Arsip

Posts Tagged ‘Esai’

Merdeka

19 Agustus 2009 nirwan 10 komentar

17 Agustus 1945, Indonesia belum punya apa-apa. Hanya sebuah proklamasi oleh hanya dua orang yang mengatasnamakan seluruh rakyat Indonesia, Soekarno dan Hatta. Sebuah bendera, merah dan putih, yang belum disepakati sebagai bendera kebangsaan. Semua terjadi begitu tiba-tiba.

hatta soekarno

Suatu hari, beberapa dari kawan saya, memberi saya catatan penuh sinisme. “Proklamasi hanya untuk pulau Jawa!” kata mereka.

“Tapi Muhammad Hatta yang orang Minang itu?” saya berbalik bertanya.

“Lho, justru itu yang harus dipertanyakan. Mengapa Hatta mau di-fait accomply?” tangkis mereka lagi.

Saya tak meneruskan perdebatan itu. Mereka resah, gundah gulana dan lebih dari 50% kemungkinannya mereka akan tak hendak menerima argumentasi orang lain. Saya, tentu punya pendapat yang berbeda dengan mereka.

* * *

Read more…

Untuk “Seorang” Bayi Berkepala Dua

29 Juli 2009 nirwan 5 komentar

Dia diberitakan wafat kemarin, Selasa 28 Juli 2009. Terhimpit di sesaknya pemberitaan mengenai gugatan Pilpres 2009 ke MK, kasus Flu Babi yang mengemuka dan pemboman JW Marriot/Ritz Carlton milik Amerika dan Eropa. Badrun nama ayahnya, Nurhayati disematkan pada ibunya. Mereka berdua mengaku, sudah menginginkan bayi itu sejak sembilan tahun lamanya. Belum sempat mereka memberi nama, bayi itu telah ditimang Sang Maha Kuasa.

Beruntunglah mereka. Sejatinya, mereka diberikan dua anak sekaligus, dua kepala dalam satu tubuh. Dua kepala manusia itu bersatu, berdempet erat, berpeluk di sebuah ruang yang penuh kasih sayang, ruang yang jauh dari kemunafikan dan suci dari segala kebohongan; jantung dan hati. Seolah-olah tak ingin mereka berpisah walau hidung telah menghirup bumi.

Mereka hanya sempat mencicipi sebentar luapan kerinduan ayah dan bunda. Nantinya, mereka pastilah tak perlu merengek menghamba susu dari ibunya. Mereka tahu, ibunya tak akan ragu untuk bangun jam berapa pun, setiap harinya setiap malamnya. Darah ibunya adalah susu bagi mereka. Mereka juga mafhum, ayah mereka, Badrun, akan selalu melangkahkan kakinya mencari rezeki dalam hamparan luasnya dunia.

Secercah senyum ketika mengandung, seulas kejut saat terlahir, setitik hasrat kala dirawat, bercampur-campur kala tangan Izrail datang menjulur.

* * *

Read more…

Mitos Top si “Noordin”

21 Juli 2009 nirwan 31 komentar

The most wanted person itu bernama Noordin M Top. Disebut-sebut sebagai dedengkot teroris di Indonesia, namanya melegenda dan terus menjadi buah bibir. Selain karena “kinerja” dan jaringannya, hingga sekarang dia tak ketahuan batang hidungnya. Semakin tak tertangkap, namanya justru kian melambung. Tapi gara-gara itu pula, jangan-jangan namanya hanyalah hasil karangan bebas sistem politik keamanan di Indonesia. Benarkah dia (pernah) ada?

* * *

Alkisah, terjadilah sebuah perampokan besar di suatu kota metropolitan di Indonesia. Lebih mengagetkan lagi, yang menjadi korban topadalah kerabat seorang guru besar universitas ternama di kota itu. Guru besar ini dikenal sebagai orang yang lurus dan diketahui pula sebagai orang yang tidak ingin melibatkan diri secara jauh ke dalam kancah politik. Dia berteman dengan seluruh kalangan, pandai menempatkan posisi dan orang-orang menganggap sebagai figur dan tokoh masyarakat yang tidak punya gairah kekuasaan. Dia berhasil tegak dalam posisinya sebagai intelektual yang konon punya garis politik seperti ini: tidak ke mana-mana tapi ada di mana-mana. Kasusnya mengundang simpati dari seluruh, ya hampir seluruh, pihak yang biasanya berseteru di kota ini.

Kepala Kota langsung ke TKP dan seorang kepala polisi daerah tak perlulah mendapat perintah lebih lanjut untuk mengusut tuntas kasus ini secepat-cepatnya. Namun, bisik-bisik politik menyebutkan si kepala polisi ini ketiban target: kalau tak dapat dalam jangka waktu sekian jam, siap-siap saja hengkang dari kota ini.

Read more…

Incredible Hulk dan Kebudayaan Monster

5 Juni 2009 nirwan 3 komentar

“A great civilization is not conquered from without until it has destroyed itself from within.”(Will Durant)

* * *

Bruce Banner (dimainkan oleh Edward Norton) adalah sosok yang lembut namun cerdas. Ia dipekerjakan oleh seorang Jenderal Amerika bernama Jenderal Theddeus Ross (William Hurt) dalam sebuah proyek pembuatan prajurit super bagi tentara Amerika. Ia menjalin kasih dengan anak sang jenderal bernama Betty Ross (Liv Tyler).

Formulasi ditemukan dan Bruce yang terkena efek radiasi gamma harus rela ketika hal itu mengakibatkan dirinya menjadi sebuah makhluk yang tak cuma super tapi juga monster.

Monster berkulit hijau yang ini penuh amarah, yang logika dan perasaannya berada di tahap paling minimal. Yang ada dalam dirinya hanya kekuatan yang harus diledakkan dan dilampiaskan. Alter ego-nya menjadi dominan.

Read more…

Pancasila! Membunuh Ideologi Membunuh

1 Juni 2009 nirwan 9 komentar

Ada yang salah kalau melihat pentas pilpres 2009 ini hanya untuk pertarungan kekuasaan semata. Jusuf Kalla, seorang kandidat, pernah berujar kalau ada pertarungan ideologi yang sedang berlangsung. SBY menjawab, itu tidak benar karena ideologi negara sudah ada yaitu Pancasila. Jadi perdebatan ataupun pertarungan ideologi itu tak perlu dan tak akan ada.

***

gmr

Baru saja saya melihat film yang sebenarnya tak baru lagi, Mummi 3: The Tomb of the Dragon Emperor. Setelah Kaisar Han menguasai kerajaan Cina, kerajaan sekitarnya, dia kemudian menguasai empat elemen dunia yaitu bumi (tanah), air, api dan udara. Dia tak terkalahkan dan dia makin digdaya. Dia lantas maju ke tahap berikutnya, ingin mengalahkan kematian. Dia ingin tetap hidup dan kuat.

Read more…

Prabu Buwono

18 April 2009 nirwan 16 komentar

Jumlah orang Jawa di Indonesia ini mayoritas. Pusat kekuasaan, tempat bermukim para Presiden Indonesia dan ibukota negera, ada di Pulau Jawa. Lebih dari 50% orang Indonesia berdiam di Pulau Jawa, sehingga siapapun yang ingin menguasai Indonesia maka dia harus berkibar-kibar di Pulau Jawa. Segala indikator itu, termasuk yang lain-lain yang mungkin ada di benak Anda, menjadi ukuran kalau Presiden Indonesia haruslah orang Jawa. Itu konvensi alias hukum tak tertulis.

Dus, adalah “kecelakaan sejarah” ketika BJ Habibie, seorang anak kelahiran Pare-pare Sulawesi, tiba-tiba duduk di singgasana istana Indonesia. Kecelakaan itu adalah jalan pikiran orang-orang yang mendukung konvensi “jadi-jadian”: Indonesia harus dipimpin oleh orang Jawa. Masak sih pulau yang jelas-jelas bernama Jawa dipimpin oleh orang Sulawesi?

Habibie hancur lebur pasca 1999. Orang “terpintar” di Indonesia itu tergusur dan tak diingini lagi menjadi Presiden. Setelahnya, trah itu kembali lagi ke rel-nya; Adurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono. Orang Jawa kembali berhasil merebut tahta istana negara.

Read more…

Negeri Penghuni Neraka

15 April 2009 nirwan 10 komentar

Inilah sebuah negeri yang menjadi pembanding dari surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Di negeri inilah, yang di lapis bawah tanah tanahnya, mengalir sungai-sungai minyak dan lorong-lorong gas. Di permukaannya, berjalanlah air-air beserta pasir-pasirnya membawa berkubik-kubik emas. Serta, di lautnya ada mutiara, miliaran ikan nan gratis dan oh, di bawah laut-laut itu masih lagi menunggu bermiliar barel minyak.

Di negeri inilah intan, permata, batu delima dan jamrud tak sekedar pemanis dalam bait-bait pantun para tetua. Catatlah negeri yang kaya raya ini, gemah ripah loh jinawi, baldathun toyyibatun wa rabbun ghafur.

* * *

Catatlah juga di negeri ini, para dokter-dokternya sungguh-sungguh kaya, dan anehnya, pasiennya banyak yang lapar dan bajunya rombeng.

Catatlah karena para pegawai negerinya lebih senang menghamba pejabatnya daripada melayani rakyatnya.

Read more…

Indonesia, Tempat Berlindung Siapa?

27 Maret 2009 nirwan 18 komentar

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap dipuja puja bangsa

Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata

(Indonesia Tanah Pusaka, Ismail Marzuki)

Lagu itu begitu pelan, lembut dan bikin merinding. Diciptakan seorang seniman yang dulu di sekelilingnya terlibat panasnya pertempuran, dentuman senjata, hujan bom, teriakan kesakitan, peluh, darah dan air mata. Namun, masa itu sudah lewat berpuluh-puluh tahun silam. Para pahlawan sudah mati, jasadnya melebur dengan tanah dan nisannya mengharap-harap memori dari mereka yang lewat untuk sekedar membersih-bersihkannya. Mereka sudah mati.

Read more…

Indonesian Slumdog

15 Maret 2009 nirwan 15 komentar

“Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin dan himpunkanlah aku ke dalam golongan orang fakir miskin.” (Muhammad SAW)


* * *

Bernama Jamal Malik, dia adalah seorang yang selalu lurus-lurus saja pandangannya. Hampir saja dia menjadi naif kalau tidak ada abangnya, Salim; seorang yang realitis memandang hidup. Mereka menjadi yatim dan piatu, saat Ibu mereka tewas ketika gerombolan bersenjata tajam dan tumpul menyerbu perkampungan muslim mereka. Kampung mereka, kampung mayoritas muslim di Mumbai, India itu, adalah sebuah perkampungan para “slumdog”. Sudahlah anjing, kumuh pula lagi.

Menarik sekali. Film itu, “Slumdog Millionaire”, seperti yang telah Anda tahu, meraih Oscar dan Golden Globe Award sebagai Film Terbaik 2008. Film yang bercerita soal kemiskinan, terbuang, mempertahankan hidup, nasib, buruknya hukum, kesenjangan sosial di India itu, menjadi jawara setelah dinilai dan ditonton oleh para juri dan masyarakat yang lahir dari bangsa yang kaya, berpendidikan, modern dan maju; Eropa dan Amerika.

Read more…

Sepotong Tumpeng Kala Maulid

10 Maret 2009 nirwan 12 komentar

quranSewaktu kecil, di madrasah kami, Ibtadaiyah Al-Ittihadiyah, setiap maulid nabi Muhammad  selalu dilakukan acara. Ada lomba baca al-quran, azan, tafsir, busana muslim, gerak jalan dan macam-macam. Kalau tidak salah, saya sudah berani ikut-ikutan lomba waktu umur saya tujuh tahun. Saya ikut lomba azan dan baca quran. Saya tak pandai betul melantunkan qiraat, walau ayah saya pernah juara mengaji. Tapi minimal dapatlah juara harapan. Saya tak kebagian piala tapi hadiah buku tulis. Namun, senangnya bukan main.

Kala lomba azan -sudah tabiat saya dan teman-teman sekelas dulu- bukan malah jadi lomba indah-indahan, tapi lomba kuat-kuatan suara. Siapa yang dapat nada paling tinggi, bolehlah agak nyombong dikit sama teman-teman. Tapi tetap yang selalu menang itu namanya Azra’i. Dia ini memang muadzin tetap di mesjid dekat madrasah kami. Suaranya tak pernah melengking, tapi ‘kok rasanya enak betul mendengar lantunan azannya.

Tahun kemarin, saya lewat lagi di depan madrasah itu. Tak besar memang, cuma ada lima ruang kelas. Guru yang dulu mengajar saya tinggal seorang. Guru-guru yang lain umurnya relatif sepantaran saya dan ada juga yang di bawah saya. Sesekali ibu saya pernah mengobati kerinduannya mengajar anak kelas satu. Tapi sesekali saja memang karena beliau sudah pensiun sejak lama. Dia pernah berkata kepada saya begini: “Jadi guru itu sudah darah daging, jadi sebenarnya tak bisa ditinggalkan.”

Read more…

Dedd, y, mi, z, war

28 Februari 2009 nirwan 8 komentar

dedi-mizwarSebelum menulis ini, di benak saya melintas-lintas satu kata: hak. Tapi kemudian, si “hak” ini seperti emoh untuk dituliskan. Seolah-olah dia bergumam kepada saya begini. “Bung, jangan sematkan saya pada sosok Deddy Mizwar. Ini lebih dari itu. Gara-gara Bung, saya nanti tak sanggup lagi bercengkrama dengan kata-kata yang lain. Ini bukan sekedar hak, Bung. Ingat itu!” gumam si “Hak”.

Saya bingung. Kalau lebih dari itu, lalu apa? Apa ada yang lebih tinggi dari hak? Setahu saya, ya, orang-orang sering mengaitkan “hak” itu pada sesuatu yang “tinggi”, seperti sepatu hak tinggi. Ah, makin ngelantur-lah saya. Karena saya gak mau ngelantur sendirian, ya, saya ajaklah rekan-rekan sekalian untuk ngelantur bersama saya. Tenang, Anda masih bisa mengelak ‘kok. Saya kasih tau caranya; jangan baca lagi setelah kalimat ini diakhiri dengan tanda titik.

Read more…

JK-Hidayat, Duh… Akrabnya Golkar dan PKS

26 Februari 2009 nirwan 34 komentar

Kalau Jusuf Kalla dan Hidayat Nur Wahid kawin, siapa yang mau beli? Jawaban yang paling riil ya, para pemilih Golkar dan PKS. Bener gak sih …

ilustrasi ajanya ini

Ya, sudah benarlah itu, tapi yang jadi masalah, apakah suaranya bulat atau tidak. Begini. Hingga sekarang, di Partai Golkar sendiri, ada pertarungan antara Sultan + Akbar Tanjung dan Jusuf Kalla sendiri. Ini terus berkelahi. Nah, kuatnya niat JK maju ke pentas pilpres gara-gara ditodong oleh “seluruh” DPD. Ini sudah jadi fakta sejarah, jadi jangan lupakan faktor ini. Masalahnya, apakah kemudian JK akan didukung oleh DPD-DPD?

Jawaban pastinya sih ada di Rapimnas pasca pemilihan legislatif nanti. Walau, orang-orang JK saat ini terus berkampanye kalau Rapimnas itu nantinya sebenarnya hanya ajang untuk memformalisasi ke-capres-an JK. Tapi, itu ‘kan kata pendukung Kalla. Kalaupun ada orang-orang non JK yang bilang itu, yang patut dilihat adalah “senyum”-nya pasca mengeluarkan komentar itu. Saya tak perlu lagi bilang siapa orang JK, siapa yang bukan. Itu urusan Andalah untuk mencari tahu.

Read more…

Menjadi Sekutu Amerika

24 Februari 2009 nirwan 15 komentar

Hillary Clinton, salah seorang lulusan hukum terbaik Yale University, tersenyum-senyum melihat Indonesia. Indonesia menjadi salah satu negara awal yang dikunjunginya pasca pelantikannya Menteri Luar Negeri Amerika.
* * *

cie ciePerhatikanlah baik-baik, mengapa Indonesia harus didatangi, dan telaah juga pelan-pelan negara-negara yang ada dalam daftar Hillary; Jepang, Korea Selatan dan China . Apa yang bisa Anda duga? Ya, negara-negara itu berada dalam lingkup “negara sekutu Amerika”, minus Cina. Miris? Ya sudah, terima saja. Jusuf Kalla memang sudah mengundang langsung Obama langsung ke Amerika. Dia diterima wapres Amerika, Joe Bidden. Di sana, salah seorang calon presiden Golkar ini, ketawa-ketiwi dengan si Bidden, orang Partai Demokrat itu.

Jadi ada dua persoalan: benarkah Indonesia telah menjadi sekutu Amerika, dan kalau itu benar, apakah untungnya bagi Indonesia?

Read more…

Dua Jenderal

18 Februari 2009 nirwan 15 komentar

soeharto-dan-soekarno

Hanya ada dua jenderal besar di negeri ini: Jenderal Besar Abdul Haris Nasution dan Jenderal Besar Soeharto. Yang pertama putra asli Tapanuli, kelahiran Hutapungkut, Kotanopan, Tapanuli Selatan dan yang satu lagi kelahiran Kemusuk, Yogyakarta.

Kalau latah, keduanya bisa dianggap sebagai poros kekuatan para jenderal, satu jenderal Jawa dan satu jenderal Batak. Kalau lebih latah lagi, keduanya laksana bandul kekuatan antara kekuatan politik pulau Jawa dan luar pulau Jawa (termasuk bagian Timur dan Barat). Nasib keduanya jauh berbeda, yang sama adalah kini keduanya telah almarhum.

Read more…

Raja Inal Siregar

4 Februari 2009 nirwan 4 komentar

… Bagi orang “pusat”, pemekaran tidak diartikan semangat untuk membangun, namun lebih bermakna “penyempitan kekuasaan” …

raja-inal-siregar-1

Langit begitu teriknya, namun mendung sudah menggantung di hati setiap orang di tanah Sumatera Utara ini. Berjalan-jalan di Kota Medan, dari Lapangan Merdeka yang penuh café, hingga Balai Kota yang dibelakangnya membonceng mall yang dibangun oleh orang Singapura, lintasan jalan Raden Saleh, menuju Imam Bonjol, jalan Jenderal Sudirman dan membelok ke jalan Diponegoro. Di sana, megahlah menjulang kantor gubernuran yang lebih satu dasawarsa lalu duduk seorang sosok bernama Letjend Purn H Raja Inal Siregar (almarhum).

Read more…

Dian yang Tak Kunjung Padam

24 Januari 2009 nirwan 11 komentar

Sutan Takdir Alisjahbana adalah masterpiece Indonesia. Dialah yang membuat kalimat itu, sebuah kalimat luar biasa yang hanya bisa keluar dari perenungan mendalam. Atas apa? Atas cinta.

* * *

Palestina adalah hati yang terluka. Sakitnya dirasakan hingga ke Indonesia, ke Sumatera Utara, ke sebuah rumah yang terpaku melihat pembantaian Palestina di sebuah kotak kaca yang hidup. Mengapa kita mesti sakit, merinding, marah, sedih dan menitikkan air mata. Mengapa Michael Hart harus menulis lagu untuk Gaza. Mengapa?

Manusia memang tak pernah paham-paham makna cinta. Dialah misteri yang tak berjawab dan teka-teki tak terungkap.

Seorang ibu tiba-tiba harus menangis ketika anaknya akan diopname di rumah sakit. Seorang istri sekonyong-konyong sumringah ketika suaminya mengetuk pintu dan membawakannya bubur ayam. Seorang anak terbahak-bahak ketika dia bersama ayahnya bermain Downhill di PS 2. Seorang kakek menahan-nahan dengan kuat sesak nafasnya ketika cucunya mengajaknya berlari. What is all about?

Read more…

Obama Dilantik, Para Setan Bertepuk Tangan

20 Januari 2009 nirwan 34 komentar

stupid peopleSuatu saat, tiba-tiba dada saya terasa lapang, tubuh saya menjadi sedikit lebih ringan. Saya merasa, setan-setan yang sebagian ngekos di badan saya, tiba-tiba lenyap. Ada semacam kerinduan, tapi rupanya rasa penasaran lebih tinggi. Saya cari tahu –tak perlulah saya ceritakan bagaimana caranya, yang pasti tak sampai menyewa tim pencari hantu– dan saya dapat informasi dari setan yang kebetulan dapat julukan “setan miskin”. “Teman-teman sedang refreshing. Mereka sedang jalan-jalan ke Amerika, menghadiri pelantikan Barrack Obama,” bisiknya enteng. Sudah kayak Gus Dur saja cara bicara si setan ini.

Karena iman saya tak begitu kuat, saya jelas terpengaruh juga sama bisikan si setan miskin itu.
“Loh, kok Anda ‘gak berangkat?”
“Lha saya ‘kan setan miskin. ‘Gak ada ongkos.”
“Kan bisa terbang sendiri?”
“Males, ah. Emang sekarang zamannya Gatotkoco?! Wong Clark Kent aja pergi kemana-mana naik pesawat, naik mobil, ‘kok. Sori Bung, saya bokek, gak ada ongkos.”

Read more…

Mereka Iri Kepada Islam

13 Januari 2009 nirwan 21 komentar

Orang di luar Islam itu, ngeri betul melihat Islam itu bersatu. Bagi mereka-mereka ini, Islam itu adalah suatu keindahan karena itu pula tak seharusnya umat Islam itu juga indah. Di pikiran mereka mungkin begini, “Manalah tahu, kalau jelek umat islam itu maka jelek pulalah Islam itu, jadi marilah kita jelekkan tampang umat Islam.”

Jadi, orang di luar Islam itu sebenarnya telah sangat-sangat terbius candu Islam sehingga mereka melihat Islam itu laksana semut mengelilingi gula. Seharusnya mereka paham, karena candu itu pula, umat Islam terlalu sibuk mengurusi agamanya sendiri sehingga tak sempat mengurusi agama lain. Bagi orang Islam, pekerjaan di dunia Islam itu sangat-sangatlah banyak, luas dan panjang. Jadi, umat Islam itu lebih disibukkan oleh “fastabiq al-khairat”, berlomba-lomba menuju akhirat, menuju kebaikan.

Non muslim akan sangat-sangat iri dengan agama ini, siapa pun itu. Mereka iri karena Islam ternyata punya surga untuk diperebutkan, mereka iri karena kematian dalam Islam rupanya menjadi pintu bagi kenikmatan hidup di hari akhir, sehingga sekaligus menjadi pintu bagi surga yang dinanti-nantikan itu. Bukan hanya satu, dua, tiga atau empat, kawan, tapi tujuh sekaligus. Tuhan sangat kasih dan sangat sayang kepada Islam, sehingga untuk mereka, disediakanlah tujuh surga sekaligus!

Read more…

Tuhan yang Tercecer

22 Desember 2008 nirwan 16 komentar

Apa yang dapat aku lakukan, wahai ummat Muslim?
Aku tidak mengetahui diriku sendiri.
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi,
bukan Majusi, bukan Islam.
Bukan dari Timur, maupun Barat.
Bukan dari darat, maupun laut.
Bukan dari Sumber Alam,
bukan dari surga yang berputar,
Bukan dari bumi, air, udara, maupun api;
Bukan dari singgasana, penjara, eksistensi, maupun makhluk;
Bukan dari India, Cina, Bulgaria, Saqseen;
Bukan dari kerajaan Iraq, maupun Khurasan;
Bukan dari dunia kini atau akan datang:
surga atau neraka;
Bukan dari Adam, Hawa,
taman Surgawi atau Firdaus;
Tempatku tidak bertempat,
jejakku tidak berjejak.
Baik raga maupun jiwaku: semuanya
adalah kehidupan Kekasihku …

(Aku Adalah Kehidupan Kekasihku karya Jalaluddin Rumi
copy dari artikel buku “Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma’rifat” oleh Idries Shah)

Read more…

Liga Champions Eropa 2009, Duit adalah Segalanya

19 Desember 2008 nirwan 19 komentar

UEFA makin kaya. Di tengah krisis, sepakbola Eropa adalah mesin uang yang paling cepat geraknya. Adalah undian Liga Champion yang dilakukan hari ini menjadi indikatornya.

Manchester United vs Intermilan, Real Madrid vs Liverpool, Juventus vs Chelsea, AS Roma vs Arsenal, Barcelona vs Lyon, Bayern Munich vs Sporting Lisbon, Villareal vs Panthinaikos. UEFA pun tertawa.

Sponsor bakal makin gila, karena tontontan ini tak mungkin dilewatkan oleh pencinta bola bersama pacar dan istri/suaminya, anak-anaknya, kakeknya, bapak/ibunya, tetangganya, temannya, dosen dan guru-gurunya, ataupun orang-orang yang tidak dikenalnya. Bayangkanlah berapa miliar pasang mata yang akan menatap dan pebisnis pasti tahu, pasti tahu, pasti tahu.

Saya lagi malas menghitung-hitung berapa duit yang dikeluarkan, dan saya pun sedang malas menanyai mbah google. Di koran tempat saya bekerja, saya dulu pernah menulis soal pusaran duit yang beredar sepanjang Piala Eropa, jadi bagi saya tak asyik lagi. Yang pasti, miliaran Euro-lah.

Read more…