Sepotong Tumpeng Kala Maulid
Sewaktu kecil, di madrasah kami, Ibtadaiyah Al-Ittihadiyah, setiap maulid nabi Muhammad selalu dilakukan acara. Ada lomba baca al-quran, azan, tafsir, busana muslim, gerak jalan dan macam-macam. Kalau tidak salah, saya sudah berani ikut-ikutan lomba waktu umur saya tujuh tahun. Saya ikut lomba azan dan baca quran. Saya tak pandai betul melantunkan qiraat, walau ayah saya pernah juara mengaji. Tapi minimal dapatlah juara harapan. Saya tak kebagian piala tapi hadiah buku tulis. Namun, senangnya bukan main.
Kala lomba azan -sudah tabiat saya dan teman-teman sekelas dulu- bukan malah jadi lomba indah-indahan, tapi lomba kuat-kuatan suara. Siapa yang dapat nada paling tinggi, bolehlah agak nyombong dikit sama teman-teman. Tapi tetap yang selalu menang itu namanya Azra’i. Dia ini memang muadzin tetap di mesjid dekat madrasah kami. Suaranya tak pernah melengking, tapi ‘kok rasanya enak betul mendengar lantunan azannya.
Tahun kemarin, saya lewat lagi di depan madrasah itu. Tak besar memang, cuma ada lima ruang kelas. Guru yang dulu mengajar saya tinggal seorang. Guru-guru yang lain umurnya relatif sepantaran saya dan ada juga yang di bawah saya. Sesekali ibu saya pernah mengobati kerinduannya mengajar anak kelas satu. Tapi sesekali saja memang karena beliau sudah pensiun sejak lama. Dia pernah berkata kepada saya begini: “Jadi guru itu sudah darah daging, jadi sebenarnya tak bisa ditinggalkan.”

Mereka sibuk mencatat, sesekali menatap wajah purba yang mirip kera itu, setelah itu mereka tergelak lagi bersama-sama. “Manusianya ‘kok mirip monyet ya,” kata mereka. Kawan-kawannya yang lain menimpali sambil terkekeh. Suasana jadi riuh. Tiba-tiba mereka sibuk mencatat kembali; salah seorang guru memalingkan wajahnya ke arah mereka.



Adzan shubuh bersahut-sahutan. Lampu sebuah rumah di jalan Baru, kelurahan Indrakasih, kecamatan Medan Tembung, sudah sejak tadi menyala. Ba’da sembahyang, seperti biasanya, keluarga itu akan membuka pintunya dan membiarkan udara pagi menyerbu masuk ke tengah ruangan. Televisi dihidupkan. Acara dialog keagamaan mengisi lembaran pagi bertanggal 16 April 2008.
Kawasan Kesawan merupakan salah satu kawasan cagar budaya yang dilindungi pemerintah kota. Menyimpan kejayaan bisnis masa lalu, kini kota yang terlihat STW alias setengah tua (sebagian gedung tua, sebagian gedung modern) ini, semakin “kumuh” akibat sarang walet yang dibalut gedung modern. Parijs van Sumatera tinggal lembaran sejarah yang tidak (akan) diingat lagi.

Yang Ngomen