Cerita Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (Kata Pengantar)
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara disingkat orang menjadi UMSU. Saya masuk ke sana di zaman Orde Baru, tahun 1996. Jadi wajar saja kalau orang-orang yang ada di sana itu mayoritas adalah orangnya Orde Baru. Dulu, rektornya –konon- adalah demonstran tahun 1966. Namanya dr H Dalmy Iskandar. Khas demonstran, dia ini kalau ngomong dikenal keras. Layaknya penguasa di zaman Orde Baru, beliau ini pun lama juga menjabat sebagai rektor. Dia kemudian dijatuhkan oleh “kerabat”nya sendiri, Drs H Chairuman Pasaribu.
Jatuhnya Dalmy Iskandar, menurut analisis internal Muhammadiyah, adalah karena intrik yang terjadi di Muhammadiyah Sumut dan UMSU sendiri. Dalmy dinilai ingin berkuasa kembali setelah periode jabatannya yang kedua. Tapi itu tak disetujui. Gampang saja alasannya, UMSU waktu itu sudah sangat besar tidak lagi melarat. Jadi wajar saja kalau banyak orang yang mau menjadi orang nomor satu di sana. UMSU memang merupakan kekuatan tersendiri di tubuh Muhammadiyah Sumatera Utara, terutama karena universitas inilah sebagai penyandang dana terbesar dari kegiatan Muhammadiyah. Selain itu, banyak juga kader Muhammadiyah maupun –ini bukan istilah saya- “kader jadi-jadian” yang mencari makan di sana.
Medan-Istilah gebuk dari Soeharto, diberlakukan aktif oleh kampus Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU).
Nama lengkapnya Drs Shohibul Anshor Siregar Msi. Panggilan akrabnya banyak. Bisa Pak Shohib, Pak Regar, Pak Anshor atau namanya dipanggil panjang semuanya. Yang berbeda mungkin, siapa yang memanggil.

Yang Ngomen