. Tiba-tiba mereka sibuk mencatat kembali; salah seorang guru memalingkan wajahnya ke arah mereka.

Gigi saya tersembul melihat itu. Dengan sedikit jingkat, saya sudah di belakang seorang di antara mereka. Saya intip lembar catatan anak itu. Dia menulis, judulnya; sejarah manusia purba. Dia berbalik dan cengegesan, kemudian berlari ke tempat ibu gurunya berdiri. “Ayo, keterangannya dicatat, jangan cuma ketawa. Nanti ibu tanya di sekolah,” kata guru mereka.

Read more…

Dedd, y, mi, z, war

28 Februari 2009 nirwan 8 komentar

dedi-mizwarSebelum menulis ini, di benak saya melintas-lintas satu kata: hak. Tapi kemudian, si “hak” ini seperti emoh untuk dituliskan. Seolah-olah dia bergumam kepada saya begini. “Bung, jangan sematkan saya pada sosok Deddy Mizwar. Ini lebih dari itu. Gara-gara Bung, saya nanti tak sanggup lagi bercengkrama dengan kata-kata yang lain. Ini bukan sekedar hak, Bung. Ingat itu!” gumam si “Hak”.

Saya bingung. Kalau lebih dari itu, lalu apa? Apa ada yang lebih tinggi dari hak? Setahu saya, ya, orang-orang sering mengaitkan “hak” itu pada sesuatu yang “tinggi”, seperti sepatu hak tinggi. Ah, makin ngelantur-lah saya. Karena saya gak mau ngelantur sendirian, ya, saya ajaklah rekan-rekan sekalian untuk ngelantur bersama saya. Tenang, Anda masih bisa mengelak ‘kok. Saya kasih tau caranya; jangan baca lagi setelah kalimat ini diakhiri dengan tanda titik.

Read more…

Cemburu

9 Februari 2009 nirwan 15 komentar

ulat melendot, menimpakan badannya hingga robeklah keperawanannya
cemburulah pada daun

sesak sedikit nafasnya disedot penuh nafsu oleh si lebah
cemburuilah kembang

burung-burung tak akan berdenyut tanpa rintihannya
cemburukan angin

desahan bukan daun telinga
lekukan bukan ruas jari
liur tak lidah

jangan mati
nikmati
hati
i
,

(hampir tengah januari 2009)

Dian yang Tak Kunjung Padam

24 Januari 2009 nirwan 11 komentar

Sutan Takdir Alisjahbana adalah masterpiece Indonesia. Dialah yang membuat kalimat itu, sebuah kalimat luar biasa yang hanya bisa keluar dari perenungan mendalam. Atas apa? Atas cinta.

* * *

Palestina adalah hati yang terluka. Sakitnya dirasakan hingga ke Indonesia, ke Sumatera Utara, ke sebuah rumah yang terpaku melihat pembantaian Palestina di sebuah kotak kaca yang hidup. Mengapa kita mesti sakit, merinding, marah, sedih dan menitikkan air mata. Mengapa Michael Hart harus menulis lagu untuk Gaza. Mengapa?

Manusia memang tak pernah paham-paham makna cinta. Dialah misteri yang tak berjawab dan teka-teki tak terungkap.

Seorang ibu tiba-tiba harus menangis ketika anaknya akan diopname di rumah sakit. Seorang istri sekonyong-konyong sumringah ketika suaminya mengetuk pintu dan membawakannya bubur ayam. Seorang anak terbahak-bahak ketika dia bersama ayahnya bermain Downhill di PS 2. Seorang kakek menahan-nahan dengan kuat sesak nafasnya ketika cucunya mengajaknya berlari. What is all about?

Read more…

Tuhan yang Tercecer

22 Desember 2008 nirwan 16 komentar

Apa yang dapat aku lakukan, wahai ummat Muslim?
Aku tidak mengetahui diriku sendiri.
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi,
bukan Majusi, bukan Islam.
Bukan dari Timur, maupun Barat.
Bukan dari darat, maupun laut.
Bukan dari Sumber Alam,
bukan dari surga yang berputar,
Bukan dari bumi, air, udara, maupun api;
Bukan dari singgasana, penjara, eksistensi, maupun makhluk;
Bukan dari India, Cina, Bulgaria, Saqseen;
Bukan dari kerajaan Iraq, maupun Khurasan;
Bukan dari dunia kini atau akan datang:
surga atau neraka;
Bukan dari Adam, Hawa,
taman Surgawi atau Firdaus;
Tempatku tidak bertempat,
jejakku tidak berjejak.
Baik raga maupun jiwaku: semuanya
adalah kehidupan Kekasihku …

(Aku Adalah Kehidupan Kekasihku karya Jalaluddin Rumi
copy dari artikel buku “Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma’rifat” oleh Idries Shah)

Read more…

Menuduh Orang Batak

24 November 2008 nirwan 25 komentar

sisingamangarajaBlog bertajuk lapotuak.wordpress.com jelas adalah sebuah tuduhan paling menyakitkan yang diterima suku bangsa Batak soal komik penghina Nabi Muhammad. “Orang Batak” seolah-olah menjadi tersangka utama dalam kasus itu. Ada dua senjata yang langsung diarahkan yaitu primordialisme dan agama. Dua-duanya masuk kriteria titik utama untuk mengobarkan peperangan: SARA.

Saya kira ini berdasarkan asumsi tak beralasan yang masih dihinggapi segelintir orang, yaitu mengidentikkan antara “batak” dengan agama non muslim. “Lapotuak” itu memanglah istilah batak namun mengindentifikasi Batak menjadi nonmuslim adalah kesalahan yang sangat-sangat besar. Beberapa saat yang lalu, sebuah blog dikabarkan memposting sebuah tuduhan bahwa yang membuat dan menyebarkan komik penghina nabi Muhammad itu adalah suku bangsa Batak. Yang kena tuduh langsung meradang dan mengancam memperkarakan. Akhirnya, postingan itu dicabut.

Belum ada bukti kalau tersangka komik penghina nabi Muhammad itu adalah orang Batak dan beragama non muslim. Namun, persangkaan itu tumbuh, saya kira, karena masih adanya identifikasi batak=tak Islam. Sekali lagi itu tak benar.

Read more…

Sudahlah, Sahkan Saja RUU APP

17 September 2008 nirwan 8 komentar

Soal RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi yang heboh lagi, kawan saya berceloteh dengan ringannya.
“Daripada ribut-ribut, sahkan saja RUU APP itu. Toh kalaupun nanti dalam pelaksanaannya banyak yang tak sesuai dengan niat sebelumnya, bisa dicabut lagi. UU kan bukan Al-quran.”

“Anda tak bisa seenaknya bertindak begitu. Walau tak abadi dan bisa diganggu-gugat, jangan sampai sebuah UU dan peraturan jadi gampang dibuat gampang dicabut. Itu tak konsisten dan merugikan penegakan hukum,” jawab saya.
Read more…

Raswin Hasibuan, Segores Catatan

2 Juni 2008 nirwan 2 komentar

Raswin Hasibuan, pimpinan grup teater Kartupat, menghembuskan nafas terakhirnya bertepatan dengan tanggal sama teaterwan dan sineas ternama Indonesia, Arifin C Noer, pada 28 Mei.. Ia meninggalkan sebuah konsistensi dalam perjalanan teater di Sumut. Teater dan dirinya tak akan pernah mati.

Read more…

Chairil Anwar Sudah Mati Di Sini…

5 Mei 2008 nirwan 6 komentar

28 April 1949. Tanggal itu adalah tanggal wafatnya penyair besar Indonesia asal Medan, Chairil Anwar. Seandainya, fisiknya masih hidup hingga sekarang, maka tiga bulan lagi, tepatnya pada 26 Juli mendatang, ia baru akan berumur, 86 tahun.
Read more…

Dua Orang Dewi, Satu Erotisme

3 Mei 2008 nirwan 5 komentar

Dewi, dewi dan dewi. Nama dan kata itu begitu sakralnya di negeri ini. Mereka bermuka dua, yang satu menawarkan konsep transendental, sebuah kesucian dari kata. Dewi adalah pasangannya dewa yang bagi beberapa kelompok tertentu sama artinya dengan tuhan. Karena itu, dewi adalah kesucian dan ketika kata itu menjadi nama dari anak manusia, ia berubah menjadi asa.

 

Read more…

Categories: Esai, Kebudayaan Tag:, , ,

Huruf Nan Sakti Mandraguna …

Politik seringkali memanipulasi makna kata. Walau bahasa Indonesia cuma memiliki 26 huruf, a-z, dan sepuluh angka, 0-9, Indonesia bisa hancur gara-gara huruf.

Read more…

Ilir-ilir dan Tamaknya Manusia

24 Maret 2008 nirwan 4 komentar

difoto oleh RoemonoBelum tentu hujan sehari menghapus kemarau setahun. Belum tentu kering sehari digilas sejam tsunami. Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane, bermaulidlah.

* * *

lir-ilir, lir-ilir, tandure wus semilir
tak ijo royo royo dak sengguh temanten anyar
(lihatlah kini waktu menyemai telah datang,
begitu hijau segar laksana pengantin baru)

Read more…

Review Pameran Edward S Curtis

20 Maret 2008 nirwan 1 comment

KEDUTAAN Besar Amerika Serikat menggelar pameran fotografer legendaris Edward Sherrif Curtis di Sun Plaza Medan hingga 19 Maret mendatang. Berjudul Sacred Legacy: Edward S Curtis dan North American Indian (Warisan Sakral: Edward S Curtis dan Indian Amerika Utara), pameran ini seakan “mengejek” warisan budaya suku bangsa di Indonesia yang sering dibajak negara lain.

Read more…

Kelaparan, Ciri Negara Tak Berbudaya

10 Maret 2008 nirwan 2 komentar

Ibu hamil dari Makassar, Daeng Basse’ (35 tahun) dan anaknya Bahir (5 tahun) meninggal karena kelaparan. Bangsa ini sudah keterlaluan.

* * *

Read more…

Seribu Puisi, Keajaiban Kata

22 Februari 2008 nirwan 3 komentar

Perubahan yang didasarkan atas kata menjadi bukti kuat determinasi kata terhadap hidup manusia. Merangkai kata ataukah meracik coklat?
* * *
It’s Valentine Day!” Maka di hari itu, pekik hati remaja bersanding dengan ornamen dan produk berwarna merah jambu alias pink, plus hadiah bagi pasangan muda-mudi (di beberapa negara tertentu, pink dan valentine diasosiasikan dengan kelompok homoseksual). Apa wujud hadiah itu, terserah persepsi masing-masing. Syaratnya cuma satu, romantis.

Read more…

Beda Seniman dan Artis

19 Februari 2008 nirwan 1 comment

Barani Nasution (Faisal Reza)Aktivitas dunia hiburan di Kota Medan sungguh marak. Event organizer (EO) tumbuh bak cendawan di musim hujan. Panggung-panggung hiburan, mulai dari yang mendatangkan artis lokal, nasional hingga internasional berdiri gagah di Kota Medan. Kondisi sebaliknya kelihatan di dunia budayawan.

Read more…

Seribu Lagu Ahmad Baqi

17 Februari 2008 nirwan 21 komentar

“Sahabat
Biarlah daku pergi
Berjalan menuju
Pangkalan …”

Entah siapa yang disebut sahabat oleh Almarhum H Ahmad Baqi. Bait lagu “Tersiksa Dalam Kenangan” di atas merupakan lagu terakhir yang diciptakan maestro musik religi Sumatera Utara. Lagu itu diciptakan Ahmad Baqi, sesaat sebelum ia mengambil sajadahnya untuk shalat tahajud malam di awal Syawal tahun 1999.

Read more…