Arsip

Posts Tagged ‘negara’

Haramkan Negara bukan Pengemisnya!

25 Agustus 2009 nirwan 6 komentar

beggar_cagayan_de_oroNamanya tersebut sebagai Abu Dzar Al-Ghifar. Ia berteman dengan Salman Al-Farisi. Keduanya datang dari belahan wilayah di luar kota suci Makkah Al-Mukarramah. Satu dari suku bangsa Ghifar, suku nomaden yang punya tabiat merampok kabilah-kabilah. Dan yang terakhir disebutkan, berasal dari belahan bumi yang punya peradaban yang banyak ditulis bangsa-bangsa Eropa, Persia.

Sejak kecil, kedua orang ini diberitahu melalui ustadz-ustadz saya dengan kategori orang-orang yang kukuh pendirian, punya sikap dan cerdas. Abu Dzar punya kekhasan sebagai pelindung dan pembela orang miskin, yatim dan lemah. Seakan-akan kata “mustadha’afin “ itu sudah melekat erat dengan dirinya. Sementara Salman, diberitakan sebagai orang yang lurus, jujur dan cerdas.

Saya membayangkan seandainya Abu Dzar masih hidup dan kemudian mendengar fatwa sebagian ulama Indonesia yang mengharamkan “pengemis”. Apakah yang akan terjadi?

* * *

Read more…

Terorisme dan Pemilu, Negara Akan Lebih Berkuasa daripada Rakyat

22 Juli 2009 nirwan 18 komentar

Sudah muncul wacana dari “kubu” pemerintah Indonesia kalau perangkat undang-undang terlalu lemah untuk mencegah terorisme. Apalagi UU Subversif sudah tak ada lagi. Alasannya logis; negara seharusnya tak menangkap teroris hanya setelah ada bukti kejadian ledakan terlebih dahulu. Kegiatan pencegahan lebih efektif daripada hanya menangkap teroris. Negara, oleh karena itu, perlu kewenangan yang lebih besar dari sekarang.

* * *

Tak ada salahnya mengibaratkan negara seperti deskripsi Plato dalam “Polis”-nya. Beberapa literatur melukiskan segerombolan orang berkumpul dalam sebuah ruangan yang mirip-mirip dengan miniatur Colloseum-nya dictatorRomawi. Di sana, para perwakilan ataupun pejabat-pejabat “kampung”, membicarakan sesuatu hal yang secara geografis dan geopolitik lebih luas dari ukuran ruang dan banyaknya orang yang ada di dalamnya.

Hampir dipastikan ruang lingkup negara mengalami reduksi ruang. 200 juta orang Indonesia menyerahkan “aspirasi” politiknya kepada 500 orang perwakilan di DPR. Ada penambahan lagi dari anggota MPR. Secara kuantitatif, maka hanya nol koma nol nol nol nol sekian persen orang yang diserahi tugas untuk mengemban amanah seluruh orang Indonesia. Kalau mengambil analogi dari metodologi penelitian, maka keanggotaan perwakilan rakyat itu ibarat sampel.

Read more…

Negeri di Persimpangan Jalan

11 Mei 2009 nirwan 5 komentar

Hasil pemilu legislatif sudah diketahui, Susilo Bambang Yudhoyono menjadi pemenang, Yusuf Kalla nomor dua dan Megawati nomor tiga. Partai Golkar sekali lagi membuktikan keperkasaannya, walau dikacau habis-habisan oleh SBY di seluruh penjuru –seluruh DPD melapor ke JK betapa selama lima tahun koalisi antara JK dan SBY mereka merasa ditikam dari belakang oleh Demokrat – partai ini tetap mampu mencapai 14,5% suara. Ada beberapa yang latah menyebutkan ini kemenangan dari partai yang dibentuk oleh masa reformasi dan ujung-ujungnya mengatakan ini adalah kemenangan reformasi atas partai-partai Orde Baru.

Alasannya memang tersedia. Bila ditotal perolehan suara Demokrat, PKS, PAN, PKB, Gerindra dan Hanura (keseluruhannya adalah partai-partai yang dibentuk pasca reformasi 1998), suaranya melebihi partai-partai Golkar, PDIP (14%), PPP (5,3%).

Read more…

Batak, Malim, Sisingamaraja dan eh, Islam?

4 Maret 2009 nirwan 16 komentar

Saya membongkar-bongkar lagi dokumen yang ada pada saya dan mata saya tertumbuk pada artikel ini, ”Mohammad Said di Antara Ilmuan Sosial” ditulis oleh Shohibul Anshor Siregar. Saya baca ulang lagi dan saya langsung mengontak beliau dan meminta izin agar tulisan ini bisa diposting di blog saya. Beliau tertawa dan berujar, ”Up to you.”

Indonesia Religion

Shohibul Anshor Siregar adalah seorang sosiolog Medan lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM). Dia ini salah seorang cendekiawan muslim yang dulunya diceritakan orang sempat dicegah agar tak lagi pulang ke Medan, Sumut, dari Pulau Jawa. Saya mendapat cerita kalau karir intelektual dan ”politik”-nya akan sangat “cerah” kalau dia tetap bertahan di sana. Maklum, sebelum ke sana, dia mantan Ketua Umum DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sumut tahun 1980-an. Dia ditarik-ditarik untuk masuk ke partai politik, namun hingga kini dia tetap memilih sebagai Dosen PNS di Kopertis Wilayah I Sumut-NAD. Seingat saya, hingga kini, dialah peneliti sosiologi politik yang terus konsisten berada di garis intelektual. Di blog ini, profil dia pernah juga saya postingkan. Orangnya sangat sederhana dan selalu tergelak. Ada yang latah menyebut, dia ini ”sosialis”. Tapi saya tak percaya.

Ini tulisannya.

Read more…

Manusia Muhammad

21 November 2008 nirwan 9 komentar

Muhammad adalah orang yang unik. One and only. Adalah keinginan setiap muslim dan mukmin untuk menjadi Muhammad. Maka Muhammad sebagai manusia mesti “diperas” lagi dalam sebuah konsep Muhammad sebagai rentetan kriteria.

Bila memakai aturan matematika soal “turunan”, Muhammad menjadi puncak dan piramidanya akan menjadi susunan konsep terukur bagi siapapun yang ingin membuat perubahan dalam kehidupan sosial, politik, budaya, ekonomi dan seterusnya, dan seterusnya.

Inilah yang saya maksudkan sebagai manusia Muhammad. Seorang Imam bagi manusia.

Read more…

Kecil-kecil Tinggal di Istana

20 Agustus 2008 nirwan 13 komentar

 

Tak bisa lepas senyum saya ketika SBY “memaksakan” kado dari Tuhan kepadanya supaya diberikan tanggal 17 Agustus 2008. Sebagai sesama manusia, maka kelahiran seorang bayi wajiblah disyukuri dan didoakan. Bayi Annisa Pohan, menantunya itu, lahir melalui proses Cesar, di tanggal itu, dan bukannya alami. Satu sisi, itu hal yang lumrah saja apalagi dengan sudut pandang, bahwa setiap orang berhak meminta yang terbaik dari Tuhannya. Dan Tuhan pun (terlepas dari urusan takdir yang dibikinnya), mengabulkan permohonan SBY.

 

Istana pun berbahagia kedatangan orang baru. Annisa Pohan harus sabar untuk memonopoli anaknya karena bayi itu langsung diberangkatkan ke istana, dan bukannya ke rumah pribadi mereka. SBY dengan wajah sumringah langsung mengatakan, “Ini adalah sebuah kado bagi seluruh bangsa”. Kalimat itu dicatat oleh hampir semua media massa, elektronik, cetak maupun internet.

 

Di titik itu, saya tersenyum, tapi kali ini senyum yang kecut. Apa dasarnya SBY mengatakan itu kado untuk seluruh bangsa? Tetangga saya baru melahirkan bayi, cantik dan sehat pula, tapi SBY kok tidak pernah bilang bayi-bayi yang lahir di Indonesia adalah kado untuk bangsa?

Read more…

Takut ’66, Takut ’98, Takut ’08

14 Mei 2008 nirwan 5 komentar

Bulan Mei adalah bulan romantis dalam sejarah Indonesia. 2 Mei Hari Pendidikan, 20 Mei Hari Kebangkitan Nasional dan 21 Mei tanda genderang reformasi ditabuhkan. Inilah negeri yang menurut puisi Taufiq Ismail, penuh ketakutan.

Read more…

Kelaparan, Ciri Negara Tak Berbudaya

10 Maret 2008 nirwan 2 komentar

Ibu hamil dari Makassar, Daeng Basse’ (35 tahun) dan anaknya Bahir (5 tahun) meninggal karena kelaparan. Bangsa ini sudah keterlaluan.

* * *

Read more…