Ekonomi, ideologi, indonesia, kapitalisme, pancasila, pilpres, Politik, presiden, reformasi, SBY, sosialisme
In All News, Ekonomi, Politik on 6 Juni 2009 at 4:47 pm
Dalam sebuah acara di televisi, “Capres Bicara” di Trans TV, SBY terang menyebut “ideologi ekonomi politik”-nya dengan “jalan tengah”. Dia membenturkan dua kubu bertolak belakang sekaligus: sosialisme di satu sisi dan kapitalisme di sisi yang lainnya. Dia mengatakan ekonomi komando yang –konon- dipegang teguh oleh sosialisme maupun sistem pasar bebas ala kapitalisme, sama-sama tak bisa diterapkan di Indonesia. Tapi hal-hal positifnya tetap ada.
Dalam perjalanan ideologi di Indonesia, yang dikatakan SBY ini jelas sungguh berbahaya. Kalau dia mengambil hal positif dari sosialisme, maka amat patut diduga sosialisme telah diterapkan dalam kebijakan negara. Padahal ada TAP MPRS No. XXV/1966 yang sudah melarang paham itu.
Pertama, lontaran seorang Presiden yang mengatakan ekonomi jalan tengah di antara dua kutub itu, jelas sekali telah mengambil sisi-sisi “positif” dari ideologi sosialisme dan kapitalisme. Bila dipertentangkan dengan ketentuan yang ada di ideologi negara Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945, maka tidak satupun ketentuan yang menyinggung-nyinggung soal sosialisme dan kapitalisme.
Setahu saya, ekonomi kita yang berdasarkan ideologi Pancasila jelas bukan hasil jalan tengah ataupun kompromi dari dua ideologi; sosialisme-kapitalisme. Tidak ada yang mengatakan itu, baik orang sekarang maupun para founding father kita. Ir Soekarno telah terang-terang mengatakan, Pancasila lahir dari bumi Indonesia dan dicetuskan oleh orang-orang Indonesia sendiri. So, kalau tiba-tiba seorang kepala negara memuja sisi positif dari sosialisme maka patut diduga ada hal-hal yang sangat membingungkan dari sisi hukum akan soal itu.
Saya juga tak mengerti, apakah ia ingin mengatakan bahwa perlindungan sosial kepada masyarakat dan pengendalian negara terhadap ekonomi pada ukuran tertentu, dia ambil dari ideologi sosialisme?
Ataukah dia ingin mengatakan bahwa adanya pasar bebas di Indonesia ini, dia tarik dari ideologi kapitalisme?
***
Read the rest of this entry »
demokrasi, Esai, ideologi, indonesia, jenderal, Politik, presiden
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik on 1 Juni 2009 at 2:17 pm
Ada yang salah kalau melihat pentas pilpres 2009 ini hanya untuk pertarungan kekuasaan semata. Jusuf Kalla, seorang kandidat, pernah berujar kalau ada pertarungan ideologi yang sedang berlangsung. SBY menjawab, itu tidak benar karena ideologi negara sudah ada yaitu Pancasila. Jadi perdebatan ataupun pertarungan ideologi itu tak perlu dan tak akan ada.
***

Baru saja saya melihat film yang sebenarnya tak baru lagi, Mummi 3: The Tomb of the Dragon Emperor. Setelah Kaisar Han menguasai kerajaan Cina, kerajaan sekitarnya, dia kemudian menguasai empat elemen dunia yaitu bumi (tanah), air, api dan udara. Dia tak terkalahkan dan dia makin digdaya. Dia lantas maju ke tahap berikutnya, ingin mengalahkan kematian. Dia ingin tetap hidup dan kuat.
Read the rest of this entry »
apindo, artikel, Demokrat, golkar, ideologi, indonesia, PAN, parpol, pdip, pemilu, PKS, Politik, PPP, reformasi
In All News, Ekonomi, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik on 17 Februari 2009 at 9:22 pm
“ … Partai lain tak menakutkan bagi Golkar. Pakem tritomi ideologi: nasionalis, kekaryaaan, dan Islam, telah menjamin itu semua. Partai-partai Islam akan berkelahi di ladang sempit. Di ideologi nasionalis, siapa yang bisa menandingi PDIP? Nah, siapa pula yang bisa menggeser Golkar dari ideologi yang nyata-nyata berdasar dari namanya sendiri, kekaryaan? …. “

Read the rest of this entry »
, ideologi, indonesia, iran, Islam, shari'ati, ulama
In Islam on 19 Desember 2007 at 4:51 am
“I have no religion, but if I were to choose one, it would be that of Shariati’s.”
Jean-Paul Sartre
* * *
Ini versi Dr Mukhtar Effendy Harahap (seorang intelektual dari Universitas Gajah Mada) yang dikatakan langsung kepada saya soal kandungan buku Tugas Cendekiawan Muslim karangan Ali Shari’ati . Menurutnya, ada empat tipikal manusia, terutama dan dikhususkan pada manusia Islam, yang membuatnya berbeda dengan manusia-manusia lainnya.
Tipikal pertama adalah ilmuwan. Seorang manusia mesti mencari tahu soal kehidupan dan alam semesta dalam serangkaian penelitian ilmiah. Ilmu pengetahuan menjadi prasyarat pertama sebelum seorang manusia dikatakan sebagai manusia. Ia berbicara tidak hanya berlandaskan asumsi-asumsi, praduga-praduga subjektif, dan emosional belaka, tapi berdasarkan bukti-bukti kongkret melalui serangkaian metode keilmuan. Ia belajar mulai dari dasar, dari ketidaktahuannya akan sesuatu dan kemudian menjadi tahu akan sesuatu.
Read the rest of this entry »
ideologi, Islam, kekuasaan, muhammadiyah, rakyat
In Islam, Kebudayaan, Politik on 8 Desember 2007 at 3:40 am
oleh Dr Haedar Nashir
(Pengurus PP Muhammadiyah)
* * *
Kenapa para Nabiyullah ternama bergelar Al-Amin? Sosok yang sangat tepercaya. Nabi Muhammad diberi predikat al-amin jauh sebelum diangkat sebagai Rasul, ketika berhasil mempersatukan elite dan kabilah Quraisy yang berselisih tatkala membangun Ka’bah. Putra Abdullah bin Abdul Muthalib itu telah menjadi figur baru yang memberikan harapan cerah bagi masyarakat Arab, kendati di belakang hari harus berhadapan dengannya karena membawa agama baru, Islam.
Read the rest of this entry »