Arsip

Posts Tagged ‘medan’

Sepotong Tumpeng Kala Maulid

10 Maret 2009 nirwan 12 komentar

quranSewaktu kecil, di madrasah kami, Ibtadaiyah Al-Ittihadiyah, setiap maulid nabi Muhammad  selalu dilakukan acara. Ada lomba baca al-quran, azan, tafsir, busana muslim, gerak jalan dan macam-macam. Kalau tidak salah, saya sudah berani ikut-ikutan lomba waktu umur saya tujuh tahun. Saya ikut lomba azan dan baca quran. Saya tak pandai betul melantunkan qiraat, walau ayah saya pernah juara mengaji. Tapi minimal dapatlah juara harapan. Saya tak kebagian piala tapi hadiah buku tulis. Namun, senangnya bukan main.

Kala lomba azan -sudah tabiat saya dan teman-teman sekelas dulu- bukan malah jadi lomba indah-indahan, tapi lomba kuat-kuatan suara. Siapa yang dapat nada paling tinggi, bolehlah agak nyombong dikit sama teman-teman. Tapi tetap yang selalu menang itu namanya Azra’i. Dia ini memang muadzin tetap di mesjid dekat madrasah kami. Suaranya tak pernah melengking, tapi ‘kok rasanya enak betul mendengar lantunan azannya.

Tahun kemarin, saya lewat lagi di depan madrasah itu. Tak besar memang, cuma ada lima ruang kelas. Guru yang dulu mengajar saya tinggal seorang. Guru-guru yang lain umurnya relatif sepantaran saya dan ada juga yang di bawah saya. Sesekali ibu saya pernah mengobati kerinduannya mengajar anak kelas satu. Tapi sesekali saja memang karena beliau sudah pensiun sejak lama. Dia pernah berkata kepada saya begini: “Jadi guru itu sudah darah daging, jadi sebenarnya tak bisa ditinggalkan.”

Read more…

Batak, Malim, Sisingamaraja dan eh, Islam?

4 Maret 2009 nirwan 16 komentar

Saya membongkar-bongkar lagi dokumen yang ada pada saya dan mata saya tertumbuk pada artikel ini, ”Mohammad Said di Antara Ilmuan Sosial” ditulis oleh Shohibul Anshor Siregar. Saya baca ulang lagi dan saya langsung mengontak beliau dan meminta izin agar tulisan ini bisa diposting di blog saya. Beliau tertawa dan berujar, ”Up to you.”

Indonesia Religion

Shohibul Anshor Siregar adalah seorang sosiolog Medan lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM). Dia ini salah seorang cendekiawan muslim yang dulunya diceritakan orang sempat dicegah agar tak lagi pulang ke Medan, Sumut, dari Pulau Jawa. Saya mendapat cerita kalau karir intelektual dan ”politik”-nya akan sangat “cerah” kalau dia tetap bertahan di sana. Maklum, sebelum ke sana, dia mantan Ketua Umum DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sumut tahun 1980-an. Dia ditarik-ditarik untuk masuk ke partai politik, namun hingga kini dia tetap memilih sebagai Dosen PNS di Kopertis Wilayah I Sumut-NAD. Seingat saya, hingga kini, dialah peneliti sosiologi politik yang terus konsisten berada di garis intelektual. Di blog ini, profil dia pernah juga saya postingkan. Orangnya sangat sederhana dan selalu tergelak. Ada yang latah menyebut, dia ini ”sosialis”. Tapi saya tak percaya.

Ini tulisannya.

Read more…

Menghitung Warisan di Museum Negeri Sumut

2 Maret 2009 nirwan 10 komentar

Anak-anak itu tingginya masih sepinggang orang dewasa. Mereka, siswa Madrasah Ibtadaiyah (MI) –setingkat Sekolah Dasar (SD)- Al-Fachran, bergelontoran di lantai keramik Museum Negeri Sumatra Utara (Sumut) di jalan HM Joni Medan. Mereka cekikan melihat manusia purbakala Phitecentropus Erectus yang tinggi dan berdada bidang itu. Wajahnya tak mirip dengan mereka.

museum negeri sumutMereka sibuk mencatat, sesekali menatap wajah purba yang mirip kera itu, setelah itu mereka tergelak lagi bersama-sama. “Manusianya ‘kok mirip monyet ya,” kata mereka. Kawan-kawannya yang lain menimpali sambil terkekeh. Suasana jadi riuh. Tiba-tiba mereka sibuk mencatat kembali; salah seorang guru memalingkan wajahnya ke arah mereka.

Gigi saya tersembul melihat itu. Dengan sedikit jingkat, saya sudah di belakang seorang di antara mereka. Saya intip lembar catatan anak itu. Dia menulis, judulnya; sejarah manusia purba. Dia berbalik dan cengegesan, kemudian berlari ke tempat ibu gurunya berdiri. “Ayo, keterangannya dicatat, jangan cuma ketawa. Nanti ibu tanya di sekolah,” kata guru mereka.

Read more…

Orang Batak kok Maen Keroyok

9 Februari 2009 nirwan 17 komentar

Cespleng…itu ada di kepala saya ketika singgah di blog salah seorang senior saya, Mayjen Simanungkalit. Bang Mayjen bikin berita yang menyentuh soal salah satu tipikal paling dasar dari orang Batak, yaitu “main keroyok bukan watak orang batak.”

No excuse lagi, sudah benarlah itu. Watak orang Batak dari dulu itu, ya, lugas, tanpa tedeng aling-aling, ‘gak banyak basa-basi, langsung ke inti persoalan. Kalau dia tidak senang, dia akan bilang, ‘gak disimpen-simpen. Kalau cari persoalan, atau sudah berani nyentuh, ya langsung saja, minimal tampar. Dan itu semua dengan “maen tunggal”, ‘gak ngajak-ngajak orang alias keroyokan.

Marlon Purba itu orang PDI Perjuangan. Politisi ini “bandel” dan ciri khasnya, kalau “berkelahi” ya sendiri aja. Dia pernah terlibat konflik sama gubernur Sumut waktu itu, Rudolf M Pardede. Padahal, mereka ini dulu sama-sama satu partai, sama-sama satu agama pula. Dan yang patut diacungi jempol dari Marlon adalah dia ‘gak pake keroyokan, maju sendiri melawan Rudolf. Menang kalah urusan belakang.

Yang demo Provinsi Tapanuli (Protap), ngeroyok dan membunuh kemaren? Ya, jelas bukan orang Batak. Itu teroris barbar!

Read more…

Raja Inal Siregar

4 Februari 2009 nirwan 4 komentar

… Bagi orang “pusat”, pemekaran tidak diartikan semangat untuk membangun, namun lebih bermakna “penyempitan kekuasaan” …

raja-inal-siregar-1

Langit begitu teriknya, namun mendung sudah menggantung di hati setiap orang di tanah Sumatera Utara ini. Berjalan-jalan di Kota Medan, dari Lapangan Merdeka yang penuh café, hingga Balai Kota yang dibelakangnya membonceng mall yang dibangun oleh orang Singapura, lintasan jalan Raden Saleh, menuju Imam Bonjol, jalan Jenderal Sudirman dan membelok ke jalan Diponegoro. Di sana, megahlah menjulang kantor gubernuran yang lebih satu dasawarsa lalu duduk seorang sosok bernama Letjend Purn H Raja Inal Siregar (almarhum).

Read more…

Puisi Perlawanan Penyair Palestina

9 Januari 2009 nirwan 6 komentar

Pertama, saya girang bukan kepalang ketika seorang sastrawan senior di Sumut, A Rahim Qahar –biasa disingkat ARQ– memberikan artikel kebudayaannya kepada saya.

Namun, setelah membacanya, kegirangan saya berubah menjadi kesedihan, bulu roma pun merinding. Di benak saya langsung melintas, dulu, Iqbal adalah seorang penyair, yang kemudian membahasakan pemikiran Islamnya dalam bait-bait sastra. Selama ini, kita telah meluputkan sastra Islam, padahal kita punya sejarah yang memberitakan sastra juga merupakan satu kekuatan, suatu gerak yang langsung menikam jantung sehingga tak sadarlah kita kalau kulit kita sudah digores pisau.

Beliau kerap dipanggil “ayah”, sebuah simbol pengakuan kultural terhadap seorang figur. Ketika Saddam digantung, beliau mementaskan pergelaran Sajak Buat Saddam Hussein di Taman Budaya Sumatera Utara pada 2008 lalu. Pergelaran itu dinilai banyak orang lebih mirip aksi teatrikal daripada pembacaan puisi semata. Dan Ayah Rahim ini seolah menampar-nampar saya, kalau Palestina telah lama dibingkai oleh puisi. Puisi yang menggerakkan, puisi perjuangan, puisi perlawanan.

Ayah Rahim telah mengizinkan saya untuk mempostingnya di blog saya. Inilah artikel beliau.

Read more…

Tuhan yang Tercecer

22 Desember 2008 nirwan 16 komentar

Apa yang dapat aku lakukan, wahai ummat Muslim?
Aku tidak mengetahui diriku sendiri.
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi,
bukan Majusi, bukan Islam.
Bukan dari Timur, maupun Barat.
Bukan dari darat, maupun laut.
Bukan dari Sumber Alam,
bukan dari surga yang berputar,
Bukan dari bumi, air, udara, maupun api;
Bukan dari singgasana, penjara, eksistensi, maupun makhluk;
Bukan dari India, Cina, Bulgaria, Saqseen;
Bukan dari kerajaan Iraq, maupun Khurasan;
Bukan dari dunia kini atau akan datang:
surga atau neraka;
Bukan dari Adam, Hawa,
taman Surgawi atau Firdaus;
Tempatku tidak bertempat,
jejakku tidak berjejak.
Baik raga maupun jiwaku: semuanya
adalah kehidupan Kekasihku …

(Aku Adalah Kehidupan Kekasihku karya Jalaluddin Rumi
copy dari artikel buku “Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma’rifat” oleh Idries Shah)

Read more…

Cerita Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (Kata Pengantar)

25 November 2008 nirwan 13 komentar

Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara disingkat orang menjadi UMSU. Saya masuk ke sana di zaman Orde Baru, tahun 1996. Jadi wajar saja kalau orang-orang yang ada di sana itu mayoritas adalah orangnya Orde Baru. Dulu, rektornya –konon- adalah demonstran tahun 1966. Namanya dr H Dalmy Iskandar. Khas demonstran, dia ini kalau ngomong dikenal keras. Layaknya penguasa di zaman Orde Baru, beliau ini pun lama juga menjabat sebagai rektor. Dia kemudian dijatuhkan oleh “kerabat”nya sendiri, Drs H Chairuman Pasaribu.

Jatuhnya Dalmy Iskandar, menurut analisis internal Muhammadiyah, adalah karena intrik yang terjadi di Muhammadiyah Sumut dan UMSU sendiri. Dalmy dinilai ingin berkuasa kembali setelah periode jabatannya yang kedua. Tapi itu tak disetujui. Gampang saja alasannya, UMSU waktu itu sudah sangat besar tidak lagi melarat. Jadi wajar saja kalau banyak orang yang mau menjadi orang nomor satu di sana. UMSU memang merupakan kekuatan tersendiri di tubuh Muhammadiyah Sumatera Utara, terutama karena universitas inilah sebagai penyandang dana terbesar dari kegiatan Muhammadiyah. Selain itu, banyak juga kader Muhammadiyah maupun –ini bukan istilah saya- “kader jadi-jadian” yang mencari makan di sana.

Read more…

Orang Miskin Sumut per Maret 2008, 1,6 Juta orang!

24 Oktober 2008 nirwan 8 komentar

Laporan ekonomi Bank Indonesia Medan triwulan II 2008 menyebutkan angka luar biasa pada jumlah orang miskin di Sumatera Utara. Disebutkan, per Maret 2008, orang miskin di Sumut mencapai 1.613.800 orang atau 12,5% lebih dari total penduduk Sumut.

Sekilas dalam statistik, satu juta orang dan persentase itu tak ada apa-apanya. Tapi bisakah Anda bayangkan, di daerah yang kaya raya ini, orang miskin di sini lebih dari satu setengah juta orang?

Satu orang miskin pun di kawasan Anda itu adalah tragedi, konon pula satu juta orang. Saya membayangkan, bila satu juta orang lebih ini dikumpulkan dan dibariskan di seluruh jalan-jalan yang ada di kota Medan, kemudian mereka ini berdemo di sepanjang jalan Diponegoro (kantor Gubernur), jalan Imam Bonjol (DPRD Sumut/DPRD Medan, Bank Sumut, BPKP, Bank Mandiri), jalan Balaikota/Raden Saleh (Kantor Walikota Medan, Bank Indonesia), jalan Gatot Subroto (salah satu sentra bisnis), dan jalan-jalan lainnya di kota Medan… dan kemudian, mereka ini menuntut janji dari pemerintahan Syamsul Arifin-Gatot Pudjonugroho yang katanya berasal dari partai-partai populis itu dan berkampanye “Rakyat Tidak Lapar, Tidak Bodoh, Tidak Sakit”….

Dan lebih dari itu, bila satu juta orang lebih ini dikumpulkan dan disuruh berbaris di sepanjang pulau Sumatera, bergerombol bersama orang-orang miskin lainnya di pulau yang kaya-raya ini, menuntut pemerintahan negara Indonesia yang dipimpin oleh Susilo Bambang Yudhoyono dan pengusaha kaya Yusuf Kalla itu ….

Sesungguhnya, sesungguhnya, sesungguhnya, sesungguhnya ….. kata pembukaan UUD 1945.

Categories: All News, Politik Tag:, , ,

Elie Eboy Gabung PSMS Medan

1 September 2008 nirwan 2 komentar

Informasi ini baru saya dapet dari goal.com. Mohon maklum, soalnya baru hari ini saya buka internet, setelah semedi di kamar saya yang hangat itu. hehehehe. But, bagaimanapun masuknya Elie Eboy ke PSMS Medan pasti ada dampak positifnya saat sepakbola di Medan sedang terpuruk. :(

Categories: All News, Sport Tag:, , , ,

Syamsul Pun Naik Pelaminan

16 Juni 2008 nirwan 8 komentar

H Syamsul Arifin SE resmi dilantik Senin, 16 Juni 2008, di gedung DPRD Sumut. Dia adalah gubernur Sumatera Utara (Sumut) pertama yang dipilih dalam sebuah pemilihan langsung. Dia melangkahi seniornya, menyalami juniornya dan tersenyum pada kompetitornya.

Read more…

Raswin, Singkat Saja

2 Juni 2008 nirwan 1 comment

raswin hasibuanKalimat ini belum tentu benar: Raswin adalah Kartupat dan Kartupat adalah Raswin. Tapi, dia adalah salah seorang di antara lima orang yaitu M Nasir Harahap, Baijuri, Burhanuddin Nasution, Isman MS dan dia sendiri, ketika memulai membuka Kartupat, 4 Juni 1976 silam.
Read more…

Raswin Hasibuan, Segores Catatan

2 Juni 2008 nirwan 2 komentar

Raswin Hasibuan, pimpinan grup teater Kartupat, menghembuskan nafas terakhirnya bertepatan dengan tanggal sama teaterwan dan sineas ternama Indonesia, Arifin C Noer, pada 28 Mei.. Ia meninggalkan sebuah konsistensi dalam perjalanan teater di Sumut. Teater dan dirinya tak akan pernah mati.

Read more…

Mahasiswa Pun Ditangkapi

24 Mei 2008 nirwan 4 komentar

Tadi malam, mahasiswa Medan ditangkapi di Simpang Glugur, Kota Medan. Mereka dibawa ke Poltabes Medan. Polisi bertindak sangat keras karena aksi yang mereka lakukan dalam rangka menolak kenaikan BBM itu sendiri berlangsung damai dan tidak melanggar ketertiban umum. Di antara mereka, ada yang berasal dari almamaterku, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Aku haru, bangga dan hormat kepada mereka. Mereka bakal menjadi saksi dan pelaku sejarah. Salut…!!!!!!

 

Tapi, polisi memberangus paksa, menendangi dan menggelandang mereka ke Poltabes Medan seperti laiknya tersangka penjahat perang.

Read more…

”…Muhammadiyah Diperdaya oleh Kepentingan.”

7 Mei 2008 nirwan 3 komentar

Prof Hasyimsyah Nasution MA merupakan salah seorang dari sedikit intelektual yang dimiliki Muhammadiyah Sumut saat ini. Ia pernah digadang sebagai calon kuat posisi Ketua Umum Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumut periode 2005 – 2010 lalu. Apa katanya soal Muhammadiyah? Berikut wawancara saya dengannya beberapa waktu lalu.

Read more…

Ini Siantar, Men!

6 Mei 2008 nirwan 13 komentar

Kota Pematang Siantar. Di Sumatera Utara, bagi yang tahu, imej Siantar sudah terlanjur keras, sangar, dan tanpa kompromi. Di kalangan mahasiswa yang bersekolah di Jawa, Medan, dan mungkin juga kota-kota lain di Indonesia, ada hukum tak tertulis, “Jangan main-main dengan anak Siantar!”Entah sudah berapa lama imej itu melekat, belum ada penelitian yang menjawab.
Read more…

Categories: All News, Lapak Tag:, , ,

Chairil Anwar Sudah Mati Di Sini…

5 Mei 2008 nirwan 6 komentar

28 April 1949. Tanggal itu adalah tanggal wafatnya penyair besar Indonesia asal Medan, Chairil Anwar. Seandainya, fisiknya masih hidup hingga sekarang, maka tiga bulan lagi, tepatnya pada 26 Juli mendatang, ia baru akan berumur, 86 tahun.
Read more…

Pantai Timur Versus Pantai Barat

28 April 2008 nirwan 1 comment

Pilgubsu 2008 menebar isu persaingan diam-diam antara kiprah politik di Pantai Timur dan Pantai Barat. Perolehan suara peringkat satu dua, Syamsul Arifin-Gatotpudjonugroho (Syampurno) dan Tritamtomo-Benny Pasaribu (Triben), menggambarkan soal itu.

Read more…

Gubernur, Lindungilah Mereka …

22 April 2008 nirwan 4 komentar

difoto oleh RoemonoAdzan shubuh bersahut-sahutan. Lampu sebuah rumah di jalan Baru, kelurahan Indrakasih, kecamatan Medan Tembung, sudah sejak tadi menyala. Ba’da sembahyang, seperti biasanya, keluarga itu akan membuka pintunya dan membiarkan udara pagi menyerbu masuk ke tengah ruangan. Televisi dihidupkan. Acara dialog keagamaan mengisi lembaran pagi bertanggal 16 April 2008.
Read more…

Kesawan, Wajah Murung Kota Medan

2 April 2008 nirwan 2 komentar

foto punya medanphoto.multiply.comKawasan Kesawan merupakan salah satu kawasan cagar budaya yang dilindungi pemerintah kota. Menyimpan kejayaan bisnis masa lalu, kini kota yang terlihat STW alias setengah tua (sebagian gedung tua, sebagian gedung modern) ini, semakin “kumuh” akibat sarang walet yang dibalut gedung modern. Parijs van Sumatera tinggal lembaran sejarah yang tidak (akan) diingat lagi.

Read more…