Arsip

Posts Tagged ‘muhammadiyah’

Golput Haram, Tuhan Pun Tertawa

12 Desember 2008 nirwan 33 komentar

Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid, meminta MUI-NU-Muhammadiyah memfatwakan haram kepada golongan putih alias golput. Di ranah politik, statemen Hidayat ini jelas tertuju kepada Kyai nyeleneh, Abdurrahman Wahid yang menyuruh pendukungnya di PKB dan NU agar golput di pemilu 2009. Namun, persoalannya bagi saya tidaklah sesederhana itu.

Seruan Hidayat ini tak berbeda ketika di zaman Orde Baru lalu pemerintahan Soeharto juga mengharamkan golput. Dan itu dilakukan bahkan pada saat Orba baru saja akan melakukan pemilu pertamanya, 5 Juli 1971. Sebelumnya, MPRS sudah mengamanatkan kalau pemilu pasca Orde lama harus sudah dilakukan pasca Sidang Istimewa MPRS tahun 1967. Namun, karena kekuatan politik Orba masih lemah, Soeharto butuh empat tahun untuk melaksanakannya. Golongan Karya, organisasi binaan Soeharto langsung menjadi pemenang. Posisi kedua ada Nahdlatul Ulama, Parmusi, Partai Nasional Indonesia, dan Partai Syarikat Islam Indonesia.Sejak saat itu, Golongan Karya dan Militer menjadi infrastruktur kekuasaan terbesar Orde Baru.

Yang menyerukan Golput di awal Orde Baru adalah kelompok mahasiswa Arif Boediman cs. Pada 3 Juni 1971, di Gedung Balai Budaya, Jakarta, mereka memproklamirkan gerakan “Golongan Putih (Golput)”. Gerakan moral Arief Budiman ini merupakan di antara model gerakan mahasiswa selain aksi politik praktis yang juga dilakukan mahasiswa ketika memasuki parlemen. Seperti lazim dikabarkan oleh sejarah negeri ini, mahasiswa terpecah dua bagian utama yaitu mereka yang pro politik praktis dan mereka yang kontra. Arief Budiman berada di antara yang kontra tersebut.

Read more…

Cerita Kaum Mustadha’afin di Muhammadiyah (Sumut)

4 Desember 2008 nirwan 4 komentar

Saudara, salah satu ijtihad paling awal yang dilakukan KH Ahmad Dahlan adalah perlindungan terhadap kaum mustadha’afin. Dan Ahmad Dahlan, mendirikan Muhammadiyah sebagai organisasi yang melindungi kaum ini. Ini adalah cerita soal Muhammadiyah Sumut yang boleh Anda setujui dan boleh juga Anda ratapi.

Teman-teman …
Para pemuja-muja kapitalis, tuan-tuan tanah yang berselimut feodalisme, serta susupan kaum fasis yang berbaju Orde Baru (dalam sosok-sosok wajah berlukis premanisme), telah datang dalam berbagai bentuk ke dalam Muhammadiyah, seperti laiknya Kota Barus di Tapanuli Tengah, didatangi berbondong-bondong oleh pengelana, pelaut dan pedagang dari Timur Tengah. Para imigran gelap inilah yang justru telah menjadikan posisi Muhammadiyah sebagai organisasi yang patut dilindungi saat ini. Muhammadiyah adalah kaum dhuafa itu sendiri. Muhammadiyah adalah “korban”.

Untuk melihat Muhammadiyah Sumut, maka lihatlah terlebih dahulu apa yang sedang terjadi dalam Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). UMSU merupakan amal usaha terbesar sekaligus menjadi donatur terbesar yang menyumbang segala kegiatan Muhammadiyah wilayah. Karena itu, UMSU adalah cerminan dari perilaku pengurus PW Muhammadiyah Sumut. Apalagi, sebagian pengurus PW Muhammadiyah Sumut juga adalah penguasa teras UMSU. Dan ketika Anda melihat itu, maka akan tampaklah bagaimana wajah Muhammadiyah Sumut.

Read more…

Jumud di Muhammadiyah (Sumut)

25 November 2008 nirwan 4 komentar

Tulisan ini saya kira berkategori “seharusnya”. Saya sendiri berusaha menghindarinya, namun tak bisa-bisa. Mungkin saya harus bersemedi dulu di salah satu gua yang ada di Sumut, supaya bisa membuang kata “seharusnya” itu derasnya Sungai Asahan. Di sisi lain, ini tulisan induktif. Jadi soal generalisasi, bisalah saya tahan-tahan dulu.

Risau saya melihat Muhammadiyah Sumatera Utara ini. Risaunya soal pemikiran dan gerakan yang semakin lama semakin membatu alias jumud. Padahal, dalam Muhammadiyah, jumud ini barang haram, sesuatu yang sejak dicetuskan oleh KH Ahmad Dahlan sudah diletakkan di laci sejarah: hanya boleh dipajang dan dilihat-lihat sebagai bahan pembelajaran.

Tak ada pemikiran bernas soal Sumatera Utara ini yang lahir dari rahimnya Muhammadiyah. Dengan kondisi carut-marut di Sumatera Utara, seharusnya (nah, kan!), Muhammadiyah sepatutnya sudah memprediksikannya sejak awal dan kemudian mencegahnya. Satu contoh kecil saja, kemiskinan sudah begitu tingginya (data BPS menyebut lebih dari 1,6 juta jiwa per Maret 2008. Di bidang politik, hampir 40% pemilih sudah menjadi Golput. Itu kasus terakhir sewaktu Pilgubsu 2008. Dan seterusnya, dan seterusnya. Karena kondisinya sudah lacur, apa boleh buat, asumsinya adalah Muhammadiyah Sumut sedang jumud.

Read more…

Cerita Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (Kata Pengantar)

25 November 2008 nirwan 13 komentar

Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara disingkat orang menjadi UMSU. Saya masuk ke sana di zaman Orde Baru, tahun 1996. Jadi wajar saja kalau orang-orang yang ada di sana itu mayoritas adalah orangnya Orde Baru. Dulu, rektornya –konon- adalah demonstran tahun 1966. Namanya dr H Dalmy Iskandar. Khas demonstran, dia ini kalau ngomong dikenal keras. Layaknya penguasa di zaman Orde Baru, beliau ini pun lama juga menjabat sebagai rektor. Dia kemudian dijatuhkan oleh “kerabat”nya sendiri, Drs H Chairuman Pasaribu.

Jatuhnya Dalmy Iskandar, menurut analisis internal Muhammadiyah, adalah karena intrik yang terjadi di Muhammadiyah Sumut dan UMSU sendiri. Dalmy dinilai ingin berkuasa kembali setelah periode jabatannya yang kedua. Tapi itu tak disetujui. Gampang saja alasannya, UMSU waktu itu sudah sangat besar tidak lagi melarat. Jadi wajar saja kalau banyak orang yang mau menjadi orang nomor satu di sana. UMSU memang merupakan kekuatan tersendiri di tubuh Muhammadiyah Sumatera Utara, terutama karena universitas inilah sebagai penyandang dana terbesar dari kegiatan Muhammadiyah. Selain itu, banyak juga kader Muhammadiyah maupun –ini bukan istilah saya- “kader jadi-jadian” yang mencari makan di sana.

Read more…

Argumentasi Kemerosotan PKS

15 November 2008 nirwan 97 komentar

Apa argumentasi judul postingan ini?

1. Tak bersilaturahim dengan Nahdhatul Ulama soal Iklan mereka. Jangan harap PKS bakal mendulang suara dari anggota, kader dan simpatisan NU yang bejibun itu. Konsep partai ini jelas beda dengan konsep ahli sunnah wal jamaah-nya NU. PR paling besar adalah menjelaskan cap wahabiah yang dikenakan kepada PKS. Iklan dan kemudian tak maunya PKS bersilaturahim dengan NU secara organisatoris membuat antipati semakin tebal dan bukannya simpati. Apalagi, PKS cuma diterima di kalangan perkotaan bukannya di pesantren-pesantren alias desa-desa. Hal ini akan merembet ke organisasi Islam yang berideologi mirip dengan NU seperti Al-washliyah, al-Ittihadiyah, tarekat-tarekat dan seterusnya. Organisasi NU dan organisasi yang berafiliasi di dalamnya sudah terlihat bergerak, tidak hanya untuk membentengi NU tapi juga menyerang.

2. Tak bersilaturahim dengan Muhammadiyah. Muhammadiyah sejak lama telah “ditinggalkan” oleh PKS dalam kinerja politik partai ini. Iklan PKS dan kemudian degilnya petinggi PKS ketika iklan pertama dan kedua soal Ahmad Dahlan, semakin membuat Muhammadiyah semakin ditelikung oleh PKS. Bila selama ini Muhammadiyah membiarkan saja anggota, kader dan simpatisannya didekati oleh PKS, maka pendomplengan Ahmad Dahlan yang merupakan pendiri Muhammadiyah itu, akan membuat Muhammadiyah semakin progresif untuk menggembosi PKS. Hal ini kelihatan dari Muhammadiyah dan organisasi otonom-nya yang tak cuma memagari Muhammadiyah dari PKS, elit, pengurus, kader dan simpatisannya. Ini kerugian yang sangat besar bagi PKS, karena Muhammadiyah sebagai organisasi modernis, sempat dijadikan sebagai salah satu pos suara untuk PKS.

Read more…

Iklan PKS … Bersilaturahimlah dengan Muhammadiyah-NU

31 Oktober 2008 nirwan 64 komentar

Bagi saya, iklan politik PKS yang mendompleng KH Ahmad Dahlan dan KH hasyim Asyari adalah blunder dan kesalahan.

Beginii. PKS adalah organisasi politik yang melakukan iklan politik dan di musim kampanye pula. Pesan-pesan dan gambar KH Hasyim Asyari dan KH Ahmad dimuat oleh “organisasi partai politik” dalam sebuah “iklan politik” di tengah “musim kampanye pemilu 2009”. Secara konseptual itulah keyword melihat masalah ini.

Persoalan pertama adalah soal substantif. Saya menyayangkan ide brilian ini dikeluarkan oleh “organisasi yang tak tepat” di tengah waktu dan bungkus yang “tak tepat” pula. Saya menyayangkan ide cerdas ini tak dilakukan ketika hari “Kebangkitan Nasional 20 Mei”. Saya pun menyayangkan, bilalah PKS melakukannya, demi alasan “moral obligation” untuk menyatakan kebenaran dan sesuatu yang bermanfaat bagi kemaslahatan bangsa, tak perlulah PKS meletakkan lambang partai politik mereka di ujung iklan tersebut. Bersatunya logo partai, nomor urut partai dan ajakan untuk “memilih” PKS dan gambar KH Hasyim Asyari dan KH Ahmad Dahlan dalam iklan tersebut secara hukum membuatnya sebagai sebuah “satu kesatuan iklan politik”.

Read more…

”…Muhammadiyah Diperdaya oleh Kepentingan.”

7 Mei 2008 nirwan 3 komentar

Prof Hasyimsyah Nasution MA merupakan salah seorang dari sedikit intelektual yang dimiliki Muhammadiyah Sumut saat ini. Ia pernah digadang sebagai calon kuat posisi Ketua Umum Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumut periode 2005 – 2010 lalu. Apa katanya soal Muhammadiyah? Berikut wawancara saya dengannya beberapa waktu lalu.

Read more…

Bahdin Syamsudin Jilid Dua

29 Januari 2008 nirwan 11 komentar

Baru saja, saya mendapat komentar dari seseorang yang mengaku bernama Sohibul ansor siregar. Begini bunyinya:

Kawan-kawan seperjuangan. Saya mendapat kabar bahwa 5 orang dosen UMSU telah dipecat mereka adalah: MUSLIM SIMBOLON, SALMI ABBAS, NUR RAHMA AMINI, NALIL KHAIRIAH DAN NUR JANNAH. Mereka merupakan korban kesewenang-wenangan Bahdin Syamsuddin. Ayo kita lawan. Kita harus bergerak membela mereka.

Jabat

Sohibul..”

Karena bernada provokatif dan fitnah, saya cek langsung kepada bapak Shohibul Anshor Siregar yang saya kenal dengan baik. Seperti saya duga, beliau membantah mengirim komentar di blog saya saya.

Sungguh, beliau adalah orang yang saya hormati dan ketika ada orang yang memfitnah dengan mencatut namanya, ini sudah sungguh keterlaluan.

Read more…

Penguasa UMSU: “Bahdin Syamsudin”

16 Januari 2008 nirwan 8 komentar

Beberapa hari ini, keranjang komentar saya dipenuhi tanggapan, hujatan sampai kepedulian yang dalam terhadap almamater saya, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Sebagian besar menyatakan terkejut, mengapa di sebuah organisasi pendidikan yang luar biasa ini dan berdasarkan asas-asas Muhammadiyah, justru kebobrokan khas orde baru berlomba-lomba dipertunjukkan.

Sebagian menyayangkan mengapa PP Muhammadiyah, tidak arif melihat hal ini dengan mengangkat sosok rektor yang penuh konflik dan jadi pusat masalah, Bahdin Nur Tanjung. Ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsudin, yang notobene justru kawan dekat Bahdin, memang tidak bisa diharapkan. Selain berkawan sejak ikut di Golongan Karya -sejak zaman Orde Baru lalu-, mereka juga pernah di KNPI dan kemudian bersatu lagi di PP Pemuda Muhammadiyah. Bahkan kedekatan ini membuat pameo baru yaitu “Bahdin Syamsudin”.
Read more…

Aisyiah Sumut Kutuk Rektor UMSU

9 Januari 2008 nirwan 20 komentar

Aisiyah Sumut demonstrasiMedan- Kalau dikutuk ibu kandung, bisa-bisa jadi batu. Mungkin, inilah yang bakal terjadi ketika ratusan ibu-ibu Aisiyah Sumatera Utara, mengutuk pimpinan salah satu amal usaha Muhammadiyah Sumut, Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Bahdin Nur Tanjung. “Bahdin buka topengmu!” teriak ibu-ibu tersebut.

Ibu-ibu Aisiyah tersebut, Rabu (9/1) pagi ini mengutuk perilaku Bahdin terkait penggelapan sejumlah aset Muhammadiyah Sumut. Unjuk rasa Aisiyah Sumut ini dilakukan pada saat pelantikan Bahdin menjadi Rektor UMSU, oleh Ketua PP Muhammadiyah, Dien Syamsudin, di kampus UMSU jalan Kapten Mukhtar Basri Medan.
Read more…

Categories: All News Tag:, , ,

Shohib Sang Pemberontak

25 Desember 2007 nirwan 6 komentar

Shohibul anshor siregarNama lengkapnya Drs Shohibul Anshor Siregar Msi. Panggilan akrabnya banyak. Bisa Pak Shohib, Pak Regar, Pak Anshor atau namanya dipanggil panjang semuanya. Yang berbeda mungkin, siapa yang memanggil.

Karir akademiknya dimulai nun di Tapanuli Utara. Pagi ia menuntut ilmu di SD Negeri Sibulan-bulan dan sore hari di SD Muhammadiyah Sibulan-bulan Tapanuli Utara.

Sejak beberapa tahun lalu ia mendirikan ‘nBASIS (Pengembangan Basis Sosial Inisiatif dan Swadaya) yang bidang garapannya terfokus pada pemberdayaan masyarakat melalui upaya mendorong perubahan dari dalam. “Tidak dengan intimidasi, pembodohan, apalagi kekerasan. Metode pilihan ‘nBASIS ialah pencerahan dengan jalan ilmu pengetahuan”, terang Shohib.

Read more…

Al-Amin

8 Desember 2007 nirwan Tinggalkan komentar

oleh Dr Haedar Nashir

(Pengurus PP Muhammadiyah)

* * *

Kenapa para Nabiyullah ternama bergelar Al-Amin? Sosok yang sangat tepercaya. Nabi Muhammad diberi predikat al-amin jauh sebelum diangkat sebagai Rasul, ketika berhasil mempersatukan elite dan kabilah Quraisy yang berselisih tatkala membangun Ka’bah. Putra Abdullah bin Abdul Muthalib itu telah menjadi figur baru yang memberikan harapan cerah bagi masyarakat Arab, kendati di belakang hari harus berhadapan dengannya karena membawa agama baru, Islam.

Read more…