Buronan Cilik

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘cerita’

SBY Kalah, SBY Stress

In All News, Esai, Kebudayaan, Politik, Sastra dan Seni on 29 April 2009 at 4:42 pm

Ada yang berandai-andai: apa nasib SBY kalau dia tak menang?

“Itu menimbulkan masalah baru yang sangat besar…” ucap Masna.
“Lho, contohnya?” kata Rini.

“Seorang mantan presiden sebuah negara yang sangat besar ini harus stress, sakit jiwa. Itu masalah besar. Kita tidak punya rumah sakit khusus sakit jiwa untuk mantan Presiden. Kalau untuk penyakit-penyakit fisik sih banyak.”

“Anda jangan memvonis dulu kalau SBY bakal sakit jiwa. Setahu saya dia sangat kuat mentalnya. Dia itu dari tentara lho…”
“Lho jangan silap. Justru belakangan ini kita banyak mendengar saudara kita yang dinas di kemiliteran juga terkena sakit jiwa. Bahkan yang bunuh diri atau malah menembaki koleganya sudah sering kita lihat beritanya di televisi. “

“Okelah, saya tak dapat mendebat, penyakit jiwa tidak diskriminatif, semua bisa kena. Masalahnya, adakah kemungkinan dia bakal kena?”
“Nah itu dia. Justru di kondisi yang sekarang ini, dia semakin berpotensi sangat tinggi untuk sakit jiwa. Di saat semua orang dan terutama dirinya sendiri menganggap bahwa dia akan menjadi Presiden kembali untuk yang kedua kalinya, tahu-tahu dia kalah. Anda bayangkan saja!”

“Ah, bagi saya belum jelas benar pangkal masalahnya. Dia tak mungkin kalah!” sentak Rini.

Read the rest of this entry »

Obama Dilantik, Para Setan Bertepuk Tangan

In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik, Sastra dan Seni, luar negeri on 20 Januari 2009 at 7:12 pm

stupid peopleSuatu saat, tiba-tiba dada saya terasa lapang, tubuh saya menjadi sedikit lebih ringan. Saya merasa, setan-setan yang sebagian ngekos di badan saya, tiba-tiba lenyap. Ada semacam kerinduan, tapi rupanya rasa penasaran lebih tinggi. Saya cari tahu –tak perlulah saya ceritakan bagaimana caranya, yang pasti tak sampai menyewa tim pencari hantu– dan saya dapat informasi dari setan yang kebetulan dapat julukan “setan miskin”. “Teman-teman sedang refreshing. Mereka sedang jalan-jalan ke Amerika, menghadiri pelantikan Barrack Obama,” bisiknya enteng. Sudah kayak Gus Dur saja cara bicara si setan ini.

Karena iman saya tak begitu kuat, saya jelas terpengaruh juga sama bisikan si setan miskin itu.
“Loh, kok Anda ‘gak berangkat?”
“Lha saya ‘kan setan miskin. ‘Gak ada ongkos.”
“Kan bisa terbang sendiri?”
“Males, ah. Emang sekarang zamannya Gatotkoco?! Wong Clark Kent aja pergi kemana-mana naik pesawat, naik mobil, ‘kok. Sori Bung, saya bokek, gak ada ongkos.”

Read the rest of this entry »

Gosip Si Polhan dan Si Bhambang

In All News, Kebudayaan, Lapak, Politik, Sastra dan Seni on 1 Desember 2008 at 1:10 pm

Si Polhan ketiban penyakit aneh. Di dahinya tercoreng sebuah kata “koruptor”. Alhasil, dia tak mau keluar kamarnya. Orang kampung mencari-cari. Biasanya, si Polhan jadi donatur tetap kegiatan kampung. Karena duitnya banyak, dia pun ditetapkan sebagai bendaraha kampung. Tapi kini, si Polhan memang tak lagi menunjukkan batang hidungnya. Di kedai-kedai, gosip soal si Polhan langsung membanjir.

“Kudengar, penyakit di jidatnya itu tak bisa hilang. Dokter bilang, ini tak bisa dioperasi plastik. Kalau dioperasi, bisa-bisa wajahnya berubah total. Si Polhan pun tak mau,” kata seorang ibu yang lagi mengantri minyak tanah.

“Ah, pantaslah si Polhan tak mau. Bagaimana pula nanti kalau dia pulang kampung ke Danau Toba sana, bisa-bisa tak dikenali orang pula dia. Padahal, dia sudah diakui orang dermawan.”

“Itulah, aku sedih lihat anaknya itu, tak berani lagi dia belanja di sini. Anaknya cantik, jarang-jarang orang di kampung dia itu punya anak secantik bak Putri Hijau. Padahal, anaknya sudah cantik, baik pula.”

“Itulah, anak si Polhan-lah yang jadi korban, padahal bapaknya yang sakit. Kudengar, pernikahan anaknya itu pun sedang terancam pula. Aduh makjang, kasihan betul si Polhan itu. Baru memomong cucu, eh, tapi tak mau keluar kamar menjenguk cucunya.”

“Bukan tak mau, tapi tak bisa. Si Bhambang, kepala kampung, tak memperbolehkannya ke luar rumah. Disuruhnya para hansip mengawal rumah si Polhan, biar tak lari. Alasannya, nanti penyakitnya itu bisa menular ke seluruh kampung.”

Read the rest of this entry »

Cemburu

In All News, Islam, Lapak, Sastra dan Seni on 1 Desember 2008 at 12:07 pm

Dua butir, ah tidak, mungkin lima belas butir peluru bersarang di dadanya.
“Itu bukan tembakan senapan mesin manual tapi otomatis!”
“Sudahlah!” hardikku, “Dia sudah syahid. Ia lebih dulu menemui rasulullah.”
“Apakah rasul menyambutnya di pintu langit, kawan?”
“Pasti! Pasti itu. Tapi kita harus hidup untuk menyampaikan berita gembira ini kepada Hasanah. Mari kuburkan dia. Biarkan darahnya mewangi di dalam liang. Suatu saat dia akan berterima kasih kepada kita karena menguburkan dia bersama bajunya yang penuh darah itu. Engkau tahu, mungkin dia akan berlagak seperti Clint Eastwood di hadapan kita nanti,” kataku bergumam, “Nanti kalau kita pun mati.”
“Hei, aku tak mau mati di tempat tidur. Enak saja dia! Kau berhutang padaku, kawan!” kata dia kepada mayat itu. Jarinya kemudian membelai janggutnya yang tumbuh tipis di dagunya.

Dua orang bertubuh tinggi itu kemudian meninggalkan si mayat. Berjingkat-jingkat mereka meninggalkan arena pertempuran.

Read the rest of this entry »

Kuasa Wanita

In Lapak on 14 September 2008 at 12:07 am

“Tatapan Anda sebagai seorang lelaki sangat nakal,” kata Mariana.
“Ah, aku tak tahu kalau sejauh itu matamu memandang mataku,” kata Wira sambil tersenyum. Dia memainkan keempat jari tangan kanannya di permukaan meja. Mereka berdua sedang duduk di sebuah warung kopi, di pinggir jalan Sudirman yang riuh itu.

“Apa pendapatmu tentang seorang wanita?” tanya Leman.
Mariana mengernyitkan dahinya.
“Seharusnya aku yang menanyakan itu.”
“Hahaha… Aku memang bermaksud mendahuluimu. Toh, tidak ada salahnya.”
“Hhahhhh … I don’t know. Wanita terlalu complicated. Kadang mereka sangat lembut tapi bisa jadi sangat cerewet. Kadang kecantikannya menyembunyikan kelicikan tindakannya. Kadang kehalusan suaranya menyimpan nafsu yang membara…”

“Maksudmu, wanita lebih senang berbohong?”
“Bukan. Hal itu berbeda sekali dengan berbohong. Katakanlah, mereka mempunyai kodrat alami untuk menguasai dunia dengan cara mereka sendiri. Mereka menentukan alam dan tak pernah ingin dikendalikan alam.”
“Everything is about power.”
“No, everything is about woman.”
“Hahaha…hahaha…hahaha…”
“Dan, mereka akan tertidur nyaman di dada lelaki yang hanya tersenyum soal itu.”
“Soal apa?”
“Kuasa wanita.”

(my sleeping beauty)

Alkisah Sebuah Kursi

In Geliat, Lapak, Panggung, Politik, Sastra dan Seni on 24 Maret 2008 at 3:47 pm

Tiba-tiba harga kursi mahal. Seluruh kursi yang ada di Kota Medan berhilangan. Tidak cuma kursi, bangku pun raib. Sangkot dan Wak Labu yang biasa nongkrong di warkop sambil menaikkan kaki di atas bangku, kali ini terpaksa lesehan. Kini, mereka tak lagi duduk di warkop Sudirman, tapi di Warkop Juanda.
Read the rest of this entry »