Ada yang berandai-andai: apa nasib SBY kalau dia tak menang?
“Itu menimbulkan masalah baru yang sangat besar…” ucap Masna.
“Lho, contohnya?” kata Rini.
“Seorang mantan presiden sebuah negara yang sangat besar ini harus stress, sakit jiwa. Itu masalah besar. Kita tidak punya rumah sakit khusus sakit jiwa untuk mantan Presiden. Kalau untuk penyakit-penyakit fisik sih banyak.”
“Anda jangan memvonis dulu kalau SBY bakal sakit jiwa. Setahu saya dia sangat kuat mentalnya. Dia itu dari tentara lho…”
“Lho jangan silap. Justru belakangan ini kita banyak mendengar saudara kita yang dinas di kemiliteran juga terkena sakit jiwa. Bahkan yang bunuh diri atau malah menembaki koleganya sudah sering kita lihat beritanya di televisi. “
“Okelah, saya tak dapat mendebat, penyakit jiwa tidak diskriminatif, semua bisa kena. Masalahnya, adakah kemungkinan dia bakal kena?”
“Nah itu dia. Justru di kondisi yang sekarang ini, dia semakin berpotensi sangat tinggi untuk sakit jiwa. Di saat semua orang dan terutama dirinya sendiri menganggap bahwa dia akan menjadi Presiden kembali untuk yang kedua kalinya, tahu-tahu dia kalah. Anda bayangkan saja!”
“Ah, bagi saya belum jelas benar pangkal masalahnya. Dia tak mungkin kalah!” sentak Rini.
Suatu saat, tiba-tiba dada saya terasa lapang, tubuh saya menjadi sedikit lebih ringan. Saya merasa, setan-setan yang sebagian ngekos di badan saya, tiba-tiba lenyap. Ada semacam kerinduan, tapi rupanya rasa penasaran lebih tinggi. Saya cari tahu –tak perlulah saya ceritakan bagaimana caranya, yang pasti tak sampai menyewa tim pencari hantu– dan saya dapat informasi dari setan yang kebetulan dapat julukan “setan miskin”. “Teman-teman sedang refreshing. Mereka sedang jalan-jalan ke Amerika, menghadiri pelantikan Barrack Obama,” bisiknya enteng. Sudah kayak Gus Dur saja cara bicara si setan ini.
Tiba-tiba harga kursi mahal. Seluruh kursi yang ada di Kota Medan berhilangan. Tidak cuma kursi, bangku pun raib. Sangkot dan Wak Labu yang biasa nongkrong di warkop sambil menaikkan kaki di atas bangku, kali ini terpaksa lesehan. Kini, mereka tak lagi duduk di warkop Sudirman, tapi di Warkop Juanda.











