Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Islam’
ayat, berbuka, debat, iman, Islam, keyakinan, ramadhan
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Lapak on 26 Agustus 2009 at 7:52 pm
Waktu memang sungguh nakal. Gara-gara waktu, terjadilah perdebatan, mungkin serius, mungkin juga tidak. Suatu saat diputuskanlah berbuka pada pukul 18.36. Tentulah setiap arloji tak sama. Ada yang berbuka duluan ada juga yang belakangan. “Duluan” dan “belakangan” ini kita kutipkan saja, karena itu ‘kan persepsi saya.
Yang duluan berkata, “Sesuai arloji yang sudah melingkar di pergelangan saya sejak muda, sudah waktunya berbuka. Saya tak salah, kalian yang salah.”
Yang belakangan menjawab, “Mungkin suatu kala pernah baterai jammu mengulah dan terlambat. Itu bukan tak mungkin, bukan? Jangan dulu salahkah orang lain. Mungkin saja, kami yang benar.”
Yang duluan berbuka berdebat dengan mulut mengunyah, sementara yang belakangan, tentu belum mengunyah. Yang belakangan ternyata ingin mengikuti waktu berbuka yang dimiliki oleh televisi. Setelah tivi menayangkan beduk, barulah yang belakangan mendebat lagi yang duluan tadi. Kini kedua mulut mereka sama-sama mengunyah.
Perdebatan semakin panas, bahkan sudah saling tuding. Ada pula yang sudah membawa-bawa ayat-ayat, di antaranya “Segerakanlah berbuka”. Tapi ada pula yang bilang begini, “Lebih cepat lebih baik.”
Muncullah seorang yang mencoba arif alias bijaksana. “Berbukalah sesuai dengan keyakinan masing-masing. Yang berbuka lebih dulu pasti ada dasarnya, dan kebalikannya, tentu yang belakangan tak begitu saja menunggu kalau tak punya alasan pasti. Jadi, sesuai dengan keyakinan masing-masing saja.”
Ah, ada pula yang menyeletuk dari belakang perdebatan itu. “Ternyata, walau kita sama-sama Islam, keyakinan kita tak sama.” (*)
fatwa MUI, haram, indonesia, Islam, negara, orang miskin, pengemis, ramadhan
In All News, Ekonomi, Esai, Islam, Kebudayaan on 25 Agustus 2009 at 7:55 pm
Namanya tersebut sebagai Abu Dzar Al-Ghifar. Ia berteman dengan Salman Al-Farisi. Keduanya datang dari belahan wilayah di luar kota suci Makkah Al-Mukarramah. Satu dari suku bangsa Ghifar, suku nomaden yang punya tabiat merampok kabilah-kabilah. Dan yang terakhir disebutkan, berasal dari belahan bumi yang punya peradaban yang banyak ditulis bangsa-bangsa Eropa, Persia.
Sejak kecil, kedua orang ini diberitahu melalui ustadz-ustadz saya dengan kategori orang-orang yang kukuh pendirian, punya sikap dan cerdas. Abu Dzar punya kekhasan sebagai pelindung dan pembela orang miskin, yatim dan lemah. Seakan-akan kata “mustadha’afin “ itu sudah melekat erat dengan dirinya. Sementara Salman, diberitakan sebagai orang yang lurus, jujur dan cerdas.
Saya membayangkan seandainya Abu Dzar masih hidup dan kemudian mendengar fatwa sebagian ulama Indonesia yang mengharamkan “pengemis”. Apakah yang akan terjadi?
* * *
Read the rest of this entry »
berbuka, Islam, kurma, muhammad, puasa, ramadhan
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan on 24 Agustus 2009 at 8:41 pm
Berbukalah dengan yang manis. Betul? Betul, dan itu betul-betul betul. Nabi suka kurma? Betul, dan itu betul-betul betul. Apakah kemudian kurma identik dengan yang manis-manis? Betul sebagian, sebagian lagi tidak. Apakah kemudian menjadi sunnah berbuka dengan kurma? Betul, tapi hanya separuh, separuh yang lain mungkin saja tidak.
Ketika nabi diikuti sikap dan perilakunya, maka itu adalah sunnah. Dan untuk itu, maka kurma bisa jadi menjadi pahala tersendiri bagi orang yang memakannya ketika berbuka. Namun saya juga membayangkan ketika berbuka di suatu daerah yang sama sekali tidak kenal dengan kurma. Kalau “sunnah” itu diberlakukan, maka akan terjadi “ketidakadilan sunnah”. Bagaimana mungkin saya mendapatkan pahala kalau saya tidak menemukan kurma?
Karena itu, “berbuka dengan manis” menjadi sandaran keduanya. Dia lebih lentur. Itu artinya, makanan halal yang rasanya manis, akan mendapatkan predikat “sunnah”. Dan mengikuti sunnah sudah jelas pahala.
Tapi untuk itu pun, ukurannya masih akan tetap ada. Bagaimana seandainya ketika Anda suatu saat berbuka dan tidak tersedia makanan yang manis-manis? Apakah Anda akan kehilangan pahala “sunnah”? Apakah nabi akan setega itu?
Read the rest of this entry »
agama, bayi, Esai, Islam, Kebudayaan, tuhan
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik, Sastra dan Seni on 29 Juli 2009 at 8:26 pm
Dia diberitakan wafat kemarin, Selasa 28 Juli 2009. Terhimpit di sesaknya pemberitaan mengenai gugatan Pilpres 2009 ke MK, kasus Flu Babi yang mengemuka dan pemboman JW Marriot/Ritz Carlton milik Amerika dan Eropa. Badrun nama ayahnya, Nurhayati disematkan pada ibunya. Mereka berdua mengaku, sudah menginginkan bayi itu sejak sembilan tahun lamanya. Belum sempat mereka memberi nama, bayi itu telah ditimang Sang Maha Kuasa.
Beruntunglah mereka. Sejatinya, mereka diberikan dua anak sekaligus, dua kepala dalam satu tubuh. Dua kepala manusia itu bersatu, berdempet erat, berpeluk di sebuah ruang yang penuh kasih sayang, ruang yang jauh dari kemunafikan dan suci dari segala kebohongan; jantung dan hati. Seolah-olah tak ingin mereka berpisah walau hidung telah menghirup bumi.
Mereka hanya sempat mencicipi sebentar luapan kerinduan ayah dan bunda. Nantinya, mereka pastilah tak perlu merengek menghamba susu dari ibunya. Mereka tahu, ibunya tak akan ragu untuk bangun jam berapa pun, setiap harinya setiap malamnya. Darah ibunya adalah susu bagi mereka. Mereka juga mafhum, ayah mereka, Badrun, akan selalu melangkahkan kakinya mencari rezeki dalam hamparan luasnya dunia.
Secercah senyum ketika mengandung, seulas kejut saat terlahir, setitik hasrat kala dirawat, bercampur-campur kala tangan Izrail datang menjulur.
* * *
Read the rest of this entry »
boediono, demokrasi, indonesia, Islam, JK, parpol, pemilu, pilpres, Politik, prabowo, presiden, reformasi, SBY
In All News, Islam, Politik on 24 Juni 2009 at 2:24 pm
Prabowo sepakat dengan Boediono soal posisi agama dan politik. Sekuler menjadi tipikal keduanya dan dengan kekhususan meletakkan agama lebih tinggi dari politik (negara).
Yang jelas, bagi mereka, harus ada pemisahan yang tegas antara agama dan politik. Sementara Wiranto justru berani menarik agama langsung ke dalam politik, walaupun masih dalam level substansial dan belum ke legal formal.
Ini soal menarik. Jawaban ketiga kandidat telah menerangkan siapa mereka sebenarnya. Boediono berpijak pada dirinya yang seorang pekerja karir, intelektual dan bukannya seorang politisi. Sedangkan dua lainnya mengetahui dengan jelas kalau status yang mereka sandang sekarang adalah politisi. Itu bukan berarti Prabowo-Wiranto tidak intelektual. Namun jawaban yang mereka berikan jelas mengarah pada kontekstualisasi dinamika politik yang ada di Indonesia. Dalam kasus ini, maka etalase politik pilpres justru menarik.
Read the rest of this entry »
boediono, demokrasi, Ekonomi, indonesia, Islam, kolonialisme, liberalisme, Politik, presiden, reformasi, SBY
In All News, Ekonomi, Islam, Politik on 18 Mei 2009 at 2:09 pm
Ini kata guru saya. SBY dengan jeli memanfaatkan resistensi masyarakat terhadap partai politik dalam pencalonan Boediono sebagai calon wakilnya. Kedua, SBY dan timnya membikin semacam pertentangan baru terhadap jalur politik Islam yang selama ini masih konvensional; Islam simbolik. Itu di antara indikator pemilihan Boediono yang bukan orang parpol maupun organisasi keagamaan.
Pemilihan Boediono sekali lagi meyakinkan publik kalau selama ini SBY tetap sangat setia pada kubu ekonom-ekonom neoliberalisme. Lebih parah dari itu adalah ancaman-ancaman neo-kapitalis dan secara sadar atau tak sadar, geranyangan neo-kolonialisasi yang berganti baju di abad millieneum ini. Sementara, Boediono dalam pidato dan kemudian diperkuat dengan statemen-statemen timnya di media massa, terus membantah kalau Boediono adalah budaknya neo-liberalisme.
Read the rest of this entry »
boediono, demokrasi, indonesia, Islam, pilpres, Politik, presiden, reformasi, SBY
In All News, Ekonomi, Islam, Kebudayaan, Politik on 16 Mei 2009 at 7:18 pm
Masuknya nama Boediono di pentas pilpres 2009, memperlihatkan betapa SBY memanfaatkan resistensi masyarakat terhadap partai-partai politik. Kedua, leburnya politik Islam simbol dalam peta politik Indonesia. Itu dua di antara faktar-faktor yang membuat SBY memilih Boediono. Dan, itu kata guru saya.
Alasan itu memang menarik. Politik Islam memang harus kalah sebelum bertarung kali ini. Kubu partai Islam seperti PPP, PKS, PAN dan PKB memang langsung pasang badan ke SBY begitu hasil pileg sudah diketahui. Kekalahan itu jelas tergambar ketika tidak adanya simbol Islam yang duduk sebagai kandidat dalam pilpres kali ini. Kemenangan terpampang di kubunya kaum “nasionalis” dan “kekaryaan”.
Tapi tunggu dulu. Itu kalau mainstream politik lama masih hendak dipakai untuk melihat pola politik di masa reformasi ini. Pilpres 2009 telah menggambarkan ada pergeseran etalase politik yang begitu kuat. Apakah pergeseran itu sebuah kemajuan atau kemunduran, mesti hati-hati juga melihatnya.
Read the rest of this entry »
boediono, indonesia, Islam, Kebudayaan, Politik, presiden, SBY, tuhan
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik on 13 Mei 2009 at 2:39 pm
Walau kening mengernyit-ngernyit, SBY (konon) akan menetapkan Boediono pada 15 Mei mendatang. Kalaulah benar SBY telah melakukan istikharah dan kalaulah nama Boediono itu hasil istikharah yang dilakukan SBY, saya hanya mengucapkan Tuhan telah memilih calon yang cocok untuk dirinya. Dalam kepala saya menghayal-hayal, mungkin seperti ini jawaban dari Tuhan; “Inilah kawan yang pantas untukmu. Inilah jawabanku untukmu!”
Saya sungguh percaya akan Tuhan saya, dan kali ini pun Tuhan telah memberikan jawaban yang sungguh-sungguh “menarik” atas apa yang dilakukan SBY selama kurun 5 tahun dan sebelum-sebelumnya. Soal pasangan ini akan menang atau tidak di lima tahun ke depan atau malah jatuh ke jurang kehancuran pada Juli nanti, bukan porsi postingan ini.
* * *
Saya teringat pada sebuah cerita mantan Presiden, Abdurrahman Wahid, kala dia masih bersekolah di Timur Tengah dan waktu itu pulang ke Indonesia. Di sebuah rumah ibadah, entah bagaimana caranya dia mendengar seorang pelacur memanjatkan doanya kepada Tuhan. Si pelacur itu berdoa agar “dagangannya” laris. Gus Dur kemudian menuliskan, kebutuhan dan kepentingan setiap manusia kepada Tuhannya berbeda-beda.
Read the rest of this entry »
demokrasi, indonesia, Islam, pemilu, Politik, presiden, reformasi, SBY, tuhan
In All News, Islam, Kebudayaan, Politik on 11 Mei 2009 at 8:05 pm
SBY dikabarkan akan shalat istikharah kala menentukan siapa calon wakilnya. Saya mengernyitkan kening. Benar-benar mengernyitkan. Masak sih?
Untuk yang non muslim, saya kira harus diberitahu juga fungsi shalat istikharah itu apa. Itu shalat yang dilakukan untuk menentukan pilihan. Artinya, si pelaku bertanya langsung kepada Tuhan apa yang harus dipilihnya. Jawabannya nanti akan diberikan. Kalau kata ustadz-ustadz saya, nanti Tuhan akan memberikan jawaban dalam bentuk kecenderungan si pelaku tadi. artinya, kalau setelah istikharah tadi, si pelaku ternyata lebih cenderung memilih A, maka itu adalah “jawaban” Tuhan.
Dalam logika rasional biasa, itu bisa saja dinamakan persangkaan atas jawaban Tuhan. Karena di balik “jawaban” itu, ada kemungkinan lain yang juga menggoda: “jangan-jangan bukan itu pula jawaban dari Tuhan.”
Read the rest of this entry »
Esai, indonesia, Islam, jawa, Kebudayaan, pilpres, Politik, presiden
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik on 18 April 2009 at 10:46 pm
Jumlah orang Jawa di Indonesia ini mayoritas. Pusat kekuasaan, tempat bermukim para Presiden Indonesia dan ibukota negera, ada di Pulau Jawa. Lebih dari 50% orang Indonesia berdiam di Pulau Jawa, sehingga siapapun yang ingin menguasai Indonesia maka dia harus berkibar-kibar di Pulau Jawa. Segala indikator itu, termasuk yang lain-lain yang mungkin ada di benak Anda, menjadi ukuran kalau Presiden Indonesia haruslah orang Jawa. Itu konvensi alias hukum tak tertulis.
Dus, adalah “kecelakaan sejarah” ketika BJ Habibie, seorang anak kelahiran Pare-pare Sulawesi, tiba-tiba duduk di singgasana istana Indonesia. Kecelakaan itu adalah jalan pikiran orang-orang yang mendukung konvensi “jadi-jadian”: Indonesia harus dipimpin oleh orang Jawa. Masak sih pulau yang jelas-jelas bernama Jawa dipimpin oleh orang Sulawesi?
Habibie hancur lebur pasca 1999. Orang “terpintar” di Indonesia itu tergusur dan tak diingini lagi menjadi Presiden. Setelahnya, trah itu kembali lagi ke rel-nya; Adurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono. Orang Jawa kembali berhasil merebut tahta istana negara.
Read the rest of this entry »
Esai, film, indonesia, Islam, Kebudayaan, miskin, muhammad, Politik
In All News, Ekonomi, Esai, IPTEK, Islam, Kebudayaan, Lapak, Politik, Sastra dan Seni, luar negeri on 15 Maret 2009 at 12:11 am
“Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin dan himpunkanlah aku ke dalam golongan orang fakir miskin.” (Muhammad SAW)
* * *
Bernama Jamal Malik, dia adalah seorang yang selalu lurus-lurus saja pandangannya. Hampir saja dia menjadi naif kalau tidak ada abangnya, Salim; seorang yang realitis memandang hidup. Mereka menjadi yatim dan piatu, saat Ibu mereka tewas ketika gerombolan bersenjata tajam dan tumpul menyerbu perkampungan muslim mereka. Kampung mereka, kampung mayoritas muslim di Mumbai, India itu, adalah sebuah perkampungan para “slumdog”. Sudahlah anjing, kumuh pula lagi.
Menarik sekali. Film itu, “Slumdog Millionaire”, seperti yang telah Anda tahu, meraih Oscar dan Golden Globe Award sebagai Film Terbaik 2008. Film yang bercerita soal kemiskinan, terbuang, mempertahankan hidup, nasib, buruknya hukum, kesenjangan sosial di India itu, menjadi jawara setelah dinilai dan ditonton oleh para juri dan masyarakat yang lahir dari bangsa yang kaya, berpendidikan, modern dan maju; Eropa dan Amerika.
Read the rest of this entry »
budaya, Esai, indonesia, Islam, Kebudayaan, madrasah, maulid, medan, muhammad, seni
In All News, Esai, Geliat, Islam, Kebudayaan, Lapak, Sastra dan Seni on 10 Maret 2009 at 8:52 pm
Sewaktu kecil, di madrasah kami, Ibtadaiyah Al-Ittihadiyah, setiap maulid nabi Muhammad selalu dilakukan acara. Ada lomba baca al-quran, azan, tafsir, busana muslim, gerak jalan dan macam-macam. Kalau tidak salah, saya sudah berani ikut-ikutan lomba waktu umur saya tujuh tahun. Saya ikut lomba azan dan baca quran. Saya tak pandai betul melantunkan qiraat, walau ayah saya pernah juara mengaji. Tapi minimal dapatlah juara harapan. Saya tak kebagian piala tapi hadiah buku tulis. Namun, senangnya bukan main.
Kala lomba azan -sudah tabiat saya dan teman-teman sekelas dulu- bukan malah jadi lomba indah-indahan, tapi lomba kuat-kuatan suara. Siapa yang dapat nada paling tinggi, bolehlah agak nyombong dikit sama teman-teman. Tapi tetap yang selalu menang itu namanya Azra’i. Dia ini memang muadzin tetap di mesjid dekat madrasah kami. Suaranya tak pernah melengking, tapi ‘kok rasanya enak betul mendengar lantunan azannya.
Tahun kemarin, saya lewat lagi di depan madrasah itu. Tak besar memang, cuma ada lima ruang kelas. Guru yang dulu mengajar saya tinggal seorang. Guru-guru yang lain umurnya relatif sepantaran saya dan ada juga yang di bawah saya. Sesekali ibu saya pernah mengobati kerinduannya mengajar anak kelas satu. Tapi sesekali saja memang karena beliau sudah pensiun sejak lama. Dia pernah berkata kepada saya begini: “Jadi guru itu sudah darah daging, jadi sebenarnya tak bisa ditinggalkan.”
Read the rest of this entry »
agama, batak, belanda, indonesia, Islam, Kebudayaan, kolonial, kristen, m said, medan, negara, siregar, sisingamaraja, sumut, tapanuli, waspada
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik, Sastra dan Seni on 4 Maret 2009 at 9:58 pm
Saya membongkar-bongkar lagi dokumen yang ada pada saya dan mata saya tertumbuk pada artikel ini, ”Mohammad Said di Antara Ilmuan Sosial” ditulis oleh Shohibul Anshor Siregar. Saya baca ulang lagi dan saya langsung mengontak beliau dan meminta izin agar tulisan ini bisa diposting di blog saya. Beliau tertawa dan berujar, ”Up to you.”

Shohibul Anshor Siregar adalah seorang sosiolog Medan lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM). Dia ini salah seorang cendekiawan muslim yang dulunya diceritakan orang sempat dicegah agar tak lagi pulang ke Medan, Sumut, dari Pulau Jawa. Saya mendapat cerita kalau karir intelektual dan ”politik”-nya akan sangat “cerah” kalau dia tetap bertahan di sana. Maklum, sebelum ke sana, dia mantan Ketua Umum DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sumut tahun 1980-an. Dia ditarik-ditarik untuk masuk ke partai politik, namun hingga kini dia tetap memilih sebagai Dosen PNS di Kopertis Wilayah I Sumut-NAD. Seingat saya, hingga kini, dialah peneliti sosiologi politik yang terus konsisten berada di garis intelektual. Di blog ini, profil dia pernah juga saya postingkan. Orangnya sangat sederhana dan selalu tergelak. Ada yang latah menyebut, dia ini ”sosialis”. Tapi saya tak percaya.
Ini tulisannya.
Read the rest of this entry »
budaya, deddy mizwar, demokrasi, Esai, indonesia, Islam, jenderal, naga bonar, Politik, presiden, reformasi, seni
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Lapak, Politik, Sastra dan Seni on 28 Februari 2009 at 11:09 pm
Sebelum menulis ini, di benak saya melintas-lintas satu kata: hak. Tapi kemudian, si “hak” ini seperti emoh untuk dituliskan. Seolah-olah dia bergumam kepada saya begini. “Bung, jangan sematkan saya pada sosok Deddy Mizwar. Ini lebih dari itu. Gara-gara Bung, saya nanti tak sanggup lagi bercengkrama dengan kata-kata yang lain. Ini bukan sekedar hak, Bung. Ingat itu!” gumam si “Hak”.
Saya bingung. Kalau lebih dari itu, lalu apa? Apa ada yang lebih tinggi dari hak? Setahu saya, ya, orang-orang sering mengaitkan “hak” itu pada sesuatu yang “tinggi”, seperti sepatu hak tinggi. Ah, makin ngelantur-lah saya. Karena saya gak mau ngelantur sendirian, ya, saya ajaklah rekan-rekan sekalian untuk ngelantur bersama saya. Tenang, Anda masih bisa mengelak ‘kok. Saya kasih tau caranya; jangan baca lagi setelah kalimat ini diakhiri dengan tanda titik.
Read the rest of this entry »
demokrasi, Esai, golkar, indonesia, Islam, JK, pilpres, PKS, Politik, presiden, reformasi
In All News, Esai, Islam, Politik on 26 Februari 2009 at 10:38 pm
Kalau Jusuf Kalla dan Hidayat Nur Wahid kawin, siapa yang mau beli? Jawaban yang paling riil ya, para pemilih Golkar dan PKS. Bener gak sih …

Ya, sudah benarlah itu, tapi yang jadi masalah, apakah suaranya bulat atau tidak. Begini. Hingga sekarang, di Partai Golkar sendiri, ada pertarungan antara Sultan + Akbar Tanjung dan Jusuf Kalla sendiri. Ini terus berkelahi. Nah, kuatnya niat JK maju ke pentas pilpres gara-gara ditodong oleh “seluruh” DPD. Ini sudah jadi fakta sejarah, jadi jangan lupakan faktor ini. Masalahnya, apakah kemudian JK akan didukung oleh DPD-DPD?
Jawaban pastinya sih ada di Rapimnas pasca pemilihan legislatif nanti. Walau, orang-orang JK saat ini terus berkampanye kalau Rapimnas itu nantinya sebenarnya hanya ajang untuk memformalisasi ke-capres-an JK. Tapi, itu ‘kan kata pendukung Kalla. Kalaupun ada orang-orang non JK yang bilang itu, yang patut dilihat adalah “senyum”-nya pasca mengeluarkan komentar itu. Saya tak perlu lagi bilang siapa orang JK, siapa yang bukan. Itu urusan Andalah untuk mencari tahu.
Read the rest of this entry »
aidit, batak, Esai, indonesia, Islam, jenderal, kristen, militer, nasution, panjaitan, PKI, Politik, presiden, reformasi, tapanuli
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik on 18 Februari 2009 at 11:29 pm

Hanya ada dua jenderal besar di negeri ini: Jenderal Besar Abdul Haris Nasution dan Jenderal Besar Soeharto. Yang pertama putra asli Tapanuli, kelahiran Hutapungkut, Kotanopan, Tapanuli Selatan dan yang satu lagi kelahiran Kemusuk, Yogyakarta.
Kalau latah, keduanya bisa dianggap sebagai poros kekuatan para jenderal, satu jenderal Jawa dan satu jenderal Batak. Kalau lebih latah lagi, keduanya laksana bandul kekuatan antara kekuatan politik pulau Jawa dan luar pulau Jawa (termasuk bagian Timur dan Barat). Nasib keduanya jauh berbeda, yang sama adalah kini keduanya telah almarhum.
Read the rest of this entry »
demokrasi, fatwa, haram, indonesia, Islam, MUI, Politik, reformasi
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik on 3 Februari 2009 at 8:56 pm
Ada pemikiran positif soal fatwa haram golput oleh MUI. Fatwa itu– terlepas dari benar atau tidak, betul atau salahnya metode yang digunakan– diasumsikan dapat membuat tingkat representasi umat muslim dan suara Islam akan tidak terbuang seluruhnya. Dengan bahasa yang lebih “kasar”, MUI berkepentingan agar suara umat Islam tidak kosong dan akan mengakibatkan turunnya suara partai-partai Islam dalam parlemen. Dihubungkan dengan sistem suara terbanyak pasca putusan Mahkamah Konstitusi, maka adalah hal yang patut dipikirkan pula bagaimana nasib wakil-wakil rakyat yang membawa kepentingan dan aspirasi umat Islam nantinya, terlepas dia dari partai apa. Fatwa MUI jelas ditujukan untuk menyelamatkan suara wakil rakyat beragama Islam dan partai-partai berasaskan Islam.

Read the rest of this entry »
fatwa, golput, indonesia, Islam, MUI, Politik
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik on 3 Februari 2009 at 8:35 pm
Majelis Ulama Indonesia (MUI) memang telah mementik emosional umat muslim. Saya termasuk orang yang “marah” dengan fatwa nyeleneh itu. Suatu hari saya dan teman-teman ditemani teh, kopi dan pisang goreng, mendiskusikan ulang soal fatwa politik dari MUI itu. Asap-asap rokok pun mengepul-ngepul.
Dalam diskusi itu, ada yang pro banyak yang kontra. Kami membatasi pembicaraan tidak menyangkut pada hal-hal fiqh. Karena dari diskusi itu, kami berpandangan bahwa urusan fiqh tidak tepat diletakkan untuk melihat fatwa politik MUI. Fatwa politik berbeda kasusnya dengan penarikan fatwa misalnya pada haram atau tidaknya babi.
Waktu itu, kami yang berkumpul berasal dari ragam ranah pemikiran. Ada yang sekuler, ada yang tradisional, ada yang fundamentalis, moderat dan ada pula dari kubu Islam holistik. Pemikiran melintas-lintas, diskusi toh semakin hangat kalau ada perbedaan perspektif dan hipotesis.
Read the rest of this entry »
budaya, dian, Esai, indonesia, Islam, israel, muhammad, palestina, Politik, seni, tuhan
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik, Sastra dan Seni, luar negeri on 24 Januari 2009 at 11:38 pm
Sutan Takdir Alisjahbana adalah masterpiece Indonesia. Dialah yang membuat kalimat itu, sebuah kalimat luar biasa yang hanya bisa keluar dari perenungan mendalam. Atas apa? Atas cinta.
* * *
Palestina adalah hati yang terluka. Sakitnya dirasakan hingga ke Indonesia, ke Sumatera Utara, ke sebuah rumah yang terpaku melihat pembantaian Palestina di sebuah kotak kaca yang hidup. Mengapa kita mesti sakit, merinding, marah, sedih dan menitikkan air mata. Mengapa Michael Hart harus menulis lagu untuk Gaza. Mengapa?
Manusia memang tak pernah paham-paham makna cinta. Dialah misteri yang tak berjawab dan teka-teki tak terungkap.
Seorang ibu tiba-tiba harus menangis ketika anaknya akan diopname di rumah sakit. Seorang istri sekonyong-konyong sumringah ketika suaminya mengetuk pintu dan membawakannya bubur ayam. Seorang anak terbahak-bahak ketika dia bersama ayahnya bermain Downhill di PS 2. Seorang kakek menahan-nahan dengan kuat sesak nafasnya ketika cucunya mengajaknya berlari. What is all about?
Read the rest of this entry »
caleg, indonesia, Islam, Kebudayaan, legislatif, pemilu, pilpres, Politik, reformasi
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik on 20 Januari 2009 at 5:53 pm
Senyum itu ibadah dan ibadah itu imbalannya pahala. Pahala itu tiket ke surga. Ibarat kuis, semakin banyak tiket pahala, maka semakin banyak pula kemungkinan untuk menang. Benarlah bila manusia itu selalu mengedepankan aspek untung rugi dalam hal apapun. Bahkan kepada Tuhan pun begitu. Dan Tuhan, tentulah tidak marah sama sekali. Dia maha kaya dan maha bijaksana.
Tuhan memang telah mempertontonkan kekuasaannya. Manusia, walau ingin sekali menjadi tuhan yang punya kekuasaan penuh, tetaplah manusia biasa. Di situ sebenarnya asyiknya menjadi manusia ini. Dia dari yang tidak punya kekuasaan, ingin menjadi penguasa. Kalau keinginan tak tergapai, ya, tak apa-apalah. Chairil Anwar saja bilang, “Sekali berarti sudah itu mati.” Jadi, hidup yang sekali ini, kalaulah bisa, dibuatlah “berarti”. Dus, apapun “arti” hidup itu nanti, ya, urusan nantilah itu.
Read the rest of this entry »
agama, budha, Esai, filsafat, hindu, indonesia, Islam, kristen, nasrani, yahudi
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik, luar negeri on 13 Januari 2009 at 7:36 pm
Orang di luar Islam itu, ngeri betul melihat Islam itu bersatu. Bagi mereka-mereka ini, Islam itu adalah suatu keindahan karena itu pula tak seharusnya umat Islam itu juga indah. Di pikiran mereka mungkin begini, “Manalah tahu, kalau jelek umat islam itu maka jelek pulalah Islam itu, jadi marilah kita jelekkan tampang umat Islam.”
Jadi, orang di luar Islam itu sebenarnya telah sangat-sangat terbius candu Islam sehingga mereka melihat Islam itu laksana semut mengelilingi gula. Seharusnya mereka paham, karena candu itu pula, umat Islam terlalu sibuk mengurusi agamanya sendiri sehingga tak sempat mengurusi agama lain. Bagi orang Islam, pekerjaan di dunia Islam itu sangat-sangatlah banyak, luas dan panjang. Jadi, umat Islam itu lebih disibukkan oleh “fastabiq al-khairat”, berlomba-lomba menuju akhirat, menuju kebaikan.
Non muslim akan sangat-sangat iri dengan agama ini, siapa pun itu. Mereka iri karena Islam ternyata punya surga untuk diperebutkan, mereka iri karena kematian dalam Islam rupanya menjadi pintu bagi kenikmatan hidup di hari akhir, sehingga sekaligus menjadi pintu bagi surga yang dinanti-nantikan itu. Bukan hanya satu, dua, tiga atau empat, kawan, tapi tujuh sekaligus. Tuhan sangat kasih dan sangat sayang kepada Islam, sehingga untuk mereka, disediakanlah tujuh surga sekaligus!
Read the rest of this entry »
internasional, Islam, israel, palestina, solidaritas
In All News, Islam, Politik, luar negeri on 12 Januari 2009 at 3:29 pm
Saya dapat mail dari seorang teman bernama Haris. Dia mengirimi saya tentang “Palestinians Farmers Union” yang memohon bantuan dari seluruh manusia, seluruh saudara, seluruh teman-teman yang ada di dunia, yang masih hidup hati nuraninya. Anda bisa melihat soal organisasi ini di http://www.pafu.ps/pafu/. Ini isi suratnya.
Read the rest of this entry »
indonesia, Islam, israel, Kebudayaan, medan, palestina, rahim, sastra, seni, sumut, syair
In All News, Islam, Kebudayaan, Politik, Sastra dan Seni, luar negeri on 9 Januari 2009 at 5:36 pm
Pertama, saya girang bukan kepalang ketika seorang sastrawan senior di Sumut, A Rahim Qahar –biasa disingkat ARQ– memberikan artikel kebudayaannya kepada saya.
Namun, setelah membacanya, kegirangan saya berubah menjadi kesedihan, bulu roma pun merinding. Di benak saya langsung melintas, dulu, Iqbal adalah seorang penyair, yang kemudian membahasakan pemikiran Islamnya dalam bait-bait sastra. Selama ini, kita telah meluputkan sastra Islam, padahal kita punya sejarah yang memberitakan sastra juga merupakan satu kekuatan, suatu gerak yang langsung menikam jantung sehingga tak sadarlah kita kalau kulit kita sudah digores pisau.
Beliau kerap dipanggil “ayah”, sebuah simbol pengakuan kultural terhadap seorang figur. Ketika Saddam digantung, beliau mementaskan pergelaran Sajak Buat Saddam Hussein di Taman Budaya Sumatera Utara pada 2008 lalu. Pergelaran itu dinilai banyak orang lebih mirip aksi teatrikal daripada pembacaan puisi semata. Dan Ayah Rahim ini seolah menampar-nampar saya, kalau Palestina telah lama dibingkai oleh puisi. Puisi yang menggerakkan, puisi perjuangan, puisi perlawanan.
Ayah Rahim telah mengizinkan saya untuk mempostingnya di blog saya. Inilah artikel beliau.
Read the rest of this entry »
iran, Islam, karbala, palestina, Politik, Shiah, silaturahim, Sunni
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik, luar negeri on 8 Januari 2009 at 2:30 pm
“Yang harus terus diasah adalah apakah metodologi dan kesimpulan kita itu bisa menjawab tantangan zaman. Apakah Islam bisa menyediakan formula-formula untuk hal-hal seperti modernisasi dan seterusnya…”
* * *
============================
(Tulisan ini diniatkan sebagai jawaban saya atas komentar Bang Londoner di artikel Karbala dan Palestina. Bang Londoner ini salah seorang abang saya yang sekarang mukim di negeri Queen Elizabeth, London. Saya takut, bila saya menjawab singkat, akan membuat salah paham sehingga saya memilih menuliskannya dalam artikel tersendiri. Karena artikel ini cukup panjang, bila Anda berkenan untuk menyimaknya, ya, agak-agak sabarlah sedikit membacanya. )
============================
Read the rest of this entry »
10 muharram, asyura, Islam, israel, karbala, martir, palestina, Politik, Shiah
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik, luar negeri on 6 Januari 2009 at 6:30 pm
Imam Husein mati di Karbala. Yazid bergembira, berpesta pora, menancapkan kepalanya di atas tombak dan menggiringnya ke seluruh penjuru kota Baghdad.
* * *
10 Muharram adalah lembar penuh darah dan tangis di sejarah Islam. Husein, cucu nabi yang dulu bermain-main di kepala Muhammad, harus mati, menjadi martir dari sebuah ideologi Islam. Yazid pun terbahak-bahak di singgasananya. Dia berbangga dan hatinya berbisik, kau telah berhasil melawan Tuhan, melawan sang Pencipta, melawan Sang Maha Kuasa yang membikin Muhammad dari tangannya sendiri. Awan mendung, sungai Elfrat berwarna merah dan Ali Zainal Abidin tinggal sendirian.
Islam adalah agama perlawanan. Islam adalah agama yang kalimat pertamanya mengajarkan untuk mengucapkan “Tidak”: Tidak Ada Tuhan selain Allah. Islam adalah agama perlawanan.
Read the rest of this entry »
demokrasi, indonesia, Islam, israel, palestina, Politik, presiden, SBY, UUD, yahudi
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik, luar negeri on 5 Januari 2009 at 5:18 pm
Ketika pembantaian di Palestina menginjak hari ke sembilan, Presiden Republik Indonesia, Soesilo Bambang Yudhoyono, jalan-jalan ke kebun binatang Ragunan.
* * *
“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”
Indonesia adalah bangsa yang sungguh terpuji di seluruh dunia ini. Kalimat pertama dari Pembukaan UUD 1945 menunjukkan itu. Itu adalah kalimat pertama, sekali lagi, kalimat pertama dari seluruh rangkaian kalimat yang oleh negara ini dianggap sebagai sesuatu yang sakral, sesuatu yang tidak boleh diubah-ubah, yang abadi. Pembukaan tak seperti batang tubuh UUD 1945. Kalimat itu adalah kalimat yang tak bisa ditafsirkan lagi dan sudah dipastikan benar. Dia diinginkan seperti ayat-ayat mutlak.
Kalimat itu menyiratkan sebuah semangat, sebuah gerakan, seruan, ancaman, harapan, dan doa, serta tidak lagi memakai kata “agar” tapi “harus”. Penjajahan harus dibumihanguskan di atas dunia ini. Dia sudah menjadi hukum paling tinggi dari negara ini. Dia adalah kewajiban dari negara, karena itu bila dia tidak dilaksanakan maka berdosalah bangsa dan negara ini.
Read the rest of this entry »
Islam, israel, manusia, palestina, shari'ati, tuhan, yahudi
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik, luar negeri on 3 Januari 2009 at 11:04 pm
Palestina adalah sebuah ruang sejarah yang penuh asap. Dia lahir dari jerit dan ratap akan butuhnya manusia pada onggokan tanah. Manusia memang diciptakan dari tanah, sehingga tak heranlah bila manusia akan saling berkelahi gara-gara tanah.
Tanah adalah lambang kekuasaan, pertanda kalau manusia punya eksistensi. Pertanda kalau di salah satu petak tanah ini, dialah pemiliknya, dan di petak yang satu lagi milik manusia lain. Kepemilikan adalah salah satu pertanda kekuasaan. Kita akan terganggu kalau tiba-tiba seorang manusia lain masuk ke pekarangan kita tanpa izin dan berucap salam. Kita akan menumpahkan darah kalau setelah itu dia pun berani menyatakan tanah kita adalah tanah dia. Gara-gara tanah, manusia menjadi terbelah, menjadi “aku”, “engkau”, “dia”, “mereka”, “kami” dan “kita”.
Gara-gara tanah, kita menganggap apa yang ada di luarnya juga “tanah”. Kita mulai merasa kalau kelompok, organisasi, partai, malah alam semesta dan makhluk lain adalah tanah kita juga. Maka manusia kemudian mengkavling-kavling tanah-tanah bentuk baru itu sesuai pagar-pagar yang dimilikinya. Kita merasa partai kita paling benar, organisasi kita paling betul dan kelompok kitalah yang akan masuk surga. Kekuasaan telah masuk ke tubuh manusia dengan sesadar-sadarnya dan menikmatinya.
Read the rest of this entry »
amerika, eropa, indonesia, internasional, Islam, israel, palestina, PBB, yahudi
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik, luar negeri on 30 Desember 2008 at 7:50 pm
Entah mengapa, ketika saya melihat daftar berita di salah satu situs, tertumbuk mata saya kepada satu berita. Judulnya, “Indonesia Desak PBB Hentikan Serangan Israel.”
Siapapun di dunia ini tahu kalau PBB itu tak lain adalah tangannya Amerika dan Eropa untuk menguasai dunia. Siapapun tahu Eropa dan Amerika itu didanai oleh Yahudi. Siapapun tahu itu. Nah, kemudian, Departemen Luar Negeri Indonesia mendapat tugas dari pemerintah RI, untuk menyampaikan surat. Isinya, ya seperti judul berita di atas.
Ini bukan pertanda kegoblokan Departemen Luar Negeri dan Pemerintah RI. Mereka pasti tahu, PBB adalah Amerika dan Eropa. Mereka pasti tahu Yahudi adalah penyokong ekonomi Eropa dan Amerika. Wong, Deplu itu kerjaannya setiap hari menongkrongi peta politik internasional kok. Jadi, mereka tidak goblok untuk itu. Mereka tahu dengan pasti soal itu.
Tapi tindakan itu memang khasnya sebuah pemerintahan yang selama ini mengangkangi konstitusinya sendiri. Pembukaan UUD 1945 sudah menegaskan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Titik.
Read the rest of this entry »
berita, indonesia, informasi, Islam, israel, isu, news, palestina, propaganda
In All News, Islam, Politik, luar negeri on 30 Desember 2008 at 5:32 pm

Headline CNN.com (December 30, 2008 — Updated 0914 GMT (1714 HKT)
“Israel pounds Hamas buildings in ‘all-out war’
Israel bombs a Hamas government compound, leveling at least three structures, including the foreign ministry building, eyewitnesses and Hamas security sources tell CNN. Airstrikes have killed more than 375 Palestinians, most of them Hamas militants, Palestinian medical sources say…”
(Terjemahan bebas: “Israel membombardir sebuah gedung Hamas, yang menghancurkan setidaknya tiga bangunan, termasuk bagian kementrian luar negeri, demikian disebutkan saksi mata dan petugas keamanan Hamas kepada CNN. Bom udara telah membunuh lebih dari 375 warga Palestina dan sebagian besar di antara mereka adalah militan Hamas, kata petugas medis Palestina…” )
Read the rest of this entry »
Islam, israel, palestina, yahudi
In All News, Islam, Politik, luar negeri on 29 Desember 2008 at 2:15 pm
Ini sebagian foto-foto pembantaian Israel terhadap Palestina. Foto-foto dicopy dan dimiliki sepenuhnya oleh Associated Press (AP Photo) dan masing-masing fotografernya. Karena itu, resolusi foto yang ditampilkan tidak besar.
Semoga ada manfaatnya.
Salam.
Nirwan.
budaya, Esai, indonesia, Islam, medan, sastra, seni, tuhan
In All News, Islam, Kebudayaan, Lapak, Sastra dan Seni on 22 Desember 2008 at 2:50 pm
Apa yang dapat aku lakukan, wahai ummat Muslim?
Aku tidak mengetahui diriku sendiri.
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi,
bukan Majusi, bukan Islam.
Bukan dari Timur, maupun Barat.
Bukan dari darat, maupun laut.
Bukan dari Sumber Alam,
bukan dari surga yang berputar,
Bukan dari bumi, air, udara, maupun api;
Bukan dari singgasana, penjara, eksistensi, maupun makhluk;
Bukan dari India, Cina, Bulgaria, Saqseen;
Bukan dari kerajaan Iraq, maupun Khurasan;
Bukan dari dunia kini atau akan datang:
surga atau neraka;
Bukan dari Adam, Hawa,
taman Surgawi atau Firdaus;
Tempatku tidak bertempat,
jejakku tidak berjejak.
Baik raga maupun jiwaku: semuanya
adalah kehidupan Kekasihku …
(Aku Adalah Kehidupan Kekasihku karya Jalaluddin Rumi
copy dari artikel buku “Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma’rifat” oleh Idries Shah)
Read the rest of this entry »
amerika, bush, Gus Dur, humor, indonesia, irak, Islam
In All News, Islam, Kebudayaan, Lapak, Politik on 18 Desember 2008 at 3:19 pm
Muntazar al Zaidi, wartawan Irak melempar Presiden Amerika Serikat, George W Bush dengan sepatunya.
“Masih mending, ketimbang dilempar bom…” kata bang Mamat.
Sepatu Al-Zaidi ditawar US$ 20 Juta.
“Terima saja. Ambil Satu juta dolar, sisanya sumbangkan untuk perlawanan melawan Amerika,” kata Bung Somad.
Seorang pria Mesir bernama Saad Gumaa, menawarkan anak perempuannya untuk dinikahi Zaidi.
“Alhamdulillah … ” kata Bang Maskur.
Presiden Brazil, Luiz Inancio Lula da Silva, memohon agar dia juga tak dilempar sepatu.
“Hahahaha …. Mungkin dia pengen bilang, lempar saja saya pakai bola,” kata Om Pletik.
Wakil juru bicara Deplu AS, Robert Wood, bilang, kasus Zaidi sepenuhnya otoritas Irak.
“Hmmm… kayaknya Zaidi bakal mati pelan-pelan di Irak,” kata Bung Dedi.
Read the rest of this entry »
hukum, indonesia, Islam, pasha, ungu
In All News, Islam on 16 Desember 2008 at 7:50 pm
Nggak ngerti saya hukum mana yang dipakai oleh Pengadilan Agama Jakarta yang menangani kasus cerai Pasha Ungu dan istrinya. Istrinya sedang hamil ‘kok perkaranya bisa ditangani. Saya bukan ahli hukum Islam, tapi seingat saya cerai di saat hamil hukumnya haram. Tunggulah setelah lahir si bayi. Dan karena alasan itu pula, seharusnya Pengadilan Agama sudah menolak menerima menangani kasus ini.
Katakanlah si Pasha dan istrinya tak mengerti hukum Islam, seperti saya ini, masalahnya, kok pengadilan agama menerima kasus itu. Nah, saya jadi penasaran, mazhab dan pemikiran siapa yang dipakai oleh hakim dan panitera Pengadilan Agama ini. Itu satu.
Yang kedua, kalau misalnya mereka punya dalil sendiri, saya jadi bertanya, apakah memang ada patokan hukum Islam yang dipakai standar oleh pengadilan-pengadilan agama di negeri ini. Indonesia lazim –sebagian- dikatakan bermazhab Syafii dengan berdasar Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Guru ngaji kecil saya dulu juga begitu, mazhab-nya Syafii. Dan satu pelajaran yang pernah saya ingat ya, cerai di saat hamil, itu haram.
Read the rest of this entry »
demokrasi, fatwa, Hidayat Nur Wahid, indonesia, Islam, muhammadiyah, MUI, NU, pemilu, Politik, reformasi
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik on 12 Desember 2008 at 8:39 pm
Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid, meminta MUI-NU-Muhammadiyah memfatwakan haram kepada golongan putih alias golput. Di ranah politik, statemen Hidayat ini jelas tertuju kepada Kyai nyeleneh, Abdurrahman Wahid yang menyuruh pendukungnya di PKB dan NU agar golput di pemilu 2009. Namun, persoalannya bagi saya tidaklah sesederhana itu.
Seruan Hidayat ini tak berbeda ketika di zaman Orde Baru lalu pemerintahan Soeharto juga mengharamkan golput. Dan itu dilakukan bahkan pada saat Orba baru saja akan melakukan pemilu pertamanya, 5 Juli 1971. Sebelumnya, MPRS sudah mengamanatkan kalau pemilu pasca Orde lama harus sudah dilakukan pasca Sidang Istimewa MPRS tahun 1967. Namun, karena kekuatan politik Orba masih lemah, Soeharto butuh empat tahun untuk melaksanakannya. Golongan Karya, organisasi binaan Soeharto langsung menjadi pemenang. Posisi kedua ada Nahdlatul Ulama, Parmusi, Partai Nasional Indonesia, dan Partai Syarikat Islam Indonesia.Sejak saat itu, Golongan Karya dan Militer menjadi infrastruktur kekuasaan terbesar Orde Baru.
Yang menyerukan Golput di awal Orde Baru adalah kelompok mahasiswa Arif Boediman cs. Pada 3 Juni 1971, di Gedung Balai Budaya, Jakarta, mereka memproklamirkan gerakan “Golongan Putih (Golput)”. Gerakan moral Arief Budiman ini merupakan di antara model gerakan mahasiswa selain aksi politik praktis yang juga dilakukan mahasiswa ketika memasuki parlemen. Seperti lazim dikabarkan oleh sejarah negeri ini, mahasiswa terpecah dua bagian utama yaitu mereka yang pro politik praktis dan mereka yang kontra. Arief Budiman berada di antara yang kontra tersebut.
Read the rest of this entry »
demokrasi, indonesia, Islam, Kebudayaan, peradaban, PKS, Politik, reformasi
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik on 10 Desember 2008 at 5:05 pm
Saya sungguh menghargai komentar Bang Saiful Anwar di halaman blog saya, “Si Nirwan”. Karena itu, walau saya sudah mengalihkan diri dari perbincangan soal PKS, dalam rangka penghargaan terhadap beliau, saya menuliskan beberapa potong pendapat saya dalam tulisan tersendiri. Berikut ini saya copy komentar beliau:
Assalaamualaikum Wr. Wb,
Bang Nirwan, tulisan antum bagus-bagus ya, memang budaya berfikir dan saling berbagi pengetahuan masih menjadi permasalahan umum bangsa kita. Saya tertarik dengan tulisan antum yang berjudul ketumpulan berpikir kader PKS, sangat bagus dan masukan yang baik bagi kami para kader PKS.Setelah belasan tahun mengikuti kajian PKS, terus terang baru saat ini saya bisa menyimpulkan tujuan besar kajian tarbiyah PKS, setelah dipaksa professor untuk mempresentasikan Information and Communication Technology in Islamic Perspective.
Read the rest of this entry »
ijtihad, indonesia, Islam, muhammadiyah, sumatera utara, UMSU
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik on 4 Desember 2008 at 5:24 pm
Saudara, salah satu ijtihad paling awal yang dilakukan KH Ahmad Dahlan adalah perlindungan terhadap kaum mustadha’afin. Dan Ahmad Dahlan, mendirikan Muhammadiyah sebagai organisasi yang melindungi kaum ini. Ini adalah cerita soal Muhammadiyah Sumut yang boleh Anda setujui dan boleh juga Anda ratapi.
Teman-teman …
Para pemuja-muja kapitalis, tuan-tuan tanah yang berselimut feodalisme, serta susupan kaum fasis yang berbaju Orde Baru (dalam sosok-sosok wajah berlukis premanisme), telah datang dalam berbagai bentuk ke dalam Muhammadiyah, seperti laiknya Kota Barus di Tapanuli Tengah, didatangi berbondong-bondong oleh pengelana, pelaut dan pedagang dari Timur Tengah. Para imigran gelap inilah yang justru telah menjadikan posisi Muhammadiyah sebagai organisasi yang patut dilindungi saat ini. Muhammadiyah adalah kaum dhuafa itu sendiri. Muhammadiyah adalah “korban”.
Untuk melihat Muhammadiyah Sumut, maka lihatlah terlebih dahulu apa yang sedang terjadi dalam Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). UMSU merupakan amal usaha terbesar sekaligus menjadi donatur terbesar yang menyumbang segala kegiatan Muhammadiyah wilayah. Karena itu, UMSU adalah cerminan dari perilaku pengurus PW Muhammadiyah Sumut. Apalagi, sebagian pengurus PW Muhammadiyah Sumut juga adalah penguasa teras UMSU. Dan ketika Anda melihat itu, maka akan tampaklah bagaimana wajah Muhammadiyah Sumut.
Read the rest of this entry »
cerita, Islam, syahid
In All News, Islam, Lapak, Sastra dan Seni on 1 Desember 2008 at 12:07 pm
Dua butir, ah tidak, mungkin lima belas butir peluru bersarang di dadanya.
“Itu bukan tembakan senapan mesin manual tapi otomatis!”
“Sudahlah!” hardikku, “Dia sudah syahid. Ia lebih dulu menemui rasulullah.”
“Apakah rasul menyambutnya di pintu langit, kawan?”
“Pasti! Pasti itu. Tapi kita harus hidup untuk menyampaikan berita gembira ini kepada Hasanah. Mari kuburkan dia. Biarkan darahnya mewangi di dalam liang. Suatu saat dia akan berterima kasih kepada kita karena menguburkan dia bersama bajunya yang penuh darah itu. Engkau tahu, mungkin dia akan berlagak seperti Clint Eastwood di hadapan kita nanti,” kataku bergumam, “Nanti kalau kita pun mati.”
“Hei, aku tak mau mati di tempat tidur. Enak saja dia! Kau berhutang padaku, kawan!” kata dia kepada mayat itu. Jarinya kemudian membelai janggutnya yang tumbuh tipis di dagunya.
Dua orang bertubuh tinggi itu kemudian meninggalkan si mayat. Berjingkat-jingkat mereka meninggalkan arena pertempuran.
Read the rest of this entry »
depag, haji, indonesia, Islam, korupsi, koruptor
In All News, Islam, Politik on 26 November 2008 at 12:12 pm
Ibu saya geram betul saya melihat iklan haji yang dilansir Depag baru-baru ini di televisi. Sejumlah jamaah haji tampak sibuk meyakinkan jamaah haji yang kritis dan bertanya, “Mengapa ongkos naik haji terlalu mahal?”
Jamaah haji itu mendapat jawaban, kalau haji adalah ibadah, sementara mahalnya ongkos naik haji karena tiket pesawat yang juga naik. Dengan demikian, jamaah haji diyakinkan kalau perjuangan ibadah itu memang mahal, perlu mental kuat dan seterusnya. Ketika berpropaganda, logat jamaah haji disesuaikan dengan logat bahasa yang dipakai di beberapa suku bangsa.
Saya tak bisa membayangkan kekesalan ibu saya yang harus memerat keringat, banting tulang seumur hidupnya untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah ongkos naik haji. Dan ketika iklan Depag itu menggampangkan nilai puluhan juta, maka pantaslah ia geram. Seolah-olah duit puluhan juta itu tak ada harganya sama sekali.
Ongkos Naik Haji (ONH) Indonesia tahun 2008 ini sebesar US$ 3.387 plus biaya operasional dalam negeri Rp 501.000. Rinciannya, US$ 1.859 untuk penerbangan (54%) dan living cost US$ 1.528 (44,4%) . Bila dikurskan dengan nilai rupiah saat ini rata-rata Rp 12.000, maka ONH atau BPIH mencapai Rp 40.644.000 + Rp 501.000 = Rp 41.145.000. Gila gak? Rp 41 Juta!
Read the rest of this entry »
Islam, muhammadiyah, pemikiran, sumut, UMSU
In All News, Esai, Islam on 25 November 2008 at 9:52 pm
Tulisan ini saya kira berkategori “seharusnya”. Saya sendiri berusaha menghindarinya, namun tak bisa-bisa. Mungkin saya harus bersemedi dulu di salah satu gua yang ada di Sumut, supaya bisa membuang kata “seharusnya” itu derasnya Sungai Asahan. Di sisi lain, ini tulisan induktif. Jadi soal generalisasi, bisalah saya tahan-tahan dulu.
Risau saya melihat Muhammadiyah Sumatera Utara ini. Risaunya soal pemikiran dan gerakan yang semakin lama semakin membatu alias jumud. Padahal, dalam Muhammadiyah, jumud ini barang haram, sesuatu yang sejak dicetuskan oleh KH Ahmad Dahlan sudah diletakkan di laci sejarah: hanya boleh dipajang dan dilihat-lihat sebagai bahan pembelajaran.
Tak ada pemikiran bernas soal Sumatera Utara ini yang lahir dari rahimnya Muhammadiyah. Dengan kondisi carut-marut di Sumatera Utara, seharusnya (nah, kan!), Muhammadiyah sepatutnya sudah memprediksikannya sejak awal dan kemudian mencegahnya. Satu contoh kecil saja, kemiskinan sudah begitu tingginya (data BPS menyebut lebih dari 1,6 juta jiwa per Maret 2008. Di bidang politik, hampir 40% pemilih sudah menjadi Golput. Itu kasus terakhir sewaktu Pilgubsu 2008. Dan seterusnya, dan seterusnya. Karena kondisinya sudah lacur, apa boleh buat, asumsinya adalah Muhammadiyah Sumut sedang jumud.
Read the rest of this entry »
indonesia, Islam, kampus, mahasiswa, medan, muhammadiyah, sospol, sumut, UMSU
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik on 25 November 2008 at 6:28 pm
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara disingkat orang menjadi UMSU. Saya masuk ke sana di zaman Orde Baru, tahun 1996. Jadi wajar saja kalau orang-orang yang ada di sana itu mayoritas adalah orangnya Orde Baru. Dulu, rektornya –konon- adalah demonstran tahun 1966. Namanya dr H Dalmy Iskandar. Khas demonstran, dia ini kalau ngomong dikenal keras. Layaknya penguasa di zaman Orde Baru, beliau ini pun lama juga menjabat sebagai rektor. Dia kemudian dijatuhkan oleh “kerabat”nya sendiri, Drs H Chairuman Pasaribu.
Jatuhnya Dalmy Iskandar, menurut analisis internal Muhammadiyah, adalah karena intrik yang terjadi di Muhammadiyah Sumut dan UMSU sendiri. Dalmy dinilai ingin berkuasa kembali setelah periode jabatannya yang kedua. Tapi itu tak disetujui. Gampang saja alasannya, UMSU waktu itu sudah sangat besar tidak lagi melarat. Jadi wajar saja kalau banyak orang yang mau menjadi orang nomor satu di sana. UMSU memang merupakan kekuatan tersendiri di tubuh Muhammadiyah Sumatera Utara, terutama karena universitas inilah sebagai penyandang dana terbesar dari kegiatan Muhammadiyah. Selain itu, banyak juga kader Muhammadiyah maupun –ini bukan istilah saya- “kader jadi-jadian” yang mencari makan di sana.
Read the rest of this entry »
batak, batak islam, budaya, indonesia, Islam, komik, muhammad, sumut
In All News, Islam, Kebudayaan, Politik on 24 November 2008 at 11:39 am
Blog bertajuk lapotuak.wordpress.com jelas adalah sebuah tuduhan paling menyakitkan yang diterima suku bangsa Batak soal komik penghina Nabi Muhammad. “Orang Batak” seolah-olah menjadi tersangka utama dalam kasus itu. Ada dua senjata yang langsung diarahkan yaitu primordialisme dan agama. Dua-duanya masuk kriteria titik utama untuk mengobarkan peperangan: SARA.
Saya kira ini berdasarkan asumsi tak beralasan yang masih dihinggapi segelintir orang, yaitu mengidentikkan antara “batak” dengan agama non muslim. “Lapotuak” itu memanglah istilah batak namun mengindentifikasi Batak menjadi nonmuslim adalah kesalahan yang sangat-sangat besar. Beberapa saat yang lalu, sebuah blog dikabarkan memposting sebuah tuduhan bahwa yang membuat dan menyebarkan komik penghina nabi Muhammad itu adalah suku bangsa Batak. Yang kena tuduh langsung meradang dan mengancam memperkarakan. Akhirnya, postingan itu dicabut.
Belum ada bukti kalau tersangka komik penghina nabi Muhammad itu adalah orang Batak dan beragama non muslim. Namun, persangkaan itu tumbuh, saya kira, karena masih adanya identifikasi batak=tak Islam. Sekali lagi itu tak benar.
Read the rest of this entry »
indonesia, Islam, komik, muhammad
In All News, Islam, Politik on 22 November 2008 at 11:11 pm
Aneh dan betul-betul aneh. Polisi mampu membekuk pelaku bom Bali I dan II sekejap mata dan pemerintah RI digdaya mengeksekusi mati mereka sebentar saja ketika Amerika sedang memilih Presidennya, namun pembuat komik nabi Muhammad hingga kini belum jelas juga batang hidungnya? Ada apa?
Kepolisian menyatakan itu karena servernya konon berada di Amerika dan berpindah-pindah. Dan untuk ke sana butuh paspor. Betul-betul menggelikan, membuat geleng-geleng kepala dan, ah, pokoknya anehlah. Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, pun mengeluarkan komentar anehnya. “Saya belum lihat,” katanya.
Sementara itu, gejolak di Indonesia sudah tak bisa ditawar-tawar lagi. Ulama Jawa Barat sudah mengeluarkan ancaman akan menangkap dengan cara mereka sendiri. Organisasi Islam di Solo pun tak ketinggalan. Front Pembela Islam sudah mengancam akan sweeping warnet. Untuk hal ini, kata mereka, cuma ada satu kata: hukuman mati. Ini berlainan dengan versi polisi yang “hanya” akan mengenakan pidana 6 tahun penjara atau denda 1 miliar.
Ancaman polisi ini terlalu kecil mengingat dampak komik yang luar biasa itu. Bila versi polisi ini betul-betul dilakukan, maka siapapun akan gampang membuat komik-komik serupa di masa depan. Siapa yang akan takut dipidana 6 tahun kalau dia sudah berhasil menggoncang seluruh dunia ini? Soal dana? Jangankan miliaran, triliunan pun akan digelontorkan untuk menghujat habis Islam dan simbol-simbolnya.
Read the rest of this entry »
indonesia, Islam, muhammad, negara, Politik
In All News on 21 November 2008 at 10:37 pm
Muhammad adalah orang yang unik. One and only. Adalah keinginan setiap muslim dan mukmin untuk menjadi Muhammad. Maka Muhammad sebagai manusia mesti “diperas” lagi dalam sebuah konsep Muhammad sebagai rentetan kriteria.
Bila memakai aturan matematika soal “turunan”, Muhammad menjadi puncak dan piramidanya akan menjadi susunan konsep terukur bagi siapapun yang ingin membuat perubahan dalam kehidupan sosial, politik, budaya, ekonomi dan seterusnya, dan seterusnya.
Inilah yang saya maksudkan sebagai manusia Muhammad. Seorang Imam bagi manusia.
Read the rest of this entry »
Islam, muhammad
In All News, Esai, Islam on 20 November 2008 at 7:03 pm
Nama nabiku tak panjang: Muhammad. Nama kecilnya Ahmad, yang bermakna orang yang terpuji. Dia manusia biasa namun perilaku dan sejarahnya tak biasa. Dia tak pernah melihat wajah ayahnya, Abdullah, dan hanya empat tahun bisa melihat ibunya, Aminah. Kakeknya, Abdul Muthallib, yang menyematkannya nama itu, hanya bisa dilihatnya sampai umur 8 tahun. Ia adalah orang yang sendiri di dunia ini.
Hiduplah ia bersama pamannya, Abi Thalib, yang sepeninggalnya kelak, mendapat fitnah sebagai “orang tak mukmin”. Abi Thalib tak kaya walau berasal dari golongan terhormat, Bani Hasyim. Namun Abi Thalib punya anak, Ali, yang kemudian menjadi pembenarnya kedua setelah istrinya, Khadijah. Ia dikaruniai putri, Fatimah, dan kemudian dinikahkannya dengan Ali. Ia mendapat dua orang cucu, Hasan dan Husein. Muhammad jadi tak sendiri.
Namun, masa tak sendirinya tak lama. Abi Thalib meninggal dan istri tercintanya pun menyusul. Duka cita menyelimutinya dan ia sendiri lagi. Tinggallah seorang Ali, anaknya Fatimah dan cucu-cucunya.
Dia adalah adalah orang berselimut. Ia adalah orang yang ketakutan ketika disambangi oleh malaikat Jibril di Gua Hira. Dia bukanlah manusia yang bersemedi menanti-nanti wangsit dan kemudian berbangga mentahbiskan dirinya sebagai “penguasa” dan “pilihan Tuhan” ketika menerima wangsit. Ia menyembunyikannya, ketakutan, keringat memenuhi keningnya dan ia minta diselimuti.
Read the rest of this entry »
demokrasi, iklan PKS, indonesia, Islam, militer, pemilu, Politik, reformasi, soeharto
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik on 13 November 2008 at 11:58 am
Dalam sebuah komentar di blog ini, saya ditanya oleh kawan blogger juga, jiwamusik, kondisi apakah yang patut kita tertawakan saat ini? Ia menyempatkan waktunya untuk berkomentar di postingan saya Soeharto di Iklan PKS… Hahaha. Terimakasih saya pada dia untuk hal tersebut.
Saya melihat iklan itu ketika menuju rumah orang tua saya, di sebuah gang sempit, di sebuah rumah yang kepala keluarganya adalah seorang supir angkot. Televisi mereka menyala, walau tidak ada satupun yang menonton. Anak-anak mereka bermain di gang dan ibu mereka sedang duduk ngobrol dengan tetangga di depan pintu rumahnya. Saya melihatnya dari balik jendela.
Sebuah iklan pastilah dibuat oleh kalangan terdidik. Mereka mengetahui persoalan teknis, tujuan dan sasaran dari iklan tersebut. Sasarannya jelas masyarakat luas, segala golongan, baik yang terdidik, maupun yang bodoh. Mulai dari bergelar profesor hingga tak pandai membaca dan menulis. Sasaran iklan PKS terutama adalah pemilih di Pemilu 2009. Karena itu, iklan ini dibuat dengan matang dan penuh pertimbangan teknis. Tifatul Sembiring bilang, mereka sudah punya manajemen resiko untuk itu. Dengan kata lain, penempatan Soeharto di iklan tersebut dibuat dengan sadar, sengaja dan punya tujuan.
Read the rest of this entry »
demokrasi, indonesia, Islam, kristen, pemekaran, pilkada, Politik, propinsi tapanuli, sumut
In All News, Islam, Politik on 11 November 2008 at 6:37 pm
Oleh seseorang yang saya hormati, saya diperintahkan (waduh, entah mengapa kata itu pula yang muncul di benak saya), untuk menyelidiki soal pemekaran propinsi di Sumatera Utara. Bingung saya, karena soal pemekaran ini belum mendapat perhatian “super serius” karena, ini versi dia, saya terlalu menyibukkan diri dengan hal-hal “makro politik”. Hahaha, saya sendiri kegeeran dikatain (ini istilah Medan, maknanya diolok-olok), dibilang seperti itu.
Dulu, sempat juga saya menelaah sejenak, secara pribadi, soal pemekaran propinsi Sumut. Fokusnya pada wacana (dan gerakan) pembentukan Propinsi Tapanuli. Sikap saya jelas sekali di sana: Jelas Ambigu alias jelas tak jelas (hehehehe…). Namun, setelah saya pikir-pikir ulang, ternyata stigmatisasi terhadap konsep ini memang sedemikian kuat bertempur di lapangan. Yang dipakai adalah diskursus yang selama ini dianggap tabu yaitu SARA, sementara soal indikator ekonomi menjadi argumentasinya.
Untuk pemekaran Tapanuli, memang ada dua imej yang muncul yaitu streotif etnik dan ikatan agama. Di Sumut, suku bangsa Melayu dan Batak adalah dua suku bangsa dominan dalam soal sosial politik. Saat ini, Gubernur Sumut adalah orang Melayu, setelah sebelumnya orang Batak, dan sebelumnya lagi orang Melayu. Alhasil, timbul kesan yang kuat kalau pemisahan diri orang-orang Tapanuli dalam konsep Propinsi Tapanuli adalah “subordinasi”, “desersi” ataupun pembangkangan secara kultural dan politik. Kalau pakai istilah yang bisa kena jerat hukum, “separatisme”.
Read the rest of this entry »
amerika, indonesia, Islam, Kebudayaan, peradaban, Politik, sosial, tauhid
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik on 8 November 2008 at 9:10 pm
Saya berkeyakinan, setiap orang akan menemui tuhannya sesuai dengan keyakinannya masing-masing ketika dia berada di dunia. Itulah makanya, ketika Al-Qoriah nanti, yang ada bukan hanya kehancuran alam semesta namun yang lebih penting adalah sidang pertanggungjawaban setiap individu kepada Tuhannya. Para malaikat dijamin tak membuat kesalahan sedikitpun karena hari itu adalah harinya Tuhan secara langsung mengadili setiap manusia.
Demikian juga dengan ketiga orang yang akan dihukum mati oleh pemerintah Indonesia: Imam Samudra, Amrozi dan Ali Ghufron. Tidak ada yang tahu seperti apa nantinya sidang pengadilan akhirat itu nanti. Kita pun tak akan mempedulikannya, karena kita lebih sibuk mengurusi nasib kita sendiri. Karena itu, luangkanlah waktu untuk mereka-reka apakah yang akan terjadi nantinya, ketika kita masih berada di dunia.
Read the rest of this entry »
demokrasi, iklan PKS, indonesia, Islam, kampanye, muhammadiyah, NU, pemilu, Politik
In All News, Islam, Kebudayaan, Politik on 31 Oktober 2008 at 6:36 pm
Bagi saya, iklan politik PKS yang mendompleng KH Ahmad Dahlan dan KH hasyim Asyari adalah blunder dan kesalahan.
Beginii. PKS adalah organisasi politik yang melakukan iklan politik dan di musim kampanye pula. Pesan-pesan dan gambar KH Hasyim Asyari dan KH Ahmad dimuat oleh “organisasi partai politik” dalam sebuah “iklan politik” di tengah “musim kampanye pemilu 2009”. Secara konseptual itulah keyword melihat masalah ini.
Persoalan pertama adalah soal substantif. Saya menyayangkan ide brilian ini dikeluarkan oleh “organisasi yang tak tepat” di tengah waktu dan bungkus yang “tak tepat” pula. Saya menyayangkan ide cerdas ini tak dilakukan ketika hari “Kebangkitan Nasional 20 Mei”. Saya pun menyayangkan, bilalah PKS melakukannya, demi alasan “moral obligation” untuk menyatakan kebenaran dan sesuatu yang bermanfaat bagi kemaslahatan bangsa, tak perlulah PKS meletakkan lambang partai politik mereka di ujung iklan tersebut. Bersatunya logo partai, nomor urut partai dan ajakan untuk “memilih” PKS dan gambar KH Hasyim Asyari dan KH Ahmad Dahlan dalam iklan tersebut secara hukum membuatnya sebagai sebuah “satu kesatuan iklan politik”.
Read the rest of this entry »
Islam, kasus, miskin, SBY JK, zakat
In All News, Islam, Politik on 17 September 2008 at 4:18 pm
Terus terang saja, saya bersimpati dengan H Suchoin, saudagar yang ketiban “sial” sewaktu heboh kasus pembagian zakat di Pasuruan kemarin. Dari berita-berita yang muncul kemudian, makin muak saja saya kepada Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai Presiden RI, dan Jusuf Kalla, si Wapres itu.
Kedua orang ini memandang kasus ini jelas dengan kacamata “politisi” dan bukannya kemanusiaan. SBY misalnya. Dia dengan enteng mengomentari kasus ini dengan “normatif” – menugaskan Menteri Agama dan jajaran kepolisian untuk mengusutnya- sembari mengatakan kasus ini bukan kasus kemiskinan. Di tengah tewasnya orang miskin dan kebetulan pula ada orang yang berbaik hati membagi hartanya dan kemudian menerima hujatan seantero negeri, dia masih berkampanye ria dan takut sekali kasus itu akan menjatuhkan citranya.
Read the rest of this entry »
Islam, muhammad, puasa, ramadhan, rasul, tuhan
In Esai, Islam, Kebudayaan on 2 September 2008 at 1:16 pm
Puasa adalah ketika para pendakwah tiba-tiba mendapatkan honor tertinggi mereka dalam satu tahun.
Puasa adalah ketika honor yang tertinggi itu mestilah dibarengi dengan penampilan yang super sebagai da’i di televisi.
Puasa adalah ketika jamaah dipertontonkan sepatu berkilat bermerk, kepandaian mengolah tawa dan sedikit-sedikit berlogat arabia.
Puasa adalah ketika mereka-mereka yang mengaku kalangan Islam terdidik, istiqomah dan sering bertaubat, kemudian menjadi pengiklan paling populer dari desain baju, kopiah, lebai, jilbab, sampai make-up terbaru.
Puasa adalah ketika televisi menjadi ukuran popularitas da’i dari segi “keilmuwan” dan penampilan di depan orang.
Puasa adalah ketika kesemua orang yang disebutkan itu, menangis tersedu-sedu di hadapan kamera supaya dosanya diampunkan dan kelak dimasukkan dalam jannah dan berdampingan pula dengan rasulullah Muhammad Shallallhu alaihi wassalam.
Read the rest of this entry »
AAKBB, agama, amerika, FPI, indonesia, Islam, kekuasaan, Politik
In All News, Islam, Politik on 6 Juni 2008 at 2:27 pm
Inilah sebuah negara yang menjadi lawan politik sesungguhnya dari siapapun yang di dunia ini mengaku ingin bermain-main di bidang politik.
Merekalah sesungguhnya penerap terbaik dari konsep politik adiluhung, yaitu kekuasaan. Mereka buas namun mereka cukup menyeringai. Mereka tak berbasa-basi karena mereka tahu, basa-basi hanyalah membuang-buang waktu. Ini salah satu contohnya, informasi dari detik.com
Indonesia, bahkan sebelum merdeka pun, sudah menjadi wilayah baru bagi negara ini. Semacam wilayah protektorat dan kini bahkan lebih dari itu, negara jajahan baru yang tidak pernah merasa sedang terjajah.
Negara jajahan yang tidak pernah merasa dirinya sedang terjajah. Bukankah itu sesungguhnya makna penjajahan?
FPI, indonesia, Islam, militer, NU, Politik, reformasi, revolusi, Shiah, Sunni
In Islam, Kebudayaan, Lapak, Politik, Sastra dan Seni on 6 Juni 2008 at 11:11 am
Katanya, FPI mau perang sama Nahdhatul Ulama
Katanya, mahasiswa mau perang sama SBY-JK
Katanya, proletar mau perang sama borjuis
Katanya, sosialis komunis mau perang sama kapitalis
Katanya, Islam mau perang sama Kristen
Katanya, Kristen mau perang sama Islam
Katanya, Shiah mau perang sama Sunni
Katanya, Sunni mau perang sama Syiah
Read the rest of this entry »
amien rais, bahasa, indonesia, Islam
In Esai, Islam, Kebudayaan, Lapak on 4 Juni 2008 at 2:33 pm
Sebuah sms menghampiri hapeku yang sudah buluk. Isinya, Amien Rais akan membedah bukunya Agenda Bangsa Selamatkan Indonesia, di Emerald Garden Hotel Medan pada Sabtu, 7 Juni mendatang. Kubalas, aku akan hadir.
Yang kutulis bukan soal Amien Rais-nya, tapi “akan”-nya.
Read the rest of this entry »
FPI, indonesia, Islam, militer, Politik
In Islam, Politik on 3 Juni 2008 at 7:03 pm
Islam memang sangat perlu dibela. Islam harus masuk ke kekuasaan.
Kondisinya, orang Islam terpecah dua saja, Islam secara struktural dan islam secara kultural. Ini sudah dibahas orang cerdas sekaligus sangat santun, almarhum Kuntowijoyo. Beliau, membagi itu untuk dua gerakan besar Islam, Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah. NU ke arah kultural dan Muhammadiyah ke struktural. Apa lacur, keduanya belum bisa berdamai dan punya jalan masing-masing. NU mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa dan Muhammadiyah melahirkan Partai Amanat Nasional. Dua-duanya diambil, secara kultural maupun struktural.
Read the rest of this entry »
indonesia, Islam, medan, muhammadiyah, Politik, sumut
In All News, Islam, Politik, Wajah & Wawancara on 7 Mei 2008 at 3:51 pm
Prof Hasyimsyah Nasution MA merupakan salah seorang dari sedikit intelektual yang dimiliki Muhammadiyah Sumut saat ini. Ia pernah digadang sebagai calon kuat posisi Ketua Umum Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumut periode 2005 – 2010 lalu. Apa katanya soal Muhammadiyah? Berikut wawancara saya dengannya beberapa waktu lalu.
Read the rest of this entry »
fundamentalisme, IAIN, Islam, kalam, liberal, moderat, tradisonalisme, tuhan
In Islam, Kebudayaan, Politik on 7 Mei 2008 at 3:10 pm
Istilah untuk kaum fundamentalis ini sendiri berbeda-beda. Kaum fundamentalis yang berbahasa Arab menggunakan beberapa istilah seperti Ushuliyah al-Islamiyah (dasar-dasar Islam), shahwah al Islamiyah (kebangunan Islam) ataupun al-baats al Islami (kebangkitan Islam). Yang kurang simpati dengan kelompok-kelompok ini menyebut mereka dengan istilah muta’ashibin (orang-orang fanatik) ataupun mutatharrifin (orang-orang radikal). Pemerintah Indonesia dulu menggunakan istilah ekstrim kanan yang dituduh hendak mengganti negara Pancasila dengan negera Islam. Sementara Malaysia menggunakan istilah puak pelampau (orang-orang ekstrim) atau puak pengganas (orang-orang kejam).
Read the rest of this entry »
fundamentalisme, Islam, liberal, moderat
In Islam, Kebudayaan, Politik on 7 Mei 2008 at 2:39 pm
Radikalisme ataupun fundamentalisme Islam sering dihadapkan dengan liberalisme Islam. Gelombang pemikiran Islam kontemporer, saat ini lebih dilihat dari dikotomi tersebut. Islam moderat jadi jawaban Prof Hasyimsyah Nasution MA, mantan Direktur Pascasarjana (PPs) dan Guru Besar Pemikiran Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Medan.
Read the rest of this entry »
budaya, ilir-ilir, Islam, manusia, maulid, muhammad
In Esai, Islam, Kebudayaan on 24 Maret 2008 at 3:04 pm
Belum tentu hujan sehari menghapus kemarau setahun. Belum tentu kering sehari digilas sejam tsunami. Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane, bermaulidlah.
* * *
lir-ilir, lir-ilir, tandure wus semilir
tak ijo royo royo dak sengguh temanten anyar
(lihatlah kini waktu menyemai telah datang,
begitu hijau segar laksana pengantin baru)
Read the rest of this entry »
ayat-ayat cinta, film, hanung, Islam, Kebudayaan, laris, novel
In Esai, Geliat, Islam, Kebudayaan, Panggung, Sastra dan Seni on 19 Februari 2008 at 12:35 pm
Film yang diangkat dari novel laris, Ayat-ayat Cinta, diliris MD Pictures pada 19 Desember lalu dengan judul yang sama. Novelnya lahir dari situasi perang antara sastra sekuler dan sastra Islami. Ke mana film ini (nantinya) dibawa Hanung, sang sutradara?
Read the rest of this entry »
baqi, budaya, gambus, hasmidar, Islam, lagu, medan, mesir, musik, seni, surayyam wahab
In Esai, Islam, Kebudayaan, Sastra dan Seni on 17 Februari 2008 at 1:22 am
“Sahabat
Biarlah daku pergi
Berjalan menuju
Pangkalan …”
Entah siapa yang disebut sahabat oleh Almarhum H Ahmad Baqi. Bait lagu “Tersiksa Dalam Kenangan” di atas merupakan lagu terakhir yang diciptakan maestro musik religi Sumatera Utara. Lagu itu diciptakan Ahmad Baqi, sesaat sebelum ia mengambil sajadahnya untuk shalat tahajud malam di awal Syawal tahun 1999.
Read the rest of this entry »
IAIN, Islam, pemikiran, shari'ati
In Islam, Lapak on 30 Januari 2008 at 10:51 am
Saya tak menduga bila tulisan Shari’ati banyak juga pembacanya. Sungguh senang hati saya melihat respon yang diberikan, baik positif, negatif maupun yang datar-datar saja.
Tulisan itu memang agak panjang. Maklum, dia diambil dari makalah kuliah saya sewaktu diskusi soal Pemikiran Islam. Untuk memerasnya menjadi satu tulisan singkat, saya khawatir dengan kemampuan saya sekarang ini, bobot tulisannya akan menjadi seperti kerupuk pula.
Read the rest of this entry »
bahdin, Islam, muhammadiyah, pengkhianat, UMSU
In Islam, Kebudayaan, Lapak on 29 Januari 2008 at 4:13 pm
Baru saja, saya mendapat komentar dari seseorang yang mengaku bernama Sohibul ansor siregar. Begini bunyinya:
“Kawan-kawan seperjuangan. Saya mendapat kabar bahwa 5 orang dosen UMSU telah dipecat mereka adalah: MUSLIM SIMBOLON, SALMI ABBAS, NUR RAHMA AMINI, NALIL KHAIRIAH DAN NUR JANNAH. Mereka merupakan korban kesewenang-wenangan Bahdin Syamsuddin. Ayo kita lawan. Kita harus bergerak membela mereka.
Jabat
Sohibul..”
Karena bernada provokatif dan fitnah, saya cek langsung kepada bapak Shohibul Anshor Siregar yang saya kenal dengan baik. Seperti saya duga, beliau membantah mengirim komentar di blog saya saya.
Sungguh, beliau adalah orang yang saya hormati dan ketika ada orang yang memfitnah dengan mencatut namanya, ini sudah sungguh keterlaluan.
Read the rest of this entry »
, ideologi, indonesia, iran, Islam, shari'ati, ulama
In Islam on 19 Desember 2007 at 4:51 am
“I have no religion, but if I were to choose one, it would be that of Shariati’s.”
Jean-Paul Sartre
* * *
Ini versi Dr Mukhtar Effendy Harahap (seorang intelektual dari Universitas Gajah Mada) yang dikatakan langsung kepada saya soal kandungan buku Tugas Cendekiawan Muslim karangan Ali Shari’ati . Menurutnya, ada empat tipikal manusia, terutama dan dikhususkan pada manusia Islam, yang membuatnya berbeda dengan manusia-manusia lainnya.
Tipikal pertama adalah ilmuwan. Seorang manusia mesti mencari tahu soal kehidupan dan alam semesta dalam serangkaian penelitian ilmiah. Ilmu pengetahuan menjadi prasyarat pertama sebelum seorang manusia dikatakan sebagai manusia. Ia berbicara tidak hanya berlandaskan asumsi-asumsi, praduga-praduga subjektif, dan emosional belaka, tapi berdasarkan bukti-bukti kongkret melalui serangkaian metode keilmuan. Ia belajar mulai dari dasar, dari ketidaktahuannya akan sesuatu dan kemudian menjadi tahu akan sesuatu.
Read the rest of this entry »
ideologi, Islam, kekuasaan, muhammadiyah, rakyat
In Islam, Kebudayaan, Politik on 8 Desember 2007 at 3:40 am
oleh Dr Haedar Nashir
(Pengurus PP Muhammadiyah)
* * *
Kenapa para Nabiyullah ternama bergelar Al-Amin? Sosok yang sangat tepercaya. Nabi Muhammad diberi predikat al-amin jauh sebelum diangkat sebagai Rasul, ketika berhasil mempersatukan elite dan kabilah Quraisy yang berselisih tatkala membangun Ka’bah. Putra Abdullah bin Abdul Muthalib itu telah menjadi figur baru yang memberikan harapan cerah bagi masyarakat Arab, kendati di belakang hari harus berhadapan dengannya karena membawa agama baru, Islam.
Read the rest of this entry »
iran, Islam, karbala, khomeini, martir
In Islam, Kebudayaan, Politik on 20 November 2007 at 3:13 am
Suatu hari, Muhammad SAW, menggenggam sebongkah tanah dan beliau berkata kepada istrinya, Ummu Salamah, “Simpanlah tanah ini baik-baik. Maka ketahuilah ketika ia berubah menjadi darah, itulah masa ketika Husein, cucuku, wafat di tanah Karbala.”
Read the rest of this entry »