Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘pemilu’
boediono, demokrasi, DPT, gugatan pilpres, indonesia, JK, megawati, pemilu, pilpres, Politik, presiden, reformasi, SBY, wiranto
In All News, Kebudayaan, Politik on 28 Juli 2009 at 10:59 am
“Ini bukan level maling kelas kampung yang mendobrak jendela dan kemudian merusak lemari dan mengobrak-abrik rumah sembari melayang-layangkan goloknya kepada pemilik rumah. Ini pencuri kelas wahid yang tersenyum kepada korbannya, menyapanya, membelainya dan kemudian memberi santunan kepada korban. Pencuri kali ini selalu tersenyum.”
* * *
Tak banyak yang bisa diprediksi dari gugatan pasangan pilpres Mega-Prabowo dan JK-Wiranto. Politik mengajarkan pada saya
sebuah perjuangan demi kekuasaan haruslah dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan serius. Tak ada tempat untuk bermain-main. Apapun motifnya.
Pun begitu, Pilpres 2009 telah membawa kita pada bukan hanya sekedar catatan. Saya sungguh-sungguh tak yakin benar dengan kata “catatan” itu. Kata itu seolah-oleh menisbikan apa yang telah terjadi barusan di pentas Pemilu Legislatif dan Pilpres 2009.
Semua orang boleh mencerca, mencaci dan menatap dengan pesimis dan sinis kepada gugatan yang dilakukan paket Pilpres yang dinyatakan kalah oleh KPU. Tapi bagaimanapun, kalau melihat pentas Pileg dan Pilpres, proses keduanya sungguh-sungguh tidak bisa diabaikan begitu saja. Yang dipertaruhkan adalah eksistensi negara dan pemerintahan yang dihasilkan oleh Pemilu itu. Yang dipertaruhkan adalah siapa yang duduk di istana negara dan mereka-mereka yang nantinya membawa aspirasi rakyat INdonesia dalam DPR dan DPRD.
Read the rest of this entry »
indonesia, negara, pemilu, plato, republik, terorisme
In All News, Politik on 22 Juli 2009 at 5:07 pm
Sudah muncul wacana dari “kubu” pemerintah Indonesia kalau perangkat undang-undang terlalu lemah untuk mencegah terorisme. Apalagi UU Subversif sudah tak ada lagi. Alasannya logis; negara seharusnya tak menangkap teroris hanya setelah ada bukti kejadian ledakan terlebih dahulu. Kegiatan pencegahan lebih efektif daripada hanya menangkap teroris. Negara, oleh karena itu, perlu kewenangan yang lebih besar dari sekarang.
* * *
Tak ada salahnya mengibaratkan negara seperti deskripsi Plato dalam “Polis”-nya. Beberapa literatur melukiskan segerombolan orang berkumpul dalam sebuah ruangan yang mirip-mirip dengan miniatur Colloseum-nya
Romawi. Di sana, para perwakilan ataupun pejabat-pejabat “kampung”, membicarakan sesuatu hal yang secara geografis dan geopolitik lebih luas dari ukuran ruang dan banyaknya orang yang ada di dalamnya.
Hampir dipastikan ruang lingkup negara mengalami reduksi ruang. 200 juta orang Indonesia menyerahkan “aspirasi” politiknya kepada 500 orang perwakilan di DPR. Ada penambahan lagi dari anggota MPR. Secara kuantitatif, maka hanya nol koma nol nol nol nol sekian persen orang yang diserahi tugas untuk mengemban amanah seluruh orang Indonesia. Kalau mengambil analogi dari metodologi penelitian, maka keanggotaan perwakilan rakyat itu ibarat sampel.
Read the rest of this entry »
demokrasi, indonesia, pemilu, Politik, presiden, reformasi, sakit jiwa, SBY, sihir
In All News, Islam, Kebudayaan, Politik on 4 Juli 2009 at 4:43 pm
Geli, lucu, aneh, ironis, tragis, sekaligus memuakkan. Seorang Presiden, yang mencalonkan diri lagi untuk periode keduanya, bicara soal sihir yang dikenakan kepadanya. Di hadapan para kyai, di hadapan orang, ah, ada pula Mas Tifatul Sembiring, Presidennya PKS, dia berbicara soal sihir. Luar biasa!
SBY jelas-jelas telah panik sekaligus cengeng. SBY panik betul dengan naiknya popularitas dua kandidat lain, JK dan Prabowo, terutama Jusuf Kalla di hadapan pemilih muslim.
Entahlah. Bagi saya, inilah cara SBY menegaskan dirinya kalau dia sedang panik! Panik dan pusing tujuh keliling, dan lantas mengeluarkan jurus lamanya; memposisikan diri sebagai orang yang sedang dizalimi.
Read the rest of this entry »
boediono, demokrasi, indonesia, Islam, JK, parpol, pemilu, pilpres, Politik, prabowo, presiden, reformasi, SBY
In All News, Islam, Politik on 24 Juni 2009 at 2:24 pm
Prabowo sepakat dengan Boediono soal posisi agama dan politik. Sekuler menjadi tipikal keduanya dan dengan kekhususan meletakkan agama lebih tinggi dari politik (negara).
Yang jelas, bagi mereka, harus ada pemisahan yang tegas antara agama dan politik. Sementara Wiranto justru berani menarik agama langsung ke dalam politik, walaupun masih dalam level substansial dan belum ke legal formal.
Ini soal menarik. Jawaban ketiga kandidat telah menerangkan siapa mereka sebenarnya. Boediono berpijak pada dirinya yang seorang pekerja karir, intelektual dan bukannya seorang politisi. Sedangkan dua lainnya mengetahui dengan jelas kalau status yang mereka sandang sekarang adalah politisi. Itu bukan berarti Prabowo-Wiranto tidak intelektual. Namun jawaban yang mereka berikan jelas mengarah pada kontekstualisasi dinamika politik yang ada di Indonesia. Dalam kasus ini, maka etalase politik pilpres justru menarik.
Read the rest of this entry »
demokrasi, indonesia, Islam, pemilu, Politik, presiden, reformasi, SBY, tuhan
In All News, Islam, Kebudayaan, Politik on 11 Mei 2009 at 8:05 pm
SBY dikabarkan akan shalat istikharah kala menentukan siapa calon wakilnya. Saya mengernyitkan kening. Benar-benar mengernyitkan. Masak sih?
Untuk yang non muslim, saya kira harus diberitahu juga fungsi shalat istikharah itu apa. Itu shalat yang dilakukan untuk menentukan pilihan. Artinya, si pelaku bertanya langsung kepada Tuhan apa yang harus dipilihnya. Jawabannya nanti akan diberikan. Kalau kata ustadz-ustadz saya, nanti Tuhan akan memberikan jawaban dalam bentuk kecenderungan si pelaku tadi. artinya, kalau setelah istikharah tadi, si pelaku ternyata lebih cenderung memilih A, maka itu adalah “jawaban” Tuhan.
Dalam logika rasional biasa, itu bisa saja dinamakan persangkaan atas jawaban Tuhan. Karena di balik “jawaban” itu, ada kemungkinan lain yang juga menggoda: “jangan-jangan bukan itu pula jawaban dari Tuhan.”
Read the rest of this entry »
demokrasi, indonesia, pdip, pemilu, Politik, presiden, SBY
In All News, Lapak, Politik on 30 April 2009 at 7:35 pm
PDIP Perjuangan sedang leading, 19%. Demokrat 17%, Golkar 14%, PAN 7%, PKS 6%, PPP-PKB 5%, Gerindra 4%, dan Hanura 3%.
Mudah-mudahan SBY jangan keburu sakit dulu. Mau sakit jiwa atau sakit fisik. Dan ah, Hidayat pun jangan kebakaran jenggot dulu.
Kalau SBY sakit, kayak kemarin dia sakit perut itu, pertarungannya jadi tak seru lagi. Toh semua itu ‘kan masih sementara saja. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Kalaupun nanti kejadian 2004 berulang, yaitu kala PDIP yang dari pertama-tama leading terus, dan kemudian disalib Golkar di akhir-akhir tikungan, itu ’kan dulu. Kalaupun PDIP dan Golkar bakal menyalib nanti di akhir-akhir rekapitulasi KPU, itu ’kan masih kalau.
So, SBY, saya berharap Anda jangan sakit. Karena kalau Anda sakit permanen saat ini, sesuai amanat konstitusi, bisa-bisa kursi Anda diduduki Jusuf Kalla.
cerita, demokrasi, indonesia, pemilu, pilpres, Politik, presiden, reformasi, SBY
In All News, Esai, Kebudayaan, Politik, Sastra dan Seni on 29 April 2009 at 4:42 pm
Ada yang berandai-andai: apa nasib SBY kalau dia tak menang?
“Itu menimbulkan masalah baru yang sangat besar…” ucap Masna.
“Lho, contohnya?” kata Rini.
“Seorang mantan presiden sebuah negara yang sangat besar ini harus stress, sakit jiwa. Itu masalah besar. Kita tidak punya rumah sakit khusus sakit jiwa untuk mantan Presiden. Kalau untuk penyakit-penyakit fisik sih banyak.”
“Anda jangan memvonis dulu kalau SBY bakal sakit jiwa. Setahu saya dia sangat kuat mentalnya. Dia itu dari tentara lho…”
“Lho jangan silap. Justru belakangan ini kita banyak mendengar saudara kita yang dinas di kemiliteran juga terkena sakit jiwa. Bahkan yang bunuh diri atau malah menembaki koleganya sudah sering kita lihat beritanya di televisi. “
“Okelah, saya tak dapat mendebat, penyakit jiwa tidak diskriminatif, semua bisa kena. Masalahnya, adakah kemungkinan dia bakal kena?”
“Nah itu dia. Justru di kondisi yang sekarang ini, dia semakin berpotensi sangat tinggi untuk sakit jiwa. Di saat semua orang dan terutama dirinya sendiri menganggap bahwa dia akan menjadi Presiden kembali untuk yang kedua kalinya, tahu-tahu dia kalah. Anda bayangkan saja!”
“Ah, bagi saya belum jelas benar pangkal masalahnya. Dia tak mungkin kalah!” sentak Rini.
Read the rest of this entry »
demokrasi, golkar, indonesia, jusuf kalla, pemilu, Politik, presiden, reformasi, SBY
In All News, Politik on 22 April 2009 at 3:45 pm
Sebelum rapimnas, “rapat” DPP Golkar memutuskan dengan tegas pencalonan H Muhammad Jusuf Kalla sebagai calon presiden Partai Golongan Karya. Apapun cerita Akbar Tanjung di luar, posisi riilnya sekarang adalah: JK adalah ketua umum Partai Golkar. Jalan di rapimnas untuk melanggengkan Kalla menjadi calon presiden Partai Golkar semakin terarah. Walau rapimnas adalah pemutusnya, tapi ini adalah perlawanan resmi Golkar kepada SBY dan Demokrat.
Untuk sebuah pertarungan kekuasaan, JK telah menunjukkan kepada SBY, bahwa Golkar tidak mati. Puluhan tahun Golkar telah menang pemilu dan pada 2009, banyak yang meramalkan meraka akan kalah. Tapi itu semua belum tentu, belum putus. KPU belum mengeluarkan putusan siapa sebenarnya yang meraih suara terbanyak Pemilu. Hanya satu yang bisa dipastikan yaitu suara Partai Demokrat naik drastis. Itu satu.
Kedua, langkah putra Sulawesi ini adalah langkah konvensi paling radikal dalam babad politik Indonesia yang dikuasai oleh pulau Jawa. Sebagai orang Bugis, langkah JK sebagai calon presiden adalah sebuah catatan tersendiri, betapa siapapun orangnya berhak untuk mencalonkan diri sebagai Presiden.
Read the rest of this entry »
demokrasi, indonesia, pemilu, pilpres, Politik, presiden, reformasi
In All News, Politik on 20 April 2009 at 1:10 pm
Perkembangan politik, terutama di titik pilpres dan pileg 2009, semakin menarik. Satu sisi, ini menjadi ladang pembelajaran pribadi bagi saya sendiri. Ini bikin pusing, membingungkan sekaligus menaikkan adrenalin.
1. Amien menyuruh merapat ke Demokrat. Di situ pertarungannya adalah antara PAN, Akbar Tanjung (dan Golkar kalau ia berhasil dalam rapimnas nanti) dan PKS. Persoalannya adalah pekerjaan selama 5 tahun ke depan, karena kalau terpilih lagi, SBY dipastikan akan pensiun. Di lain pihak, baris insfrastruktur Partai Demokrat belum terbentuk dengan kuat dan merata, serta belum adanya figur selain SBY dalam partai itu. Jadi, posisi paling strategis untuk 5 tahun ke depan adalah WAKIL PRESIDEN.
Read the rest of this entry »
demokrasi, Demokrat, golkar, indonesia, JK, megawati, pdip, pemilu, Politik, presiden, reformasi, SBY
In All News, Politik on 16 April 2009 at 6:14 pm
Pertama, hasil pemilu belum akan usai dalam waktu yang singkat. Komisi Pemilihan Umum (KPU) sedang dalam keadaan pusing tujuh keliling, dibombardir dari segala penjuru. Sementara, Partai Demokrat dan pemerintahan SBY sudah lepas tangan atas kinerja KPU. Jadi, ada kemungkinan KPU akan makin molor kerjanya. Kalau makin molor, maka partai-partai politik akan makin trengginas di lapangan Panitia Pemilih Kecamatan (PPK), KPUD kab/kota dan KPUD Propinsi untuk mempermak hasil pemilu dari TPS-TPS.
Jadi, hasil quick count sangat-sangat tidak bisa dijadikan pegangan. Apalagi, variabel penghitungan lembaga survey hanyalah partai. Padahal, penghitungan pemilu 2009 ada pada partai, caleg dan partai+caleg. Belum lagi suara tidak sah dan mereka yang tidak berpartisipasi. Pada saat tulisan ini dibikin, baru akan sekitar 10 juta suara yang masuk. Sementara jika diambil angka aman dari potensi golput (yang 30-50%) sebesar 30% saja, maka jumlah pemilih bisa berkurang sekitar 120-130 juta. Itu berarti, rekap data yang masuk ke KPU masih hanya sekitar 10% saja.
Read the rest of this entry »
demokrasi, Esai, indonesia, pemilu, Politik, reformasi, tuhan
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik on 15 April 2009 at 6:31 pm
Inilah sebuah negeri yang menjadi pembanding dari surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Di negeri inilah, yang di lapis bawah tanah tanahnya, mengalir sungai-sungai minyak dan lorong-lorong gas. Di permukaannya, berjalanlah air-air beserta pasir-pasirnya membawa berkubik-kubik emas. Serta, di lautnya ada mutiara, miliaran ikan nan gratis dan oh, di bawah laut-laut itu masih lagi menunggu bermiliar barel minyak.
Di negeri inilah intan, permata, batu delima dan jamrud tak sekedar pemanis dalam bait-bait pantun para tetua. Catatlah negeri yang kaya raya ini, gemah ripah loh jinawi, baldathun toyyibatun wa rabbun ghafur.
* * *
Catatlah juga di negeri ini, para dokter-dokternya sungguh-sungguh kaya, dan anehnya, pasiennya banyak yang lapar dan bajunya rombeng.
Catatlah karena para pegawai negerinya lebih senang menghamba pejabatnya daripada melayani rakyatnya.
Read the rest of this entry »
demokrasi, indonesia, pemilu, Politik, reformasi
In All News, Esai, Kebudayaan, Politik on 13 April 2009 at 6:05 pm
Saya tidak menyontreng di Pemilu Legislatif 9 April kemarin. Saya golput. Kalau menuruti apa kata MUI kemarin, yang pasti dosa saya paling tidak sudah bertambah satu lagi.
Sebagian kawan mengatakan saya sudah tak peduli lagi dengan negeri ini. Saya mengangguk. Sebagian kawan mengatakan, harapan itu masih ada. Saya menggeleng. Sebagian kawan berujar, seharusnya contreng saja, toh tak ada ruginya. Saya mengangguk dan menggeleng.
Tapi kemudian, teman-teman saya yang golput justru menjadi pemenang. Angkanya rata-rata ada di kisaran 40-50%. Dengan kisaran itu, maka legitimasi partai politik (berikut caleg-calegnya), akan sedemikian lemah. Kalau ini diteruskan hingga Pilpres nanti, maka akan terjadi kegoncangan kekuasaan, yang menurut saya, akan luar biasa.
Read the rest of this entry »
demokrasi, indonesia, parpol, pemilu, Politik, reformasi
In All News, Politik on 19 Maret 2009 at 1:23 pm
Siapa partai yang paling banyak cakap?
Ini asumsi penelitiannya: Partai dan elitnya yang paling sering muncul di media massa, mulai dari koran, majalah, tabloid, radio, internet dan seterusnya. Partai yang paling banyak selebaran, baleho dan billboardnya. Partai yang paling sering kampanye terbuka mengerahkan seluruh massanya ke jalan-jalan.
Karena dia asumsi, naikkan dia ke derajat hipotesis baru kemudian disimpulkan. Habis itu, generalisasikan saja. Soal salah atau benar, urusan kedua, yang penting metode sudah benar.
Read the rest of this entry »
apindo, artikel, Demokrat, golkar, ideologi, indonesia, PAN, parpol, pdip, pemilu, PKS, Politik, PPP, reformasi
In All News, Ekonomi, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik on 17 Februari 2009 at 9:22 pm
“ … Partai lain tak menakutkan bagi Golkar. Pakem tritomi ideologi: nasionalis, kekaryaaan, dan Islam, telah menjamin itu semua. Partai-partai Islam akan berkelahi di ladang sempit. Di ideologi nasionalis, siapa yang bisa menandingi PDIP? Nah, siapa pula yang bisa menggeser Golkar dari ideologi yang nyata-nyata berdasar dari namanya sendiri, kekaryaan? …. “

Read the rest of this entry »
indonesia, pemilu, Politik, reformasi
In All News, Lapak, Politik on 16 Februari 2009 at 4:15 pm
Saudara-saudara, 9 April nanti adalah hari bagi setiap orang di Indonesia yang telah memiliki hak pilih untuk memilih calon wakilnya. Ingat, itu ajang memilih “wakil”! Maka itu, bertindaklah seperti seorang tuan yang sedang menyeleksi para pembantu-pembantunya. Bersikaplah seperti seorang majikan, dan buang jauh-jauh sikap dan mental bangsa kuli dan jongos Anda itu. Pilihlah dengan landasan, bahwa Anda adalah tuan, Andalah penguasa, Andalah raja sesungguhnya di negeri ini.
Tapi tentu, bagi saya, tak akan banyak perubahan berarti dari partai-partai yang selama ini aktif bermanuver di media massa. Secara komunikasi, semakin banyak Anda berinteraksi melalui media massa, maka ada kemungkinan daya popularitas akan semakin menanjak. Itu satu kemungkinan yang sering dipahami parpol-parpol yang melakukan segala cara agar dilirik oleh media massa. Ada kemungkinan lain, yang merupakan anti tesis terhadap possibility yang pertama tadi: semakin banyak Anda diekspos, semakin tinggi pula tingkat kejenuhan masyarakat.
Read the rest of this entry »
caleg, indonesia, Islam, Kebudayaan, legislatif, pemilu, pilpres, Politik, reformasi
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik on 20 Januari 2009 at 5:53 pm
Senyum itu ibadah dan ibadah itu imbalannya pahala. Pahala itu tiket ke surga. Ibarat kuis, semakin banyak tiket pahala, maka semakin banyak pula kemungkinan untuk menang. Benarlah bila manusia itu selalu mengedepankan aspek untung rugi dalam hal apapun. Bahkan kepada Tuhan pun begitu. Dan Tuhan, tentulah tidak marah sama sekali. Dia maha kaya dan maha bijaksana.
Tuhan memang telah mempertontonkan kekuasaannya. Manusia, walau ingin sekali menjadi tuhan yang punya kekuasaan penuh, tetaplah manusia biasa. Di situ sebenarnya asyiknya menjadi manusia ini. Dia dari yang tidak punya kekuasaan, ingin menjadi penguasa. Kalau keinginan tak tergapai, ya, tak apa-apalah. Chairil Anwar saja bilang, “Sekali berarti sudah itu mati.” Jadi, hidup yang sekali ini, kalaulah bisa, dibuatlah “berarti”. Dus, apapun “arti” hidup itu nanti, ya, urusan nantilah itu.
Read the rest of this entry »
artikel, BBM, demokrasi, pemilu, Politik, presiden, reformasi, SBY
In All News, Ekonomi, Politik on 13 Januari 2009 at 9:54 pm
Soesilo Bambang Yudhoyono agaknya mesti hati-hati dalam menurunkan harga minyak. Bukan soal politik pilpres, saya kira, sebagai incumbent, dia sudah menang start di situ.
Begini. SBY seharusnya menghitung juga penjajahan Israel kepada Palestina akan membikin harga minyak makin melambung tinggi. Dia harus memakai para analis Departemen Luar Negeri kita, dan bukannya staf luar negerinya si Dino Patti Djalal itu. Yah, katakanlah si SBY ini tak percaya sama para diplomat RI yang kebanyakan hanya jalan-jalan di luar negeri itu, tapi jadi lucu pula kalau dia manut-manut kali pada si Dino. Wong, si Dino ini saja sudah bahan ejekan baik di acara Democrazy dan Republik BBM kok. Pakailah analisis politik internasional langsung dari kampus, atau sewa saja analisis profesional, atau malah kalau dia mau sebenarnya dia bisa menelepon Obama. Tanyakan langsung, “Mas Obama, kapan kira-kira mas mau menghentikan pembantaian ke Israel?”
Read the rest of this entry »
demokrasi, fatwa, Hidayat Nur Wahid, indonesia, Islam, muhammadiyah, MUI, NU, pemilu, Politik, reformasi
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik on 12 Desember 2008 at 8:39 pm
Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid, meminta MUI-NU-Muhammadiyah memfatwakan haram kepada golongan putih alias golput. Di ranah politik, statemen Hidayat ini jelas tertuju kepada Kyai nyeleneh, Abdurrahman Wahid yang menyuruh pendukungnya di PKB dan NU agar golput di pemilu 2009. Namun, persoalannya bagi saya tidaklah sesederhana itu.
Seruan Hidayat ini tak berbeda ketika di zaman Orde Baru lalu pemerintahan Soeharto juga mengharamkan golput. Dan itu dilakukan bahkan pada saat Orba baru saja akan melakukan pemilu pertamanya, 5 Juli 1971. Sebelumnya, MPRS sudah mengamanatkan kalau pemilu pasca Orde lama harus sudah dilakukan pasca Sidang Istimewa MPRS tahun 1967. Namun, karena kekuatan politik Orba masih lemah, Soeharto butuh empat tahun untuk melaksanakannya. Golongan Karya, organisasi binaan Soeharto langsung menjadi pemenang. Posisi kedua ada Nahdlatul Ulama, Parmusi, Partai Nasional Indonesia, dan Partai Syarikat Islam Indonesia.Sejak saat itu, Golongan Karya dan Militer menjadi infrastruktur kekuasaan terbesar Orde Baru.
Yang menyerukan Golput di awal Orde Baru adalah kelompok mahasiswa Arif Boediman cs. Pada 3 Juni 1971, di Gedung Balai Budaya, Jakarta, mereka memproklamirkan gerakan “Golongan Putih (Golput)”. Gerakan moral Arief Budiman ini merupakan di antara model gerakan mahasiswa selain aksi politik praktis yang juga dilakukan mahasiswa ketika memasuki parlemen. Seperti lazim dikabarkan oleh sejarah negeri ini, mahasiswa terpecah dua bagian utama yaitu mereka yang pro politik praktis dan mereka yang kontra. Arief Budiman berada di antara yang kontra tersebut.
Read the rest of this entry »
demokrasi, golkar, indonesia, megawati, pdip, pemilu, pilpres 2009, Politik, prabowo, presiden, reformasi, SBY
In All News, Esai, Politik on 15 November 2008 at 7:54 pm

Golkar dan PDIP memang luar biasa. Menaikkan takaran syarat calon Presiden hingga 30%, kompromi yang terjadi justru yang sebenarnya mereka sudah prediksikan: 20%. Dengan ini, mereka cukup pede untuk melenggang kangkung di Pemilihan Presiden 2009 karena merasa suara mereka bakal lebih dari 20%.
Pertarungan Presiden memang makin mengerucut. Secara matematis, memang 5 pasang bakal calon Presiden-Wapres, dimungkinkan. Namun realitasnya, dapat empat pasang saja sudah cukup lumayan. Pertimbangannya, partai politik yang suaranya tak sampai 20% akan lebih banyak dari yang bisa mencapainya.
Tak heran, kalau rata-rata target partai politik kelas menengah adalah 20% agar mereka bisa mencalonkan Presiden. PAN, PKB, PBB, PPP, PKS, Demokrat, sudah bertekad untuk itu. Setiap partai ini pun sudah mengelus-elus kandidat internal untuk dinaikkan menjadi capres. Bahkan Gerindra dan Hanura pun berani pasang 20%. Sementara yang berani pasang target 30% cuma Golkar dan PDIP. Yang agak adem ayem soal capres memang PPP. Ini memang aneh karena mereka sendiri cukup pede ketika paripurna kemarin mengusulkan syarat capres itu 25%. Ini menarik untuk menjadi pembahasan tersendiri.
Siapa paling berpeluang? Hasil konkret memang menunggu hasil Pemilu legislatif 2009 keluar. Namun, dari dinamika politik yang ada, saya ingin menelaah dulu prinsip yang saya rasa akan muncul dari Megawati: Asal Bukan SBY.
Read the rest of this entry »
demokrasi, iklan PKS, indonesia, Islam, militer, pemilu, Politik, reformasi, soeharto
In All News, Esai, Islam, Kebudayaan, Politik on 13 November 2008 at 11:58 am
Dalam sebuah komentar di blog ini, saya ditanya oleh kawan blogger juga, jiwamusik, kondisi apakah yang patut kita tertawakan saat ini? Ia menyempatkan waktunya untuk berkomentar di postingan saya Soeharto di Iklan PKS… Hahaha. Terimakasih saya pada dia untuk hal tersebut.
Saya melihat iklan itu ketika menuju rumah orang tua saya, di sebuah gang sempit, di sebuah rumah yang kepala keluarganya adalah seorang supir angkot. Televisi mereka menyala, walau tidak ada satupun yang menonton. Anak-anak mereka bermain di gang dan ibu mereka sedang duduk ngobrol dengan tetangga di depan pintu rumahnya. Saya melihatnya dari balik jendela.
Sebuah iklan pastilah dibuat oleh kalangan terdidik. Mereka mengetahui persoalan teknis, tujuan dan sasaran dari iklan tersebut. Sasarannya jelas masyarakat luas, segala golongan, baik yang terdidik, maupun yang bodoh. Mulai dari bergelar profesor hingga tak pandai membaca dan menulis. Sasaran iklan PKS terutama adalah pemilih di Pemilu 2009. Karena itu, iklan ini dibuat dengan matang dan penuh pertimbangan teknis. Tifatul Sembiring bilang, mereka sudah punya manajemen resiko untuk itu. Dengan kata lain, penempatan Soeharto di iklan tersebut dibuat dengan sadar, sengaja dan punya tujuan.
Read the rest of this entry »
demokrasi, iklan PKS, indonesia, partai, pemilu, Politik, seoharto
In All News, Politik on 10 November 2008 at 11:02 pm
Kebablasan dan semakin kehilangan arah perjuangan. Itulah yang saya lihat dari iklan PKS terbaru dengan tema Pahlawan. Meletakkan KH Hasyim Asyari, KH Ahmad Dahlan, M Natsir dan kemudian disejajarkan dengan …. ini dia: Soeharto!
What is wrong with you PKS? Mengapa harus begitu? Kalaulah pengurus PKS ingin partai ini menjadi perbincangan hangat di seluruh negeri dan kemudian menimbulkan dampak kampanye yang sensasional dan kemudian mereguk pemilih yang sebesar-besarnya dalam Pemilih 2009 di tengah-tengah masyarakat kita yang mayoritas masih belum menjadi pemilih rasional … tujuan itu jelas-jelas sangat berhasil. Walau dari segi resiko, menarik juga menganalisia mengapa pengurus PKS menempuh resiko itu. Menarik juga mencari sebab mengapa PKS sedemikian mengkultuskan Soeharto sebagai ”Guru Bangsa”.
Read the rest of this entry »
demokrasi, iklan PKS, indonesia, Islam, kampanye, muhammadiyah, NU, pemilu, Politik
In All News, Islam, Kebudayaan, Politik on 31 Oktober 2008 at 6:36 pm
Bagi saya, iklan politik PKS yang mendompleng KH Ahmad Dahlan dan KH hasyim Asyari adalah blunder dan kesalahan.
Beginii. PKS adalah organisasi politik yang melakukan iklan politik dan di musim kampanye pula. Pesan-pesan dan gambar KH Hasyim Asyari dan KH Ahmad dimuat oleh “organisasi partai politik” dalam sebuah “iklan politik” di tengah “musim kampanye pemilu 2009”. Secara konseptual itulah keyword melihat masalah ini.
Persoalan pertama adalah soal substantif. Saya menyayangkan ide brilian ini dikeluarkan oleh “organisasi yang tak tepat” di tengah waktu dan bungkus yang “tak tepat” pula. Saya menyayangkan ide cerdas ini tak dilakukan ketika hari “Kebangkitan Nasional 20 Mei”. Saya pun menyayangkan, bilalah PKS melakukannya, demi alasan “moral obligation” untuk menyatakan kebenaran dan sesuatu yang bermanfaat bagi kemaslahatan bangsa, tak perlulah PKS meletakkan lambang partai politik mereka di ujung iklan tersebut. Bersatunya logo partai, nomor urut partai dan ajakan untuk “memilih” PKS dan gambar KH Hasyim Asyari dan KH Ahmad Dahlan dalam iklan tersebut secara hukum membuatnya sebagai sebuah “satu kesatuan iklan politik”.
Read the rest of this entry »
iklan, indonesia, kampanye, pemilu, PKS, Politik
In All News, Islam, Politik on 30 Oktober 2008 at 11:29 am
“KH Ahmad Dahlan berkata, pemimpin itu sedikit bicara banyak bekerja…”
“KH Hasyim Asy’ari berwasiat, pemimpin itu jangan memberikan jargon-jargon kosong yang hanya merebak di awang-awang…”
Iklan PKS dan KH Ahmad Dahlan.
Iklan PKS dan KH Hasyim Asyari
atau bila link yang saya berikan tak correct…Anda boleh search di youtube…
Itulah sejumput iklan politik yang dikeluarkan oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam musim kampanye ini. Kontan, iklan ini menuai protes. Setidaknya dari kalangan Nahdhatul Ulama (NU), sudah keluar komentar pedas dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), organisasi mahasiswa yang berafiliasi ke NU. Ketua Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Adien Jauharudin, mengatakan, iklan PKS yang membawa-bawa nama KH Hasyim Asy’ari, PKS dianggap menghalalkan segala cara untuk mendapatkan massa pendukung.
Read the rest of this entry »
amien rais, demokrasi, indonesia, jawa, pemilu, Politik, presiden, reformasi
In All News, Islam, Kebudayaan, Politik on 27 Agustus 2008 at 10:52 pm
Amien Rais: Antara Imam dan “Njawani”
* * * 
Tersungging senyum di bibir saya ketika mendengar dan membaca kalau Amien Rais bakal maju ke pentas pemilihan presiden 2009. Saya sudah menunggu-nunggu ini. Anda boleh senang atau tidak terhadap pilihan saya, tapi saya sudah memilih sosok ini menjadi Presiden.
Pekerjaan rumah untuk menjadikan Amien Rais menjadi Presiden sungguh-sungguh berat. Yang dipunyai Amien sekarang hanyalah pena dan saya sungguh menyadari kalau hal itu tak pernah akan cukup. Bahkan, kalaupun Amien Rais mempunyai bala tentara yang siap mati demi dirinya, dia pun belum tentu menang.
Yang tak dipunyai Amien bukan hanya itu. Amien ini, bagi saya, terlalu “njawani”. Saya bukan sedang membuka sidang perkara SARA di sini. Tapi, Amien terlalu larut dalam pembawaan intelektual dan cendekianya. Dia lembut tapi imej yang lahir kemudian di benak masyarakat kita yang belum lagi beranjak kadar intelektualnya dari setingkat “mahasiswa” ini adalah “lembek”. Masyarakat kita itu masih menginginkan sosok seperti Soekarno, yang meledak-ledak, meletup, penuh semangat, mampu mengobarkan siapapun untuk berperang dengan apapun. Soekarno itu orang Jawa, tapi dia tidak “njawani”.
Read the rest of this entry »
demokrasi, golkar, indonesia, pdip, pemilu, Politik, presiden, reformasi
In All News, Politik on 15 Agustus 2008 at 7:23 pm
Ini sambungan dari postingan sebelumnya. Dalam ilmu dagang politik kuno, ternyata ada sebuah teori yang mengatakan “siapa yang paling banyak merengguk keuntungan, maka dialah aktor yang sebenarnya.”
Jeleknya pemerintahan SBY-JK saat ini dipengaruhi oleh buruknya kinerja pemerintahan, buruknya penanganan bencana, serta keputusan ironis menaikkan harga BBM hingga tiga kali dalam pemerintahannya. Bagaimana, mereka akan menyusun serangan balik terhadap parpol-parpol yang makin intens berkampanye, sementara di sisi lain, imej/citra dan popularitas mereka merosot tajam?
Read the rest of this entry »
demokrasi, golkar, indonesia, pdip, pemilu, Politik, presiden, reformasi, SBY
In All News, Politik on 12 Agustus 2008 at 1:49 pm
Bagi saya, tidak ada peperangan antara PDIP dan PKS. Yang ada hanya “pertempuran”. Itu pun serangan sporadis yang dilancarkan oleh PKS. Dan memang bukan cuma terhadap PDIP tapi juga terhadap Golkar. Bagi Anda pendukung PKS yang tidak suka kelanjutan tulisan ini, berhenti membaca juga tak apa-apa.
Namun bila ditilik dari soal Islam-non Islam, PKS akan lebih memilh melawan PDIP daripada Golkar. Ini soal imej PDIP saja. Salah satu strategi yang dilancarkan Pramono Anung untuk menepis imej ini adalah mendirikan Baitul Muslimin Indonesia (BMI) sebagai sayap resmi PDIP. Jadi jelas, sesuai arti sederhana BMI, PDIP hendak dijadikan “rumahnya orang muslim Indonesia.” Jadi bila benar BMI ini respon PDIP terhadap kinerja PKS yang mengatakan dirinya Partai Islam, jelaslah bila hanya “segitulah” level PKS yang dianggap PDIP.
Read the rest of this entry »
demokrasi, indonesia, militer, pemilu, prabowo, presiden, SBY, seoharto, soekarno, wiranto
In All News, Lapak, Politik on 29 Juli 2008 at 11:00 am
Ini prediksi tak matematis tapi paling tidak bisa di-share dengan rasional “ecek-ecek”. Dan mungkin saja lebih “terukur” daripada ramalan Jayabaya.
Suatu malam, teman sekantor bilang begini.
“Tampaknya, ramalan Jayabaya memang benar adanya. Bahwa penguasa di Indonesia adalah seseorang yang namanya berakhiran ‘No’ dan ‘To”. Jadi dia berasal dari satu kata…notonegoro.
Read the rest of this entry »
demokrasi, indonesia, megawati, PAN, partai, pdip, pemilu, PKS, Politik, PPP, presiden, reformasi
In All News, Islam, Politik on 23 Juli 2008 at 11:39 am
Itu kesimpulan terlalu dini menghadapi Pemilu 2009. PKS jelas masih belum bisa (atau malah memang tak bisa) menghilangkan eksklusifitas platform partainya. Dikotomi muslim-non muslim adalah PR besar yang harus dipecahkan PKS bilapun partai ini nantinya masih akan terus bertahan beberapa belas tahun ke depan.
Underestimated terhadap PKS? Bukan, ini realita politik saja. Di kalangan Islam sendiri, PKS sendiri bukan suatu “aliran” ideologi. PKS tampil penuh percaya diri dengan konsep wadah penampung kekecewaan publik terhadap elit, partai politik dan dinamika politik Indonesia selama lima tahun terakhir. Tapi, ini jelas bukan ideologi, tapi hanya sebuah taktik yang dilakukan parpol untuk mendulang suara. Di atas taktik ada strategi dan strategi ditetaskan oleh platform dan di atasnya ada ideologi partai yang menaungi.
Read the rest of this entry »
gubsu, Irham Buana, korupsi, KPU Sumut, pemilu, pilgubsu, sumut, syamsul, tri-ben
In All News, Politik on 18 April 2008 at 11:45 am
Tidak terlalu sulit untuk memperkirakan, kalau paket Tri-Ben akan menggugat KPU Sumut. KPU yang dikomando oleh Irham Buana Nasution ini, sudah terlalu membikin pusing banyak pihak dalam seluruh proses pelaksanaan pilgubsu 2008. Mulai dari anggaran untuk menggaji staf dan pekerja di KPU, hingga yang paling mencurigakan, soal Daftar Pemilih Tetap (DPT).
Amburadul? Itu bukan kata saya, tapi seluruh masyarakat. Bahkan, wawancara Syamsul Arifin kepada Metrotv pun sudah menyuratkan hal itu. “Banyak yang perlu diperbaiki dari segi administrasi yang dilakukan KPU,” katanya ketika dia dinyatakan pemenang pilgub versi quick count.
Read the rest of this entry »
bahasa, gubernur, KPUD Sumut, panwaslih, pemilu, penguasa, pilgubsu, Politik, sumut
In Esai, Geliat, Kebudayaan, Politik, Sastra dan Seni on 1 April 2008 at 10:24 am
Determinasi bahasa yang luar biasa terhadap kebudayaan manusia bak air bah. Huruf, kata, kalimat dan bahasa menjadi tak terkontrol dan jati diri manusia harus terjajah oleh bahasa. Tak ada manusia yang bisa melepaskan dirinya dari bahasa. Bahasa menjadi begitu liar dan buas seperti seekor ular phyton yang membelit mangsanya. Kampanye politik sudah taraf membahayakan bahasa Indonesia.
Read the rest of this entry »