Arsip

Posts Tagged ‘jenderal’

Pancasila! Membunuh Ideologi Membunuh

1 Juni 2009 nirwan 9 komentar

Ada yang salah kalau melihat pentas pilpres 2009 ini hanya untuk pertarungan kekuasaan semata. Jusuf Kalla, seorang kandidat, pernah berujar kalau ada pertarungan ideologi yang sedang berlangsung. SBY menjawab, itu tidak benar karena ideologi negara sudah ada yaitu Pancasila. Jadi perdebatan ataupun pertarungan ideologi itu tak perlu dan tak akan ada.

***

gmr

Baru saja saya melihat film yang sebenarnya tak baru lagi, Mummi 3: The Tomb of the Dragon Emperor. Setelah Kaisar Han menguasai kerajaan Cina, kerajaan sekitarnya, dia kemudian menguasai empat elemen dunia yaitu bumi (tanah), air, api dan udara. Dia tak terkalahkan dan dia makin digdaya. Dia lantas maju ke tahap berikutnya, ingin mengalahkan kematian. Dia ingin tetap hidup dan kuat.

Read more…

Hidup di Negeri Para Jenderal

13 Maret 2009 nirwan 6 komentar

Untunglah saya punya jenderal yang mengawal saya dengan setia. Mereka-mereka ini bertempur dengan nyawa menjadi taruhan. Mengawal Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan segala tumpah darah agar saya bisa hidup tenang,aman, damai dan tidak dijajah oleh bangsa dan negara lain. Percayalah.

Jangan Anda katakan kalau mereka bertempur karena uang . Karena nanti mereka akan sangat tersinggung dan marah. Mereka memegang senjata adalah untuk kita. Percayalah.

Jangan pula Anda sebut untuk kekuasaan, karena prioritas mereka bukan itu. Mereka punya Sapta Marga dan Sumpah Prajurit. Jadi jangan ragukan itu. Percayalah.

Wawancarailah mereka dan mereka akan menyebut apa yang mereka lakukan sepanjang hidup, mulai dari lahir, dididik di akademi militer, bertugas di medan pertempuran, pensiun dan kemudian menulis buku, adalah sebagai sumbangsih kepada bangsa dan negara ini. Percayalah.

Karena kita hidup di negeri para jenderal. Percayalah. (*)

Dedd, y, mi, z, war

28 Februari 2009 nirwan 8 komentar

dedi-mizwarSebelum menulis ini, di benak saya melintas-lintas satu kata: hak. Tapi kemudian, si “hak” ini seperti emoh untuk dituliskan. Seolah-olah dia bergumam kepada saya begini. “Bung, jangan sematkan saya pada sosok Deddy Mizwar. Ini lebih dari itu. Gara-gara Bung, saya nanti tak sanggup lagi bercengkrama dengan kata-kata yang lain. Ini bukan sekedar hak, Bung. Ingat itu!” gumam si “Hak”.

Saya bingung. Kalau lebih dari itu, lalu apa? Apa ada yang lebih tinggi dari hak? Setahu saya, ya, orang-orang sering mengaitkan “hak” itu pada sesuatu yang “tinggi”, seperti sepatu hak tinggi. Ah, makin ngelantur-lah saya. Karena saya gak mau ngelantur sendirian, ya, saya ajaklah rekan-rekan sekalian untuk ngelantur bersama saya. Tenang, Anda masih bisa mengelak ‘kok. Saya kasih tau caranya; jangan baca lagi setelah kalimat ini diakhiri dengan tanda titik.

Read more…

Dua Jenderal

18 Februari 2009 nirwan 16 komentar

soeharto-dan-soekarno

Hanya ada dua jenderal besar di negeri ini: Jenderal Besar Abdul Haris Nasution dan Jenderal Besar Soeharto. Yang pertama putra asli Tapanuli, kelahiran Hutapungkut, Kotanopan, Tapanuli Selatan dan yang satu lagi kelahiran Kemusuk, Yogyakarta.

Kalau latah, keduanya bisa dianggap sebagai poros kekuatan para jenderal, satu jenderal Jawa dan satu jenderal Batak. Kalau lebih latah lagi, keduanya laksana bandul kekuatan antara kekuatan politik pulau Jawa dan luar pulau Jawa (termasuk bagian Timur dan Barat). Nasib keduanya jauh berbeda, yang sama adalah kini keduanya telah almarhum.

Read more…

Alkisah Sebuah Kursi

24 Maret 2008 nirwan 1 comment

Tiba-tiba harga kursi mahal. Seluruh kursi yang ada di Kota Medan berhilangan. Tidak cuma kursi, bangku pun raib. Sangkot dan Wak Labu yang biasa nongkrong di warkop sambil menaikkan kaki di atas bangku, kali ini terpaksa lesehan. Kini, mereka tak lagi duduk di warkop Sudirman, tapi di Warkop Juanda.
Read more…

Menerawang Mayjen (Purn) Tritamtomo

27 Februari 2008 nirwan 15 komentar

Bagi saya, bila besok diadakan pilgubsu 2008, maka Tritamtomo-lah yang bakal tersenyum lebar. Alasannya, kekuatan militer.

Read more…