Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Kebudayaan’
agama, bayi, Esai, Islam, Kebudayaan, tuhan
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik, Sastra dan Seni on 29 Juli 2009 at 8:26 pm
Dia diberitakan wafat kemarin, Selasa 28 Juli 2009. Terhimpit di sesaknya pemberitaan mengenai gugatan Pilpres 2009 ke MK, kasus Flu Babi yang mengemuka dan pemboman JW Marriot/Ritz Carlton milik Amerika dan Eropa. Badrun nama ayahnya, Nurhayati disematkan pada ibunya. Mereka berdua mengaku, sudah menginginkan bayi itu sejak sembilan tahun lamanya. Belum sempat mereka memberi nama, bayi itu telah ditimang Sang Maha Kuasa.
Beruntunglah mereka. Sejatinya, mereka diberikan dua anak sekaligus, dua kepala dalam satu tubuh. Dua kepala manusia itu bersatu, berdempet erat, berpeluk di sebuah ruang yang penuh kasih sayang, ruang yang jauh dari kemunafikan dan suci dari segala kebohongan; jantung dan hati. Seolah-olah tak ingin mereka berpisah walau hidung telah menghirup bumi.
Mereka hanya sempat mencicipi sebentar luapan kerinduan ayah dan bunda. Nantinya, mereka pastilah tak perlu merengek menghamba susu dari ibunya. Mereka tahu, ibunya tak akan ragu untuk bangun jam berapa pun, setiap harinya setiap malamnya. Darah ibunya adalah susu bagi mereka. Mereka juga mafhum, ayah mereka, Badrun, akan selalu melangkahkan kakinya mencari rezeki dalam hamparan luasnya dunia.
Secercah senyum ketika mengandung, seulas kejut saat terlahir, setitik hasrat kala dirawat, bercampur-campur kala tangan Izrail datang menjulur.
* * *
Read the rest of this entry »
Esai, indonesia, keamanan, Kebudayaan, mitos, polisi, sosial politik, teroris bom
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik, luar negeri on 21 Juli 2009 at 5:25 pm
The most wanted person itu bernama Noordin M Top. Disebut-sebut sebagai dedengkot teroris di Indonesia, namanya melegenda dan terus menjadi buah bibir. Selain karena “kinerja” dan jaringannya, hingga sekarang dia tak ketahuan batang hidungnya. Semakin tak tertangkap, namanya justru kian melambung. Tapi gara-gara itu pula, jangan-jangan namanya hanyalah hasil karangan bebas sistem politik keamanan di Indonesia. Benarkah dia (pernah) ada?
* * *
Alkisah, terjadilah sebuah perampokan besar di suatu kota metropolitan di Indonesia. Lebih mengagetkan lagi, yang menjadi korban
adalah kerabat seorang guru besar universitas ternama di kota itu. Guru besar ini dikenal sebagai orang yang lurus dan diketahui pula sebagai orang yang tidak ingin melibatkan diri secara jauh ke dalam kancah politik. Dia berteman dengan seluruh kalangan, pandai menempatkan posisi dan orang-orang menganggap sebagai figur dan tokoh masyarakat yang tidak punya gairah kekuasaan. Dia berhasil tegak dalam posisinya sebagai intelektual yang konon punya garis politik seperti ini: tidak ke mana-mana tapi ada di mana-mana. Kasusnya mengundang simpati dari seluruh, ya hampir seluruh, pihak yang biasanya berseteru di kota ini.
Kepala Kota langsung ke TKP dan seorang kepala polisi daerah tak perlulah mendapat perintah lebih lanjut untuk mengusut tuntas kasus ini secepat-cepatnya. Namun, bisik-bisik politik menyebutkan si kepala polisi ini ketiban target: kalau tak dapat dalam jangka waktu sekian jam, siap-siap saja hengkang dari kota ini.
Read the rest of this entry »
generasi, indonesia, Kebudayaan, lagu, pemuda, Politik, slank
In All News, Esai, Kebudayaan, Politik, Sastra dan Seni on 16 Juni 2009 at 12:55 pm
Aku bukan pion-pion catur
Aku gak suka diatur-atur
Jangan coba-coba halangi aku
Karna aku generasi biru
Aku gak mau direkayasa
Aku ingin berpikir merdeka
Jangan coba-coba untuk memaksa
Karna aku generasi biru
Biarkan terbuka lebar
Gak perlu tutup mataku
Aku ingin melihat jelas
Ini zaman generasi biru
Oh biarkan ku teriak lantang
Untuk apa sumbat mulutku
Aku ingin bernyanyi keras
Ini lagu generasi biru
Aku bukan anakmu
Aku cuma titipan
Mimpiku milikku
Aku ciptaan Tuhan
* * *
Lagu setengah lama itu, Generasi Biru ciptaan Slank, saya dengar pertama kali ketika saya masih di sekolah menengah itu. Sesaat lalu, dia menggebrak lagi kuping saya. Keras sekali. Bulu roma langsung merinding. Lagu itu penuh semangat dan membawa saya ke gemeretak hidup ke arah di mana anak muda akan melakukan apapun sesuai dengan yang ada di kepalanya. Saya teringat seseorang pernah berkata kepada saya dengan bijak. “Look that man! He stands and walks with his mind.”
Read the rest of this entry »
datuk, indonesia, Kebudayaan, malaysia, Politik, wisata
In All News, Ekonomi, Geliat, Kebudayaan, Politik on 2 Juni 2009 at 2:07 pm
Pariwisata telah menjadi pemasukan negara terbesar kedua di Malaysia, setelah industri manufaktur. Tahun 2008 lalu, lebih 2,4 Juta orang Indonesia –dari 22 juta lebih wisatawan asing di Malaysia– melancong di negeri itu. Inilah sebuah industri yang rancak dikelola para datuk.
* * *
Dato’ Seri Abdul Rahman Said terus mengumbar senyum manisnya. Pria muda bertubuh tinggi dan berkulit bersih itu menyalami satu per satu undangan dari 23 negara. Malam itu, di acara makan malam yang disertai sajian seni budaya Malaysia, sosok yang masih berkerabat dengan Raja Malaysia, Seri Paduka Baginda Yang di-Pertuan Agong Al-Wathiqu Billah Tuanku Mizan Zainal Abidin ibni Al-Marhum Sultan Mahmud Al-Muktafi Billah Shah, dan kini berposisi sebagai Timbalan Menteri Pelancongan Malaysia (semacam Departemen Pariwisata di Indonesia-red) itu, menyampaikan salamnya.
Read the rest of this entry »
boediono, indonesia, Islam, Kebudayaan, Politik, presiden, SBY, tuhan
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik on 13 Mei 2009 at 2:39 pm
Walau kening mengernyit-ngernyit, SBY (konon) akan menetapkan Boediono pada 15 Mei mendatang. Kalaulah benar SBY telah melakukan istikharah dan kalaulah nama Boediono itu hasil istikharah yang dilakukan SBY, saya hanya mengucapkan Tuhan telah memilih calon yang cocok untuk dirinya. Dalam kepala saya menghayal-hayal, mungkin seperti ini jawaban dari Tuhan; “Inilah kawan yang pantas untukmu. Inilah jawabanku untukmu!”
Saya sungguh percaya akan Tuhan saya, dan kali ini pun Tuhan telah memberikan jawaban yang sungguh-sungguh “menarik” atas apa yang dilakukan SBY selama kurun 5 tahun dan sebelum-sebelumnya. Soal pasangan ini akan menang atau tidak di lima tahun ke depan atau malah jatuh ke jurang kehancuran pada Juli nanti, bukan porsi postingan ini.
* * *
Saya teringat pada sebuah cerita mantan Presiden, Abdurrahman Wahid, kala dia masih bersekolah di Timur Tengah dan waktu itu pulang ke Indonesia. Di sebuah rumah ibadah, entah bagaimana caranya dia mendengar seorang pelacur memanjatkan doanya kepada Tuhan. Si pelacur itu berdoa agar “dagangannya” laris. Gus Dur kemudian menuliskan, kebutuhan dan kepentingan setiap manusia kepada Tuhannya berbeda-beda.
Read the rest of this entry »
Esai, indonesia, Islam, jawa, Kebudayaan, pilpres, Politik, presiden
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik on 18 April 2009 at 10:46 pm
Jumlah orang Jawa di Indonesia ini mayoritas. Pusat kekuasaan, tempat bermukim para Presiden Indonesia dan ibukota negera, ada di Pulau Jawa. Lebih dari 50% orang Indonesia berdiam di Pulau Jawa, sehingga siapapun yang ingin menguasai Indonesia maka dia harus berkibar-kibar di Pulau Jawa. Segala indikator itu, termasuk yang lain-lain yang mungkin ada di benak Anda, menjadi ukuran kalau Presiden Indonesia haruslah orang Jawa. Itu konvensi alias hukum tak tertulis.
Dus, adalah “kecelakaan sejarah” ketika BJ Habibie, seorang anak kelahiran Pare-pare Sulawesi, tiba-tiba duduk di singgasana istana Indonesia. Kecelakaan itu adalah jalan pikiran orang-orang yang mendukung konvensi “jadi-jadian”: Indonesia harus dipimpin oleh orang Jawa. Masak sih pulau yang jelas-jelas bernama Jawa dipimpin oleh orang Sulawesi?
Habibie hancur lebur pasca 1999. Orang “terpintar” di Indonesia itu tergusur dan tak diingini lagi menjadi Presiden. Setelahnya, trah itu kembali lagi ke rel-nya; Adurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono. Orang Jawa kembali berhasil merebut tahta istana negara.
Read the rest of this entry »
demokrasi, Esai, indonesia, ismail marzuki, Kebudayaan, kekuasaan, nasionalisme, Politik, proklamasi, reformasi, sosial, tuhan
In All News, Ekonomi, Esai, Islam, Kebudayaan, Lapak, Politik, Sastra dan Seni on 27 Maret 2009 at 11:11 am
Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap dipuja puja bangsa
Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata
(Indonesia Tanah Pusaka, Ismail Marzuki)
Lagu itu begitu pelan, lembut dan bikin merinding. Diciptakan seorang seniman yang dulu di sekelilingnya terlibat panasnya pertempuran, dentuman senjata, hujan bom, teriakan kesakitan, peluh, darah dan air mata. Namun, masa itu sudah lewat berpuluh-puluh tahun silam. Para pahlawan sudah mati, jasadnya melebur dengan tanah dan nisannya mengharap-harap memori dari mereka yang lewat untuk sekedar membersih-bersihkannya. Mereka sudah mati.
Read the rest of this entry »
Esai, film, indonesia, Islam, Kebudayaan, miskin, muhammad, Politik
In All News, Ekonomi, Esai, IPTEK, Islam, Kebudayaan, Lapak, Politik, Sastra dan Seni, luar negeri on 15 Maret 2009 at 12:11 am
“Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin dan himpunkanlah aku ke dalam golongan orang fakir miskin.” (Muhammad SAW)
* * *
Bernama Jamal Malik, dia adalah seorang yang selalu lurus-lurus saja pandangannya. Hampir saja dia menjadi naif kalau tidak ada abangnya, Salim; seorang yang realitis memandang hidup. Mereka menjadi yatim dan piatu, saat Ibu mereka tewas ketika gerombolan bersenjata tajam dan tumpul menyerbu perkampungan muslim mereka. Kampung mereka, kampung mayoritas muslim di Mumbai, India itu, adalah sebuah perkampungan para “slumdog”. Sudahlah anjing, kumuh pula lagi.
Menarik sekali. Film itu, “Slumdog Millionaire”, seperti yang telah Anda tahu, meraih Oscar dan Golden Globe Award sebagai Film Terbaik 2008. Film yang bercerita soal kemiskinan, terbuang, mempertahankan hidup, nasib, buruknya hukum, kesenjangan sosial di India itu, menjadi jawara setelah dinilai dan ditonton oleh para juri dan masyarakat yang lahir dari bangsa yang kaya, berpendidikan, modern dan maju; Eropa dan Amerika.
Read the rest of this entry »
budaya, Esai, indonesia, Islam, Kebudayaan, madrasah, maulid, medan, muhammad, seni
In All News, Esai, Geliat, Islam, Kebudayaan, Lapak, Sastra dan Seni on 10 Maret 2009 at 8:52 pm
Sewaktu kecil, di madrasah kami, Ibtadaiyah Al-Ittihadiyah, setiap maulid nabi Muhammad selalu dilakukan acara. Ada lomba baca al-quran, azan, tafsir, busana muslim, gerak jalan dan macam-macam. Kalau tidak salah, saya sudah berani ikut-ikutan lomba waktu umur saya tujuh tahun. Saya ikut lomba azan dan baca quran. Saya tak pandai betul melantunkan qiraat, walau ayah saya pernah juara mengaji. Tapi minimal dapatlah juara harapan. Saya tak kebagian piala tapi hadiah buku tulis. Namun, senangnya bukan main.
Kala lomba azan -sudah tabiat saya dan teman-teman sekelas dulu- bukan malah jadi lomba indah-indahan, tapi lomba kuat-kuatan suara. Siapa yang dapat nada paling tinggi, bolehlah agak nyombong dikit sama teman-teman. Tapi tetap yang selalu menang itu namanya Azra’i. Dia ini memang muadzin tetap di mesjid dekat madrasah kami. Suaranya tak pernah melengking, tapi ‘kok rasanya enak betul mendengar lantunan azannya.
Tahun kemarin, saya lewat lagi di depan madrasah itu. Tak besar memang, cuma ada lima ruang kelas. Guru yang dulu mengajar saya tinggal seorang. Guru-guru yang lain umurnya relatif sepantaran saya dan ada juga yang di bawah saya. Sesekali ibu saya pernah mengobati kerinduannya mengajar anak kelas satu. Tapi sesekali saja memang karena beliau sudah pensiun sejak lama. Dia pernah berkata kepada saya begini: “Jadi guru itu sudah darah daging, jadi sebenarnya tak bisa ditinggalkan.”
Read the rest of this entry »
agama, batak, belanda, indonesia, Islam, Kebudayaan, kolonial, kristen, m said, medan, negara, siregar, sisingamaraja, sumut, tapanuli, waspada
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik, Sastra dan Seni on 4 Maret 2009 at 9:58 pm
Saya membongkar-bongkar lagi dokumen yang ada pada saya dan mata saya tertumbuk pada artikel ini, ”Mohammad Said di Antara Ilmuan Sosial” ditulis oleh Shohibul Anshor Siregar. Saya baca ulang lagi dan saya langsung mengontak beliau dan meminta izin agar tulisan ini bisa diposting di blog saya. Beliau tertawa dan berujar, ”Up to you.”

Shohibul Anshor Siregar adalah seorang sosiolog Medan lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM). Dia ini salah seorang cendekiawan muslim yang dulunya diceritakan orang sempat dicegah agar tak lagi pulang ke Medan, Sumut, dari Pulau Jawa. Saya mendapat cerita kalau karir intelektual dan ”politik”-nya akan sangat “cerah” kalau dia tetap bertahan di sana. Maklum, sebelum ke sana, dia mantan Ketua Umum DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sumut tahun 1980-an. Dia ditarik-ditarik untuk masuk ke partai politik, namun hingga kini dia tetap memilih sebagai Dosen PNS di Kopertis Wilayah I Sumut-NAD. Seingat saya, hingga kini, dialah peneliti sosiologi politik yang terus konsisten berada di garis intelektual. Di blog ini, profil dia pernah juga saya postingkan. Orangnya sangat sederhana dan selalu tergelak. Ada yang latah menyebut, dia ini ”sosialis”. Tapi saya tak percaya.
Ini tulisannya.
Read the rest of this entry »
budaya, Kebudayaan, medan, museum, pendidikan, purbakala, sejarah, sekolah, seni, sumut, wisata
In All News, Esai, Kebudayaan, Lapak, Panggung, Sastra dan Seni on 2 Maret 2009 at 9:45 pm
Anak-anak itu tingginya masih sepinggang orang dewasa. Mereka, siswa Madrasah Ibtadaiyah (MI) –setingkat Sekolah Dasar (SD)- Al-Fachran, bergelontoran di lantai keramik Museum Negeri Sumatra Utara (Sumut) di jalan HM Joni Medan. Mereka cekikan melihat manusia purbakala Phitecentropus Erectus yang tinggi dan berdada bidang itu. Wajahnya tak mirip dengan mereka.
Mereka sibuk mencatat, sesekali menatap wajah purba yang mirip kera itu, setelah itu mereka tergelak lagi bersama-sama. “Manusianya ‘kok mirip monyet ya,” kata mereka. Kawan-kawannya yang lain menimpali sambil terkekeh. Suasana jadi riuh. Tiba-tiba mereka sibuk mencatat kembali; salah seorang guru memalingkan wajahnya ke arah mereka.
Gigi saya tersembul melihat itu. Dengan sedikit jingkat, saya sudah di belakang seorang di antara mereka. Saya intip lembar catatan anak itu. Dia menulis, judulnya; sejarah manusia purba. Dia berbalik dan cengegesan, kemudian berlari ke tempat ibu gurunya berdiri. “Ayo, keterangannya dicatat, jangan cuma ketawa. Nanti ibu tanya di sekolah,” kata guru mereka.
Read the rest of this entry »
caleg, indonesia, Islam, Kebudayaan, legislatif, pemilu, pilpres, Politik, reformasi
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik on 20 Januari 2009 at 5:53 pm
Senyum itu ibadah dan ibadah itu imbalannya pahala. Pahala itu tiket ke surga. Ibarat kuis, semakin banyak tiket pahala, maka semakin banyak pula kemungkinan untuk menang. Benarlah bila manusia itu selalu mengedepankan aspek untung rugi dalam hal apapun. Bahkan kepada Tuhan pun begitu. Dan Tuhan, tentulah tidak marah sama sekali. Dia maha kaya dan maha bijaksana.
Tuhan memang telah mempertontonkan kekuasaannya. Manusia, walau ingin sekali menjadi tuhan yang punya kekuasaan penuh, tetaplah manusia biasa. Di situ sebenarnya asyiknya menjadi manusia ini. Dia dari yang tidak punya kekuasaan, ingin menjadi penguasa. Kalau keinginan tak tergapai, ya, tak apa-apalah. Chairil Anwar saja bilang, “Sekali berarti sudah itu mati.” Jadi, hidup yang sekali ini, kalaulah bisa, dibuatlah “berarti”. Dus, apapun “arti” hidup itu nanti, ya, urusan nantilah itu.
Read the rest of this entry »
indonesia, Islam, israel, Kebudayaan, medan, palestina, rahim, sastra, seni, sumut, syair
In All News, Islam, Kebudayaan, Politik, Sastra dan Seni, luar negeri on 9 Januari 2009 at 5:36 pm
Pertama, saya girang bukan kepalang ketika seorang sastrawan senior di Sumut, A Rahim Qahar –biasa disingkat ARQ– memberikan artikel kebudayaannya kepada saya.
Namun, setelah membacanya, kegirangan saya berubah menjadi kesedihan, bulu roma pun merinding. Di benak saya langsung melintas, dulu, Iqbal adalah seorang penyair, yang kemudian membahasakan pemikiran Islamnya dalam bait-bait sastra. Selama ini, kita telah meluputkan sastra Islam, padahal kita punya sejarah yang memberitakan sastra juga merupakan satu kekuatan, suatu gerak yang langsung menikam jantung sehingga tak sadarlah kita kalau kulit kita sudah digores pisau.
Beliau kerap dipanggil “ayah”, sebuah simbol pengakuan kultural terhadap seorang figur. Ketika Saddam digantung, beliau mementaskan pergelaran Sajak Buat Saddam Hussein di Taman Budaya Sumatera Utara pada 2008 lalu. Pergelaran itu dinilai banyak orang lebih mirip aksi teatrikal daripada pembacaan puisi semata. Dan Ayah Rahim ini seolah menampar-nampar saya, kalau Palestina telah lama dibingkai oleh puisi. Puisi yang menggerakkan, puisi perjuangan, puisi perlawanan.
Ayah Rahim telah mengizinkan saya untuk mempostingnya di blog saya. Inilah artikel beliau.
Read the rest of this entry »
demokrasi, indonesia, Islam, Kebudayaan, peradaban, PKS, Politik, reformasi
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik on 10 Desember 2008 at 5:05 pm
Saya sungguh menghargai komentar Bang Saiful Anwar di halaman blog saya, “Si Nirwan”. Karena itu, walau saya sudah mengalihkan diri dari perbincangan soal PKS, dalam rangka penghargaan terhadap beliau, saya menuliskan beberapa potong pendapat saya dalam tulisan tersendiri. Berikut ini saya copy komentar beliau:
Assalaamualaikum Wr. Wb,
Bang Nirwan, tulisan antum bagus-bagus ya, memang budaya berfikir dan saling berbagi pengetahuan masih menjadi permasalahan umum bangsa kita. Saya tertarik dengan tulisan antum yang berjudul ketumpulan berpikir kader PKS, sangat bagus dan masukan yang baik bagi kami para kader PKS.Setelah belasan tahun mengikuti kajian PKS, terus terang baru saat ini saya bisa menyimpulkan tujuan besar kajian tarbiyah PKS, setelah dipaksa professor untuk mempresentasikan Information and Communication Technology in Islamic Perspective.
Read the rest of this entry »
amerika, demokrasi, indonesia, Kebudayaan, nasionalisme, peradaban, Politik
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik on 28 November 2008 at 8:15 pm
“We are not black american, we are not white american, we are not african-american, we are not hispanic-american, we are not asian-american….but we are the united states of america…”
* * *
Jean-Jacques Rousseau (1712- 1778) salah seorang penetas Revolusi Perancis, di antaranya membahas “nasionalisme” dalam teori kontrak sosial-nya. Manusia dikelilingi dalam suatu bahasan bangsa (dan suku bangsa) yang dikelilingi oleh sebuah pagar dan kemudian mereka-mereka ini bersepakat untuk saling mengatur dirinya dalam sebuah ikatan. Kemudian, terciptalah sebuah identitas yang membedakan antara manusia dalam satu pagar tertentu dengan manusia yang berada di pagar yang lain. Nasionalisme adalah sebuah identitas.
Dia seperti sebuah lukisan indah dalam bingkai yang lebih indah dari lukisannya. Lukisan itu berwarna-warni, ada yang merah, hijau, kuning, abu-abu sampai putih. Indonesia mengartikannya dalam Bhinneka Tunggal Ika –berbeda-beda tapi satu juga. Hal ini menjadikan nasionalisme dianggap sebagai suatu ideologi yang bahkan melampaui definsi ideologi itu sendiri. Di dalamnya, orang bisa berkata apa saja, berbuat apa saja, atau malah diam saja. Di dalamnya, orang bisa berkelahi, berdebat, saling tonjok, dan sisi lain, orang tak dilarang untuk bersilaturahim, bersahabat dan boleh pula mengucilkan dirinya. Syaratnya hanya satu: jangan pernah ke luar dari pagar.
Read the rest of this entry »
amerika, indonesia, Islam, Kebudayaan, peradaban, Politik, sosial, tauhid
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik on 8 November 2008 at 9:10 pm
Saya berkeyakinan, setiap orang akan menemui tuhannya sesuai dengan keyakinannya masing-masing ketika dia berada di dunia. Itulah makanya, ketika Al-Qoriah nanti, yang ada bukan hanya kehancuran alam semesta namun yang lebih penting adalah sidang pertanggungjawaban setiap individu kepada Tuhannya. Para malaikat dijamin tak membuat kesalahan sedikitpun karena hari itu adalah harinya Tuhan secara langsung mengadili setiap manusia.
Demikian juga dengan ketiga orang yang akan dihukum mati oleh pemerintah Indonesia: Imam Samudra, Amrozi dan Ali Ghufron. Tidak ada yang tahu seperti apa nantinya sidang pengadilan akhirat itu nanti. Kita pun tak akan mempedulikannya, karena kita lebih sibuk mengurusi nasib kita sendiri. Karena itu, luangkanlah waktu untuk mereka-reka apakah yang akan terjadi nantinya, ketika kita masih berada di dunia.
Read the rest of this entry »
agama, budaya, Kebudayaan, pornoaksi, pornografi, seni
In All News, Islam, Kebudayaan, Politik on 17 September 2008 at 5:06 pm
Soal RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi yang heboh lagi, kawan saya berceloteh dengan ringannya.
“Daripada ribut-ribut, sahkan saja RUU APP itu. Toh kalaupun nanti dalam pelaksanaannya banyak yang tak sesuai dengan niat sebelumnya, bisa dicabut lagi. UU kan bukan Al-quran.”
“Anda tak bisa seenaknya bertindak begitu. Walau tak abadi dan bisa diganggu-gugat, jangan sampai sebuah UU dan peraturan jadi gampang dibuat gampang dicabut. Itu tak konsisten dan merugikan penegakan hukum,” jawab saya.
Read the rest of this entry »
demokrasi, indonesia, Kebudayaan, Politik, pramoedya, sastra, seni
In Wajah & Wawancara on 18 Juli 2008 at 2:18 pm
Sambungan tulisan …
* * *
Ketika Pramoedya mendapatkan Ramon Magsasay Award, 1995, diberitakan sebanyak 26 sastrawan Indonesia menulis surat protes ke Yayasan Ramon Magsasay, di Filipina. Mereka tidak setuju, Pramoedya yang dituding sebagai “jubir sekaligus algojo Lekra paling galak, menghantam, menggasak, membantai dan mengganyang” di masa Demokrasi Terpimpin, tidak pantas diberikan hadiah dan menuntut pencabutan penghargaan yang dianugerahkan kepada Pramoedya.
Read the rest of this entry »
indonesia, Kebudayaan, Politik, pramoedya, sastra, seni
In All News, Kebudayaan, Politik, Sastra dan Seni, Wajah & Wawancara on 18 Juli 2008 at 2:10 pm
Sambungan tulisan …
* * *
Generasi sekarang ‘kan generasi buku sejarah. Sumber-sumber mengenai Polemik Manikebu dan Lekra pun banyak ditingkahi kepentingan. Bagaimana sebenarnya?
Kalau versi saya, sebagian bisa dilihat di Lentera, itu lembaran budaya di harian Bintang Timur. Majalah Tempo punya salinannya, Anda bisa baca di sana.
Read the rest of this entry »
indonesia, Kebudayaan, Politik, pramoedya, sastra
In All News, Kebudayaan, Politik, Sastra dan Seni, Wajah & Wawancara on 18 Juli 2008 at 2:04 pm
Dua tahun lalu, tepatnya, Minggu, 30 April 2006, sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, wafat di kediamannya, daerah Utan Kayu, Jakarta. Benarkah Pramoedya “meninggal”?
* * *
Sastrawan besar itu “akhirnya” meninggal dunia. Tepatnya pada Minggu, 30 April 2006, di kediamannya daerah Utan Kayu, Jakarta, paru-parunya yang sering berkelahi dengan asap rokok –dalam hari-hari terakhirnya ini, keluarganya harus menyelipkan sebatang rokok di mulutnya mengantisipasi kegemarannya merokok – pun harus berhenti mengeluarkan oksigen. Pram memang perokok berat.
Read the rest of this entry »
barat, eropa, euro, Kebudayaan, peradaban, Politik, sepakbola, timur
In Esai, Kebudayaan, Politik on 30 Juni 2008 at 5:26 pm
Dan lantas, pada ajang sepakbola Euro 2008, Turki menjadi salah satu dari empat besar negara semifinalis Euro 2008. Lihatlah baik-baik dari keempat finalis itu: Jerman, Turki, Spanyol dan Rusia. Bersama Spanyol, Jerman adalah wakil dari Eropa Barat sementara Rusia adalah Eropa Timur. Turki? Dia sedang berada di tengah-tengah.
Read the rest of this entry »
eropa, Esai, euro, iran, Kebudayaan, peradaban, Persia, Politik, turki
In Esai, Kebudayaan, Politik on 30 Juni 2008 at 5:22 pm
Eropa adalah pusat peradaban dan kebudayaan modern. Eropa tidak hanya sebuah benua, tapi juga sebuah ras. Salah satunya karena sepakbola.
* * *
Persentuhan Asia dan Eropa diceritakan dengan heroik oleh Amerika melalui Hollywood dalam film 300. Asia diwakili oleh Persia yang kini berwujud sebuah negara bernama Iran. Sementara itu, Eropa diwakili oleh fundamen dasar pembentuk kebudayaan Eropa sekarang, Yunani. Dalam film itu diceritakan, King Xerxes I yang merupakan salah satu raja dari Kekaisaran Achaemenid (648–330 SM) yang didirikan oleh Cyrus Agung, membawa pasukan tempur yang luar biasa besar dan kuat. Sejarawan mengungkapkan kisaran 150-200 ribu pasukan yang materinya dipasok dari beberapa wilayah di dalam kekuasaan Persia.
Read the rest of this entry »
budaya, kata, Kebudayaan, kekuasaan, Politik, puisi, rendra, rumi, seni, sutardji
In Esai, Kebudayaan, Politik, Sastra dan Seni on 22 Februari 2008 at 1:36 pm
Perubahan yang didasarkan atas kata menjadi bukti kuat determinasi kata terhadap hidup manusia. Merangkai kata ataukah meracik coklat?
* * *
“It’s Valentine Day!” Maka di hari itu, pekik hati remaja bersanding dengan ornamen dan produk berwarna merah jambu alias pink, plus hadiah bagi pasangan muda-mudi (di beberapa negara tertentu, pink dan valentine diasosiasikan dengan kelompok homoseksual). Apa wujud hadiah itu, terserah persepsi masing-masing. Syaratnya cuma satu, romantis.
Read the rest of this entry »
ayat-ayat cinta, film, hanung, Islam, Kebudayaan, laris, novel
In Esai, Geliat, Islam, Kebudayaan, Panggung, Sastra dan Seni on 19 Februari 2008 at 12:35 pm
Film yang diangkat dari novel laris, Ayat-ayat Cinta, diliris MD Pictures pada 19 Desember lalu dengan judul yang sama. Novelnya lahir dari situasi perang antara sastra sekuler dan sastra Islami. Ke mana film ini (nantinya) dibawa Hanung, sang sutradara?
Read the rest of this entry »